
"Berani sekali anak ingusan itu menyentuhmu!" ujar Ezra datar, dengan tatapan lurus ke depan. Zahra yang berjalan tergopoh-gopoh karena Ezra menarik tangannya kuat, hanya bisa menghela napas panjang mengikuti langkah lebar dan cepat sang suami.
Zahra juga kepikiran. Kenapa dia bisa berjumpa dengan Ferdy di rumah sakit ini. Mana tadi ada adegan romantis dirinya dengan cinta pertamanya itu. Seandainya dia masih virgin, dia akan kejar Ferdy dan tak merasa berat meninggalkan pak tua ini. Siapa tahu Ferdy mau menerimanya.
"Hadeuh .... Mikirin apa sih aku? mana ada cowok yang mau sama cewek yang sudah tidak perawan lagi." Gumam Zahra, mengikuti langkah lebarnya Ezra, dengan wajah muram.
Saat ini hati wanita itu sangat kacau. Mikirin hubungannya dengan Ezra, mikirin ibunya, mikirin sang nenek yang di tanah suci, dan sekarang Ferdy nongol lagi. Dan entah kenapa dia jadi merasa tidak mencintai Ezra.
"Huuufffttt...!" wanita itu menghela napas panjang dan berat. Kepalanya pusing, dadanya semakin sesak, dia merasa kesusahan menghirup oksigen saat ini. Ezra sampai heran mendengar helaan napas istrinya itu.
"Jantungan karena ketemu mantan?" Ujar Ezra, pria itu menghentikan langkahnya, menatap Zahra dengan cemburu buta.
"Apaan sih?" Zahra langsung membuang muka, dengan wajah malasnya. Dia jadi eneg juga lihat tingkah suaminya yang sok tahu itu.
"Jangan buat saya cemburu!" tegas Ezra, kening Zahra mengerut mendengar ucapan suaminya itu. Wanita itu menekuk bibirnya, merasa bodoh dengan perasaan pak tua. Niatnya sudah bulat, ingin pisah dengan pak tua. Karena, yang utama buatnya adalah kebahagiaan sang ibu. Melanjutkan hubungan dengan pak tua, membuatnya tak nyaman lagi, dan merasa tidak enak hati pada sang ibu. Dalam suatu hubungan yang paling dicari adalah sebuah kenyamanan. Zahra merasa, Ezra gak mungkin mencintainya. Pria itu hanya terobsesi padanya, karena pria itu mendapatkan keperawanannya.
Ezra kembali menyeret wanita itu, menggenggam kuat tangan Zahra. Dia ingin menunjukkan pada orang yang melihat mereka. Bahwa Zahra adalah miliknya.
Sesampainya di ruang rawatnya Anin. Keduanya merasakan perasaan yang tak karuan saat ini. Ada rasa khawatir, was-was dan takut untuk bertemu dengan wanita yang pesakitan ada di dalam. Apalagi Zahra, dia merasa sangat bersalah pada sang ibu, karena dia telah jadi madunya.
"Aku gak mau ibu tahu tentang hubungan kita. Kalau sampai ibu tahu. Bapak akan aku benci seumur hidupku." Ancam Zahra dengan telunjuk terjulur ke pria yang ada di hadapannya. Ezra hanya bisa berdecak kesal dan menggelengkan kepalanya. Dia setres menghadapi sang istri yang keras kepala ini.
"Janji dulu pak tua.!"
"Iya, iya. Puas..?" Ezra yang tadi memegang handle pintu. Kini melepas handle itu dari tangannya. "Sukamu lah Wa, kamu hanya memikirkan tentang perasaanmu saja." Ezra menatap Zahra penuh dengan kekecewaan. Pria itu akhirnya memutuskan tak masuk ke dalam ruangan itu.
Keputusan Zahra sudah bulat, jadi dia tak memusingkan sikap Ezra yang berubah ketus. Toh dia ingin pergi dari hidup pria itu. Zahra tipe wanita yang teguh dengan pendirian. Kalau dia sudah memutuskan sesuatu, dia akan mempertahankan keputusannya itu.
__ADS_1
Wanita itu menekan pelan handle pintu.
Kreekkk...
Tubuhnya bergetar hebat saat ini. Dia sedih, dia bertemu dengan sang ibu dalam balutan persoalan yang seperti benang kusut. Mata Zahra menyoroti ruangan yang sangat luas itu. Baru kali ini Zahra melihat ruang rawat semewah itu. Kedua mata Zahra langsung berkabut disaat melihat sang terbaring di bed.
Anindya yang lagi terjaga itu, menatap ke arah pintu yang dibuka. Kening wanita itu mengerut, melihat sosok wanita yang penampilannya agamis, mirip putrinya berjalan pelan dengan air muka penuh kesedihan ke arahnya.
"Zahra..... Putriku....!" Anindya berusaha bangun dari pembaringan. Kini wajah wanita itu berbinar-binar menyambut sang Puteri yang menghampirinya. Bagaimana pun penampilan putrinya itu saat ini. Dia sangat mengenalnya. Anindya sangat terharu, dia akhirnya bisa bertemu dengan putrinya. Ternyata suaminya itu bertindak cepat, mencari keberadaan putrinya. Wajah Anindya kini tenggelam dengan air mata saking bahagianya.
"UMAKKK....!" Zahra berhambur ke pelukan ibunya. Keduanya menangis dan saling berpelukan dengan eratnya. Menumpahkan kerinduan yang sudah berkarat di dalam hati. Sudah lebih dari satu tahun ibu dan anak tidak bertemu. Dikarenakan kondisi yang tak memungkinkan. Di mana Anindya tak bisa pulang karena pekerjaan. Karena dia memang mau mengejar dollar untuk melunasi hutang suami yang sudah meninggal.
"Zahra ..... Boruku....!" Tangis Anindya pecah, dia merasa terharu sekali. Karena bisa bertemu dengan putrinya. (Boruku\= Putriku) bahasa Batak.
Perawat yang berjaga ikutan mewek, melihat tontonan yang sangat dramatis dihadapannya. Ingin dia menghentikan Anindya menangis, karena takut membahayakan pada kesehatan nya. Tapi, perawat itu seolah terhanyut dengan apa yang dilihatnya kini.
Sementara di ruang rawatnya Anindya. Wanita itu masih memeluk erat sang putri sang sangat di sayangi itu. Rasanya berpelukan dalam jangka waktu lama, tak akan bisa mengobati rasa rindu kepada putrinya itu. Anin juga merasa bersalah saat ini, karena dia sebagai orang tua, tidak bisa menjaga sang anak. Dia lalai, bahkan anaknya dinikahi orang dia gak tahu.
Anindya menyapu air mata sang putri dengan jemarinya. Menatap sang anak dengan perasaan bersalah. "Maafin umak ya Boru..!" Ucapan ibunya itu malah membuat air mata Zahra semakin deras bercucuran. Mana mungkin dia tega menyakiti ibu sebaik ini. Mana mungkin dia akan merebut Ezra dari ibunya. Kebahagiaan ibunya lebih penting, dari padanya.
"Mak.... " Ucapnya sedih, ia meraih tangan sang ibu dan menciuminya. Kenapa pula seorang ibu yang meminta maaf terlebih dahulu. Ini lah yang membuat Zahra begitu sayang dan menghormati ibunya itu. Anindya punya jiwa yang besar, hati yang lembut dan sangat sabar. Ibunya itu juga penuh dengan tanggung jawab.
"Suamimu ikut Boru?" tanya Anin, menoleh ke arah pintu. (Boru\=sebutan untuk anak perempuan dalam bahasa Batak).
Zahra menggeleng dengan derai air mata yang tak berkesudahan. Mana mungkin dia mengatakan dia datang bersama suaminya. Padahal mereka punya suami yang sama.
"Nenek mana Boru?" Ibu dan anak itu masih saking tatap, menumpahkan kerinduan yang membuncah.
__ADS_1
"Nenek tadi pagi berangkat ke tanah suci Mak. Naik haji."
"Ya Allah..... Terima kasih atas karuniamu. Ternyata anak dan ibu mertuaku dijaga NYA dengan baik. Umak senang dan merasa legah, setelah melihatmu dalam keadaan baik-baik saja sayang." Meraih sang putri dalam pelukannya lagi. Mencium lembut kening putrinya itu.
Zahra semakin sedih saja mendengar ucapan ibunya itu. Apa yang akan terjadi jika ibunya suatu saat mengetahui tentang siapa yang menikahinya.
Mak tidak boleh terjadi, selamanya mak tak boleh tahu tentang Aku dan pak tua. Ucap Zahra dalam hati.
"Apa kata orang kampung ternyata salah. Tak mungkin putriku berbuat hal tak pantas. Buktinya suamimu begitu baik." Memperhatikan penampilan Zahra yang berubah jadi agamis. Mana nek Ifah diberangkatkan haji lagi.
"Mak ingin kenal siapa menantu Mak itu sayang. Mana fotonya Boru?" lagi-lagi Zahra menitikkan air mata mendapatkan pertanyaan seperti itu. Tak mungkin dia menunjukkan foto Ezra.
"Mak, kapan-kapan kita bahas semuanya ya? Zahra ingin tahu kondisi ibu sekarang." Mengusap lembut wajah sang ibu yang dibasahi air mata.
"Sekarang umak sudah sehat, umak sudah sehat Nang." Anindya sangat antusias, dia memang merasa sehat saat ini.
"Syukurlah Mak." Zahra merapikan rambut ibunya yang panjang. Mengikat rambut ibunya itu rapih. Senyum bahagia tak pernah lepas dari sudut bibir Anindya saat ini.
"Ibu sudah menikah lagi Nang." Ucap Anin dengan hati-hati. Dia malu juga ingin menceritakannya padahal Anaknya itu tak menanyakannya. "Pernikahannya mendadak, disaat umak ada kesempatan ingin memberitahu, ponselmu dan nenek gak bisa dihubungi." Jelas Anindya dengan perasaan bersalah.
"Iya mak, gak apa-apa. Yang penting, sekarang umak sehat dan bahagia. Itu sudah membuat Zahra bahagia." Ujar Zahra menitikkan air matanya.
"Sebentar sayang, umak akan telepon ayahmu. Katanya dia datang sore ini. Karena dia lagi sibuk." Anindya berusaha meraih ponselnya dari atas nakas. Zahra melihat ibunya itu kesusahan meraih ponselnya itu, Zahra pun akhirnya bergerak dari duduknya, meraih ponsel itu dan memberikannya pada Anindya.
"Terimakasih sayang, umak telepon ayahmu dulu ya?" ujar Anin dengan wajah sumringah. Dia merasa bahagia sekali, karena punya suami yang kaya dan baik. Siapapun wanitanya pasti akan merasa bahagia bila menikah dengan Ezra .
"Gak usah mak, siapa tahu bapak lagi sibuk. Kapan-kapan kan bisa ketemu Mak." Ujar Zahra menolak halus tawaran sang suami, ingin menjumpakannya dengan ayah tirinya itu.
__ADS_1
TBC