
"Iya mak, nanti Zahra kenalkan ya, saat ini suami Zahra lagi kerja di luar kota Mak."
Krekk...
Saat Zahra bicara seperti itu, Ezra sudah ada di ambang pintu. Dia sempat mendengar ucapan istri kecilnya itu. Ezra menghilang selama dua jam. Pria itu membicarakan hal penting dengan Bimo.
Zahra yang mengetahui keberadaan Ezra di ruangan itu, pura-pura tidak melihat pria itu. Padahal tadi dia sempat melirik Ezra yang membuka pintu ruang rawat itu. Perasaan Zahra semakin tidak tenang dengan keberadaan Ezra di ruangan itu. Dia tidak menjamin pria itu akan memegang kata-katanya yang berjanji akan merahasiakan hubungan mereka.
"Abang ...!" ujar Anin dengan senyum merekah bak bunga mawar. Wanita itu terlihat sangat bahagia saat ini, wanita itu tak tampak seperti penyakitan.
Ezra hanya tersenyum tipis menanggapi sapaan Anindya. Berjalan dengan pelan menghampiri keduanya dengan menenteng beberapa kantongan plastik. Pria itu pun menaruh barang bawaannya di atas nakas.
Zahra yang melirik gerak gerik Ezra menghampiri Anindya. Beranjak cepat dari duduknya, mengambil posisi ke dekat kaki sang ibu. Bersikap tidak mengenal Ezra yang kini sedang berdiri di sisi bednya Anin.
"Abang, ini putriku Zahra. Terima kasih banyak ya bang, sudah mencari keberadaan putriku." Wajah Anin penuh dengan kebahagiaan menatap sang suami dan sang putri secara bergantian.
"Zahra sayang, Salim bapakmu!"
Nyut .....
Nyut.....
Nyut....
Rasanya hati Zahra saat ini seperti disengat lebah. Sakit, sangat sakit. Rasanya panas, nyeri, bengkak. Yang membuatnya dadanya terasa sesak, bahkan wanita susah bernafas saat ini. Suami rasa bapak tiri.
"Zahra... Zahra sayang, ini suami umak. Bapakmu sekarang Boru, ayo Salim bapak!" ucap Anin lembut, dengan perasaan yang begitu senangnya. Mengulang ucapannya, karena Zahra masih terbengong.
Zahra yang termangu itu pun akhirnya menjulurkan tangannya dengan perasaan yang berkecamuk. Zahra tidak tahu lagi, gimana cara menumpahkan kesedihan di hatinya. Wanita itu beberapa kali mengerjap-erjapkan matanya dan melihat ke atas, agar air mata yang mendesak itu tak tumpah di hadapan suami dan ibunya itu.
Pasangan suami istri itu berjabat tangan dengan mode silent. Tak ada yang berbasa-basi. Hanya saja, Ezra tak mau melepas tangannya Zahra, yang membuat wanita itu semakin gugup dan tegang. Dia tak tahu harus bersikap apa. Menarik-narik tangannya, yang dijabat kuat oleh Ezra
"Pak, bapak lepas..!" ucapnya pelan, berusaha terlihat ramah. Sungguh Zahra merasa kesusahan untuk berakting.
Ezra seolah budeg saat ini, dia tidak mendengar ucapan Zahra. Pria itu tetap saja menjabat tangannya. Dan menatap lekat Zahra.
"Abang," Anin yang merasa aneh dengan sikap sang suami. Menggoyang kuat lengannya Ezra.
"Oohhh apa dek?" disaat itu lah Zahra menarik kuat tangannya dari rengkuhan tangan pria itu.
"Koq bengong gitu lihat Zahra." Ujar Anin, masih dengan ekspresi bahagianya. Walau dia sempat heran melihat sikap Ezra dan Zahra yang aneh.
"Iya, habis kalian mirip betul." Ezra mendudukkan bokongnya di sofa. Matanya terus saja menatap ke arah Zahra, yang kini terlihat kikuk di dekat bed sang ibu. "Makanya Abang takjub, kalian bak pinang dibelah dua." Ezra menarik napas dalam. Pria itu membuka tutup botol minuman yang di sambar nya dari atas nakas. Meneguk habis air mineral isi 300 ml itu.
"Iya bang, banyak yang bilang begitu. Tapi, Zahra putraku yang paling cantik." Anin tersenyum pada Zahra. Zahra merasa eneq jadinya, gara-gara kehadiran pak tua di ruangan itu.
__ADS_1
"Umak, minum obat dulu ya?" ujar Zahra, dia tak boleh gugup, dia harus bisa berakting seolah Ezra baru saja dikenalnya. Dan tak perlu banyak akting dengan pura-pura sok akrab dengan pak tua.
"Iya sayang, malam ini temani ibu ya di sini sayang?" ujar Anin meraih obat yang diberikan sang putri.
"Iya Bu." Jawabnya cepat.
"Tapi, kamu harus kabari dulu suamimu ya nak!"
"Iya Bu."
"Ngapain dikabari, kan suaminya sudah tahu dia di sini?" Ujar Ezra, yang membuat Zahra terkejut, hampir saja gelas yang berisi air putih di tangannya terjatuh.
"Iya sih bang, tapi kan perlu minta izin juga."
"Gak usah minta izin, pasti dibolehkan itu kan Halwa?" ujar Ezra lagi, dia sengaja bicara seperti itu, dia ingin melihat reaksi Zahra seperti apa. Dia pikir menyembunyikan masalah itu baik apa.
"Eeehhm... Koq Abang manggilnya Halwa, putri kita biasanya di panggil dengan Zahra bang!" Anin bingung, kenapa suaminya itu memanggil Zahra dengan sebutan Halwa.
"Oohh... Aku kirain panggilannya Halwa, kan namanya Halwatuzahra."
"Abang tahu nama lengkapnya juga?" Anin senang, suaminya itu ternyata gak cuek tentang keluarganya, nama anak tirinya saja sudah tahu betul.
"Tahulah, kan ada laporan dari Bimo."
"Mak, Zahra keluar sebentar ya, mau menelpon." Zahra bersiap-siap melangkah, padahal sang ibu belum mengizinkanya
"Gak Bu, Zahra nelpon di luar ya Bu." Memelas dengan wajah tegangnya.
"Iya sayang." Anin merasa ada hal penting yang harus dibicarakan putrinya itu melalui telepon. Dia tak ada hak menahan Zahra untuk bicara di ruangan itu.
Zahra pun melangkah lebar dengan tatapan lurus, tidak berani menoleh ke arah Ezra yang duduk di sofa.
"Anak itu sudah banyak berubah. Biasanya ceriah dan ramah loh bang. Maaf ya, kalau tadi sikapnya cuek gitu." Ujar Anin, merasa enggan pada Ezra. Karena sikap Zahra yang dingin dan terlihat sombong. Putrinya itu terlihat tak menyukai ayah tirinya itu
"Itu biasa dek, anak cewek, biasanya gak terlalu suka pada ayah tirinya, apalagi dia sudah dewasa gitu." Ezra bangkit dari duduknya, menghampiri Anin yang kini memilih berbaring.
"Abang keluar dulu, nanti perawat langsung Abang minta temenin adek. Sebaiknya sih adek tidur, biar cepat sembuh."
"Iya bang, tapi masih ingin bicara dengan Zahra."
"Ini sudah pukul sembilan malam, sebaiknya adek tidur. Biar cepat sembuh. Kalau sudah sembuh, nanti bisa temu kangennya dilanjut di kapan-kapan." Ezra mengusap pelan kepala istrinya itu.
Anindya tersenyum manis. Suaminya itu masih memperlakukannya baik. Tapi, dia merasa suaminya seperti menjaga jarak dengannya. Dan terutama terlihat menghindari kontak fisik. Bahkan suaminya itu tak pernah menciumnya lagi. Padahal sebelum Ezra menghilang. Setiap bertemu dia pasti dicium, ya minimal cium kening dan bibir.
Anin pingin dapat sentuhan cinta dari suaminya itu apalagi dia saat ini dalam keadaan sakit.
__ADS_1
"Tidur saja dek!" kini Ezra mengusap lengannya Anin. Padahal Amin berharap dapat kiss. Ya, lumayan buat menambah semangat.
"Iya bang." Anin tersenyum tipis, suaminya itu tak kunjung mendaratkan bibirnya di wajah putihnya Anin.
Ezra pun keluar dari kamar itu, meminta perawat menjaga istrinya. Dia akan bicara pada Zahra. Pria itu merogoh ponselnya dari saku celananya. Melakukan panggilan pada Zahra. Sambil memperhatikan sekitar, berharap dia melihat Zahra di tempat itu.
Sudah panggilan ke tiga, Zahra tak kunjung mengangkat telepon dari Ezra. Pria itu pun kesal bukan main.
Anak itu, dia pikir aku akan menuruti lagi permintaannya. Tadi saja dia tak sanggup untuk berakting. Mau sampai kapan seperti itu. Kenapa kali ini anak itu jadi pengecut. Lari dari masalah. Gumam Ezra dalam hati.
Pria itu pun akhirnya mendudukkan bokongnya di kursi beton taman yang ada di taman rumah sakit itu. Matanya bergerak kesana-kemari mencari juga keberadaan Zahra.
"Dia pasti masih di sini. Gak mungkin dia pergi jauh. Dia kan janji mau temani Anin di rumah sakit malam ini." Ujar Ezra mulai mengirim pesan pada Zahra.
Angkat telepon dari Hubby. Satu pesan WA terkirim centang dua. Ezra menatap terus ponselnya berharap Zahra membacanya. Lima menit berlalu, pesannya tak kunjung di baca. Pria itu kembali melakukan panggilan
Tapi, gak diangkat.
Jumpai Hubby di taman dekat parkiran. Kalau Adek gak datang dalam waktu sepuluh menit. Semua rahasia akan saya bongkar kepada ibumu. Pesan kedua berisi ancaman. Dan belum juga satu menit, pesan itu sudah dibaca.
Ezra tersenyum puas penuh kemenangan, dia sudah tahu kelemahan istrinya itu. Anak itu takut sekali ibunya kecewa padanya. Benar-benar anak yang berbakti.
Ezra menatap lekat sang istri yang berjalan menghampirinya. Zahra merasa risih dengan tatapan Ezra yang tertuju terus padanya. Pria itu pandai sekali membuatnya mati kutu.
"Bapak jangan macem-macem dengan saya, apa maksudnya mengancam-ancam seperti itu. Mau melihat ibu saya mati?" Pekik Zahra penuh kekesalan pada Ezra. Dia benci suaminya itu, kenapa suaminya itu ingin ingkar janji.
"Mengetahui fakta itu tak akan membuat ibumu mati. Paling dia setres!"
"Pak..!"
"Mau sampai kapan ini disembunyikan Halwa..? Aku tak mau mengikuti permainan konyol ini. Aku bukan orang kurang kerjaan. Lihat tadi betapa tertekannya kamu saat di dalam sana? mikir panjang, jangan mikirnya ibumu saja. Kamu gak mikir perasaanku? aku milih kamu, karena kita sudah melalui hubungan yang jauh, jangan-jangan sudah ada benih kita disini "
"Jangan sentuh aku!" menepis kuat tangan Ezra, sebelum mendarat di perut rata wanita itu.
"Aku tak ingin melanjutkan hubungan ini dengan bapak. Titik....!" Zahra menangis.
"Jangan ngacoh kamu. Aku sudah menyiapkan semua berkas pembatalan pernikahan dengan ibumu. Besok akan di daftarkan. Jangan pernah berfikir untuk pergi dari hidupku."
Plak...
Satu tamparan mendarat di pipinya Ezra. Dia menhembuskan napasanya kasar. Dia geram juga, sudah dua kali dia ditampar istrinya itu.
Zahra kesal, mendengar ucapan suaminya itu, yang mengatakan sudah menyiapkan semua berkas pendaftaran pembatalan pernikahan.
"Wawa... Kamu mancing -mancing, kita pulang ke rumah. Lihat saja, apa yang akan ku perbuat untukmu malam ini. Ku pastikan kamu besok gak bisa jalan dan menemui ibumu ke rumah sakit." Zahra ketakutan Mendengar ucapan suaminya itu. Dia pun melarikan diri, tapi langkah nya kalah cepat dari Ezra.
__ADS_1
TBC.
Like coment vote say.