AKU MADU IBUKU

AKU MADU IBUKU
Gangguan


__ADS_3

Satu jam telah berlalu. Tanda-tanda akan berakhirnya perbincangan antara Dokter Alvian dan Anin tidak nampak hilalnya. Bahkan keduanya terlihat semakin serius berbicara satu sama lain. Bimo sudah bete menunggu Dokter Alvian agar keluar dari ruangan itu. Entah sudah berapa macam gaya duduk Bimo di atas sofa warna cream yang ada di ruangan itu. Dia juga bodoh, ngapain ngupingin pembicaraan orang. Mau usir dokter Alvian, dia gak punya hak. Mana dengar-dengar itu rumah sakit miliknya Dokter Alvian. 🤭


"Tuan besar sudah bagaimana kabarnya Mas?" ujar Anin pada Dokter di hadapannya dengan raut wajah sedih.


"Masih sehat wal Afiat." Jawab Alvian dengan tersenyum tipis.


"Pasti masih tetap,"


"Sangar maksudmu?" Dokter Alvian menyambung cepat ucapan Anin. Pria itu kembali tertawa kecil.


Ayah Alvian pak Subroto sangat terkenal karena kekayaan yang dimilikinya. Ayah Alvian punya perkebunan kelapa sawit dan karet yang luas di beberapa kota di Indonesia. Pak Subroto, tidak menyukai Anindya dan pria tua itu sering memarahinya saat bekerja di rumah orang tua Alvian.


Anin mengangguk pelan. Matanya nampak berkaca-kaca, dia teringat kejadian dua puluh tahun silam. Pak Subroto memarahi dan menghinanya karena salah paham. Anin dituduh menggoda putra semata wayangnya itu. Hanya karena Anin membantu mengurut kaki Alvian yang keseleo di saat joging di tanam belakang.


"Maafin ayah ya, aku tahu kamu sering sakit hati karena ayah." Ujar Dokter Alvian, beranjak dari duduknya, dia mengambil botol minum di atas nakas.


Sungguh mereka berdua mengabaikan keberadaan Bimo di tempat itu.


"Eeehhmmm... Mas anaknya sudah berapa?" tanya Anin dengan penasarannya. Sejak dia berhenti kerja dari rumah orang tua Alvian. Dia sama sekali tak tahu menahu lagi mengenai Dokter Alvian.


"Satu " Alvian menyodorkan botol air yang sudah ada sedotannya kepada Anin. Ekspresi wajah pria datar saja saat Anin menanyakan tentang anaknya.


"Oohh.. Mbak Gendhis pasti tetap cantik ya Mas?" ujar Anin penuh selidik. Alvian menatap lekat Anin saat ini. Satu sudut bibirnya tertarik, membentuk senyum terpaksa. Nampak saat ini Alvian sedang malas membahas masalah pribadinya.


"Allahuakbar..... Allahuakbar.... Allahuakbar .. Allahuakbar....!"


Bimo kesal melihat keakraban Dokter Alvian dan Anin. Pria itu pun mengumandangkan adzan di ruangan itu dengan kerasnya. Menempelkan tangan kanannya di telinganya. Terlihat sangat semangat saat mengumandangkan adzan itu. Ya saat ini sudah tiba waktu sholat magrib. Dan Dokter Alvian serta Anin, seperti lupa waktu saja.


"Waahh.... Pak Bimo, suara nya mantap!" ujar Dokter Alvian tertawa kecil. Dia tahu maksud dari pria yang adzan itu. Itu tandanya sudah saatnya Alvian keluar dari ruangan itu.


"Huufftt....!" Dokter Alvian bangkit dari duduknya, menarik napas panjang. Rasanya waktu cepat berlalu. Padahal dia masih ingin bicara banyak dengan Anin. "Eehmmm malam ini mas off. Nanti habis sholat magrib. Mas ke sini lagi. Kamu mau dibelikan makanan apa?" tawar Alvian kepada Anin.


Bimo merasakan kepalanya sudah mengeluarkan asap dan tanduk saat ini. Kenapa Dokter ini terlihat sedang mengencar Anindya. Bimo tahu semua tentang Dokter Alvian. Karena, Ezra pernah memerintahkannya menyelidiki tentang pria ini.


"Dok, pasien perlu istirahat. Dari tadi diajak ngobrol terus." Timpal Bimo, berjalan ke arah Dokter Alvian yang sudah berdiri di dekat bed.


"Kan bagus diajak bicara. Daripada bengong, melamun dan meratapi diri, terus kena hasut setan, kan bahaya." Jawab Dokter Alvian, dia curiga pada Bimo. Terlihat Bimo seperti tidak menyukainya.


Alvian kembali berbalik menghadap Anin. "Nanti kita makan malam bareng di sini. Ok! aku keluar sebentar, sholat dan beli makanan." Ujar Alvian dengan ramahnya. Tentu saja Anin merasa senang, ada yang menemaninya makan. Dua hari ini, hanya perawat yang menemaninya. Suaminya tak pernah peduli padanya. Dan putrinya juga, hanya sebentar bersamanya, dan sampai sekarang putrinya itu tak nampak batang hidungnya.


Anin bisa memaklumi itu, mungkin Ezra dan putrinya sedang bersama saat ini. Biasalah pengantin baru, tentu sedang hangat-hangatnya. Memikirkan hal itu, membuat wanita itu jadi sedih. Matanya kini memerah, karena menahan cairan bening agar tidak keluar. Walau dia ikhkas dengan semua yang terjadi. Terkadang dia tak terima juga. Rasanya takdir terlalu kejam mempermainkannya.


"Koq jadi muram gitu, Mas pergi sebentar koq." Goda Dokter Alvian, yang membuat kening Anin mengerut, siapa juga yang sedih, karena pria itu akan pergi sebentar.


"Iiihh Mas, aku gak sedihlah karena Mas." Ujar Anin cemberut, tapi sedetik kemudian wanita itu tertawa tipis.

__ADS_1


"Yakin..!"


"Allahuakbar..... Allahuakbar....!" Bimo kembali mengumandangkan adzan.


Hahahah ..


Dokter Alvian tertawa keras. Dia menepuk bahu Bimo, menyeret kakinya sembari memegangi perutnya yang terasa kram, karena tertawa lepas, akibat kelakuan Bimo.


"Bimo, dokter ini dulu majikanku. Gak menyangka bisa bertemu lagi dan saling tukar kabar. Kamu seperti mengusirnya saja." Ujar Anin, menatap lekat Bimo dengan senyum manisnya.


Bimo terpaku, melihat Anin yang tersenyum manis itu. Saat ini dai melihat Anin seperti bidadari saja cantiknya. Wajah nya berbinar - binar dengan rambut digerai, memakai mahkota.


Pria itu mengucek - ucek matanya berulang kali, memastikan penglihatannya yang seperti nya sudah bermasalah


"Bimo, kamu kenapa?" tanya Anin dengan herannya. Karena, Bimo terus saja menatapnya dengan terbengong-bengong.


"Bimo....!" Anin menggoyang lengan Bimo, dan seketika pria itupun tersadar. Dia yang terkejut karena tangannya dipegang Anin, menepis cepat tangan wanita itu. Sikap Bimo, membuat Anin semakin bingung.


"Eehh.... Anin, eehh...., Nyonya maaf!" Ucapnya meraih tangan Anin cepat dan mencium punggung tangan wanita itu. Seperti seorang anak yang menyalim orang tuanya, saat hendak Berangkat sekolah.


Hahahaha...


"Kamu kenapa sih Bim?" akhirnya wanita itu bisa tertawa lepas, setelah seharian ini menangis sendu.


"Oohh... gak ada A... Ehhh Nyonya!" Bimo grogi, pria itu menggaruk kepalanya yang tak gatal itu. Dia tak tahu harus bersikap apa lagi saat ini. "Aku, aku sholat dulu." pria itu masuk cepat ke dalam kamar mandi. Dia akan berwudhu dan akan melaksanakan sholat di ruangan itu saja. Karena dia tak mau nanti Dokter Alvian kebrji datang darinya, kalau dia sholat di mushollah.


Anin menekan bel, untuk memanggil perawat. Dia akan minta bantuan, untuk bersih-bersih. Dia juga ingin berwudhu dan melakukan sholat secara berbaring.


Benar saja, Bimo melaksanakan sholat di ruangan itu. Sedangkan Anin melaksanakan sholat di atas ranjangnya. Karena Bimo yang duluan sholat. Maka, setelah dia selesai sholat. Anin terlihat masih melaksanakan sholat nya.


Lagi-lagi Bimo dibuat takjub bin kagum melihat Anin yang sholat itu, padahal wanita itu lagi sakit. Ada wanita sesoleha ini. Gumamnya dalam hati.


Pria itu menghela napas, melipat sajadahnya dan menempatkannya di dalam lemari nakas. Kemudian pria itu duduk di sofa. Dia kembali menghubungi Ezra. Dan akhirnya terhubung.


"Iya bos, baik bos. Apa tidak lebih baik, nona bicara sekarang bos." Tuutt.... panggilan terputus. Bimo bingung, dia kembali menghubungi semua nomor Ezra, dan satupun agak ada yang aktif.


Ezra mengatakan tak bisa pulang malam ini. Karena cuaca sedang buruk. Ada badai, hujan petir terjadi sejak sore, dan sekarang hujan badai itu semakin dahsyat saja. Sehingga mereka tidak bisa naik jet pribadi. Mau lewat jalur darat. Katanya ada longsor di JALINSUM (Jalur lintas Sumatera). Listik pun padam, di semua tempat, yang membuat jaringan internet Lola.


"Apalagi bos, manfaat kan aja moment romantis itu. Asal jangan sampai jalan saja gak bisa, karena dengkulmu sudah kosong " Ucapnya senyam-senyum, dia bisa membayangkan. Apa kegiatan Bos dan Zahra malam ini. Apalagi kalau gak mencetak anak, namanya baru. Lagi hangat-hangatnya.


"Kamu kenapa senyam-senyum Bimo?" tanya Anin, merasa heran dengan Bimo yang dari tadi aneh sikapnya.


Bimo yang terkejut, memegangi dadanya yang bergemuruh. Kenapa dia jadi nervous gini diajak bicara sama Anin?


"Gak apa-apa nyonya, eehh Anindya. Hadeuhhh.. Kak, aku bingung manggil apa enaknya sekarang." Ujarnya nampak terlihat semakin bodoh.

__ADS_1


"Panggil kakak saja. Manggilnya nyonya kan gak mungkin lagi, aku ini bukan istri bos mu lagi." Ujar Anin, terlihat wanita itu merapikan rambutnya dengan dikucir ekor kuda. Lagi-lagi Bimo seperti melihat bidadari saat ini.


"Kakak? bukannya kita sebaya?" tanya Bimo, kini dia mendekati wanita yang kini, leher jenjangnya terlihat indah. Karena rambutnya sudah dikucir ke atas.


"Iya kah? emangnya umurmu berapa Bim? koq kamu bilang kita sebaya?" taba Anin heran, kedua alis tebal wanita itu terpaut saking herannya, mendengar perkataan Bimo yang mengatakan mereka sebaya.


"Aku umurnya 36 tahun, tanggal 13 kemarin. Dan Nyo, ehh adik Anin kan, tanggal 20 ini baru 36 tahun. Berarti tua an aku seminggu." Ujar Bimo tersenyum tipis.


"Benarkah Bimo?" tapi, kamu masih kelihatan seperti umur 25 tahun loh." Ucap Anin, tercengang memperhatikan Bimo dan menilai pria yang kini berdiri di hadapannya itu dari atas sampai bawah.


"Ini KTPku kalau Dek Anin gak percaya." Bimo memberikan Kartu tanda pengenalnya. Dengan antusias Anin meraihnya. Membaca data yang ada di kartu itu.


"Ya ampun, kita satu kampungnya dekatan loh Bim." Ujar Anin, tak percaya membaca datanya Bimo, di kartu tanda pengenal itu.


"Iya dek Anin." Ujar Bimo menarik kedua sudut bibirnya, sehingga tercipta senyum yang manis.


Hhahaa .


Anin kembali tertawa, dia merasa lucu, disaat Bimo memanggilnya dengan Adek. Rasanya lucu dan aneh.


"Kita sebaya, bulan lahirnya juga sama. Jangan manggil adek atau Abang, panggil nama ajalah Bim." Ujar Anin tersenyum manis pada Bimo, sembari menyodorkan kartu pengenal pria itu.


"Iya Anin, eehh... Aduuhh!" Bimo semakin terlihat bodoh dan salah tingkah.


"Dek Anin, mau makan apa? itu menu dari rumah sakit, gak buat selerah." Ujar Bimo, mencari topik pembicaraan baru.


Siapa bilang menunya gak enak. Itu menu nya kesukaan Anin. Ayam semur, tahu di gulai pakis telor dan ada bihunnya.


"Eemmm.... Apa saja pun boleh, asal halal. Aku sudah boleh makan kata Dokter. Asal jangan yang pedas." Ujar Anin, meraih ponselnya. Dari tadi dia menunggu telpon dari sang putri. Dia terus saja menatap ponsel itu. Ingin menghubungi Zahra terlebih dahulu. Tapi, dia takut mengganggu anaknya itu.


"Bimo, Zahra sudah ketemu kan?" tanya Anin dengan penuh kehati-hatian.


"Sudah Dek, mereka sekarang di kota Sibolga. Di sana sedang terjadi cuaca ekstrem. Hujan badai, rumah-rumah banyak atapnya yang pada lepas. Anginnya kencang banget. Makanya Zahra gak bisa pulang ke sini. Mungkin besok pagi dek." Ujar Bimo, menatap Anin dengan senyum manisnya.


Bimo senang sih, si Zahra dan bos nya itu gak usah pulang. Biar dia saja yang jaga wanita Solehah di hadapannya.


"Iya." Anin, terlihat murung. Jelas, wanita itu masih sedih, jikalau membahas sang putri.


Krek..


Pintu terbuka, nampak sosok dokter tampan Alvian masuk dengan senyum mengembang, membawa tiga kantongan plastik


Hadeuhh...Mengganggu saja. Gumam Bimo dan berdecak kesal. Dia pasti jadi nyamuk malam ini.


TBC

__ADS_1


Like, coment vote dong, hadiah bunga kopi, kursi pijat boleh tuh😜🙂🤗


__ADS_2