AKU MADU IBUKU

AKU MADU IBUKU
Bimo bingung


__ADS_3

Setelah mengeluarkan semua isi perutnya. Kini keringat sebiji jagung, terlihat berjejer di keningnya. Tentu saja Ezra dibuat panik, melihat keadaan sang istri. Mendadak Zahra merasa tidak enak badan.


"Sayang, kamu kenapa?" Ezra begitu paniknya menyeka keringat yang sudah membasahi wajah dan kepala sang istri. Zahra terlihat ngos ngosan saat ini. Rasanya begitu melelahkan mengeluarkan semua material yang ada di perutnya. Sehingga Zahra tak menanggapi ucapan sang suami.


"Kita harus ke rumah sakit." Ezra langsung membopong Zahra, berjalan cepat menuju ranjang mereka. Zahra sampai takut terjatuh, dia melingkarkan kedua tangan nya di leher sang suami. Ezra membaringkan sang istri d atas ranjang. Dia harus siap-siap dulu sebelum berangkat. Karena saat ini dia hanya pakai sarung.


"Aku gak mau ke rumah sakit. Aku mau tidur aja sebentar." Ucap Zahra lirih, seluruh badannya terasa remuk redam. Mungkin ini efek dari kegiatan intim mereka. Terlalu diporsir, lupa waktu saking nikmatnya, terhanyut dalam permainan panas itu. Zahra bahkan sudah menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. Sedangkan Ezra sudah keluar dari rumah ganti dan sudah memakai celana.


Pria itu naik ke atas ranjang. Menempelkan punggung tangannya di kening sang istri, dia ingin mengecek suhu tubuh Zahra.


"Tidak demam." Ucapnya Kembali memeriksa bagian tubuh Zahra lainnya.


"Iya Hubby, aku gak demam, hanya pening dan semua badanku pegal-pegal semua." Ujarnya dengan mata yang terasa berat. Zahra merasa sangat kantuk sekali. Dia gak bisa menahannya lagi.


"Maaf ya sayang, gara-gara hubby kamu jadi seperti ini." Ezra berniat memijat istrinya itu. Dia yakin, pasti istrinya ini sedang hamil.


"By, mau apa lagi, aku mau tidur..!" kali ini Zahra kesal, dia sampai mendorong tubuh sang suami yang berniat melepas pakaiannya. Gimana gak kesal, gak nampak apa dia lagi gak baik - baik saja, tapi malah preteli pakaiannya.


"Hubby akan memijit kamu sayang. Kamu masuk angin ini. Atau pengaruh hormon kewanitaannya. Membuatmu jadi seperti ini. Hubby ini masih normal sayang, bukan pria hyper yang maksa disaat lihat istri lemah." Zahra pun terdiam mendengar ucapan suaminya itu. Dia malu juga, karena mengira suaminya itu minta lagi.


Benar saja, Ezra ternyata memijat tubuh lelahnya sang istri. Zahra pun tak tahu, minyak apa yang digunakan suaminya itu saat memijatnya. Dia merasa sangat tenang menghirup aroma dari minyak urut itu. Tak butuh lama, wanita itu sudah terbang ke alam mimpi. Sedangkan Ezra terus saja memijat tubuh mulus istri kecilnya itu sambil menguap, dia juga sebenarnya kantuk. Karena semalaman ini tak bisa tidur, memikirkan Zahra.


Hampir satu jam pria itu memijat tubuh Zahra. Tak ada satu bagian yang terlewat, hanya saja pria itu tak berani memijat perut sang istri. Niat untuk pulang ke kota Medan, tertunda sudah. Karena kini keduanya malah tertidur lelap. Padahal sejak bertemu dengan Ezra dari pelariannya. Zahra sudah merengek ingin pulang karena sangat ingin bertemu sang ibu.


***


Bimo sudah mendapatkan bukti atas kejahatan yang dilakukan Rani. Bahkan kejadian Zahra yang menangis di toilet bandara juga sudah diselidikinya. Pelaku nya sama, yaitu Rani.


Saat ini pihak kepolisian sedang berada di rumah Rani, mantan istrinya Ezra. Rani ditahan polisi atas tuduhan pencemaran nama baik dan perbuatan tidak menyenangkan.

__ADS_1


Rani tidak terima atas tuduhan itu. Dia memaksa bicara dengan orang yang melaporkannnya. Pihak polisi pun meminta Bimo hadir di kantor polisi.


"Tega kamu Bimo, kenapa kamu lakukan ini?" teriak Rani pada Bimo, keduanya sedang duduk di kursi kayu yang dibatasi oleh meja.


"Ini semua hasil dari apa yang anda semai Bu. Jangan salahkan saya. Dan ini peringatan terakhir. Disaat anda nanti sudah melewati masa tahanan tobatlah. Berdoa lah untuk kebahagiaan putri anda." Tegas Bimo, menatap tajam Rani.


"Aku benci Ezra, dia menelantarkan anaknya. Dia sibuk dengan istri-istrinya. Anakku yang direhabilitasi tak pernah dikunjunginya. Hati orang tua mana yang tak sakit diperlakukan tak adil seperti itu." Ujar Rani berderai air mata. Bolo sama sekali tak kasihan melihatnya.


"Bu Rani, hanya anda yang tahu persis, Rara itu anak kalian berdua atau hanya anak anda. Jangan berbuat ulah lagi. Jika masih ingin, Rara diakui sebagai anaknya Bos Ezra. Ini peringatan terakhir Kali. Jangan pernah sekali lagi mencoba mengusik ketenangan hidupnya si bos." Bimo menjeda ucapannya, mendekatkan kepalanya ke arah Rani, pria itu pun membisikkan sesuatu kepada Rani. "Sekali lagi anda ikut campur di dalam kehidupan bos, maka aku tak akan segan-segan melempar anda ke neraka. Karena itu tempat yang pantas untuk wanita keji seperti anda." Memundurkan tubuhnya dan melotot kepada Rani.


Rani terkejut mendengar ucapan Bimo. Cara bicaranya itu penuh ancaman. Seperti bos mafia saja. Rani tak menyangka Bimo bisa bersikap kejam seperti itu.


"Camkan itu!" Bimo menodong Rani dengan tangannya. Pria itu pun berbalik badan, dan meninggalkan tempat itu.


Aaarrrgghhh...


Rani berteriak dengan histeris. Dia tidak menyangka ulahnya akan berakhir seperti ini. Mana dia gak punya uang lagi. Mana ada pengacara yang mau membantunya keluar dari persoalan ini. Dia selama ini hidup berfoya-foya. Uang yang diberikan Ezra untuknya setelah perceraian juga sudah habis difoya-foyakan bersama teman prianya.


Bimo tersenyum tipis, pria itu sedang berada di mobil mewah, menuju rumah sakit. Dia merasa terbantu juga, karena ulah si Rani. Gimana gak merasa terbantu. Ezra dan Zahra sama-sama merasa kesusahan untuk berterus terang pada Anin dan ada wanita ulat keket yang ikut campur dan membuat masalah jadi cepat selesai.


Rani beranggapan Zahra atau Anin bisa dihasut. Dan sama-sama getol meninggalkan Ezra. Eehh... gak tahunya dia salah menilai orang. Zahra dan Anin, tipe orang yang bersih hatinya. Jelas, Allah akan memudahkan urusan nya.


Pukul empat sore, Bimo sudah sampai di rumah sakit. Dia langsung menemui perawat menanyakan apakah Anin, sudah boleh pulang atau tidak. Perawat mengatakan besok Anin boleh pulang. Dan perawatan boleh dilanjutkan di rumah.


Bimo menarik napas panjang saat berjalan di koridor menuju ruangan Anin. Pria itu merasa legah sekali, akhirnya masalah selesai. Entah kenapa perasaan nya begitu senang dan sangat bersemangat untuk menjumpai mantan istri bis nya itu.


Bimo merasa simpatik dan kagum pada Anin. Dia tak menyangka masih ada wanita yang punya hati seperti malaikat. Seandainya dia jadi Ezra, dia akan memilih Anin saja jadi istrinya


Karena Anin, tergolong wanita sempurna. Sabar dan punya hati yang tulus. Tapi, gak mungkin juga bos Ezra memilih Amin. Dia kan sudah menggauli si Zahra gadis bar bar yang polos itu. Kalau dia melanjutkan hubungannya dengan Anin, yang ada malah dosa besar.

__ADS_1


Saat sampai di ruangan itu, dia malah menemukan Dokter Alvian ada di sana. Dia terkejut melihat keakraban yang tercipta antara Dokter Alvian dan Anin. Terlihat keduanya sedang menyantap sate ayam Madura.


Dan saat ini Dokter Alvian menyodorkan satu tusuk sate lagi pada Anin.


"Dokter, Dokter koq disini? gak kerja? gak urusi pasien-pasiennya?" tanya Bimo dengan raut wajah masam.


"Oohh pak Bimo, ayo kita makan sate!" Dokter Alvian terlihat begitu bahagianya, memberi kode dengan tangan nya, agar Bimo mendekati mereka. "Ini masih ada satu bungkus lagi." Dokter Alvian menunjuk satu bungkus sate di atas nakas. Kedua ekor mata Bimo, mengikuti pergerakan tangannya Dokter Alvian.


"Aku gak suka sate!" ucapnya ketus, kenapa ini dokter malah ada di ruangan ini?


"Oow..!" Dokter Alvian manggut-manggut, dan satu tusuk sate masuk lagi ke mulutnya.


"Dokter koq disini?" Bimo sungguh penasaran, koq dokter ini ada di ruangan ini. Dan terlihat sedang tidak bekerja.


"Ya, gak boleh rupanya?" tanya Dokter Alvian balik. Bimo terdiam, mana mungkin dia melarang dokter itu mengunjungi pasiennya. Tapi, ini kan bukan waktunya visit


"Makan sate? apa Nyonya Anin, boleh makan sate? beliau kan baru dioperasi?" tanya Bimo sok tahu.


"Boleh, asal jangan ada pedesnya. Dan makannya jangan banyak-banyak." Jawab Dokter Alvian ramah. Sedikit heran dengan sikap Bimo yang terlihat tak suka padanya. Sedangkan Anin, sikapnya biasa saja, dia gak nampak ceria atau sedih.


"Oohh... Dokter, Nyonya Anin sudah boleh pulang kan? kami pulang saja hari ini?" Ujar Bimo tegas, dia jadi gak suka, Anin sering berjumpa dengan Dokter Alvian.


"Bimo, aku belum boleh pulang." Jawab Anin cepat. Sebenarnya Anin sudah sangat bosan di rumah sakit itu. Dia juga ingin pulang. Tapi, dia bingung mau pulang ke mana? tak mungkin dia pulang ke rumah Ezra. Mereka kan sudah dalam proses pembatalan pernikahan. Lagian, dia tak akan sanggup jika berada di rumah itu, ditambah sang putri juga akan ada di sana. Walau dia sudah mengikhlaskan sang putri dengan suaminya. Tapi, rasa tidak nyaman dan canggung akan membuatnya tertekan di rumah itu. Dia akan kesulitan bernapas nantinya.


Seandainya dia punya rumah sendiri. Mungkin dia akan pulang ke rumahnya. Makanya Anin ingin di rumah sakit satu malam lagi.


Selama satu malam ini, dia akan menanyakan kepada para perawat atau Dokter Alvian. Di mana ada kontrakan murah.


TBC.

__ADS_1


Like ,vote beri bunga dong! kopi entar malam aja


__ADS_2