AKU MADU IBUKU

AKU MADU IBUKU
Banyak krikil


__ADS_3

"Itu ibunya Non Rara, Nyonya!" Jawab ART berjenis kelamin wanita ramah.


"Aku bukan nyonya, nyonya! jadi, Jangan panggil nyonya lagi ya" Ujar Zahra lembut, tapi dengan muka masam, tak suka dipanggil nyonya, rasanya ia jadi tua seperti Ezra.


"Ii--ya nyonya, Eehh... Nona..!" ucap pelayan wanita itu dengan tergagap. Jangan sampai majikannya tersinggung. Ya begitulah wanita, saat sensitif mengenai panggilan.


Emang mau dipanggil nenek. Padahal kamu baru berumur 32 Tahun dan punya dua anak. Tiba-tiba disuatu tempat, seseorang menanyakan, anak yang sedang bersamamu adalah cucumu. Kan, buat suasana hati jadi buruk mendengarnya.


"Aahh gitu dong Bi. Oh ya, bersihkan kamar Rara ya bi, sekarang!" Ujar Zahra ramah. Sebenarnya ia penasaran dengan yang terjadi di luar gerbang rumah gedong ini. Tapi, rasanya sangat malu menanyakan pada ART.


Walau begitu, Rara yang penasaran tetap juga menyeret kakinya ke pos satpam.


Zahra memperhatikan lekat wanita cantik dan berpenampilan glamour itu mirip dengan wanita yang menahannya di toilet bandara beberapa Minggu yang lalu.


Apakah wanita itu, ibunya Rara?


Zahra bermonolog, ia semakin dekat ke pos satpam. Kalau bener ini wanita yang menghasutnya di toilet bandara. Jadi, sudah jelas, kakau mantan istri, suaminya itu memang jahat. Pantas saja dilarang bertemu dengan Rara.


"Kenapa ibu itu tak dibolehkan masuk pak?" tanya Ezra, pada pak satpam yang tidak ikut menangani Rani yang mengamuk-mengamuk dan ingin melewati palang beton yang menghadangnya.


"Gak dibolehkan Nona." Jawaban pak satpam ramah.


Zahra tersenyum tipis. Ia suka dipanggil Nona.


"Oowwhh...!" Zahra mengerucut kan bibirnya. Mengerti kenapa wanita cantik itu tak diperbolehkan masuk.


Ceh ceh....


Selera Hubby tinggi banget ya? koq dia suka samaku ya? apaa dia bosan dengan yang kinclong begini? wajahnya saja berminyak dan mengkilap. Bedaknya 5 cm kali ya tebalnya.


Zahra bermonolog, memperhatikan Rani lekat, yang berontak ingin masuk ke dalam, dari kaki hingga ujung kepala.


Heels 15 cm. Kukunya di cat gliter warna silver. Kaki mulus putih pucat, saking putihnya. Kaki putih mulus itu menantang karena Rani hanya memakai hotpan yang dipadu dengan dalaman kaos dan crop. Sungguh sangat stylish. Rambut panjang sepinggang bergelombang, mata besar dengan bulu mata lentik, anti badai


Cehh... ceh... Ceh...


Zahra berdecak kagum melihat penampilan ibunya Rara itu. Perfecto, artis ibu kota lewat.


"Hei....Pelakor....!"


Zahra terkejut dia dikatain pelakor. Saking terkejutnya ia sampai melompat kaget. Dan memegangi dadanya yang jantung nya hampir copot, karena dikatain pelakor.

__ADS_1


Tadinya ia menaruh simpatik dan kasihan pada Rani dan ada niat mengizinkannya masuk ke dalam rumah. Tapi, karena dikatakan pelakor, ia jadi berang.


"Aku, ibu bicara denganku?" Zahra menunjuk dirinya, pura-pura tak merasa dengan sebutan pelakor yang dituduhkan padanya.


"Iya, kamu." Ketus Rani menantang. Wajah cantik itu memerah sudah, karena emosi.


"Enak saja bilang aku pelakor." Ujar Zahra kesal.


"Kamu kan pelakor. Gak sadar kamu, telah merebut suami ibumu sendiri. Dasar anak durhaka..." teriak Rani, ia tak bisa membendung kekesalan di hatinya. Ia kesal pada wanita yang jadi istrinya Ezra. karena ia masih ingin rujuk dengan Ezra.


Zahra geram dikatain pelakor. Darahnya mendidih sudah melihat Rani yang kini hanya berjarak satu meter di hadapannya dan hanya dibatasi palang. Ingin rasanya ia merobek-robek mulut nya Rani.


"Napa? gak terima dikatain pelakor? gak sadar kamu? emang gak ada lagi apa, pria selain bapak tirimu sendiri." Ketus Rani masih dengan ekspresi kesalnya. Wajahnya yang cantik dan lemah lembut, sangat contras dengan sikapnya yang frontal.


"Ibu, lebih baik anda pulang. Karena, pihak berwajib sudah menuju ke tempat ini." Ujar Pak Satpam, mencoba menghentikan Rani yang kesetanan. Ya benar, mereka sudah melapor Rani ke pihak berwajib. Itu sesuai dengan perintah Ezra. Jika, Rani buat keributan, langsung dilaporkan ke pihak berwajib. Karena menggangu ketentraman.


Siapa coba yang tak sedih dan kesal. Mau jumpa anak sendiri gak dibolehkan. Tentulah Rani ngamuk. Rani kan merasa gak bersalah, gak ngaca diri. Ngatain orang pelakor. Padahal ia sudah jadi pelakor, jadi simpanan orang lagi. Suami nya banyak. Bahkan sekali pakai semua.


"Aku gak akan pulang, kalau gak bertemu dengan putriku Rara." Sahutnya kesal, kembali mengamuk dan memanggil-manggil Rara.


Zahra saat ini sedang menahan emosinya. Ia sedang hamil, jadi mudah tersinggung. Memang benar yang dikatakan Rani itu, kalau ia bisa dikatakan merebut suami ibunya sendiri. Pemikiran itulah yang berputar-putar saat ini di kepalanya nya, yang membuatnya kini termangu dan menatap nanar Rani.


Memikirkan ia dikatakan sebagai pelakor, membuat kepala nya sakit sekali. Seperti di pukul palu bogam. Sakit, nyut nyut. Begitu juga dengan hatinya saat ini. Jujur, kadang ia tak terima berjodoh dengan Ezra. Karena, Ezra terlebih dahulu menikah dengan ibunya. Tapi, apa mau dikata, sudah seperti itu suratan takdirnya.


Zahra tak bisa mendengar dengan jelas, apa yang diucapkan wanita cantik di hadapannya. Karena saat ini, jumlahnya Rani sudah ada lebih dari tujuh dipenglihatannya. Ia juga merasakan sesuatu yang mendesak ingin keluar dari sistem pencernaannya. Butiran air sebesar biji jagung, mulai membasahi dahinya.


Zahra tak bisa menahannya lagi. Ia akan ambruk. Dan suara sirine terdengar samar di telinga dan tiba-tiba gelap.


Sebelum Zahra ambruk, pak security, berhasil meraih tubuh nya. Dan saat itu juga, Rani ngacir , masuk cepat ke dalam mobilnya. Sebelum mobil patroli sampai di tempat itu


"Non, Nona...!" Teriak pak security, menggendong cepat Zahra masuk ke dalam. Ia tak pingsan. Ia bisa mendengar semuanya. Tapi, ia tak bertenaga. Kepalanya terasa sangat sakit. Tubuhnya juga mendadak ikut sakit semua.


"Zahra, kenapa dia pak? ada apa dengan putriku?" Anin yang baru saja keluar dari kamarnya Rara dan baru saja sampai di ruang tamu, dikejutkan dengan Zahra yang digendong pak satpam.


"Non Zahra, tadi mau pingsan nyonya." Jawab Pak satpam terengah-engah. Dia merasa bobot tubuh Zahra berat sekali.


"Bawa ke kamar, ayo cepat. Ambilkan air hangat. Ambil kan waslap! buatkan teh manis. Panggil dokter..!" Titah Anin panik, kenapa putrinya yang kuat ini bisa pingsan. Belum pingsan sih sebenarnya. Tapi, gak berdaya.


.Zahra itu anaknya kuat, ia tak akan mudah pingsan.


Apa karena hamil?

__ADS_1


Anin tak hentinya menduga-duga tentang keadaan putrinya.


"Zahra... Sayang...!" Anin melap wajahnya Zahra yang sudah dibasahi keringat dingin itu.


Zahra tak menjawab, ia hanya menatap sedih sang ibu. Merasa bersalah, karena telah pernah jadi madu ibunya itu.


"Boru, kamu kenapa? hah...?" Anin heran, tadi putrinya itu masih terlihat bugar dan semangat, sekarang kenapa jadi lemah begini.


"Kepalaku sakit sekali Mak!" Ujarnya meringis kesakitan, memegangi kepalanya yang terasa mau pecah itu.


"Apa tekanan darahmu turun? atau kamu anemia. Nanti kamu harus disuntik Neurobion." Anin sangat panik. Ia jadi teringat saat mengandung Zahra. Kalau terlalu lelah, maka kepalanya akan pusing, pandangan berkunang-kunang dan lemas. Dan kalau dia sipeksi, mama bidan desa akan kasih dia injeksi Neurobion.


"Gak tahu Mak." Ujar Zahra masih meringis kesakitan.


"Kapan terakhir kamu kontrol sayang?" tanya Anin penuh selidik dengan wajah paniknya


"Seminggu yang lalu Mak." Zahra masih memegangi kepalanya. "Mak, maafkan Zahra ya?"" Zahra teringat ucapan Rani. Ia meraih tangan sang ibu dan mengecupnya. Jangan sempat ibunya itu sakit hati padanya. Ia tak mau dikatakan anak durhaka.


"Kamu bicara apa sayang? maaaf untuk apa?" Ujar Anin, dan memberi kode pada ART, agar lebih cepat berjalan ke arah mereka. ART terlihat membawa teh manis panas.


Zahra terdiam, rasanya ia tak ada tenaga untuk membahas semuanya lagi. Lagian kan masalah mereka sudah selesai. Zahra sangat sensitif sekarang. Mungkin karena hormonalnya yang lagi melonjak drastis.


"Minum dulu." Anin menyendok teh manis itu dan mendekatkannya ke mulut Zahra. Dengan mata yang berkaca-kaca, Zahra meneguknya. Ia sedih, kenapa takdir mereka sekejam ini. Kenapa ia harus jadi madu sang ibu.


"Sebelum dokter datang, kamu istirahat dulu sayang." Anin membelai kepala sang putri.


"Mak, kita pulang ke kampung saja yuk! kita berdua tinggal di rumah kita yang dulu. Kan sebentar lagi nenek pulang berhaji." Ucapnya menatap sedih sang ibu. Wajahnya kini terasa tegang, karena menahan tangisnya.


"Bicara apa kamu sayang?" Anin masih membelai lembut kepala sang putri.


"Di sini gak enak mak. Terlalu banyak masalah. Mending kita di kampung saja. Biar makan singkong rebus, pakai cabe atau gula, rasanya nikmat. Terus gak ada yang usil." Kini Zahra tak bisa membendung air matanya lagi. Cairan bening itu lolos sudah membasahi pipinya.


"Bicara apa kamu sayang. Di kampung juga ada yang usil. Itu Bu Shusi kan usil." Anin tahu, ke mana arah pembicaraan sang putri. Jadi ia tak mau mengikuti alur pembicaraannya Rara.


"Bu Shusi kan hanya syirik saja Bu. Ya, kkau gak kita pulang ke kampungnya ibu. Dekat kampung nya ibot Bimo."


"Jangan ngaur, jangan hanya karena masalah sedikit mau kabur. Orang pingin tinggal di kota, kamu malah pingin pulang kampung."


"Di kampung kan enak Mak. Lagian, aku di sana ada tambang emas. Walau pisah dari Hubby, itu tetap jadi milikku."


"PISAH... Mau pisah....?" suara bariton dengan intonasi tinggi, membuat ibu dan anak itu terkejut. Keduanya pun menoleh ke asal suara. Siapa lagi dia kalau bukan Ezra. Yang kini berjalan menghampiri Keduanya dengan ekspresi wajah datar.

__ADS_1


TBC


Vote dong😀


__ADS_2