AKU MADU IBUKU

AKU MADU IBUKU
Aku ingin bertemu dengannya


__ADS_3

"Ini, kamu lihat ini..!" Wanita itu mencampakkan selembar foto kepada Zahra yang mengena ke wajahnya. Sebelum foto itu jatuh ke lantai, dia sudah meraih foto itu.


Dug....


Raut muka Zahra menegang melihat sang ibu dan sang suami ada di foto itu. Sebuah foto pernikahan, yang terlihat sederhana. Wajah pasangan itu terlihat sangat bahagia dalam foto itu. Tubuhnya Zahra bergetar hebat, menatap tak percaya dengan apa yang ada di tangannya. Zahra mengusap-usapkan foto itu ke dadanya yang terasa sesak dan sakit yang amat. Perih, nyeri, terluka parah, seperti disayat sembilu lalu ditetesi asam, tapi gak berdarah.


"Jangan sampai kekagumanmu kepada dirinya membuatmu menjadi buta pada kesalahan yang dilakukannya." Wanita itu mulai mempengaruhi Zahra. Dia tahu, Zahra sudah mencintai Ezra.


"Ini nomor ponselku, jika kamu ingin tahu banyak tentang Ezra Assegaf, pria munafik itu sudah banyak korbannya. Hahahaha.... Kamu salah satunya, dia suka hal-hal aneh dan menantang. Dia itu bunglon!" Wanita itu meraih tangan Zahra yang berada di dadanya. Menempelkan kartu nama di telapak tangan wanita yang lagi syok itu. Rencana tak boleh gagal. Gadis polos ini, perlu dicuci otaknya.


"Nikmati penderitaanmu, jika kamu ingin bertahan dengan pria seperti itu. Nikmati kubangan dosa itu. Dasar cewek murahan kamu, belum tamat SMA sudah mau digaulinya. Ciuuhhh.. GaTel...!" Wanita itu mendorong kuat Zahra yang lagi syok itu. Sehingga dia tersungkur ke pojok toilet. Wanita itu sempat-sempatnya melampiaskan kekesalannya pada Zahra. Dia gak terima, karena Zahra sempat menonjoknya tadi. Wanita itu merapikan pakaiannya. Memakai masker dan topi. Keluar dari toilet itu dengan tersenyum puas.


Zahra yang tersungkur dipojokan, memeluk lututnya. Cairan bening yang dari tadi ditahannya saat melihat foto itu, tak bisa dibendung lagi. Tubuhnya masih bergetar hebat, karena menahan emosinya. Wanita itu sedih, gagal, sakit hati, kecewa, galau. Semuanya perasaan sakit itu memenuhi rongga hatinya saat ini sehingga membuat mood jadi sangat buruk. Rasanya dunia berhenti berputar.


Hidupnya telah hancur. Dia madu dari ibu yang sangat disayangi. "Mak.. Maafkan Zahra Mak...!" Air mata semakin deras saja keluar dari sudut matanya. Saat ini Zahra menyalakan dirinya sendiri. Tak seharusnya dia mau dinikahi oleh Ezra. Karena memang sebelum terjadi ijab kabul, Ezra mengaku sudah menikah.


Saat itu Zahra sedang emosi dan begitu kesal pada Rara. Sehingga ada niat untuk balas dendam. Dengan mau dinikahi pria itu, agar bisa masuk dalam keluarganya Ezra. Menghancurkan Ezra dan tentunya Rara. Tapi, setelah menikah semua yang terjadi sangat jauh dari rencananya diawal. Balas dendam tidak terlaksana. Dia malah kepincut pak tua itu.


Hatinya hancur remuk-redam mendengar kabar ini. Kejutan tang sangat gila dalam hidupnya. Kenapa dia malah menikah dengan ayah tirinya. Kenyataan pahit ii membuatnya terkena serangan jantung. Dadanya begitu sesak, hingga wanita itu merasakan sakit yang amat, saat menarik napas. Zahra Patah hati membuat wanita itu tenggelam dalam air mata.


Kenapa dia harus jatuh cinta pada pak tua itu. "Huahaua hhaaa....!" Zahra tertawa sambil menangis histeris di dalam toilet itu. Tentu saja orang-orang yang ada di dalamnya ruangan dibuat heran, dengan suara tangis yang terdengar menyayat itu. Tapi, orang yang ada disitu tak ada yang berani menggedor pintu toilet itu.

__ADS_1


"TIDAK ...!" teriaknya lagi, merobek-robek potret sang ibu dan sang ayah tiri. Air matanya mengalir berderai-derai tiada henti. Ezra telah menorehkan luka yang amat sakit di hatinya.


Bimo merasa ada yang aneh, sudah tiga puluh menit Zahra ada di dalam. Tak mungkin, buang air kecil selama itu.


Bimo mulai panik, apakah Zahra diculik lagi? pria itu merogoh ponselnya dari saku celananya. Melakukan panggilan pada Zahra.


Dan Zahra yang sedang meratapi nasibnya di dalam toilet itu, dibuat terkejut dengan deringan ponsel yang ada di dalam tas selempangnya yang teronggok di lantai. Ponsel itu terus saja berdering tiada henti.


Zahra mengusap dadanya yang terasa sesak itu. Sambil menarik napas panjang. Dia masih syok, tubuhnya kini keringat dingin. Dia dan sang suami telah melakukan dosa besar. Apaa suaminya itu tak tahu hukum agama. Tak mungkin Ezra tidak tahu, kalau dia adalah Anaknya Anindya. Secara wajah mereka saja mirip. Dan tak mungkin ibunya itu tidak menceritakan tentang keluarganya di kampung sebelum menikah.


"Pak tua kepa--rat, aku jadi yakin. Kamu dan putrimu sekongkol untuk menghancurkan aku. Tapi, untuk apa? aaaahgrr...!" Zahra semakin setress memikirkan semuanya. Kepala nya terasa sakit sekali. Seperti dipukul dengan palu. Dan tubuhnya terasa remuk, seperti dikeroyok orang sekampung.


"Zahra... Zahra.. kamu masih ada di ruangan ini?". Bimo tak memperdulikan lagi, para wanita yang marah-marah padanya, saat pria itu menerobos masuk ke toilet wanita. Toilet itu lumayan luas. Ada delapan bilik toilet di dalamnya.


"Kamu salah masuk..!" Ujar seorang ibu-ibu.


"Iya Bu, maaf. Saya lagi mencari adik saya, tolong pengertiannya Bu. Saya bukan mau ngintip Bu " Ucap Bimo dengan wajah sedih. Jangan sempat dia di amuk massa, karena dianggap melakukan tindakan asusila.


Zahra yang mendengar suara ribut di luar. Akhirnya memutuskan keluar dari toilet itu. Dia juga merasa semakin sesak di dalam toilet itu.


"Itu, itu dia adik saya!" Bimo langsung menghampiri Zahra yang wajahnya kusut, sedih dengan mata sembabnya. Belum saatnya menanyakan kenapa istrinya bos itu terlihat seperti habis berkabung.

__ADS_1


Merangkul Zahra hingga ke parkiran. Zahra tidak menangis lagi. Tapi, ekspresi wajahnya masih sedih. Untuk kali ini dia tidak bisa menutupi rasa kecewanya.


"Ngapain saja sih kamu di dalam sana Ra? betah betul kamu mencium aroma kamar mandi itu. Bau Pesing tahu." Oceh Bimo sambil menarik napas panjang. Hari ini dia bernasib


baik juga. Karena dia gak dikeroyok penghuni toilet wanita.


Zahra tidak menggubris ucapan Bimo. Pandangannya kini lurus ke luar jendela dengan tatapan mata kosong dan tangan dilipat di dada. Sikap dinginnya Zahra membuat Bimo bertanya-tanya. Mungkin Zahra sedih, karena berpisah dengan sang nenek.


"Kamu sedih karena nenek ya?" Bimo menatap lekat wajah Zahra dari samping.


Zahra tak menjawab pertanyaan Bimo. Saat ini dia sedang malas bicara. Mulutnya terasa kaku.


"Nenek hanya pergi beberapa hari, kamu jangan sedih begitu dong Ra." Masih berusaha mengajak Zahra bicara.


"Hari ini kamu gak akan kesepian lagi. Bos pulang hari ini. Mungkin saja bos sudah di rumah sekarang. Tadi sih, katanya masih di rumah sakit." Mendengar kata rumah sakit, seketika air matanya bercucuran dengan derasnya, dia pun mengalihkan pandangannya pada Bimo. Tatapannya kali ini penuh dengan kekesalan.


Teganya manusia ini menyembunyikan semuanya. Ibunya sakit, dan dia tidak diberi tahu. Padahal Ezra tahu, itu adalah ibunya.


"Aku mau ke rumah sakit sekarang. Aku gak mau jadi istri simpanan selamanya. Aku ingin bertemu dengan istri pria itu." Ucap Zahra dingin, yang membuat Bimo syok mendengar nya.


TBC

__ADS_1


Like, coment dan vote say


__ADS_2