
"Bimo, kejadian hari ini jangan sampai diketahui istri saya, dan jangan sampai terekspos media." Ujar Ezra, memijat pelipisnya dengan frustasinya. Kepala pria itu saat ini sangat pusing, rasanya mau pecah. Dia harus mempertanggung jawabkan, masalah yang dibuat oleh sang putri. Karena ulah sang putri, dia harus berurusan dengan gadis yang bernama Zahra. Mana satu perusahaannya melayang lagi.
"Iya Bos." Bimo yang duduk di sofa masih sibuk dengan banyak berkas di hadapannya.
"Bos, apa mahar Non Zahra ini beneran Bos?" Bimo menggeleng heran. Tambang mas raib sudah ke tangan sang gundik.
Ya memang di mana-mana istri simpanan, selalu dapat materi yang lebih dari istri sah.
"Iya." Jawab Ezra, beranjak dari duduknya, berjalan ke kamar tidurnya yang hanya dipisahkan dinding dengan ruang kerjanya.
Bimo pun akhirnya terdiam, jawaban singkat sang Bos, menandakan bahwa Bosnya itu sebenarnya sangat berat untuk melepas tambang emas itu.
***
Angin saat fajar memiliki rahasia untuk memberitahumu. Jangan kembali tidur.
Sebelum dapat subuh, Zahra sudah terbangun dari tidur expresnya. Gadis itu memang selalu bangun tepat waktu, walau dia tidur hanya tiga jam malam ini.
__ADS_1
Zahra tidak bisa tidur di kamar yang baru di tempatinya itu. Ditambah dia kepikiran dengan ucapan sang nenek, yang menasehatinya tentang sikapnya pada sang suami. Sebenarnya Zahra merasa berat hati bersikap kasar seperti itu. Tapi, dia sengaja melakukan itu. Dia ingin menilai bagaimana karakter sang suami. Ternyata suaminya punya karakter yang baik dan sabar. Dia jadi bingung dengan niatnya mau balas dendam.
Apakah kejahatan harus dibalas dengan kejahatan?
Zahra jadi pusing sendiri memikirkan niat yang tak baiknya itu. Karena memang bertolak belakang dengan kepribadiannya.
"Ayo sayang, cepat mandi. Kita sholat berjemaah di mushollah." Sang nenek terlihat membongkar koper milik mereka. Sang nenek sedang mengambil mukenanya dari koper.
Ya, Zahra dan Nenek Ifah punya kebiasaan sholat shubuh di mesjid saat di kampung. Apalagi mesjid sangat dekat ke rumah mereka.
"Iya Nek." Jawab Zahra malas sambil menguap. Turun dari ranjang masih dengan pikiran kacau. Zahra merasa kepalanya sedikit pening, karena Dia hanya tertidur tiga jam, dan saat ini dia masih sangat kantuk.
Selesai mandi dan berpakaian. Terdengar suara adzan yang syahdu dan mendayu. Siapapun yang mendengar seruan sholat itu, pasti akan segera bergegas menunaikannya.
"Ya Allah, merdu sekali suara adzannya." Ucap sang nenek, kini mereka sedang berjalan ke arah mushollah yang ada di pekarangan rumahnya Ezra.
"Iya Nek, merdu." Jawab Zahra seadanya. Dia masih merasa sedikit bingung berada di rumah yang megah ini. Pekarangan rumahnya sangat luas.
__ADS_1
Sesampainya di Mushollah, ternyata banyak orang yang akan melaksanakan sholat di Mushollah itu. Dan saat mereka hendak menyempurnakan sap, semua mata menatap mereka dengan tersenyum ramah.
Sholat berjemaah pun selesai dengan khusuk dan ditutup oleh doa, yang dibawakan imam.
"Kalau tuan Ezra datang ke rumah ini, rasanya membahagiakan sekali ya?" ucap seorang wanita yang ada di sebelah Zahra. Wanita itu sedang bicara dengan teman di sebelahnya. Dan Zahra yang kepo kepada Ezra akhirnya menguping.
"Iya benar sekali. Mana tuan Ezra baik banget, kita selalu dikasih tip." ucap wanita itu, sambil beres-beres hendak beranjak dari musholla itu.
"Iya bener, ayo kita harus cepat. Kata kepala pelayan, ada anggota baru keluarga tuan Ezra yang akan tinggal di rumah ini."
Zahra pun akhirnya menatap ke arah nenek yang masih khusuk membaca Al-Qur'an. Ya sudah kebiasaan Nek Ifah, setelah selesai sholat, akan meluangkan waktunya untuk membaca Al-Qur'an.
Melihat sang nenek tak mungkin diganggu. Zahra pun akhirnya keluar dari musholla itu, masih mengenakan mukena. Dan pada saat dirinya berjalan santai di pelataran mushollah. Suara barithon mengejutkannya.
Zahra pun menoleh ke asal suara, sambil memegangi dadanya yang masih bergemuruh karena terkejutnya.
"Kita harus bicara, ikuti saya." Ujar Ezra dengan serius menatap Zahra yang masih terkejut itu.
__ADS_1
TBC