AKU MADU IBUKU

AKU MADU IBUKU
Fitrah


__ADS_3

Tidak seorang bayi pun kecuali dilahirkan dalam keadaan fitrah. Lalu kedua orangtuanyalah yang menjadikan anak itu seperti apa.


Setiap anak adalah amanah bagi orang tuanya. Setiap anak memiliki qalbu (hati) suci sebagai mutiara atau perhiasan yang berharga. Jika setiap anak dibiasakan dengan hal-hal yang baik, ia akan tumbuh dengan kebaikan dan kebahagiaan dia dunia dan di akhirat. Sebaliknya, jika dibiasakan berbuat yang tidak baik dan ditelantarkan pendidikannya seperti hewan, ia akan celaka dan merugi. Oleh karena itu, setiap anak harus dilindungi dengan cara mendidik, meluruskan, dan mengajarkannya akhlak yang baik. Kutipan Imam Al Ghazali


Suasana hati Ezra mendadak berubah jadi buruk setelah mendapat kabar tentang putrinya itu. Kalau mengingat Rara, maka dia akan mengutuk dirinya. Karena sebagai orang tua, ia merasa telah gagal mendidik anak perempuannya itu.


Ia salah memilih calon ibu dari anak-anaknya. Disaat ia terus memberi pendidikan agama pada putrinya. Dia tak tahu, kalau sang ibu yang tak punya ilmu agama itu, mencuci lagi otak anaknya itu.


Dia sangat heran, kenapa malah sang ibu yang menjerumuskan anaknya itu. Mengajarkan ketamakan dan melakukan hal-hal keji. Rara punya jiwa kriminal. Kenapa sedikit pun tak ada sifat baiknya yang melekat di jiwa putrinya itu.


"Ada apa By?" tanya Zahra heran, melihat perubahan air muka sang suami yang jadi murung.


Ezra memutar lehernya, menatap Zahra penuh dengan cinta. Dia sangat bersyukur bisa menikahi wanita baik di hadapannya. Hanya wanita ini harapan untuknya melahirkan anak yang Sholeh dan Soleha.


Ezra yang melankolis itu langsung mendekap Zahra. "Hubby ada pekerjaan penting, gak apa-apa kan Hubby tinggal sebentar?" ujarnya dengan mata berkaca-kaca. Mengucek cepat matanya, sebelum air mata itu terlihat menggenang di mata yang sudah memerah itu.


Merasa sedikit tenang, Ezra mengurai pelukannya. Kedua sudut bibirnya tertarik yang menghasilkan senyum tipis yang manis.


"Iya By, aku juga mau istirahat." Ujar Zahra tersenyum lebar membalas senyuman sang suami. Dan kini wanita itu membalas pelukan sang suami. Zahra merasa bersyukur bisa menikah dengan pria seperti Ezra. Pria yang baik, Sholeh, tampan dan penuh multitalenta. Zahra menyimpulkan seperti itu karena, dia tak menyangka suaminya itu pandai menari.


***


Ezra ikut dalam penjemputan putrinya Rara ke tempat rehabilitasi. Dia harus menunjukkan rasa pedulinya pada putrinya itu. Dia ingin putrinya itu kembali semangat dan percaya diri menjalani hari-harinya. Tak ada manusia yang luput dari salah. Rara berhak dapat kehidupan baru.


"Sayang..... Akhirnya kamu datang juga menjemput Rara putri kita " Ujar seorang wanita tak tahu malu. Sudah bercerai, masih sok manja. Manggil-manggil sayang lagi. Wanita itu berjalan cepat menghampiri Ezra, yang berjalan masuk ke ruangan itu.


Ezra yang sudah begitu kecewa pada Rani, tidak menggubris sapaan wanita itu. Bahkan dia menjauhkan diri, disaat melihat sang wanita gila, ingin memeluknya. Benar-benar gak punya harga diri. Ciuihhh


"Mas Ezra.....!" Rani memang kalau lagi serius, memanggil Ezra dengan mas.


Ezra akhirnya berbalik, "Bimo siapkan aku tempat untuk bicara dengan wanita ini." Ujar Ezra tegas.

__ADS_1


"Ya bos!"


Rani bersorak riang dalam hati, akhirnya pria itu mau juga bicara berdua dengannya. Ini kesempatan bagus.


"Di sana Bos." Ujar Bimo, menunjuk sebuah ruangan yang tak jauh dari tempat mereka sekarang berada.


Rara masih di ruangan rehabilitasi. Masih ada hal-hal yang diurus untuk dia pulang.


"Rani, saya harap kali ini kamu pakai otak kamu dengan baik. Ini kesempatan terakhir untukmu. Aku sudah tahu semua kejahatan yang kamu lakukan untuk menghancurkan aku. Aku tak bodoh membiarkan semuanya. Cukup sudah kamu sukses membodohiku bertahun-tahun. Hargai sikapku kali ini. Aku mau mengurus Rara. Karena aku kasihan padanya. Aku yang mengikhomatkan dia. Aku yang sering meninabobokan nya di malam hari. Aku memberinya pendidikan agama. Tapi, kamu menghasutnya. Kamu wanita iblis!" Ujar Ezra penuh dengan kebencian. Menatap tajam Rani yang kini terlihat berfikir untuk membela diri.


Saat di mobil, Bimo menunjukkan sebuah kebenaran yang membuatnya terhenyak. Memang dia selalu ragu, dengan keabsahan bahwa Rara adalah putrinya. Tapi, Rani selalu bisa menunjukkan bukti kuat. Kalau Rara adalah putri mereka. Tapi, kali ini dia yakin, kalau Rara bukan darah dagingnya. Tak ada satu sifatnya yang menempel di anak itu.


"Maksud mas apa?" tanya Rani dengan raut wajah tegangnya. Dia bahkan gemetar saat ini. Otaknya yang cari sibuk pembelaan tak menemukan satu ide pun


"Berikan padanya Bimo!" titah Ezra.


Rani dibuat semakin ketakutan. Dia tak sanggup lagi menatap Ezra yang berdiri di hadapannya.


Akhirnya bangkai busuk yang disimpannya rapat-rapat, terendus juga. Dia dan putrinya tak bisa bermain cantik.


"Tak perlu kamu baca, karena kamu tahu kebenarannya. Aku akan tetap menganggap Rara putriku, asal kamu tidak mengusik kehidupanku lagi. Bimo sudah berbuat baik padamu, dengan tidak memenjarakan mu atas kejahatan yang kamu lakukan pada Anin dan istriku Zahra."


"Tidak, tidak jangan pisahkan aku dari putriku..!" Rani menangis histeris dan berlutut dihadapan Ezra. Auto pria itu memundurkan langkahnya. Dia tak akan pernah lagi, kasihan pada wanita iblis di hadapannya. Wanita itu tak pernah berubah dan belajar dari kesalahan.


"Kalau Rara tinggal bersamamu. Dia akan ku keluarkan dari daftar keluarga dan sedikit pun aku tak mau tahu tentang kalian lagi. Uang yang kamu dapatkan saat kita bercerai sudah sangat banyak. Jadi ku anggap kamu bisa memenuhi segala kebutuhannya."


"Semuanya sudah habis mas. Habis....!" Rani masih menangis mendongak menatap Ezra yang tak menatapnya.


"Rara akan jadi tanggung jawabku. Dan kamu tak ada hak untuk bertemu dengannya lagi setelah hari ini." Ujar Ezra, menggerakkan kakinya dengan kuat, sehingga cengkraman tangan Anin di celana yang dikenakan lepas. Rani tersungkur dengan begitu menyedihkannya.


Ezra tak akan membiarkan Rara hidup dengan wanita iblis itu. Anak itu pasti akan sangat hancur ditangan Rani.

__ADS_1


"Ayah...... Ayah.....!" Rara berlari cepat menghampiri Ezra yang menunggu putrinya itu. Mereka pun berpelukan dengan erat.


Ezra sangat menyayangi Rara. Walau ia sudah tahu, bahwa anak ini bukanlah darah dagingnya.


"Ayah tak pernah mengunjungiku..!


Hua Hua hua.....


Rara menangis masih dalam pelukan Ezra.


"Kita bicara di rumah ya sayang. Kamu tahu pasti apa alasan ayah tidak menjengukmu." Ujar Ezra datar.


Rara cemberut, sedikit kecewa dengan penuturan sang ayah.


***


Rara telah dibawa pulang ke rumah lama mereka. Rumah yang dihuni anak itu dari kecil hingga ayah dan ibunya bercerai. Dari laporan hasil rehabilitasi. Kondisi mental psikologis anak itu sudah sangat baik. Bahkan Rara sudah mau melaksanakan perintah agama.


"Ayah, maafkan Aku!" ujarnya dan langsung bersujud di kakinya Ezra. Kini mereka sedang duduk di ruang keluarga. Sontak sikap Rara yang mau mengaku salah itu membuatnya tercengang.


Ezra meraih bahu sang putri, menuntunnya duduk di sebelahnya. "Iya Nak, ayah harap kamu bisa mengambil hikmah dari semua kejadian ini. Ingat nak, apa yang kita tanam itu yang kita tuai." Ezra tersenyum tipis menatap sang putri yang memang terlihat banyak perubahan. Pembawaan Rara jadi lebih tenang dan lebih santun.


Tak sia-sia banyaknya uang yang keluar saat Rara di rehabilitasi, mulai dari konseling, terapi kelompok, hingga pembinaan spiritual atau keagamaan dan motivator yang handal.


Saat direhabilitasi bakat Rara juga diasah, ternyata anak itu punya bakat menulis. Bahkan dalam seminggu terakhir ini dia sudah mulai menulis. Dia akan menyelesaikan tulisnya itu dan akan menunjukkannya pada Ezra.


TBC


Akankah Rara beneran dapat hidayah dan taubat?


Tinggalkan koment positif, like, vote. Akhir pekan ada give away pulsa 20 ribu say

__ADS_1


__ADS_2