
"AKU TIDAK MAU JADI ISTRI SIMPANAN..!" ucapan Zahra yang tegas, membuat Ezra menghentikan aksinya mengusap-usap kepala sang istri. Zahra pun akhirnya memberanikan diri untuk membuka kedua matanya dan mereka beradu pandang.
Tatapan keduanya sangat bertentangan. Zahra menatap Ezra penuh kebencian. Sedangkan tatapan Ezra penuh dengan cinta. Entah kapan pria itu merasakan perasaan itu, dia tidak tahu. Yang jelas dia sangat cemburu mendengar cerita Bimo, yang mengatakan Zahra itu disukai cowok anak orang kaya, yang namanya Ferdy. Dan masalah yang terjadi di sekolah, karena teman sekelasnya tak terima kenyataan bahwa Zahra dan Ferdy terlihat dekat. Padahal Zahra murid baru di sekolah itu.
Rasa takut kehilangan itu pun semakin menjadi, disaat Bimo cerita banyak tentang. Kejadian di tepi sungai juga membuatnya semakin takut kehilangan istri kecilnya itu
"Apa kamu ingin aku bercerai dengan Dyah?" bicara lembut, dan matanya masih setia menatap wajah terkejutnya Zahra.
Pertanyaan bodoh, siapa juga yang ingin dia menceraikan istri yang dicintainya itu. Sepertinya pak tua salah paham dengan ucapanku.
Zahra menggeleng kuat.
"Anda ceraikan saya, bukan istri tercinta lembut hatinya itu." Ucapan Zahra cukup menohok buat Ezra. Tapi, dia malah merasa lucu dengan kalimat yang diucapkan istrinya itu.
" Ohhh.... ITU TIDAK BISA!" ujar Ezra tegas. Dengan kode telunjuk penuh penolakan. Menatap tajam Zahra penuh penekanan. "Saya tidak akan pernah menceraikan kamu!" bangkit dari ranjang dengan santainya berjalan ke kamar mandi dengan tubuh polosnya.
Zahra dibuat tercengang dengan ucapan Ezra. Apa maunya pak tua itu, kenapa tidak ingin melepaskannya.
"Aku mau cerai....!" teriak Zahra penuh kekesalan. Ezra yang hendak sampai ke kamar mandi menghentikan langkahnya, memutar tubuhnya cepat
"Sialan..!" Zahra membuang pandangannya tak sanggup melihat sang suami yang polos itu. Mana rudalnya masih on. "Gak punya malu!" umpatnya lagi, semakin kesal dengan Ezra. "Dia pikir dia masih anak paud. Yang otong-otongnya gak pakai helm." Zahra terus saja menggerutu. Sedangkan Ezra kembali menyeret langkahnya ke kamar mandi
Dia tak perlu menanggapi ucapan Zahra. Toh akan terjadi lagi perdebatan yang panjang.
Ezra pun mengguyur tubuhnya yang panas itu dengan air hangat dari shower. Yang panas dilawan dengan yang panas. Berharap tubuh bisa rileks dan miliknya yang on, bisa lemes. Tapi, nyatanya rudalnya itu tak kunjung lemas. Masih tegak. Ezra yang tak mau ma**st**urbasi itu, berusaha keras mengalihkan pikirannya ke hal-hal yang membosankan Dia juga beralih berendam di bathtub dengan aroma terapi. Menikmati air hangat yang membasahi kulitnya, sembari menutup mata.
__ADS_1
"Oohh shiitttt,...!"
Ezra mengumpat kesal dalam hati. Dia tidak bisa mengajak rudalnya itu berkompromi. Sepertinya hormon testosteron pria itu sedang melonjak dan aliran darah sangat lancar ke bagian organ sensitif tak bertulang itu.
"Astaga...... Ini gak bisa dibiarkan. Berdzikir pun aku semalam tak akan bisa menidurkan ini barang." Ucapnya kesal memegang miliknya yang masih erek. si itu.
"Harus dikeluarkan, hadeuhh.... punya istri dua. Tapi, gak bisa diandalkan." Ucapnya seperti orang bodoh-bodoh, mencari tempat yang mantap untuk main kocok arisan. Ezra sudah hampir satu jam di dalam kamar mandi itu, seperti orang linglung.
Ezra pun akhirnya memutuskan melakukan hal tak terpuji itu. Dia melakukannya dengan bantuan pelumas. Mulai menutup mata dan membayangkan sang istri tercinta yang lembut hatinya. Siapa lagi kalau bukan Anindya. Tapi, anehnya yang menari-nari dipikirannya saat ini, bukanlah Anindya, tapi Zahra.
Ezra mulai menikmati permainannya, wajah putihnya kini nampak mulai memerah. Karena begitu semangatnya merasakan sensasi baru itu. Karena saking panasnya gejolak nafsu itu, tak butuh lama dia akan ejakulasi. Rasa tegang sudah mulai terasa. Nikmat surga dunia solo itupun hampir tercapai, pria itu akan ejakulasi.
"Aaaawwwww..... Dasar pak tua mesum.....!" teriak Zahra kaget melihat kelakukan suaminya yang bermain sendiri itu. Sumpah, baru kali ini dia melihat tontonan menjijikkan seperti itu. Apalagi posisi Ezra saat ini menghadap ke arah pintu kamar mandi. Di mana Zahra sedang berdiri di ambang pintu.
Aaaarrgggh.....
Wanita itu sesak pipis, dia yang sudah tertidur selama tiga puluh menit itu, tidak tahu kalau sang suami masih ada di dalam kamar mandi. Zahra sempat meratapi nasibnya saat sang suami di kamar mandi. Tapi, karena dia kelelahan sekali, dia pun tertidur saat menangis tersebut. Dia pun terbangun, karena panggilan alam.
Zahra begitu syok melihat tontonan tak sopan yang dilakoni Ezra. Wanita itu mendudukkan bokongnya di tepi ranjang, berulang kali menarik napas panjang, guna bisa menenangkan dirinya. Rasa sesak pipis kini hilang sudah digantikan rasa takut. Dia sangat takut, Ezra memaksanya untuk melayaninya. Dia tak sanggup melakukan itu.
Zahra yang ketakutan itu, akhirnya berfikir keras, agar bisa selamat dari Ezra. Wanita yang pemikirannya masih seperti ABG itu pun memutuskan tidur di ranjang ruang SPA saja.
Dia bangkit dari ranjang, memungut kimono lingerie yang teronggok di lantai. Buru-buru memakainya dan berniat sembunyi di ruang spa saja.
"Mau ke mana?" Suara bariton itu, membuat Zahra terlonjak kaget. Dia sampai mengelus dadanya yang bergemuruh itu. Sambil banyak berdoa dalam hati, agar selamat dari pak tua malam ini. Dia tidak yakin dengan pernikahan mereka. Karena, dia tak mau jadi istri simpanan.
__ADS_1
Wangi tubuh sang suami menyeruak di indera penciumannya begitu menyegarkan dan menenangkan. Yang membuat Zahra tak tertarik meninggalkan kamar itu. Sungguh wangi sampo dan sabun yang melekat di tubuh atletis sang suami, seperti pelet saja, yang membuatnya jadi tunduk.
"Kita harus bicara serius malam ini. Masalah ini tak bisa dibiarkan berlarut-larut." Kini Ezra sudah berdiri di sebelah Zahra. Pintu masuk ke ruang spa dekat ke pintu kamar mandi.
"Masalah ini perlu diluruskan." Ezra menyeret langkahnya ke ruang ganti. Zahra melirik sang suami, yang kini terlihat mempesona, dengan handuk putih yang membelit di pinggang kokoh suaminya itu.
Zahra akhirnya memutar tubuhnya. Memperhatikan sang suami yang ada di ruang ganti. Ya dari arah Zahra berdiri saat ini, keadaan di ruang ganti dapat diamati. Zahra memperhatikan sang suami yang sedang berpakaian itu. Semuanya diamati wanita itu, dari memakai dalaman. Hingga pria itu kini nampak rapi dengan piyama tidur, corak abstrak warna abu tua.
Saat sang suami keluar dari ruang ganti, Zahra dengan cepat memalingkan wajahnya.
"Saya tahu, adek itu tidak nyaman dengan pakaian itu. Ini kamu pakai lah!" menyodorkan piyama yang sama dengan yang dikenakan sang suami. Ternyata suaminya itu, ingin mereka memakai pakaian sama, coupelan.
"Ayo, ganti bajunya." Zahra menatap lekat Ezra, dan tatapannya itu, kini beralih ke piyama yang ada di tangan sang suami. Dengan ragu, Zahra meraihnya. Berlari cepat ke dalam kamar mandi. Ya karena dia memang sesak sepi.
TBC.
Yang dapatkan give away pulsa 10 RB
@Santis
@Tigan Maniez
@Litle fairy
Boleh chat aku, siapa tahu nomornya yang lain diisikan pulsa.
__ADS_1
Berharap give away berikutnya, ada pemenang baru.
Makasih sudah mau dukung novel viral ini.❤️🙂🙏😀😂