AKU MADU IBUKU

AKU MADU IBUKU
Diculik


__ADS_3

Sepanjang perjalanan menuju sekolahnya Zahra, Senyum  tipis penuh  kebahagiaan tak pernah lepas dari wajah tampannya Ezra. Seumur hidup pria itu seperti baru kali ini merasakan euforia jatuh cinta yang begitu bergelorah. Mengenal Zahra rasanya sangat berbeda dengan wanita-wanita yang pernah singgah di hatinya. Bahkan pada istri pertamanya, ibunya Rara. Pria itu tak merasa sesenang ini. Begitu juga pada Anindya.


“Aneh…!” ucapnya sendiri dengan ekspresi wajah tak percayanya. “Apakah ini namanya godaan? Istri simpanan seolah lebih menarik


dari pada istri yang sah di mata hukum dan agama. Apakah aku sedang diperdaya iblis, sehingga aku merasa senang dekat gadis kecil itu. Dia itu layaknya jadi putriku. Tapi, kenapa aku ingin menjadikannya sebagai pasanganku? Kalau Anin mengetahui ini semua, bagaimana reaksinya? Ku harap dia bisa mengerti jikalau aku menjelaskan semuanya saat di kampung nanti, tepatnya bulan madu kami, aku ceritakan semua padanya.” Ezra terus saja bermonolog sepanjang jalan. Walau dia merasa senang dan kasmaran saat ini. Dia juga tidak tenang, karena memikirkan perasaan Anindya.


Dia sangat membutuhkan wanita lembut dan sabar itu. Karena, dia yakin. Anindya pasti bisa mendidik anaknya Rara yang frontal itu.


“Kenapa perjalanan asmaraku serumit ini ya? Padahal dulu, Aku mengira. Hanya Rani lah yang akan jadi pujaan hatiku sampai akhir hayat ku. Tapi, nyatanya dia wanita ular.”


Hufftttt…


Ezra menghela napas berat. Kalau mengingat Rani dia kesal sekali. Rani itu adalah teman kuliahnya di luar Negeri. Rani awalnya terlihat


seperti wanita baik-baik. Tapi, nyatanya wanita itu adalah wanita yang suka gonta-ganti pasangan. Dia juga terkadang meragukan tentang anak mereka si Rara.


Air muka yang sempat muram, karena mengingat masa lalu. Seketika berubah jadi berseri-seri. Karena pria itu telah melihat penampakan sang pujaan Hati. Zahra terlihat berdiri, menunggu jemputan di trotoar jalan di


bawah pohon yang rindang. Ternyata sekolah mereka sudah lama pulang. Tampak keadaan sekitar sekolah sudah sepi. Hanya satu dua tiga siswa yang masih menuggu angkutan.


“Lihatlah, lagi BETE aja, kenapa wajahnya begitu menggemaskan!” Ezra melajukan mobilnya pelan ke arah Zahra. Karena pengendara di jalan itu cukup ramai. Matanya tak pernah lepas dari sang istri. Matanya selalu ditarik, untuk menatap wajah cantik istrinya itu.


Saat itu juga, ezra merasa ada yang aneh. Saat seorang pria bermasker dan bertopi menghampiri istrinya itu, yang nampak sedang tidak mawas diri dengan sekitar. Ya, wajar saja Zahra tidak mawas diri. Karena saat ini dia


berada di tempat ramai dan dilingkungan sekolah. Tak mungkin ada kejahatan.


Zahra memang terlihat murung dan tak semangat hari ini. Karena mimpi buruk tentang ibunya, terus saja terekam diotaknya. Ditambah, Ferdy seperti menjaga jarak dengannya.  Jadilah seharian di sekolah, Zahra bete sebete-betenya. Apalagi, banyak siswi yang tak


suka padanya. Menatapnya sinis,  Karena kasus perkelahian kemarin.


“Halwa….!” Ezra berteriak dari dalam mobilnya, dia sangat terkejut saat melihat istrinya itu telah dibius pria bertopi,  melalui hidungnya dan langsung dimasukkan ke dalam mobil. Mobil itu pun tancap gas. Tadinya Ezra berniat turun. Untuk menghadang pria yang mencuri Zahra. Tapi, laju mobilnya di hambat oleh becak motor. Ezra pun akhirnya memutuskan membuntuti mobil yang menculik Zahra.


Mobil itu melaju sangat kencang.

__ADS_1


Tin....


Tin...


Tin….


Ezra terus saja mengklakson, agar pengendara di depannya memberi akses untuknya melaju cepat, dia tidak boleh kehilangan jejak, mobil


yang di dalamnya ada sang istri.


“Siapa yang ingin menculiknya? Untuk apa mereka menculiknya?” Ezra bermonolog, matanya  terus memantau mobil yang menculik Zahra. Dia harus bermain cantik. Jangan sampai mobil itu, mengetahui bahwa dia membuntuti mereka.


“Aku harus menghubungi polisi.” Ezra meraba saku jas dan kantong celananya. Dia tak menemukan benda apapun di saku jas dan celananya itu.


“Ya Ampyun… koq bisa hp dan dompetku tinggal..!” Ucapnya tak tenang.


Huffttt….


Ezra menghela napas berat.  Sedetik lagi rambu lalu lintas akan lampu merah. Dan mobil yang mencuri Zahra sudah melewati persimpangan itu.


Tin Tin Tin…


Ezra akhirnya lolos juga, sebelum lampu merah menyalah. Dia kembali mencari jejak mobil yang mencuri Zahra. Pria itu bahkan sudah hapal plat mobil itu.


“Sial… kenapa hape ku bisa tinggal!” umpatnya penuh kekesalan. Sudah ada satu jam dia membuntuti mobil itu, dan ternyata mobil itu


melaju ke arah Berastagi. Melihat jalanan sudah sepi. Karena sudah melewati kota. Ezra pun berniat untuk menyalip mobil  itu. Tapi, mobil itu  melaju semakin kencang saja. Sepertinya para penjahat yang menculik Zahra, sudah tahu. Bahwa aksi mereka sudah diketahui.


Aksi kejar-kejaran pun terjadi di jalan  yang mulus itu. Dan sekarang mereke telah


melintas di kawasan hutan. Dimana di sisi Kiri dan kanan adalah jurang.


“Stop….!” Turunkan istriku…!” Ezra berteriak.

__ADS_1


Pengendera mobil yang menculik Zahra tidak mengindahkan ucapan Ezra. Dia menambah laju mobilnya, Hingga kini Ezra ketinggalan jauh di belakang.


Ezra kesal, dia menambah laju mobilnya. Mobil yang dikenderainya adalah jenis mobil sport. Tentu tak ada apa-apanya dengan mobil penjahat yan jadul.


Tin tin tin..


Ezra terus mengKlakson, berharap penjahat mendengar peringatannya. Tapi penjahat itu seolah tak peduli. Ezra geram dan terpancing.


Dia pun akhirnya menubruk mobil butut itu dari belakang. Sehingga laju mobil penjahat itu  hilang keseimbangan, dan saat itu Ezra menyalipnya. Mobil penjahat masih berusaha melarikan diri, mundur ke belakang dan tancap gas.


“Sial…! kalian tak lolos.!” Ezra menekan kuat pedal gas. Dan kembali menabrak mobil itu dari belakang. Kali ini usahanya sukses. Mobil itu


hilang keseimbangan dan menabrak pohon besar dan rindang yang ada di tepi jalan dekat


jurang. Bahkan kap mobil penjahat itu terbuka dan mengeluarkan asap. Para penumpang mobil itu berhambur keluar. Termasuk Zahra terlihat diseret dari dalam mobil. Zahra sudah mulai sadar, dari pengaruh obat bius. Tapi, dia


seperti kehilangan tenaga. Otot-ototnya terasa lemas. Tulangnya terasa tak berdaya.


“Mau lari ke mana kalian? Berhenti…!” Ezra berlari cepat menghampiri para penjahat yang terlihat ingin melarikan diri. Dua penjahat terlihat memapah Zahra di bahunya. Menjauhkan Zahra dari jangkauan Ezra.


“Lepaskan istriku..!” Ezra mencoba meraih Zahra. Tapi, aksinya digagalkan dua penjahat pria. Ezra dan kedua penjahat itu akhirnya


berduel dengan Ezra. Merasa mereka akan dikalahkan oleh Ezra. Kedua penjahat


yang menghadang Ezra itu pun berteriak.


“Lempar ke jurang, ingat kata bos. Gak dapat hidup-hidup, dia harus mati…!”


Ucapan penjahat itu, membuat Ezra geram. Dan hanya dua kali seragan, keduanya terkapar. Dengan napas yang memburu Ezra mengejar dua pejahat yang sedang memapah  Zahra Tapi, langkahnya kalah cepat. Zahra


sempat terlempar ke jurang.”


TBC

__ADS_1


.


__ADS_2