AKU MADU IBUKU

AKU MADU IBUKU
Aneh


__ADS_3

"Terkadang kita diuji oleh Tuhan bagaimana kita mampu bersabar ketika diberikan suatu cobaan yang disebut ujian dari Tuhan." Ujar Pak Naga sedih, dia kasihan melihat Zahra. Tapi, dia tidak bisa membantu banyak.


"Kamu pulang dulu. Untuk sementara kamu tidak usah sekolah dulu. Nanti ibu kabari perkembangan kasusmu." Bu Rose, memberikan tas nya Zahra. Dengan lemasnya, Zahra meraih tas itu dari tangan sang wali kelas. Menyalim Pak Sinaga dan Bu Rose. Kemudian keluar dari ruangan bimbingan konseling itu dengan penuh keputus asaan.


Zahra bahkan hendak menabrak Kosen pintu saat hendak keluar dari ruangan itu. karena sudah merasa linglung, sedih dan malu. Atas apa yang menimpanya.


Bagaimana dia akan menjelaskan masalah ini pada sang nenek. Tentu sang nenek akan kecewa padanya. Karena, sang nenek telah melarangnya untuk ikut acara perpisahannya Zahra.


"Zahra .. " tangan kuat dan kokoh, berhasil meraih tubuh Zahra yang hendak ambruk, saat berjalan menuju parkiran. Dia yang belum sarapan dari tadi pagi. Dibuat lemah, dan tertekan dengan masalah yang ada pagi ini.


"Ferdy..!" Zahra yang lemah itu, berusaha untuk bangkit dan lepas dari rengkuhan Ferdy.


"Kamu gak kenapa-napa kan?" Zahra hanya diam, menanggapi pertanyaan Ferdy yang terlihat sangat mengkhawatirkannya. Hanya air mata yang jatuh membasahi pipinya, sebagai jawaban kalau dirinya sedang tidak baik-baik saja.


"Aku bantu kamu berjalan." Ferdy yang tahu, kalau Zahra tidak suka terlalu dekat dengan pria. Akhirnya hanya menuntunnya berjalan


"Fee, motorku di sana." Ucapnya lemah dengan gerakan kepalanya.


"Iya, aku antar kamu pulang naik mobilku saja. Kamu gak mungkin naik motor dalam keadaan lemah seperti ini." Zahra berontak, agar Ferdy melepaskannya, dari pelukan belakang pria itu.


"Fer, lepaskan aku. Jangan terlalu baik padaku. Nanti aku bisa kena masalah lagi. Dengan kamu memelukku seperti ini." Menggerakkan kedua bahunya, Ferdy pun akhirnya melepas dekapannya.


"Iya, tapi kamu mau ya, aku anter?"

__ADS_1


"Gak Fer, ini masih waktunya belajar. Kamu pergi masuk sana." Menghindar dari tangan Ferdy yang berusaha menggenggam tangannya.


"Zahra, jangan ngeyel " Dengan satu gerakan, kini Zahra sudah dalam gendongan Ferdy. Dia langsung mendudukkan Zahra di jok mobil sebelah supir. Karena memang tadi pintu mobilnya sudah terbuka.


"Nurut sama aku kali ini. Aku akan bantu masalah kamu. Aku sudah dengar tadi semua, saat kamu diinterogasi Pak Naga dan Bu Rose " Tegas Ferdy dengan tatapan mata tak terbantahkan. Sorot mata Ferdy juga terlihat penuh kekecewaan.


Zahra pun akhirnya menurut. Melap air matanya yang dari tadi, terus saja jatuh tanpa permisi itu. Terlalu sakit dan ekstrim, perbuatan Rara dan sang ayah padanya. Zahra geram, sangat geram mengingat Rara dan sang ayah. Keluarga itu, telah menghancurkan hidupnya.


"Sabar, semua masalah bisa selesai. Kepala harus tetap dingin." Ucap Ferdy, melirik Zahra dengan kasihan. Kini Zahra kesal, meremas kuat tas selempangnya yang terbalut dari kain itu. Cara bicara Ferdy terlihat dewasa kali ini. Tidak cengengesan seperti biasanya.


"Nanti motormu, akan diantar oleh pelayan di rumah." Ujar Ferdy, disaat mobil yang mereka naiki sudah melaju, dan melintas disebelah motornya Zahra yang terparkir.


Zahra tak menjawab ucapan Ferdy. Dia terus saja melihat lurus ke depan. Sangat malu rasanya untuk menatap Ferdy yang menyetir serius di sebelahnya. Tapi, meliriknya sesekali. Saat ini Zahra seolah tak sanggup untuk bicara lagi. Dia pun tidak menanyakan ke mana Ferdy akan membawanya.


Di Kota Medan, kediaman Ezra Assegaf pukul 9 pagi.


"Dyah, kamu ikut saya ke ruang kerja sekarang!" Ucapan Tegasnya Ezra, tak terbantahkan. Menatap intens wanita yang melayaninya dengan tatapan serius. Sehingga wanita yang bernama Dyah itu, dibuat kikuk. Karena tatapan Ezra yang mematikan.


Anindya, koki yang baru sebulan kerja di rumah itu, dibuat terperangah mendengar ucapan sang majikan. Apakah dia dipanggil, untuk diberi upah kerjanya selama satu bulan ini? Tapi, tidak mungkin sang majikan memberi gaji langsung pada ART nya. Tentu saja sudah di atur oleh kepala pelayan.


"I--ya, iya tuan..!" jawabnya gugup, dan langsung menundukkan kepalanya. Tak berani menatap sang majikan, yang dari tadi menatapnya terus. Wanita yang bernama Anindya, yang punya panggilan khusus dari Ezra, yaitu Dyah. Dibuat grogi. Benar-benar salah tingkah, disaat berinteraksi dengan Ezra.


Gimana tidak grogi, sejak bekerja di rumah itu. Dia sudah merasakan perhatian khusus dari majikannya itu. Dia Dipanggil Dyah. Padahal dia sudah mengatakan nama panggilannya adalah Anin.

__ADS_1


Sejak bangun pukul empat dini hari. Anindya sudah merasakan perasaan yang tidak enak. Dia merasa akan mendapatkan masalah. Apalagi keluarga nya di kampung tidak bisa dihubungi.


Anindya yang masih terkejut dengan ucapan sang majikan, terus saja mengusap-usap dadanya yang berdebar-debar, sembari berjalan dengan kikuknya di belakang sang majikan. Saking nervousenya dia berjalan dengan menundukkan kepalanya dan terus saja menghela napas dalam, berharap perasaan groginya meredah.


Bruuughhkkk....


Anindya yang berjalan dengan menunduk dan banyak pikiran itu, malah menabrak tubuh Ezra yang tiba-tiba berhenti dan berbalik. Benturannya cukup keras. Tentu saja keras. Dia menabrak dada bidangnya Ezra yang ototnya kuat, liat dan keras itu.


"Tuan, maaf tuan, maaf....!" menggerakkan badannya, agar Ezra melepas belitan tangan kokoh itu dari punggungnya. Rasanya sangat menegangkan, memacu adrenalin saja. Saat berada dalam pelukan sang majikan. Mana majikannya menatapnya terus.


"Santai Dyah, kamu kenapa terlihat ketakutan seperti itu?" melepas rengkuhannya, Anindya langsung siap gerak di hadapan sang majikan. Ezra tertawa tipis melihat sikap malu-malu nya Kokinya itu.


Membalik badan dan melanjutkan langkahnya ke lantai dua, tempat ruang kerjanya dengan menggunakan lift.


"Ayo masuk, kenapa kamu berdiri disitu?" Anindya yang merasa segan satu lift dengan sang majikan memilih tak satu lift dengan Ezra. Biarlah dia menyusul majikannya itu. Dia yang bingung hanya menunduk.


" Ayo masuk." Ezra pun menjulurkan tangannya cepat. Meraih tangan Anindya dengan kuat, sehingga wanita yang lagi grogi itu kini masuk ke lift. Lagi-lagi tubuhnya menabrak sang majikan. Dan kali ini, Ezra memeluk wanita yang bingung, kikuk, grogi bergabung jadi satu. Rasanya begitu menegangkan dipeluk sang majikan tampan, wangi dan baik. Dia sudah lama tidak dipeluk pria, sejak sang suami meninggal dunia. Tentu saja kini, dia merasa tubuhnya seperti terbakar.


"Tu--an, lepaskan saya!" ucapnya tegas, tapi dengan nada ketakutan.


"Iya, akan saya lepaskan." Ezra tersenyum tipis, melepas pelukannya dari tubuh langsing itu.


"Ayo kamu keluar terlebih dahulu." Memberi kode dengan tangannya dengan senyum manis yang menggoda. Anindya dibuat bingung, sangat bingung dengan kelakuan sang majikan pagi ini.

__ADS_1


__ADS_2