
"Pak, Bu. Izinkan saya untuk membuktikan. Kalau saya tidak salah." Memohon dengan meraih tangan sang wali kelas dengan berurai air mata. Berharap, dia diberi kesempatan untuk membersihkan nama baiknya.
Bu Rose, wali kelasnya hanya terdiam. Menatap lekat Zahra dengan mata yang sudah berkabut.
"Bu, aku dijebak oleh Rara. Malam itu, aku ikut perayaan perpisahannya. Aku tidak tahu, kalau minumanku telah dicampur obat Bu." Tangisnya Zahra pecah sudah di hadapan Pak Sinaga dan Bu Rose. Dia mengelus dadanya yang terasa sakit dan nyeri itu.
Masalah yang dihadapinya kali ini sangatlah rumit. Entah kesalahan apa yang dilakukannya, dikehidupan sebelumnya pada Rara. Kenapa wanita itu tega menghancurkan hidupnya.
"Kamu dijebak?" menilik wajah Zahra yang terlihat penuh kebenaran.
"Iya Bu." Menganggukkan kepala dengan menangis penuh keputusasaan. Hidungnya Zahra yang penuh air, membuatnya susah bernafas. Dia pun berulang kali menarik ingusnya.
__ADS_1
"Lap ingusmu." Zahra melap ingusnya dan air matanya. Dengan meraih tisu dari kotak yang disodorkan oleh sang wali kelas.
"Kamu dijebak, tapi di video itu. Kamu terlihat begitu menikmati permainannya. Bahkan, kamu sempat bicara seperti mengenal lawan mainmu. Siapa lawan mainmu itu?" Zahra semakin merasa tersudut dengan pertanyaan Bu rose. Sungguh dia pun tidak bisa menjelaskan, kenapa dia sempat terlena. Zahra kembali menunduk. Merasa malu, karena semua orang telah melihat tubuhnya.
"Kamu kenalkan dengan pria itu?" Zahra kini mengangkat wajahnya, air mata terus saja jatuh bercucuran. Tak ada raungan tangis lagi. Karena, Zahra sudah lelah saat ini.
"Tidak Bu." Ucapnya lemah, kembali menunduk. Dia tidak mungkin mengatakan bahwa ayahnya Rara lah yang ingin menodainya. Dia katakan pun, tak akan menyelesaikan masalah. Lawannya orang kaya.
"Zahra... Ibu tak tahu lagi harus berbuat apa padamu nak!" Bu Rose membantu Zahra untuk bangkit dan mendudukkannya di kursi. Memberinya Zahra air minum. Zahra yang frustasi itu, tak tertarik lagi untuk meneguk air itu. Padahal dia sangat haus.
"Dari ceritamu, ibu bisa percaya. Kalau Rara telah mendzolimimu. Tapi, videonya sudah beredar di sekolah ini. Tentu, itu akan sampai ke dinas pendidikan."
__ADS_1
"Bu,Bu, tolong aku Bu. Aku jangan di Berhentikan Bu. Sebentar lagi ujian nasional Bu. Tinggal beberapa bulan lagi Bu." Zahra kembali bersujud di hadapan sang wali kelas. Kalau dia diberhentikan, tamatlah sudah impiannya. Dia orang miskin. Belum tentu ada sekolah di tempat mereka yang mau menerimanya.
Sang wali kelas, meraih tubuh Zahra dan langsung memeluknya. Zahra adalah siswa yang berprestasi. Dia bahkan jadi juara OSN tingkat nasional. Tapi, masalah ini sangat sensitif. Kalau dia tetap bersekolah di situ. Maka, citra sekolah akan buruk. Karena mempertahankan siswa yang tidak tahu moral. Orang tidak akan percaya dengan penjelasan dari korban.
"Akan ibu usahakan membela kamu, di rapat siang ini. Tapi, ibu katakan yang pahitnya saja. Seperti nya kamu gak bisa bersekolah di sini lagi. Nanti akan ibu bela kamu, agar jangan di D.O. Kamu tetap harus berhenti dari sekolah ini dan dapat surat pindah saja." Jelas Ibu Rose. Zahra kembali menggeleng penuh putus asa.
Pindah sekolah itu, urusannya ribet. Belum lagi, membutuhkan biaya. Dan belum tentu ada sekolah yang mau menerimanya. Karena kasusnya itu.
"Bu.... kasihani aku Bu. Pindah ke mana aku Bu? mana ada sekolah yang akan menerima ku Bu. kami orang miskin, gak ada orang dalam Bu " Sira lemahnya Zahra, terdengar menyayat hati.
TBC.
__ADS_1