AKU MADU IBUKU

AKU MADU IBUKU
Terima kenyataan


__ADS_3

"Sudah akkhh.. cepat pakaikan celanaku, kalau gak, aku saja." Ucap Zahra cemberut karena, terus-terusan di goda sang suami. Bisa kepingin dia. Kalau Ezra ciumin tubuhnya terus.


Ezra pun memakaikan pakaian sang istri. Tapi, sebelum itu, dia kembali mencium luka yang ada pada paha Zahra. Hanya tergores, tapi goresannya banyak.


"Cepat sembuh ya sayang." Ezra terlihat sedih, dia pun mengecup lama kening sang istri. Zahra jadi terharu dibuatnya. Tapi, dia jadi mikir. Suaminya ini beneran sayang. Atau doyan sih? dari tadi mulutnya nyosor mulu. Tapi, dari cara Ezra menciumnya penuh kasih. Sepertinya Ezra menyayanginya. Sikap Ezra yang penuh kasih itulah yang membuat Zahra jadi menyukai suaminya itu. Bahkan Dia tidak memikirkan Ferdy lagi. Karena, untuk apa dipikirkan. Keluarga Ferdy sudah mengancamnya


Lagian kemarin, Ferdy sangat acuh padanya .


"Iihh Abang, mau apa lagi." Zahra sok jual mahal. Padahal dia suka dicium oleh Ezra.


Ceklek...


Ezra masih saja mencuri satu kecupan padahal dokter dan suster masuk ke ruangan itu. Saat ini dokter yang masuk ada dua orang. Sebenarnya hanya satu yang menangani Zahra. Dia dokter seorang wanita. Tapi, di ruangan itu ada juga dokter berjenis kelamin pria.


"Kita periksa lagi keadaan adek ya? sudah diminum obatnya dek?" Dokter tersenyum dengan ramahnya. Sedangkan dokter yang berjenis kelamin itu, menatap lekat Zahra.


Tatapan Dokter itu kepada Zahra membuat Ezra kesal. Kenapa juga dokter yang berjenis kelamin laki-laki itu menatap lekat sang istri. Apakah dokter laki-laki itu naksir pada istrinya itu, pada pandangan pertama?


"Suhu tubuh nya masih belum turun, tapi jangan khawatir di infus ini sudah ada obatnya. Nanti juga akan ada obat yang lain. Agar demam adek cepat turun, kakinya cepat sembuh. Ya dek!" Dokter itu tersenyum ramah pada Zahra, juga pada Ezra.


"Baiklah adek istirahat yang cukup ya. Biar cepat sembuh."


"Iya dok. Makasih." Zahra tersenyum tipis. Melirik sang suami yang terlihat BETE.


"Permisi ya dek, mari pak!" Kedua Dokter itu pun keluar dari ruangan itu saling bisik.


Dan tinggal lah satu suster yang memberi obat


untuk Zahra. Suster itu menjelaskan cara mengkomsumsinya pada Ezra. Ezra pun mendengarkannya dengan seksama.


Sepeninggalannya Dokter dan suster. Ezra menyuapi sang istri untuk makan. Zahra harus cepat makan dia harus minum obat. Saat itu juga, Dika masuk ke ruangan. Dengan banyaknya tentengan di tangannya.

__ADS_1


Dika ternyata membawa semua yang dibutuhkan Zahra dan Ezra, baik makanan atau pun kebutuhan lainnya.


Saat ini, sikap Ezra kembali biasa. Dia tak mungkin juga, bersikap mesra di hadapan sang asisten yang masih jomblo. Itu sama saja dia telah menyakiti perasaan para jomblo.


Setelah Zahra selesai makan dan minum obat, sekarang saatnya Ezra yang mengisi perutnya. Tentu saja dia sekalian membahas pekerjaan dengan Sikap.


"Gak usah kabari nenek, kalau Zahra di rawat di sini ya pak." Ezra menoleh cepat kepada sang istri. Koq manggil bapak, tadi saja sudah manggil sayang atau Abang.


"Aku gak mau nenek sedih, kalau tahu aku lagi sakit " Membalas tatapan penuh tanya sang suami dengan tersenyum tipis. Kening Ezra mengerut mendengar ucapan sang istri, yang mendadak jadi dingin. Tadi saja sudah manja.


"Iya sayang, mau?" Ezra menyodorkan sendok ke mulutnya Zahra. Tapi, Zahra tak mau membuka mulutnya.


"Sudah kenyang pak." Jawabnya dengan lembut. Ezra menekuk bibirnya, merasa kurang senang dengan sikap Zahra yang kembali dingin.


"Ya sudah kamu tidur ya!" mengelus lembut kepala sang istri. Zahra pun tersenyum dia memang kantuk. Tapi, entah kenapa dia lagi gak pingin tidur. Dia ingin menguping pembicaraan Ezra dan sang asisten. Tapi, akhirnya dia menutup matanya juga.


Melihat sang istri menutup mata. ERa dan Dika kembali membahas pekerjaan.


"Iya bos," jawab Dika pelan. Kemudian pria itu berbisik ke telinganya Ezra. " Bos, semalamam ini Nyonya Anin gak tidur. Nyonya menunggu bos, dan nyonya juga menangis semalam suntuk bos." Laporan sang asisten membuat Ezra terkejut. Dia sampai tersedak saat makan. Pria itu batuk-batuk. Dika dengan cepat memberikan minum.


Ezra meneguk cepat air mineral yang diberikan oleh Dika. Wajahnya langsung berubah jadi muram. Dia menyayangkan semua yang terjadi, sehingga dia tidak menepati janjinya menemani sang istri ke kampung halaman.


"Aku nanti akan menghubunginya. Kalau dia bertanya, berikan jawaban yang masuk akal. Ingat, Dyah gak boleh tahu hal ini. Pernikahan kami baru seumur bayam. Gak mungkin aku langsung menceritakan tentang Zahra." Ucap Ezra pelan, berharap Zahra tidak mendengarnya. Tapi, Zahra ternyata mendengar ucapan sang suami.


Zahra menangis dalam hati. Dadanya terasa begitu sesak dan nyeri. Kenapa dia jadi istri simpanan seseorang. Dia tak inginkan ini. Tapi, dia sudah terlanjur memberikan semuanya pada sang suami. Zahra tidak bisa menahan rasa sakit itu lagi. Air matanya kini keluar juga dari matanya yang tertutup. Dia tak boleh menangis, setiap perbuatan ada resikonya. Dia yang memilih jadi istri simpanan Ezra. Jadi, di sini. Dia yang harus lebih bersabar.


" Iya Bos, aku mengerti."


"Pelankan suaramu, nanti istriku dengar." Ucap Ezra pelan, mengajak Dika sedikit menjauh dari Zahra. Akhirnya mereka memilih duduk di balkon ruangan itu.


Zahra mengintip kepergian suami dan sang asisten. Dia masih merasa sedih. Tapi, dia mencoba tegar. Semoga dia bisa kuat dengan ini semua. Dan apabila sang istri sah nya Ezra memintanya suatu saat untuk pergi, maka dia akan pergi. Tapi, jika kehadiran nya di terima baik oleh istri suami nya itu. Dia akan berdamai dan mau dijadikan madu.

__ADS_1


Zahra berkonsentrasi untuk bisa tidur. Dia tak mau memikirkan hal yang belum terjadi. Yang jelas, dia tak ada niat merusak rumah tangga orag lain.


Setengah jam berangan-angan, akhirnya wanita itu bisa tidur juga.


Dika pun keluar dari kamar itu, setelah urusannya selesai dengan sang bos.


Setelah kepergian Dika. Ezra masih menyempatkan mencium kening sang istri. Kemudian pria itu memilih mengistirahatkan tubuhnya. Dia pun memilih tidur di sofa. Dia harus mengumpulkan tenaganya lagi. Karena nanti malam dia sudah berencana, mengajak sang istri mantap-mantap. Jika istri nya itu sudah tidak demam lagi. Wajar Wajar Ezra seperti itu. Karena, dia sudah sangat lama tak melakukan hubungan badan. Sekali dapat istri, rasanya seperti baru pertama kali menikah saja.


Ruang rawat inap itu pun hening, hingga pukul 12 siang. Pasangan suami isteri itu tidur sangat lelap. Bahkan, petugas yang mengantarkan makanan tak mereka ketahui masuk ke ruangan itu. Hingga deringan ponsel yang tak henti-hentinya di atas meja sofa di hadapan Ezra tidur, membuat Zahra terbangun.


"Bang... Abang ..!" Zahra memanggil lembut nama sang suami. Dia ingin suaminya itu mengangkat telepon yang tak mau diam itu.


"Bang.... Ada yang menelpon." Perawat yang berjaga di luar akhirnya masuk ke ruangan itu. Karena, mendengar suara Zahra yang memanggil-manggil sang suami.


"Ya dek, ada apa?" tanya perawat ramah. Jangan sempat mereka dikatakan tidak becus dalam bertugas.


"Sus, bangunkan suamiku. Ponselnya itu berdering terus." Ujar Zahra ramah. Suster mendekati Ezra. Dan membangunkan pria itu.


Ezra bangun, dengan rambut acak-acakan. Tapi, terlihat keren. Suster aja terpesona melihatnya. Apalagi bibir Ezra berwarna soft pink. Pria itu tak pernah merokok, makanya bibirnya terlihat begitu menggoda.


"Ada apa sayang? kamu butuh apa?" Ezra menghampiri Zahra. Pria itu bahkan tak menoleh kepada suster yang terpesona padanya. Mungkin sang suster akan mengatakan Ezra sombong. Karena mengabaikan suster yang berdiri di hadapannya.


Sebenarnya Ezra gak sombong. Dia tak mau saja suster itu semakin terkesima padanya. Kalau dia sok keramahan. Ezra kapok, dia ramah. Nanti jadi banyak wanita yang baper. Hanya Zahra lah yang tak pernah baper padanya.


"Iihh Abang, koq malah ke sini. Itu hapenya bunyi terus." Ujar Zahra heran, menggeleng melihat tingkah sang suami yang kini sikap dan perilakunya kembali ABG sepertinya.


"Oohh... iya ya!" Ezra menepuk jidatnya. Dia menyeret kakinya ke meja. Meraih ponselnya yang tak ada hentinya berdering. Dan saat dia melihat nama yang menelpon. Ezra pun mematung.


TBC


Like, coment, vote say.

__ADS_1


Gaskeunnnn BESTie..🙂


__ADS_2