AKU MADU IBUKU

AKU MADU IBUKU
Pasrah


__ADS_3

"Ular..,. Ular.....Awas ada ular.....!" teriak salah satu penumpang, yang melihat ular bergerak ke arah kursinya Zahra. Mobil mini bus yang mereka tumpangi sedang berhenti di sebuah rumah makan. Para penumpang sudah saatnya makan minum atau ke kamar mandi.


"Appa.....? ular ...?" tanya Ibu Jamilah dengan hebohnya. Tidur nyenyaknya Zahra terganggu, karena suara berisik di dalam mini bus itu. Dia terbangun dengan setengah tersadar. Kedua tangannya masih berada di atas perutnya yang dari tadi terasa nyeri dan kram.


"Nak, angkat kakimu..!" teriak Ibu Jamilah, ketika melihat sangat banyak ular hendak mematuk kakinya Zahra. Ibu Jamilah sendiri sudah mengangkat kakinya ke jok mobil yang didudukinya. Dia takut sekaligus geli, melihat ular-ular yang jumlahnya banyak itu. Bahkan ular itu bergerak saling menimpah satu sama lain, saking banyaknya jumlahnya.


"Apa... Ular......!" Zahra teriak, dia dibuat syok melihat banyaknya ular di bawah jok mobil, yang ingin mematuknya. "Aaawwwuuu...!" Dia merasakan sakit yang luar biasa, disaat kakinya sukses dipatuk pimpinan gerombolan ular kobra itu.


Wanita itu meringis kesakitan, buru-buru memeriksa kakinya dengan panik, dengan napas ngos-ngosan. Dia baru saja digigit ular. Tapi, kenapa tidak ada bekas gigitannya.


Zahra pun tersadar, ternyata dia hanya bermimpi. Wanita itu memegangi kerongkongannya yang terasa kering. Mimpinya terasa sangat mengerikan Mengusap wajahnya yang kusut, dan mengucek mata yang masih terasa berat. Dia pun mengendarakan pandangan ke segala arah. Merasa heran dengan tempat yang dia tempati saat ini.


"A--ku, aku di mana? ini di mana?" Zahra panik, dia menilik sekitar dengan perasaan gamang. "Aku kan lagi di dalam bus, kenapa sekarang ada di sini?" Zahra tidak menyangka saat ini, dia sedang tertidur di atas matras mobil. Dan mobil yang sedang ditumpanginya sekarang bukanlah mobil yang di tumpangi nya tadi. Ini mobil mewah.


"Ka--lian siapa? kalian siapa?" Zahra sungguh takut saat ini. Dia baru saja bermimpi buruk, dan sekarang dia sudah berada di dalam mobil yang tidak diketahuinya milik siapa. Zahra dengan cepat mendudukkan tubuhnya. Mempersiapkan diri, dari serangan musuh. Walau dia merasa lemas.


Entah kenapa Zahra dua hari terakhir ini, merasa lemah, dan sering sakit kepala. Seperti yang dirasakannya saat ini. Jiwa pemberaninya Seolah terganti jadi penakut.


Tiga orang pria berbadan besar yang duduk mengawasinya tidak menjawab pertanyaan Zahra. Wanita itu pun akhirnya hanya bisa menangis. Dia jadi melankolis sekali. Sikit-sikit bawaannya mau nangis saja.

__ADS_1


Ada dua kemungkinan saat ini. Dia diculik musuh suaminya, atau dia sudah tertangkap dari pelariannya. Zahra yang tak mau dibuat pusing akan dugaannya itu, akhirnya menanyakan kepada ketiga orang yang ada bersamanya di dalam mobil itu.


"Kalian ini siapa? kalian anak buahnya Pak Ezra?" Tanya Zahra dengan tidak tenangnya. Ketiga pria itu tetap saja membisu, yang membuat Zahra jadi kesal.


"Kalian siapa sih? aku kenapa ada di sini?" Zahra melotot pada ketiga orang bertubuh tegap di hadapannya, yang sedang menundukkan pandangannya. "Aneh!" desis Zahra,. menyibak gorden yang menutupi kaca mobil. Saat itu juga dia menghalang cahaya yang mengenai indera penglihatannya dengan tangannya. Silau... Ternyata saat ini sudah pukul tujuh pagi, dan cuaca saat ini sangat cerah.


Zahra akhirnya pasrah dengan nasibnya. Orang-orang yang ada di mobil bersamanya, semuanya pada bisu. Dia yang muak melihat muka-muka serem di hadapannya, memilih memandang ke luar jendela. Ternyata mereka saat ini berada di tempat ketinggian. Dan dari tempat mereka, terlihat Kota Sibolga dengan keindahan alam pegunungan, juga terdapat pantai-pantai maupun pulau-pulau yang ada di Teluk Tapian Nauli dan perbukitan yang seolah-olah melindungi kota itu.


"Kita ini sedang berada di kota Sibolga kan?" tanya Zahra pada ketiga pria dihadapannya. Dia dari dulu, sangat ingin datang ke kota ini. Karena, di kota ini sangat banyak objek wisata bahari. Zahra suka hal-hal yang berbau laut.


Ekonomi yang sangat sulit, membuatnya tak pernah jalan-jalan. Disamping gak ada uang, juga tak ada waktu untuk rekreasi. Karena mereka sekeluarga dari Zahra kecil sibuk kerja di sawah atau di ladang. Dan setelah ayahnya meninggal, mereka beralih jadi pedangan di pasar.


Zahra yakin, dia sudah tertangkap. Dia salut pada Ezra. Berarti pria itu, benar-benar tak ingin melepaskannya. Memikirkan itu semua membuat Zahra semakin sedih. Air mata tak bisa dibendung lagi. Dia menangis terisak, memasrahkan wajahnya bersandar di kaca mobil mewah itu. Air mata sudah menganak sungai, membasahi pipi pucatnya.


Para bodyguard yang ada di dalam mobil itu, ikut sedih melihat Ekspresi wajah Zahra yang begitu tertekan. Para bodyguard itu tak bisa berbuat banyak. Karena mereka gak ada hal menanyakan tentang apa yang membuat Zahra menangis.


Pemandangan hamparan samudra yang luas yang di tengahnya banyak terdapat pulau telah hilang dari tatapan mata. Kini mereka sudah masuk ke pusat kota Sibolga. Kota Sibolga adalah kota terkecil di Indonesia. Yang terkenal dengan kota ikan.


"Nona kita sudah sampai." Ujar bodyguard itu, membuka pintu untuk Zahra keluar.

__ADS_1


Zahra yang sudah pasrah itu, akhirnya turun juga dari mobil mewah itu. Dia tak mau berontak lagi. Toh usaha apapun yang akan dilakukannya untuk lari dari Ezra, tidak akan berhasil. Sudah saatnya menghadapi kenyataan. Semoga sang ibunda tercinta tidak membencinya. Karena telah hadir dalam rumah tangga sang ibu.


Ternyata Zahra dibawa ke sebuah rumah gedong, yang ada di pinggir pantai. Zahra dibuat berdecak kagum, melihat taman di depan rumah dan hamparan laut luas di hadapannya. Kenapa pak tua, seolah tahu apa yang diinginkannya.


Rumah itu bisa dikatakan seperti Villa. Hanya ada dua lantai. Tapi, di area itu ada landasan untuk pesawat.


"Astaga pak tua sekaya ini? koq dia terobsesi sekali padaku ya?" ucapnya tersenyum sinis, membanggakan dirinya. Dia ternyata punya daya pikat jauh di atas rata-rata. Lihatlah Ezra bucin akut padanya. Ferdy juga, kayanya mau menunggu jandanya.


Hehehehe...


Memikirkan itu semua membuat Zahra tertawa kecil. Entah kenapa mood wanita ini cepat sekali berubah -ubah, dia orangnya moody an.


"Nona, silahkan masuk!" Seorang pelayan wanita membuka pintu kamar untuknya dengan sopannya.


"Iya kakak, terima kasih." Ucap Zahra tersenyum tipis, yang membuat pelayan wanita itu salah tingkah, karena senang diberi hadiah senyuman oleh Zahra dan dipanggil kakak.


Zahra yang merasa pusing itu pun masuk ke kamar mewah itu, sembari memegangi kepalanya yang sakit itu. Rasa sakit di kepalanya sontak hilang, saat melihat pria yang dikenal nya menatap tajam siap menerkamnya.


TBC.

__ADS_1


Jika malam ini dan esok banyak yang kasih vote dan hadiah. Maka Esok kita akan grazy up. Yuk dukung novel ini say


__ADS_2