
"Shhiiit.... kangen nih sayang. Jangan marah-marah dulu dong. Itu cameranya di turunkan sedikit. Hubby mau lihat " Ucap Ezra, dia lagi puyeng, setres. Otak perlu di refresh.
"Apa .?" Zahra kesal dengan ucapan suaminya itu. Dia pun menutup panggilan. Zahra tak henti-hentinya mengomel tak jelas di atas ranjangnya.
Ponsel yang masih dipegangnya berdering. Tentu saja Ezra yang penasaran menelpon balik.
Zahra menghela napas panjang dan menerima panggilan itu. Tampaklah wajah sang suami yang nampak gelisah.
"Koq dimatikan sih Wawa, masih kangen nih!" Ezra memperhatikan lekat sang istri. Zahra melototkan matanya, gak suka dengan tatapan mesum suaminya itu.
"Ya ampun, koq jadi galak sih?" Ezra menggaruk-garuk kepalanya yang memang jadi gatal. Kepala atas dan bawa sudah gatel sepertinya.
Dia sengaja gak mau menghubungi istrinya itu. Karena dia akan sangat kangen sekali bila berkomunikasi dengan istrinya itu. Makanya dia gak minta no handphone istrinya itu pada Bimo. Eehh... Malah istri kecilnya itu nelpon duluan dengan baju dinas malam. Tentu saja Ezra jadi pusing dibuatnya.
"Hubby tu mesum, minta cameranya diturunin ke bawah." Zahra cemberut.
"Emang di bawah ada apa?' Ezra masih dengan ekspresi mesumnya.
"Tauk..!' Jawab Zahra ketus.
"Adek sih mancing-mancing, kenapa nelpon pakai baju seperti itu?" Ezra berdecak kesal. "Jadi pengen tahu sayang. Ayo dong turunin dikit cameranya "
"Ya Allah.... Mau pons--ex, dosa tahu. Katanya tahu agama. Tapi, kelakuan seperti itu " Zahra melototkan matanya tajam. Ezra nyengir.
"Ustadz juga manusia kali. Kalau sama istri sendiri itu gak dosa. Kecuali tadi, sama orang lain." Jelas Ezra dengan wajah memelasnya.
"Gak, gak mau. Kalau pengen, ya pulanglah sayang..?!" Zahra mendesah memainkan lidah dan bibirnya, serta satu tangan nya menyapu lembut leher dan belahan dadanya. Ezra megap-megap di dalam camera, dan panggilan di putus sepihak oleh Zahra.
"Rasain, dasar pak tua. Hihihi.... Kita lihat saja, dia datang gak ya?" Zahra tersenyum puas. Dia gak ada niat sama sekali untuk menggoda sang suami. Dia memang kangen suaminya itu, tapi melihat sang suami yang begitu menginginkannya dia pun ingin mentest, seberapa tergantungnya suaminya itu padanya.
Ezra mencoba menghubungi ponsel sang istri kembali. Tapi, gak aktif lagi.
"Dasar anak cabe-cabean, Berani kamu ya?" Ezra menghubungi Dika. Dia ingin Dika, mengatur keberangkatannya malam ini. Dia sudah tak tahan ingin bertemu dengan istri kecilnya yang menggemaskan itu.
__ADS_1
Dering pertama panggilan pun terhubung kepada Dika. Pria itu sedang di rumah sakit berjaga-jaga, kalau ada hal genting yang memerlukan bantuannya.
"Dika, siapkan semuanya. Malam ini saya harus pulang." Titah Ezra tegas. Dika yang mendengarnya dibuat heran. Koq pulang padahal Nyoya Anin sedang sekarat, dan Dika dari tadi menghubungi Bos nya itu. Tapi, panggilan sedang dialihkan.
"Pulang bos?" tanya Dika, ingin memperjelas pendengarannya. Siapa tahu dia yang salah dengar.
"Iya pulang, gak ada bantahan. Sepertinya Ezra lupa, kalau ada istrinya yang lagi dirawat di rumah sakit ini.
"Bos, ini aku mau lapor. Nyonya besar kondisinya drop. Tekanan darahnya tinggi, Dokter sedang menangani Nyonya bos. Jangan sampai Nyonya kena stroke." Ujar Dika dengan penuh khawatir.
"Apa?" Ezra baru sadar, dia hampir saja lupa pada istrinya itu.
"Kita pulang malam ini. Dyah dirawat di rumah sakit di Kota Medan saja. Gak becus itu rumah sakit. Kenapa bisa pasien jadi drop. Siapkan semuanya malam ini, Dyah dikeluarkan dari rumah sakit itu." Ujar Ezra geram. Jangan sempat ada dokter malpraktek. Bisa ditutupnya rumah sakit itu. Bagaimana pun Anin adalah istri sah nya.
Ezra bergegas ke luar dari cafe itu. Dirinya yang sempat mupeng, hilang sudah menguap, karena masalah baru yang timbul.
Sesampainya dia di rumah sakit. Istrinya itu nampak sedang ditangani oleh Dokter.
"Ibu ini dari tadi ingin bertemu dengan putrinya. Kami harap, ibu ini segera dipertemukan dengan putrinya. Kondisi ibu ini drop, karena setres. Ini dalam keadaan tertekan." Ujar Dokter pada Ezra yang berdiri disisi bed dekat kepala Anin
"Iya dok, makasih." Hanya itu jawaban dari Ezra. Tak ada senyum ramah tamah lagi kepada sang Dokter. Ezra menganggap dokter itu kurang pintar. Ya kalau pasien dalam keadaan tertekan, ya dikasih obat penenang. Jangan dikasih saran, yang kemungkinannya sangat tidak masuk akal.
Hufftt... Ezra mendudukkan bokong di sofa yang ada di ruang rawat itu. Dika menghampiri sang bos.
"Bos, malam ini tak mungkin nyonya keluar dari rumah sakit. Kondisi Nyonya sedang tidak stabil. Mungkin esok pagi, kita baru bisa keluar." Ujar Dika penuh kehati-hatian. Jangan sempat dia salah bicara. Sempat idenya gak cocok dirasanya Ezra. Maka usulnya tak akan mempan.
Dika memperhatikan wajah sedihnya Anin yang sedang tertidur itu. Dia jadi kasihan pada nyonya itu.
"Bos, Non Zahra harus tahu ini semua. Kasihan Ibunya, selalu nyariin anaknya."
"Pelankan suaramu!" ujar Ezra dengan gigi yang merapat, matanya menatap tajam Dika.
"Tak usah kau ajari aku soal itu. Aku juga tak ingin menyembunyikan semua kesalahan ini. Tapi, saat ini waktunya gak tepat Dika..!" Masih bicara tegas, dengan intonasi suara rendah tapi penuh penekanan.
__ADS_1
Merasa tak aman membahasnya di ruangan itu, Ezra keluar dari ruangan itu, tentu saja Dika mengekorinya. Mereka memilih pergi ke taman rumah sakit itu. Duduk dengan tidak tenang di bangku beton, menghela napas dalam
"Aku tak ingin kehilangan Wawa, berkat dia aku merasa hidup lagi. Aku belum siap memberitahunya dalam waktu dekat ini. Dia pasti akan pergi dariku." Setelah merasa tenang, Ezra mengungkapkan kegelisahannya.
"Tunggu kondisi Anin membaik, dan Aku akan katakan padanya semuanya. Aku akan mengajukan pembatalan pernikahan. Masalah ini tak boleh diketahui Zahra. Dia tidak boleh tahu, kalau aku menikah juga dengan ibunya. Dia pasti akan meninggalkanku, jika dia tahu kenyataan ini. Aku tak sanggup kehilangan dia."
"Apa bos? kalau itu bos lakukan, yang rugi Nyonya besar. Kalau bos mengajukan pembatalan, nyonya gak akan dapat apa-apa. Karena dari awal dianggap tak terjadi pernikahan." Dika semakin bingung, kenapa gak ditalak saja. Setidaknya Anin akan dapat nafkah selama Iddah dan tentunya bagian harta.
Ezra menatap Dika lamat-lamat, melihat Dika tak setuju dengan idenya. Membuatnya jadi ragu.
"Non Zahra harus tahu semuanya."
"Hanya Anindya yang boleh tahu semua ini. Zahra tidak boleh tahu." Ucapan Ezra masih penuh dengan ketegasan. Pria itu terlalu takut kehilangan istri bar bar nya itu.
"Bos... belum tentu Non Zahra meninggalkan bos, jika dia tahu semuanya. Apalagi bos akan menceraikan Nyonya besar." Jelas Dika.
"Dia itu beda Dika, hati kecilku mengatakan dia akan meninggalkanku, jika dia tahu masalah ini. " Ucap Ezra lirih.
"Semua keputusan ada ditangan bos. Saya akan melaksanakan perintah saja. Tapi, kita perlu waspada. Sepintar-pintarnya bangkai ditutupi, baunya tetap tercium juga. Jangan sampai Non Zahra tahu semua ini dari orang lain bos." Ucapan Dika, membuat Ezra tercenung. Yang dikatakan asistennya itu ada benarnya.
TBC.
Like, coment vote ya say.
Yang dapat pulsa 10 ribu.
@Litle fairy
@SantiS
@Tigan maniez
Terima kasih atas dukungannya. Give away akan ada lagi di akhir bulan 4. Setiap readers yang memberi paling banyak vote dan hadiah akan dpt pulsa 20 ribu.🙂
__ADS_1