
"Kenapa ayah tak rujuk dengan ibu. Ibu bilang, dia akan berubah jadi istri yang baik, jika ayah memberikan ibu satu kali lagi kesempatan." Melas Rara dengan menautkan kedua tangannya.
Ezra jengah mendengar permintaan Rara. Pria itu langsung bangkit dari duduknya dengan kesalnya. Putrinya ini tak bisa dibilangin.
"Ayah harus pergi, masih banyak pekerjaan. Kamu boleh keluar rumah ditemani Bimo. Kalau kamu belum berubah jadi lebih baik dan sadar sepenuhnya. Kamu gak boleh bertemu dan komunikasi dengan ibumu. Ayah tak mau setelah kamu komunikasi dengan ibumu akan timbul masalah lagi. Ingat Ra, ini kesempatan terakhir untukmu. Ayah sudah terlanjur kecewa atas kekacauan yang kamu timbulkan belakangan ini." Ujar Ezra tegas, pria itu mengusap kepala sang putri dengan sayangnya.
"Iya Ayah, tapi masih bolehkah aku meminta satu hal lagi?" Rara yang memeluk sang ayah dari samping menatap lekat Ezra. "Kalau tak boleh dekat dengan ibu," Rara menghentikan ucapannya dan melepas pelukannya dari sah ayah. Anak itu terlihat merogoh saku celananya. "Aku ingin ayah bantu aku untuk dekat dengan pria ini. Dia teman sekolah ku dan aku sangat menyukainya ayah!" Rara memberikan sebuah foto close up kepada Ezra. Tentu saja dada Ezra naik turun setelah melihat foto itu. Dadanya terasa sesak, karena menahan emosi.
"Aku sangat menyukainya ayah. Tapi, dia tak pernah suka denganku." Ujar Rara, matanya memerah karena menahan cairan bening yang mendesak untuk keluar dari mata indah itu.
"Sejak pertama melihatnya di sekolah baru yang di kampung, aku jadi semangat dan ingin merubah semua sifatku yang menyebalkan. Tapi, sikapnya yang tak menyukaiku membuat semangat dan harapan itu sirnah ayah. Jadilah aku tak punya harapan. Dan kembali frustasi, membenci hidup ini. Kenapa ayah dan bunda berpisah? aku ingin merasakan dicintai ayah." Air mata yang dari tadi ditahannya akhirnya runtuh juga.
Ezra yang tadi tegang melihat foto anak ingusan yang dibencinya itu. Kini melunak dan kasihan melihat Rara yang sedih.
"Apa cinta dan kasih sayang dari ayah kurang nak? ayah sangat mencintaimu, kamu putriku. Dari kecil kamu selalu ayah gendong sambil menina bobokan kamu, kenapa sekarang kamu jadi seperti harus untuk dicintai?" ujar Ezra, kini dia menuntun sang putri untuk duduk di sofa ruang tamu. Dia perlu mendengar keluh kesah putrinya itu.
__ADS_1
"Aku tak ingin jadi seperti ibu, yang nantinya diceraikan pasangannya ayah." Air mata Rara semakin deras mengucur menganak sungai di pipinya.
"Rara putriku, hidupmu masih panjang. Kenapa kamu memikirkan cinta. Saat ini yang perlu kamu kejar adalah cita-citamu. Kalau kamu berhasil, kelak akan banyak pria yang mengejar mu nak!"
"Tidak ayah, kalau aku jadi sukses. Maka, tak akan ada yang berani deketin aku. Aku gak mau jadi wanita sukses. Aku mau jadi wanita sederhana saja. Wanita yang dicintai."
Ezra menggeleng mendengar penuturan Rara. Putrinya itu kenapa terlihat kehausan kasih sayang? apakah karena perceraiannya dengan Rani, membuat mental anaknya jadi berubah melow seperti ini.
"Nak, sebelum kamu berharap dicintai orang lain. Maka kamu harus mencintai dirimu sendiri dulu. Kalau kamu saja gak cinta dengan dirimu. Bagaimana mungkin orang lain akan tertarik untuk mencintaimu. Kamu harus mengurus diriku sendiri agar sehat fisik dan mental. Kesehatan mental dan fisik merupakan modal untuk mendapatkan hidup yang lebih tenteram, nyaman, aman, dan bahagia. Jangan beranggapan jika seorangpun mencintai kita, maka hidup akan bahagia. Itu pemikiran salah nak." Ezra meraih jemari Rara, menggenggam erat jemari itu, memberi penguatan pada putrinya yang lagi labil itu.
Saat ini cara berfikir Rara tidaklah realistis. Dia beranggapan apabila pria idamannya bisa didapatkannya maka dia akan bahagia. Mana mungkin Ezra mau mendekatkan Rara dengan Pria dalam foto itu. Karena pria itu sudah sangat jelas tak mencintainya. Yang ada hidupnya akan seperti di neraka apabila pria itu jadi pendampingnya.
Ezra lagi-lagi menghela napas berat. Masalah terus saja akan muncul dari keinginan Rara.
"Dia tidak mencintaimu. Tapi, kamu ngotot ingin dekat dengannya dan berharap dicintainya. Sayang.,. Cinta itu tak selamanya indah. Hubungan yang sehat tercipta dari dua insan yang saling mencintai. Kalau kamu tetap seperti ini, kamu akan terluka nak. Katamu dia tak mencintaimu"
__ADS_1
"Iya, dia tak mencintaiku. Dia cintanya cewek yang bernama Zahra." Ketus Rara dengan berlinang air mata. "Aku benci anak itu! harapanku untuk semangat hidup telah direnggutnya." Ujar tanpa sadar, yang membuat Ezra kesal mendengarnya.
"Gara-gara ulahmu itu, masalah datang beruntun."
"Iya, sampai ayah menelantarkan ku. Ayah pindah rumah karena ayah sudah punya istri baru. Ayah juga menjauhiku. Tak mau tinggal di rumah ini lagi." Ujar Rara dengan Isak tangis. "Aku juga ingin teman ayah. Aku juga ingin kasih sayang dari soal ibu dan teman-teman bukan dari cowok saja."
"Ra, tidak seperti itu nak!"
"Jadi seperti apa ayah? di mana ibu sambungku itu, dia seperti nya baik. Dia dengan sabar menghadapi ku di rumah sakit." Seperti nya Rara tak tahu, kalau sekarang yang jadi ibu sambungnya adalah wanita yang sangat dibencinya. "Ayah takut kan, aku menyakiti istri ayah, sehingga ayah dan ibu tiriku itu pindah rumah?" cicit Rara
Sepertinya bimbingan spritual untuk Rara masih perlu ditingkatkan. Rasa benci dan kecewa masih mendalam di hatinya. Putrinya ini masih egois.
"Ayah harus pergi kerja, kamu boleh jalan-jalan bareng Bimo." Ezra bangkit dari duduknya. Rara tak bisa dibilangin, habis waktu satu jam, satu masalah pun tak terpecahkan.
"Dekatkan aku pada pria di foto itu ayah?" pintanya lagi menahan tangan Ezra saat hendak melangkah meninggalkan nya.
__ADS_1
"Iya, tapi bukan sekarang. Kalau kamu berubah lebih baik. Maka permintaan mu itu akan ayah pertimbangankan." Ujar Ezra datar, pria itu berbalik badan dan melangkah kakinya lebar, meninggalkan Rara yang termangu di sofa. Benarkah, ayahnya itu akan mendekatkan nya dengan pria idamannya?
TBC