
Sekali tatapan, para pegawainya Ezra berhambur menjauh dari jangkauan matanya. Ezra dengan cepat menggandeng sang istri. Seolah tak terjadi apa-apa di dalam lift. Zahra tersenyum mengejek sang suami, yang bersikap masa bodoh itu.
Sepanjang perjalanan menuju rumahnya Anin, tak ada percakapan keduanya. Hanya suara musik lagu dari Letto yang menemani perjalanan mereka. Ya Ezra suka sekali lagu melow.
Ezra memilih untuk diam, karena takut salah bicara. Dia tahu mood sang istri sedang tidak baik. Karena dirinya tak mau mengabulkan permintaan istrinya itu.
"Nanti Hubby jemput ya?" ujarnya menatap sendu Zahra dengan senyum tipisnya. Walau hati resah dan gelisah karena sikap Zahra yang dingin. Pria itu tak mau menunjukkan kegelisahannya itu saat ini.
"Iya By." Sahutnya dingin, entah kenapa dia jadi malas banyak bicara dengan Ezra. Bahkan dia tak ingin mendapatkan perlakuan spesial lagi. Zahra dengan cepat turun dari mobil, sebelum suaminya itu membuka pintu mobil untuknya.
Hati Ezra rasanya semakin sesak, melihat sang istri turun sendiri dari mobil, padahal Ezra sudah berniat membukakan pintu untuk sang istri. Sikap istrinya mendadak berubah dingin, karena keinginannya tak terpenuhi.
Huuffttt..
Ezra kembali menghela napas, agar dadanya yang sesak karena sikap Zahra kembali terasa lapang. Dia juga beberapa kali mengelus dadanya dan menatap penuh kekecewaan sang istri.
Zahra menyeret kakinya lebar meninggalkan Ezra, sebelum keinginan terkabul. Suasana hatinya tak akan membaik. Dengan frustasinya Ezra mengekori sang istri masuk ke dalam. Anin sudah menyambut mereka di teras rumah.
Zahra dengan cerianya menjulurkan tangannya menyambut tangan sang ibu. Ibu dan anak itu pun berpelukan dengan penuh kasih sayang.
Ezra yang tadi tidak tenang karena sikap dinginnya Zahra. Kini semakin tegang, karena harus berbasa-basi dengan wanita yang pernah jadi istrinya itu.
"Apa kabar nantulang...?" ujar Ezra dengan kikuknya, menjulurkan tangannya ingin berjabat tangan.
Bukan Ezra saja yang kikuk dan nervouse, Anin juga tak kalah nervousnya "Ba-- baik be, berr...e..!" Anin bahkan gelagapan menjawab pertanyaan sang menantu.
__ADS_1
Zahra tersenyum tipis, dia koq jad merasa lucu melihat sikap Ibu dan suaminya itu. Hadeuh.... kalau dipikir-pikir kisah mereka memang langkah, sangat langkah.
"Mak, Zahra nginap di sini loh!"
Lagi-lagi Ezra dibuat terkejut bathin mendengar kalimat yang terlontar dari mulut istrinya itu. Tadi katanya hanya berkunjung, kenapa kini mengatakan ingin menginap.
Anin yang peka merasa ada yang tak beres. "Eehhmmm.... Gak baik terlalu sering nginap di rumah umak. Kamu sudah punya kehidupan sendiri sayang." Anin memberi pengertian pada Zahra, kemudian wanita itu melirik Ezra yang kini sudah mendudukkan bokongnya di sofa dengan wajah kusutnya.
"Be, bere Ezra, "Ujar Anin ragu. Rasanya lidahnya keluh mengatakan itu. "Kamu harus sabar-sabar hadapi sikapnya Zahra, dia masih belia, kadang bersikap mau sesukanya saja."
"Iihh.... si umak, koq malah nyalahin aku sih? di mana-mana seorang ibu itu harusnya membela putrinya." Ketus Zahra dengan wajah kusutnya. Kini wanita itu semakin membenci Ezra.
"Sayang, umak gak bela siapa-siapa. Lah emang kamunya salah. Ngapain mau nginap di rumah umak. Kamu kan punya rumah."
"Kan Zahra kangen!"
"Umak sibuk terus, setiap dihubungi pasti sedang di rumah sakit." Celos Zahra dengan merengut.
Anin kembali melirik Ezra yang terlihat semakin tak nyaman di tempat itu.
"Bere, kalau mau kerja lagi, gak apa-apa dilanjut." Ujar Anin dengan tersenyum ramah
"Oohh... Iya Nantulang, memang masih banyak pekerjaan. Kalau begitu saya pamit dulu. Nanti aku ke sini lagi menjemput Zahra." Ujar Ezra dengan sedikit canggung. Bangkit dari duduknya, dan menghampiri Anin dan Zahra yang duduk di hadapannya. Pria itu pun kembali menjulurkan tangan nya untuk menyalim sang ibu mertua.
"Ayo Salim suamimu!" titah Anin pada Zahra yang masih cemberut. Moodnya hancur sudah karena disalahkan di hadapan sang suami Kirain ibunya akan membelanya habis-habisan.
__ADS_1
Dengan senyum dipaksa Zahra meraih tangan suaminya itu. Dia menempelkan punggung tangan Ezra di dahinya. Dan Ezra mengelus lembut kepala Zahra yang ditutupi hijab itu.
"Hubby kerja dulu, kalau ada mau dibeli, kabari ya sayang!" ujarnya dengan canggung. Dia masih merasa tak enak hati pada Anin.
"Iya By."
Anin dan Zahra mengantar Ezra ke parkiran. Setelah mobil Ezra hilang dari pandangan mata mereka kembali masuk ke dalam.
Zahra yang kesal, langsung berlari ke lantai dua. Tepatnya ke kamar sang ibu. Anin dengan cepat menyusul putrinya itu. Dia bisa memahami perasaan Zahra saat ini. Wanita hamil memang gampang tersinggung dan merajuk.
"Umak kenapa sih bela si pak tua itu?" ujar Zahra penuh kebencian. Entahlah disaat keinginannya tak dipenuhi Ezra, dia jadi kesal pada suaminya itu. Seperti nya Zahra belum mengerti banyak tentang pernikahan.
"Ra, bicara yang sopan. Dia itu suamimu, kenapa lagi bilang pak tua." Anin memperingatkan dengan lembut mengusap kepala sang putri yang kini sudah tak berhijab lagi. Zahra yang kesal, langsung saja melepas hijabnya dan melemparkannya ke sembarang arah.
"Emang dia tua!" culas Zahra, membuang wajah dari Anin. Zahra sungguh kesal pada Anin, yang sejak dia menikah selalu menyalahkan sikapnya. Tak pernah dia benar di hadapan ibunya itu, selalu salah dan salah. Padahal dulu, ibunya itu adalah teman curhat ternyaman buatnya. Ibunya sangat mengerti apa maunya. Dan sekarang, semua yang dia lakukan dan ingin kan salah terus.
"Umak gak bela dia sayang. Umak harus bersikap seperti itu, agar dia tetap hormat pada kita. Kalau umak menyalahkan nya di hadapanmu. Memihakmu di hadapannya. Harga dirinya bisa hancur sayang. Nantinya dia bisa benci pada kita. Begitulah kita wanita ini sayang, harus sabar-sabar. Jangan dikit-dikit merajuk." Ujar Anin lembut, kini beralih memijat lengan Zahra. Tentu saja Zahra jadi merasa tidak enak, karena ibunya itu memijat lengannya. Harusnya dia yang memijat tubuh lelahnya sang ibu.
Zahra yang tadi tiduran kini mendudukkan tubuhnya. Ia juga melap air matanya dengan jemarinya.
"Orang tua tak boleh ikut campur dalam urusan rumah tangga anak-anaknya. Orang tua tak boleh memihak dan menghasut anak-anak nya. Dalam rumah tangga tak pernah lepas dari masalah sayang. Jikalau masalah datang, terus kamu curhat pada umak. Dan umak memihakmu. Disinilah akan terjadi kehancuran itu. Sekalipun suamimu salah. Umak tak berhak menyalahkannya langsung. Kecuali kesalahan nya sangat fatal. Misal KDRT, berjudi, main wanita, mabuk-mabukan dan lain sebagainya. Kalau sudah kasus seperti itu, tentu umak akan menyalahkan.
"Dia kan gak seperti itu mak!'
"Terus apa masalahmu dengannya? apa kamu gak kasihan lihat wajah setresnya atas sikapmu. Ra, Ezra itu pria baik. Asal kamu tahu, kalau bukan kamu wanita itu, umak tak akan melepaskannya." Ujar Anin dengan mata berkaca-kaca. Dia dengan cepat memalingkan wajahnya karena tak sanggup menunjukkan kesedihannya. Bagaimana pun hatinya masih sakit atas apa yang menimpanya. Tapi, demi kebahagiaan sang putri, dia mau mengalah dan mencoba ikhlas. Walau terkadang jikalau mengingat semuanya hatinya terasa sakit sekali.
__ADS_1
TBC
Like coment dan vote say