AKU MADU IBUKU

AKU MADU IBUKU
Malam pertama


__ADS_3

"SAAH....!" satu kata yang keluar dari mulut para saksi, sukses menggetarkan hatinya Anindya. Wanita itu begitu terharu. Sangat emosional dengan apa yang terjadi malam ini. Dia sungguh tidak menyangka, akan dipersunting oleh sang majikan. Pria duda Milioner, yang terkenal dengan sifatnya yang baik, dermawan dan Sholeh itu.


Tontonan yang buat baper dan senyum sendiripun tercipta, dengan tingkah kedua mempelai yang terlihat salah tingkah dan malu-malu itu, saat bersalaman. Padahal ini bukan pernikahan pertama buat mereka. Tapi, pasangan itu, terlihat seperti baru kali melakoninya. Tentu saja keduanya bertingkah seperti itu. Karena, mereka menikah mendadak. Belum pernah bicara dari ke hati, atau berbincang-bincang layaknya sepasangq kekasih.


"Ya Allah Pak, kenapa salah tingkah begitu. Tangannya kenapa ditarik-ulur. Si ibuk jadinya bingung tuh." Celutuk Pak penghulu, yang membuat orang-orang tertawa kecil melihat tingkah pasutri yang lagi berbunga-bunga itu.


Ezra yang lagi bahagia itu, sampai bingung mengekspresikan rasa syukurnya. Akhirnya wanita yang mengusik ketenangan hatinya itu sudah sah jadi istrinya. Dia tidak menyangka, wanita cantik dan ayu yang ada di hadapannya. Ternyata punya rasa juga padanya. kalau gak ada rasa, mana mungkin wanita itu, mengiyakan ajakan nikahnya. Secara dia sudah tahu karakter sang istri, bukanlah wanita matre.


Setelah selesai acara akad nikah dan makan bersama dengan Pak Penghulu, para saksi dan juga sebagian karyawannya Ezra. Kini pengantin baru itu sedang berada di kamar. Tentu saja, kamar mereka sudah dihias layaknya kamar pengantin baru. Indah dan sangat romantis.


"Apa adek bahagia?" pertanyaan bodoh keluar dari mulutnya Ezra. Melirik sang istri yang terlihat canggung duduk di sebelahnya. Kini kedua insan itu sedang duduk di tepi ranjang. Ezra menggenggam lembut jemari sang istri, yang terlihat malu, sehingga suasana canggung semakin terasa.


"Ii--ya tuan." Jawabnya dengan gugup. Anindya, sudah lama tidak bersentuhan dengan pria. Jadi, dia sungguh nervouse. Apalagi pria yang di sebelahnya, mantan majikannya.


"Aku tahu, kamu pasti terkejut dengan semua ini. Kita menikah mendadak. Alhamdulillah, walau ada sedikit masalah, yang mengakibatkan molornya waktu yang sudah ditetapkan. Tapi, terlaksana juga. Kini tangan kokohnya Ezra sudah membelai wajahnya Anin yang sudah seperti tomat matang itu.


"Ii--ya tuan." Lagi-lagi wanita yang nervouse itu, tak bisa berkata-kata. Lidahnya terasa keluh untuk merespon perlakuan sang suami yang menurutnya romantis dan terasa disayang. Hangatnya sentuhan jemari sang suami yang menelusuri wajahnya, membuat darahnya berdesir hebat. Apalagi kini Ezra sudah menjawir dagu berbelah itu. Sehingga kini wajah cantik manis itu, bisa ditatapnya dengan puas. Anin yang belum terbiasa bersitatap dengan sang suami. Akhirnya mengalihkan pandangannya. Sungguh tatapan suaminya begitu menghanyutkan dan sangat mendamba.


Anin tahu, apa yang diinginkan suaminya itu saat ini. Apalagi kalau bukan ingin melakukan malam pertama dengannya. Ya, itu memang sudah seharusnya dilakukan oleh pasangan yang baru menikah. Mereka berdua pernah punya pengalaman dengan hal itu. Tentu malam ini bukan hal baru lagi buat mereka. Tapi, tetap saja Anindya tidak tenang.


Dia yang terlihat malu dan canggung itu, sampai kesusahan bernafas. Apalagi sang suami masih terus membelai wajahnya. Sepertinya suaminya itu sudah terhipnotis, dengan kecantikan alami wanita itu. Wajah Ezra semakin dekat saja ke wajahnya. Yang membuat jantung Anin semakin tidak teratur detakannya. Suaminya itu pasti ingin menciumnya.

__ADS_1


Benar saja, kini Anin merasa bibir hangatnya Ezra mendarat di keningnya. Ciumannya terasa dalam dan penuh perasaan. Anin Samali baper dibuatnya. Sepertinya Majikannya itu, tulus padanya. Ciumannya itu cukup lama Anindya Sampai memejamkan kedua matanya. Guna meresapi kecupan kasih sayang itu.


"Rileks saja Dek." Membelai kepala Anindya yang masih ditutupi hijab. Kini Ezra sudah memanggil sang istri dengan sebutan Adek. Anin yang menunduk, hanya menganggukkan kepalanya.


"Kita sholat sunah dulu ya?" sontak Anin, mengangkat wajahnya. Menatap Ezra dengan terkejut. Suaminya itu, mengajaknya sholat sunah, sebelum mereka melakukan hubungan intim. Haruskah malam ini, itu dilakukan. Anin merasa masih takut dan malu.


"Kenapa?" Ezramelihat kecemasan di wajah sang istri.


"Gak ada mas." Tersenyum manis dan menggeleng lemah.


"Kalau adek belum merasa nyaman, untuk kita melakukannya. Adek bilang saja, mas gak akan memaksa kamu. Karena, masih banyak waktu. Abang tahu, adek itu ketakutan sekarang. Iya kan?" Menilik wajah cantiknya Anin, yang dari tadi tak mau menatap sang suami berlama-lama.


Ezra tersenyum, merasa gemes dan lucu dengan tingkahnya Anin. Wanita itu, bertingkah seperti baru pertama kali menikah saja. Pria itu pun kembali mengecup keningnya Anin. Kali Ini dia tidak terlalu terkejut. Tapi, dia kembali spot jantung disaat bibir Ezra sudah mendarat di bibir nya yang kaku dan dingin. Ezra mengecup bibir itu sekilas.


"Baiklah, cukup segitu perkenalannya. Sebelum kita masuk babak selanjutnya. Sekarang kita bersih-bersih dulu ya dek."


"Ooh i_-ya, iya tuan..!" Anindya yang panik dan takut serta penasaran itu, bangkit dengan cepat dari atas ranjang, berjalan cepat menuju kamar mandi.


"Ya ampun, dia lucu juga " Ezra mengulas senyum bahagia, melihat sang istri menuju kamar mandi.


Sesampainya di kamar mandi. Anindya menyandarkan tubuh tegangnya di daun pintu. Tangannya mengelus-elus dadanya yang dari tadi berdebar-debar itu.

__ADS_1


"Dek, cepat sedikit. Jangan buat Abang bosan menunggu, dan akhirnya menyusul ke dalam." Suara Ezra terdengar sangat menggoda di balik pintu kamar mandi. Ya, pria itu beranjak juga dari ranjang yang didudukinya. Dia merasa perlu menggoda sang istri.


Huufftt....


Ezra menghela napas berat. Merenggangkan otot-ototnya yang lelah, karena banyaknya urusan yang ditanganinya hari ini. Sungguh hari ini, hari yang sangat melelahkan buatnya. Tadi siang, dia harus mengurus sang putri yang kena tangkap pihak berwajib atas kasus narkoba. Masalah itu belum selesai. Dia sedang berupaya agar sang putri tidak masuk penjara. Dia ingin putrinya itu masuk rehabilitasi narkoba. Berkas-berkasnya sudah selesai, tinggal mengajukan permohonan besok pagi.


Huuffftt...


Ezra kembali menghela napas berat. Melepas dasi dan kemeja yang dikenakannya dengan tarikan napas berat. Pria itu pun menyimpan baju kotor di tempatnya. Kemudian mendudukkan bokongnya di sofa, yang menghadap ranjang.


Memainkan ponselnya, melihat foto-fotonya yang di bidik sang asisten. Foto pernikahannya dengan Anindya. Wanita yang membuatnya jatuh cinta pada pandangan pertama. Dan sering hadir dalam mimpinya.


Pria itu yakin, Anindya bisa jadi ibu ganti yang baik untuk sang putri. Karena dia melihat Anindya punya kepribadian yang baik. Soleha, sabar, lembut. Karakter seperti itu, pasti bisa mengarahkan putrinya kelak, jadi wanita yang baik.


Saat asyik memandangi potretnya dengan sang istri. Suara pintu kamar mandi terdengar dibuka. Ezra mengalihkan pandangannya ke asal suara. Dia tersenyum manis, melihat sosok wanita yang berjalan dengan menunduk menjauh dari kamar mandi itu.


"Adek pakai baju yang ada di paper bag di atas meja rias ya?!" ucap pria yang lagi berbunga-bunga itu. Kemudian dia menyeret kakinya ke kamar mandi. Dia sudah tidak sabar untuk melakukan ibadah yang mendapatkan pahala dan kenikmatan surga dunia.


TBC


Like content vote say. Agar author semangat up

__ADS_1


__ADS_2