AKU MADU IBUKU

AKU MADU IBUKU
Buang gengsi


__ADS_3

"Hati - hati pak!" Alvian memberikan tisu pada Ezra. Dengan cepat Ezra menyambarnya, melap mulutnya yang belepotan.


Ezra melirik segan Dokter disampingnya. Sepertinya Dokter itu curiga padanya. Ezra tersenyum tipis, dia tak boleh terpancing. Tadinya dia mengajak Alvian ngopi, karena penasaran pada Dokter ini. Soalnya Dokter ini terlihat dekat dengan istrinya Amin.


"Aahhkk... Itu hanya perasaan Pak Alvian." Ezra ngeles, memalingkan pandangannya, pura-pura menyoroti semua sudut cafe itu.


Alvian tersenyum tipis. Dia bisa membaca bahasa tubuh seseorang. Dia tahu, Ezra gak nyaman saat ini.


"Iya juga sih, bapak kan pengusaha sukses, pasti seringlah nongol di majalah. Tapi, aku koq baru tahu. Kalau bapak menikah lagi." Ujar Ezra mulai menikmati kopinya.


"Emang bapak kenal denganku sebelumnya?" Esra menunjuk dirinya.


"Siapa sih yang gak kenal pemilik tambang emas di kampung kita ini "


"Emang oak Alvian orang sini juga?" interogasi Ezra dimulai.


"Iya, saya tinggal di daerah sini. Tak jauh lah dari rumah sakit ini." Ujar Alvian, masih menikmati kopi pahitnya.


"Eemmm koq pak Alvian terlihat dekat dengan istri saya?" Ezra kini sudah berani menatap Alvian. Karena bukan dia saat ini yang jadi topik bahasan.


"Oohhh Anin, dia itu dulu pernah kerja di rumah sebagai ART bersama ibunya. Dulu banget...!" Alvian tersenyum manis. Ezra jadi curiga, kenapa membahas Anin, pria ini jadi senyam senyum.


"Terus...?" Ezra kepo, Alvian heran. Tapi, dia yang suka membahas Anin, melanjutkan ceritanya.


"Sejak Ayahnya Anin meninggal. Dia dan ibunya jadi tinggal di rumah. Sepulang sekolah dia bantuin ibunya gitu. Dia anaknya rajin, Soleha dan baik. Eehhh... baru tamat SMA sudah langsung menikah dengan orang kampungnya. Katanya sih menikah dengan sepupunya gitu. Ibu dan anak itu gak kerja lagi di rumah. Sejak saat itu, aku gak pernah ketemu lagi dengan Anin. Nah... Pas di rumah sakit kemarin, ketemu lagi." Jelas Alvian panjang lebar.


Saat itu juga, Ezra memerintahkan asisten Bimo, mencari informasi tentang Dokter Alvian. Karena tak mungkin juga Ezra menanyakannya semuanya. Seperti petugas sensus penduduk.


"Oohh...!" Ezra meraih rokok yang ada di atas meja itu. Dia heran, koq dokter merokok. Ezra tak suka merokok. Tapi, entah kenapa dia jadi pingin mencobanya.


"Pak Ezra merokok juga?" Ujar Alvian, memperhatikan Ezra yang mulai menyesap rokoknya.


"Gak pak, hanya ingin menghargai bapak saja " Ezra tertawa kecil, yang diikuti oleh Alvian.


"Gak nyangka ya, Anin dapat suami pengusaha sukses. Bagus betul nasibnya." Pria itu membuat bola-bola dari asap rokoknya. "Saat dia masuk rumah sakit. Aku gak menyangka kalau dia istrinya seorang konglomerat." Lanjut Alvian lagi. Dari cara bicaranya Alvian. Ezra bisa menebak, kalau pria di hadapannya, pasti pernah menaruh hati pada istrinya itu.

__ADS_1


Ezra tersenyum tipis, berusaha menyembunyikan hatinya yang lagi porak poranda.


"Anin itu masakannya enak banget loh. Sempat kepikiran sih, mau bertamu ke rumahnya. Mau minta makan gitu. Tapi, setelah tahu siapa suaminya, aku jadi gak berani." Alvian tertawa lebar.


"Kalau pak Alvian mau, nanti setiap saat bapak bisa koq nikmati masakannya."


"Maksudnya?" Alvian terlihat heran. Bahkan kini alisnya saling bertaut. Bingung dengan maksud ucapan Ezra.


Ngung


Ngung


Ngung


Ponselnya Alvian yang ada di atas meja bergetar. Dia meraih ponsel itu dan mengangkat panggilan itu.


Ezra menatap lekat Alvian yang terlihat bicara serius. Dia yakin, Alvian pernah ada rasa pada Anin. Kalau hanya sekedar mantan pembangu di rumah. Tak mungkin diingat juga, sudah bertahun-tahun. Anin saja sudah punya anak gadis. Sudah dinikahinya lagi.


Ezra jadi teringat pada Zahra. Pria itu jadi kangen istrinya itu.


"Pak, saya cabut duluan." Ezra terkejut, disaat Alvian menepuk pelan bahu pria yang tengah mengkhayal itu.


"Kalau Amin sudah sembuh, nanti saya akan undang bapak makan di rumah. Masakan Amin memang lezat." Ezra tak sanggup lagi menyebut Anin sebagai istrinya. Dia kini memanggil wanita itu dengan nama saja.


"Ok bro.. Sipp..!" Alvian pun meninggalkan tempat itu.


Ezra menghela napas panjang dan mendudukkan bokong di kursinya semula. Dia tadi sempat kepikiran istri kecilnya itu. Dari semalam dia gak ada komunikasi dengan wanita itu. Dia sudah sangat rindu. Seminggu terus bersama memadu kasih dan tiba -tiba pisah, membuatnya rindu serindu-rindunya.


Masalah ini harus cepat selesai. Dia gak akan tahan, kalau terlalu lama tak menyentuh istri hot nya itu. Dia sudah kecanduan. Kalau pada Anin, Ezra awalnya kecanduan masakannya. Kalau pada Zahra dia kecanduan semua yang ada pada istri kecilnya itu.


Ezra senyam-senyum mengingat setiap momen dalam percintaan mereka. Pria itu sesaat melupakan masalahnya. Tak dipungkiri, se-x adalah yang nomor satu untuk pria. Dan Zahra, bisa memenuhi semua fantasinya.


Dert


Deret

__ADS_1


Deret


Ponselnya bergetar kuat di atas meja. Dia dengan cepat mengangkatnya. Tanpa melihat siapa yang menelpon. Dia yakin yang menghubunginya pasti Asistennya. Karena dia meminta Bimo, mencari informasi tentang Alvian


"Hallo.... Apa ini dengan Pak Ezra..?" diujung sana terdengar suara seorang wanita yang bicaranya sangat serius.


"Iya benar. Anda siapa?" Jawab Ezra tak kalah tegas.


"Saya ini pemeras, kirimkan saya uang. Jika ingin rahasia anda aman." Ucap wanita itu tegas.


"Heii.... Jangan main-main dengan saya. Mau cari mati, haahhh..!" Ezra tak takut dengan ancaman yang diucapkan wanita itu.


Ckckck... Cckkkk..Cckkk..


Wanita yang menelpon tertawa dengan senangnya.


Saat itu juga, kedua bola mata Ezra berputar jengah. Dia kenal tawa itu


"Halwa..... Wa..Wa...!" Ujar Ezra geram.


"Hei.... Pak tua jangan marah-marah, cepat kirimkan aku uang..!" Zahra tertawa lagi dengan bahagianya. Dia merasa senang sekali bisa mengerjai suaminya itu. Bisa -bisanya suaminya itu tak mengenal suaranya. Emang sih, Zahra melapisi ponselnya dengan sapu tangan saat bicara. Sehingga suara wanita itu berubah.


Panggilan pun langsung dialihkan Zahra ke panggilan video. Setelah belajar les privat. Bimo memberikannya ponsel. Seharian ini wanita itu menahan diri untuk tidak menghubungi sang suami. Padahal dia sudah kaget berat. Dia berharap, Ezra yang menghubunginya. Tapi, tak ada juga yang menelponnya. Jadilah dia membuang gengsinya. Dan menghubungi sang suami duluan.


"Hei... Hubby... Kangen .!" ucapnya tersipu malu. Zahra memang tipe wanita yang to the point. Tak ada drama pada wanita itu.


Bukan Zahra saja yang tersipu malu saat ini. Ezra yang mendengar ucapan konyol sang istri juga ikut tersipu malu. Senyum kebahagiaan terlihat jelas, padahal pria itu sedang setres saat ini.


"Ya istriku, sama aku juga kangen!" ucapnya lirih, entah kenapa dia jadi teringat masalahnya. Dia tak mau kehilangan istri kecil nya ini.


"Sebentar sayang." Ezra beranjak dari duduknya. Mencari posisi uenak di kafe itu. Ternyata cafe itu menyediakan private room. Ezra merasa tidak nyaman bicara di luar dengan video call an, apalagi istrinya itu sedang di kamar. Dan sepertinya sedang pakai baju sexy. Walau Zahra hanya menunjukkan wajahnya di camera. Tapi, leher wanita itu terlihat.


"Hubby lagi di mana ini? koq gak telepon-teleponan aku. Kenapa gak nanyain kabarku?" Cecar Zahra, dia kesel juga karena dilupakan.


"Shhiiit.... kangen nih sayang. Jangan marah-marah dulu dong. Itu cameranya di turunkan sedikit. Hubby mau lihat " Ucap Ezra, dia lagi puyeng, setres. Otak perlu di refresh.

__ADS_1


"Apa .?" Zahra kesal dengan ucapan suaminya itu. Dia pun menutup panggilan.


TBC


__ADS_2