
Setelah sang nenek diperiksa oleh Bu Bidan. Zahra mengantarkan sang ibu Bidan ke teras rumah mereka. “Terimakasih kak sudah mau
mengobati nenekku.” Ujar Zahra dengan suara berat. Dia sudah tidak tahan untuk tidak menangis. Zahra bahkan Tak berani membalas tatapan sang ibu Bidan, yang dari tadi berusaha menilik wajahnya. Zahra merasa sedih dan sangat terpukul dengan kejadian yang menimpanya. Sehingga dia sangat emosional. Dia tak bisa memebendung air mata yang dari tadi berontak ingin menyeruak dari mata indahnya.
Motor bututnya Zahra kehabisan bahan bakar. Ia pun akhirnya berjalan kaki menuju rumah ibu Bidan. Sepanjang perjalanan, orang yang melihatnya pasti menyindirnya, mengeluarkan kata-kata penghakiman yang membuat dada nyeri dan sesak mendengarnya. Perilaku baik dan terpujinya selama ini bisa seolah hilang dimata masyarakat, karena kesalahan yang dilakukannya tanpa sengaja itu. Seandainya dia tidak datang ke pesta perpisahannya Rara, mungkin semua ini tidak akan terjadi.
“Iya Zahra, kamu harus kuat. Celaan orang tidak akan membuat kita hina. Jangan pikirkan apa kata orang. Yang pantas menilai baik buruknya
kita adalah Allah. Ini cobaan buatmu. Semoga cepat selesai. Dan yakinlah setiap cobaan yang Allah berikan, ada hikmahnya.” Zahra yang sedih itu, akhirnya tak bisa membendung air matanya lagi. Kini cairan bening itu, sudah menyeruak membasahi pipi putihnya yang pucatnya. Zahra menceritakan semuanya pada Ibu Bidan. Dan Bu Bidan percaya dengan penjelasannya.
“Kak, masih bisakah nanti aku pakai ponsel kakak untuk hubungi ibuku.” Kali ini Zahra sangat berharap bantuan dari Ibu Bidan. Dari
tadi dia sudah berapa kali menghubungi nomor ibunya, tapi gak diangkat. Bahkan dia kirim pesan.
“Bisa, kalau gak kamu coba sekali lagi hubungi ibumu.” Bu Bidan memberikan ponselnya pada
Zahra. Dengan ragu, Zahra meraih ponsel itu. Dan melakukan panggilan ke nomor hape sang ibu.
“Gak aktif kak.” Menyerahkan ponsel itu dengan lemasnya. Tadi hape ibunya masih aktif dan sekarang gak aktif lagi. Zahra tidak akan menyembunyikan masalah ini lagi, seperti niatnya diawal. Dia harus memberitahu
sang ibu, agar nantinya tidak ada penyesalan dibelakang.
.
“Kamu nanti boleh ke rumah, Ok!” Bu Bidan mengelus lengannya Zahra ramah. Wanita yang berumur sekitar 38 tahun itu pun meninggalkan rumahnya Zahra.
Sepeninggalannya Bu Bidan, Zahra bergegas ke dapur. Walau dia merasa kepalanya mau
pecah, dia harus masak. Selain merasakan kepala pusing, Zahra juga merasa
tubuhnya tidak enak. Seperti mau demam.
“Apa aku mau sakit ya?” Ucapnya memijat pelipis serta keningnya dengan sedihnya. Cairan bening itupun kini jatuh tanpa permisi membasahi pipinya. Zahra biasanya selalu kuat dalam menghadapi masalah. Tapi, kali ini dia tak sanggup lagi, karena kebencian orang-orang padanya. Tangan Zahra gemetar saat Dia mendadar telor karena menangis, mengusap air mata dengan baju bagian lengan atasnya. Sesekali dia menarik ingusnya. Rasanya dadanya begitu sakit, mengingat kejadian semalam dan tadi pagi, orang-orang menatapnya begitu jijik.
Sejak kematian sang ayah dua tahun yang lalu, ia tak pernah merasakan kebahagian lagi. Himpitan masalah ekonomilah yang menjadi penyebab utamanya. Zahra pun harus ikut membantu sang ibu cari uang. Sehingga dia tidak pernah ikut lagi ekstra kurikuler yang
diadakan di sekolah. Termasuk ekstra kurikulrer pencak silat.
“Mak,!’” ucapnya tanpa sadar dengan menahan isak tangis, dengan air mata yang jatuh dengan derasnya. Gadis itu begitu rindu dekapan dan
__ADS_1
belaian sang ibu, yang hampir satu tahun ini tak pernah dirasakannya lagi.
“Zahra, Zahra..!” Suara lirih dan berat sang nenek, menyadarkannya dari rasa sedih yang tak kunjung habis itu.
“Iya Nek, sebentar..!” Zahra melap air matanya dengan punggung tangannya. Menyiapkan sarapan mereka dan membawanya ke kamar sang nenek. Mereka sudah telat untuk sarapan.
“Nenek ada simpan alamat ibu gak nek?” Zahra dan sang nenek sudah selesai sarapan, kini dia sedang membantu sang nenek minum obat.
“Yang ada sama nenek itu, alamat ibumu yang lama. Ibumu sudah pindah dan dapat pekerjaan bagus.” Jawab sang nenek lemah. Menyandarkan tubuhnya di kepala tempat tidur ukuran empat kaki itu.
Zahra menghela napas berat, dia juga gak tahu alamat ibunya yang baru.
“Nek, maafin Zahra ya? Gara-gara Zahra gak dengerin apa kata nenek kita jadi dapat musibah.” Ucapnya sedih, beranjak dari atas ranjang sang nenek, menyeret kakinya yang terasa layu, karena Zahra juga merasa tidak
sehat. Gadis yangs edang dirundung segunung masalah itu pun mendudukkan bokongnya di kursi kayu menatap ke luar jendela dengan tatapan kosong.
“Nek, kalau nenek sudah sembuh. Gimana kalau kita pergi ke kampungnya ayah dan nenek.” Zahra memutar lehernya menatap sang nenek yang nampak terkejut mendengar ucapan cucunya itu.
Ya keluarga Zahra orang pendatang di kampung itu. Dan harta yang mereka miliki saat ini di kampung itu adalah rumah sederhana yang mereka tempati sekarang. Dimana rumah itu sudah jadi incaran bu Sulis. Lintah darat yang menipu sang ayah, sehingga ayahnya dililit hutang.
“Iya sayang, tapi sebaiknya kita bicarakan dulu dengan ibumu.”
kini kembali duduk di tepi ranjang, memijat-mijat kaki sang nenek.
“ Bu Sulis, pasti akan memanfaatkan keadaan ini Nek. Pasti semua yang apa kita lakukan akan salah di matanya. Memang sudah tepat, kalau kita pergi saja dari kampung ini.” Menatap sang nenek dengan penuh harap. Sang nenekpun hanya mengangguk lemah.
Zahra tersenyum tipis, tetap memijat tubuh sang nenek yang katanya pegal-pegal, walau dia juga merasa kurang fit.
Zahra pun tidak mau melibatkan Ferdy lagi, dalam masalah ini. Dan sepertinya akan lebih baik, jika Ferdy tidak daTang lagi ke Rumah mereka. Takutnya kena fitnah lagi dan membuat masalah semakin runyam. Dan jikalau Ferdy datang siang ini. Dia akan bicara baik-baik, menjawab pernyataan cinta dari pria itu.
***
Di rumah Ezra, waktu sudah menunjukkan pukul 11.25 WIB.
Akhirnya pria itu bangun juga. Matanya sudah kenyang yang tidur itu. Dia pun merasa fresh, tubuh terasa ringan dan bersemangat.
Dia yang sudah membuka matanya, langsung mencari sosok istri, yang ternyata sedang membelakanginya dan terlihat mencabut charger handpone dari stop kontak. Istrinya itu benar-benar tidak menyadari, kalau dirinya sudah terbangun.
Ezra tersenyum tipis, meregangkan otot-ototnya yang terasa sedikit kaku. Dia pun turun dengan pelan tanpa menimbulkan suara. Dia akan mengangetkan sang istri dengan memeluknya dari belakang. Dimana saat ini,
__ADS_1
istrinya sedang menghidupkan handponenya, yang dari tadi dimatikannya, saat di charger. Dan setelah on, wanita itu melihat ada pesan masuk. Dan ia pun akan membuka pesan itu dan..
“Aduhh… Abang..!” sang istri tidak sempat membaca isi pesan yang dibukanya, saking terkejutnya mendapat pelukan suami dari belakang. Apalagi suaminya itu sudah mendaratkan wajahnya di perpotongan lehernya yang dari tadi terlihat menggoda buatnya.
“Baca apa tadi.” Ezra yang meraih ponsel dari tangan sang istri, ternyata menghapus pesan itu tanpa sadar, dan langsung mengembalikan menu ponsel ke layar utama.
Anindya yang dapat perlakuan mesra itu, hanya diam. Tidak tahu harus berbuat apa saat ini. Sungguh dia masih tidak percaya, kalau dia
sudah menikah dengan pria kaya yang memeluknya dan mengendus-endus leher putihnya.
“Malam pertama dilakukan siang bolong, pasti seru.” Sang istri bergidik geli mendegar ucapan sang suami yang membuat bulu kuduknya
meremang. Dia juga lagi menunggu momet itu.
“Awwwuuwwhh..!” sang istri terkejut, saat Ezra sukses membopongnya dan kini meletakkan dengan lembut tubuh ramping itu di atas
ranjang. Ezra sudah tidak sabar lagi.
DERt…
Dert..
Dert..
Suara getaran ponsel di atas nakas, membuat keduanya menoleh secara bersamaan ke arah sumber suara. Dengan berdecak kesal, Ezra menyeret kakinya ke nakas.
“Kenapa Dika gak bisa diandalkan sih!” gerutu Ezra, memperhatikan nomor asing yang menelponnya. Ezra ragu untuk mengangkatnya, tapi akhirnya pria itu tetap mengangkatnya juga.
“Cepat lakukan seperti yang ku perintahkan di chat yang ku kirim. Dan selamat menikmati menonton videonya, sebelum nama baikmu tercemar.. HAHAHAHA..!” panggilan dari orang
misterius itu pun terputus. Ezra tercengang dengan mulutnya yang terlihat terbuka. Tanpa menunggu lama, dia pun membuka pesan yang dimaksud sipenelpon. Sontak, kedua bola mata Ezra membelalak menonton video itu dan jantungnya terasa copot, saking terkejutnya pria itu, melihat video dirinya bersama
seorang wanita yang bagian wajahnya di blur.
TBC
like, coment ya say. Karena hari ini, hari terakhir akumulasi dari hadiah yang reader berikan. Aku ada give away. Pulsa 10 RB untuk tiga orang yang paling banyak kasih hadiah 🙂
Emang sih nominalnya tidak menggiurkan 🤧🤭
__ADS_1