AKU MADU IBUKU

AKU MADU IBUKU
Mencintai


__ADS_3

"Bos, nyonya Anin masuk rumah sakit."


"APA..?"


Duar...


Jantung Ezra berdebar kuat saat mendengar berita itu. Dia yang hendak duduk di sofa, akhirnya ambruk di sofa itu.


Selama satu Minggu dia mengabaikan istrinya itu, karena asyik memadu kasih dengan istri muda yang membuat candu. Ezra telah lalai, dia tidak bisa adil terhadap istri-istrinya. Dia belum sanggup poligami. Dan dia memang tak ada niat poligami.


"Bos!" Bimo memegang bahunya Ezra, memastikan apakah pria itu sedang baik-baik saja atau tidak.


"Bagaimana kondisinya sekarang?" tanya Ezra dengan tatapan mata bersalah. Jujur dia sedih mendengar berita ini. Tadinya Anin adalah istri impiannya. Wanita itu baik, keibuan dan lemah lembut. Dia sangat berharap dengan menikahi wanita itu, bisa membuat putrinya yang tersesat nantinya akan kembali ke jalan yang benar. Tapi, semuanya telah berubah sejak dirinya mengenal Zahra. Wanita yang energik, menarik dan tentunya punya hati yang baik juga. Takdir seolah membuatnya lebih dekat kepada Zahra, dan mengabaikan istri sahnya.


"Nyonya terserang penyakit radang usus." Jawab Bimo sedih. Entah kenapa Bimo jadi kasihan sekali pada Anin. Wanita itu sedang pesakitan dan suaminya sedang asyik-asyiknya dengan istri mudanya. Bahkan tak mau diganggu.


"Sejak kapan dia masuk rumah sakit?" tanya Ezra lagi.


"Tadi siang Bos. Tadinya nyonya gak mau dibawah ke rumah sakit. Karena dia beralasan dia hanya kena magh dan kalau banyak pikiran asam lambung bisa naik. Tapi, aku tetap paksa untuk diperiksa. Ternyata nyonya kena radang usus." Jelas Bimo, menatap Ezra yang nampak kalut.


"Di rumah sakit mana dirawat?"


Ezra mengatakan di rumah sakit mana Anin dirawat.


"Baiklah kita pulang malam ini. Siapkan semuanya. Zahra kembali ke rumah bersama kami dan aku langsung menuju rumah sakit bersama supir." Ucap Ezra dengan suara datarnya. Pria itu tak tenang saat ini.


Rumah yang ditempati Zahra dan rumah sakit tempat Anin dirawat berlawanan arah. Makanya Zahra dan Ezra berada pada mobil yang berbeda. Kalau Ezra mengantar Zahra lagu ke rumah. Maka dia akan musing dan memakan waktu yang lama.


"Ibot, apa ada masalah serius, sehingga tengah malam begini, kita pulang?" Zahra sungguh penasaran dengan alasan mereka meninggalkan Villa secara mendadak setelah kedatangan Bimo.


"Iya Ra, ada masalah serius dengan keluarganya bos. Ku harap kamu bisa mengerti dan jangan membebani bos saat ini."

__ADS_1


"Iya, siapa juga yang ingin membebaninya." Zahra sensitif, ucapan Bimo menyinggung perasaannya.


Dadanya terasa sesak. Ini baru permulaan tapi, dia sudah tak tahan. Zahra yang sedih tak bisa menutupi perasaannya. Dia yang tadi berusaha keras menahan air mata yang mendesak keluar tak sanggup juga. Cairan bening itu pun tumpah juah.


"Sebelum jauh seperti saat ini. Aku sudah bilang samamu ibot, agar aku dan Hubby pisah saja. Tapi, kalian tak mengizinkannya. Lihatlah, masalah akan terus datang silih berganti setelah ini. Tak akan ada kedamaian pada pernikahan yang suaminya mempunyai dua istri." Zahra terisak menumpahkan kegundahan yang memang dari tadi bercokol di hatinya. Saat Ezra mengatakan mereka harus pulang saat itu juga.


Dan sekarang mana mungkin dia mau melepas Ezra. Dia sudah memberikan miliknya yang paling berharga pada pria dewasa itu. Itu artinya dia juga akan mempertahankan Ezra.


"Ra, kamu tenang ya! maaf kalau ucapan ku tadi membuatmu sedih. Semuanya telah terjadi. Kita hanya bisa berdoa sekarang, agar semuanya baik-baik saja. Kamu tetap akur dengan bos, begitu juga bis dengan nyonya Anin." Bimo mengusap lengan Zahra agar bisa tenang. Dia memang pendukung Zahra. Tapi, melihat Nyonya Anin sakit, dia jadi tak tega.


"Emangnya ada masalah apa? apa yang terjadi pada istrinya?" Zahra melap air mata dengan tisu yang diberikan Bimo.


"Nyonya besar lagi sakit, dan sekarang lagi dirawat di rumah sakit." Zahra sedih mendengar ucapan Bimo. Dia jadi menarik diri. Mungkin istri sah nya Ezra, sakit gara-gara dia. Karena Ezra gak pulang-pulang selama satu minggu.


"Apa kakak itu tahu, kalau aku jadi istri simpanan suaminya?" tanya Zahra begitu penasarannya. Dia bahkan menatap lekat Bimo, tak sabar mendengarkan jawaban Bimo.


"Sepertinya Nyonya besar gak tahu. Karena, kamu memang dirahasiakan bos. Tapi, entahlah mungkin juga nyonya besar sudah tahu. Biasalah wanita punya ilmu spiritual, instingnya tinggi." Bimo membenarkan posisi duduknya, dan dia langsung menghela napas panjang. Setelah ini dia, pekerjaannya jadi tambah. Karena mengurus istri-istri sang bos.


Zahra tak mau menanyakan banyak hal lagi, terkait istri sahnya Ezra. Di mana-mana pasti seorang suami, akan mempertahankan wanita yang dinikahi yang sah secara agama dan hukum.


***


Sesampainya di parkiran rumah sakit. Ezra berlari menuju ruangan tempat Anindya dirawat. Saat pria itu masuk ke ruangan itu, Anindya sedang diperiksa oleh Dokter.


Anindya menatap sedih Ezra yang berjalan ke arahnya. Sedangkan Dokter yang memeriksa Anindya, dibuat terkejut melihat Ezra masuk ke ruangan itu.


"Bagaimana kondisi istri saya Dok?" tanya Ezra penuh kekhawatiran, mengusap lembut dahi sang istri dan mengecupnya. Anindya jadi malu, dan salah tingkah dapat kecupan dari sang suami, didepan dokter yang kini memeriksanya.


"Eehmm bapak, bapak kan?" dokter itu menghentikan ucapannya. Tak mungkin juga dia menanyakan tentang Ezra yang dilihatnya seminggu yang lalu di sebuah rumah sakit saat bersama dengan seorang wanita. Dan dokter itu melihat juga sikap Ezra saat itu sangat romantis dan sayang pada wanita nya saat itu. Seperti sikap Ezra saat ini pada Anin.


"Parah pak, dan Anindya harus dioperasi." Jawaban Dokter membuat Ezra heran. Koq dokter menyebutkan nama Anin. Kenapa gak pakai tutur, misal ibu, kakak atau adik. Ini dokter kelihatan akrab pada Anin.

__ADS_1


"Oohh.. Lakukan yang terbaik dok. Istri saya harus sembuh." Ezra yang masih bingung dengan sikap sang dokter yang terlihat dekat sang isteri, tetap bersikap manis. Dia merasa bersalah pada istrinya itu.


"Abang.... Aku belum mau di Operasi." Ujar Anindya menatap memelas Ezra. Anin hanya ingin pulang kampung. Ingin bertemu dengan anak dan ibu mertuanya. Dia setres, sehingga imun tubuh menurun drastis. Saat itulah mikroorganisme yang ada di usus meraja lelah. Dan membuat ususnya luka.


"Sayang.. kamu harus sembuh. Kata dokter Adek harus dioperasi." Meyakinkan sang istri agar mau melakukan operasi.


"Aku harus bertemu dengan keluargaku di kampung Bang." Ucap Anin masih memelas pada Ezra. Dia akan mau dioperasi, apabila sudah mengetahui kabar keluarga nya di kampung. Dia tidak akan tenang, sebelum tahu kabar anak dan ibu mertuanya itu


Sang dokter yang tak mau ikut campur, akhirnya keluar dari ruangan itu beserta dua perawat.


"Setelah operasi kita ke kampung ya!" Anindya menggelengkan kepalanya kuat. Matanya yang dari tadi berkabut menahan air mata akhirnya tumpah juga.


"Aku hanya punya mereka. Jika aku bertemu dengan anak dan ibu mertuaku. Nanti saat aku menjalani masa pemulihan setelah di operasi. Aku ada yang jaga. Kalau sekarang aku dioperasi, maka orang yang ku sayang tak akan ada yang menjagaku.


"Abang yang akan menjagamu dek!"


Anindya melotot kan matanya yang basah itu kepada suaminya itu.


"Aku tak tahu apa tujuan Abang menikahiku. Sudah lebih dua Minggu kita menikah. Abang belum menyentuhku dan Abang menghilang seminggu lebih dan tak bisa dihubungi. Aku bukan wanita bodoh bang. Aku tahu, ada yang tak beres dengan pernikahan kita. Hati kecilku mengatakan, ada wanita lain dalam pernikahan ini." Anindya terisak, dia bahkan kesusahan saat bicara. Karena begitu emosional nya dia saat ini. Membayangkan sang suami punya wanita lain, membuatnya sakit hati.


"Sayang.. Kamu jangan banyak memikirkan hal yang belum kamu ketahui pasti. Kamu jangan menyiksa diri sendiri dengan memikirkan semua yang membuatmu jadi sakit begini." Masih berusaha menenangkan Anin, agar tidak memikirkan dugaannya yang memang benar itu. Ezra memang pandai bersilat lidah.


Anindya sedang sakit, bukan saatnya membahas Zahra, siwanita simpanan.


"Baiklah, kalau itu maumu sayang. Abang akan tanyakan ke dokter dulu. Apa bisa operasimu di tunda beberapa hari ke depan. Kalau katanya bisa dan kamu sanggup ke kampung dalam keadaan sakit. Maka besok pagi kita akan berangkat ya!" mencium lembut kening sang istri. Bagaimana pun dia memang sayang dan cinta kepada Anin.


TBC


Mungkinkah satu pria mencintai dua wanita sekaligus dalam waktu bersamaan? tinggali coment positipnya say.


Like coment vote, hadiah. Ini Minggu terakhir Kita bagi give away. Dan kemungkinan akan diadakan lagi, di akhir bulan empat ya say.

__ADS_1


__ADS_2