
Akhirnya operasi pemotongan usus Anindya yang luka berjalan dengan sukses. Dan kini dia telah dipindah ke ruang rawat.
Raut wajah sedih dan keputusasaan masih menyelimuti wajah pucatnya. Sama sekali tak ada semangat hidup yang terpancar di wajah cantik itu. Mata kosong menatap langit-langit ruangan itu. Cairan bening terus saja keluar dari sudut matanya. Wanita itu menangis dalam diam.
Ezra tak tahu harus berbuat apa. Setelah pria itu tahu, bahwa wanita yang ada di hadapannya adalah ibu mertuanya. Dia jadi bingung untuk bersikap. Menunjukan sikap yang mesra, rasanya jadi canggung dan bertolak belakang dengan hatinya. Bagaimana mungkin seorang menantu bersikap mesra pada ibu mertua. Tapi, kan wanita itu juga istrinya. Ezra jadi serba salah, dia merasa enggan dan sangat susah untuk dekat seperti semula pada Anin.
"Kenapa aku gak mati saja. Aku gagal jadi ibu." Air mata semakin deras mengucur dari sudut mata wanita itu. Ezra jadi kasihan pada istrinya itu. Kenapa juga dia harus terjebak pada ibu dan anak itu.
"Abang.... tolong aku, cari keberadaan putriku serta ibu mertuaku. Aku sangat mengkhawatirkan mereka. Tadi ku dengar putriku ingin dinikahkan dengan germo. Apa suami yang membawanya ke kota itu, beneran germo. Gimana nasib putriku? Zahra....!" Anin menumpahkan semua yang mencolok di hatinya. Ezra yang mendengarnya semakin merasa bersalah. Berawal dari Rara yang ingin menghancurkan Zahra, dan sekarang pria itu yang juga kena imbasnya.
"Bang... Bantu aku Carikan putriku! hiks..hiks.. hiks..!" dengan tangan gemetar Ezra merangkum tangan sang istri yang memegang tangannya.
"Dyah... Kamu baru selesai operasi. Jangan banyak pikiran ya. Abang akan cari keberadaan mereka." Ujar Ezra tak berani menatap mata sendunya Anin, yang dari tadi terus saja menatapnya. Ezra berbohong akan mencarinya, padahal anak, ibi mertua sang istri bersama dia.
Astaga.... Kenapa dunia sekejam ini.
Anin merasa ada yang berubah dari sang suami. Sikap suaminya itu kini jadi dingin. Biasanya juga suaminya itu akan membelainya dan tersenyum hangat padanya.
Esra sungguh tak tahan ditatap terus oleh Anin. Ini masalah berasal dari dirinya. Tak seharusnya dia memaksa Anin untuk menikah dengannya waktu itu. Dan sekarang pria itu lebih condong pada Zahra. Karena memang Zahra sudah digaulinya. Sedangkan Anin belum sama sekali. Dia bukan pria bejat, dia tahu hukum agama.
"Abang kenapa?"
"Haaah... kenapa? maksud adek apa?" tanya Ezra melirik Anin dan kembali cepat mengalihkan pandangannya. Bukan saatnya sekarang membahas semuanya. Istrinya itu sedang tidak sehat. Ditambah kondisi kejiwaannya sedang tidak stabil.
__ADS_1
"Dari kemarin Abang dingin padaku. Dan hari ini semakin terasa." Air mata wanita itu terus saja keluar dari sudut mata indahnya. "Apa karena aku penyakitan, Abang jadi ingin mencampakkanku?" Anin tak bisa menahan dirinya yang emosional itu, dia pun akhirnya menangis histeris. Sampai-sampai perawat yang ada di luar, masuk ke dalam ruangan itu. Penasaran dengan apa yang terjadi.
"Dek, kamu itu sedang sakit. Masa penyembuhan, Abang gak berubah. Itu hanya asumsimu saja. Kamu lagi sensitif saat ini, dan kamu selalu menarik diri." Jelas Esra sedih, dia akhirnya membelai kepala sang istri.
"Bu, tolong lebih rileks. Kalau ibu setres, luka bekas operasi bisa lama sembuhnya Bu. Dan tak bisa dipungkiri, mungkin akan timbul penyakit lain." Jelas Suster, yang memeriksa infus Anin, yang sudah berdarah karena tangan wanita itu banyak gerak.
Anin pun terdiam sejenak. "Aku tak mau mati, aku belum mau mati. Aku ingin bertemu dengan anak dan ibu mertuaku." Ucapnya lagi kembali emosional, tak memperdulikan lagi suster yang ada di ruangan itu.
"Iya Bu, harus sembuh ya?" ucap Suster ramah. Ezra hanya termangu melihat semuanya. Sampai kapan dia akan menyimpan rahasia ini. Dia juga tak mau berlarut-larut dengan masalah ini. Ezra bukan pria yang susah ambil keputusan. Dia itu tegas, tahu apa yang dia mau. Tapi, melihat sang istri dalam keadaan terpukul, membuatnya tak akan berani mengatakan semuanya. Sebelum mental istrinya pulih kembali.
Suara adzan terdengar sangat syahdu, dari musholla rumah sakit. Ya ruangan Amin saat ini dekat musholla. Sudah saatnya sholat magrib.
"Sus, jaga istri saya dengan baik. Saya mau sholat dulu." Ujar Ezra pada suster tanpa ekspresi. Rasanya Ezra tak sanggup basa-basi lagi. Dadanya sudah terasa sesak saat ini. Bisa bernafas saja, seperti sekarang sudah suatu keajaiban untuknya.
"Iiya pak, suap..!" suster tersenyum tipis pada Ezra.
Anindya mengangguk, dia tak mungkin menahan Ezra untuk tetap disisinya. Pria itu ingin menunaikan rukun Islam kedua. Walau sebenarnya, Ezra bisa sih melakukannya di ruangan itu.
Ezra berjalan dengan tidak semangat menuju musholla dan diikuti boleh Dika.
"Rahasia ini tidak boleh diketahui Zahra. Untuk kali ini penjagaan untuknya diperketat." Ujar Ezra saat keduanya kini berjalan bersebelahan menuju tempat berwudhu.
"Rani sedang ajak ribut, dan dia selalu cari masalah. Rara dibuatnya sebagai tameng. Kamu harus lebih waspada pada wanita itu." Tegas Ezra lagi.
__ADS_1
"Iya bos " Jawab Dika sopan.
Ezra tahu, Rani sedang memata-matai dia. Sempat Rani tahu, Ezra menikahi ibu dan anak secara bersamaan. Wanita licik itu pasti akan mengambil kesempatan dari masalah ini.
Saat sholat magrib berjamaah. Ternyata ada Dokter Alvian di sebelah Ezra. Dan usai sholat Magrib. Keduanya pergi ke caffe yang ada tak jauh dari rumah sakit. Tentu saja Ezra yang mengajak Dokter itu untuk minum kopi bareng. Dia ingin kenal lebih jauh tentang Dokter itu. Karena, dia merasa dokter itu seperti mengenal Anin.
"Waahhh... Tidak disangka, saya bisa minum kopi bareng sama pengusaha sukses." Alvian membuka pembicaraan.
Ezra tersenyum tipis, menanggapi ucapan Dokter itu.
"Saya yang merasa tersanjung Dok. Bisa minum kopi bareng dengan Dokter yang biasanya super sibuk " Ucap Ezra, menyesap capuccinonya.
Ezra perlu cari angin, cari teman cerita. Memikirkan masalahnya membuat kepalanya terasa mau pecah. Apalagi saat ini dia penasaran dengan Dokter Alvian.
"Eemmmm... Maaf ni pak Ezra, bukannya sok kenal atau gimana gitu. Aku seperti pernah lihat bapak di rumah sakit daerah Berastagi."
Fiuhh.,
Capuccino yang sedang di esap Ezra terminum banyak. Sehingga pria itu terpaksa memuntahkan nya dari mulutnya. Karena lidah nya terasa terbakar.
"Hati - hati pak!" Alvian memberikan tisu pada Ezra. Dengan cepat Ezra menyambarnya, melap mulutnya yang belepotan.
Ezra melirik segan Dokter disampingnya. Sepertinya Dokter itu curiga padanya.
__ADS_1
TBC.
Like, coment vote say