AKU MADU IBUKU

AKU MADU IBUKU
Terkepung


__ADS_3

Dengan ragu dan canggungnya. Zahra pun mendaratkan tubuhnya di punggung sang suami yang bidang. Rasanya begitu mendebarkan. Jantung berdegup kencang, hati tak karuan, perasaannya kali ini tak bisa ia tutupi lagi. Sepertinya, percikan api cinta sudah mulai menyala di hati wanita itu.


"Apa kamu merasakan sakit Wa?" melirik Zahra yang sudah di gendongnya.


"Ga, Gakk Pak," Zahra grogi, suaranya terdengar tercekat. " Gak sakit pak." Dia ingin Ezra merasa nyaman saat menggendongnya. Makanya dia bohong, mengatakan tak sakit. Padahal, dia merasakan sakit yang luar biasa, menjalar keseluruh tubuh.


"Berpegangan, nanti kita bisa jatuh, kalau kamu membuat jarak denganku. Jangan mundurkan tubuh terlalu jauh ke belakang. Kamu kalau posisinya seperti itu, beban akan terasa lebih berat."


"Aku berat? maksud pak tua, aku gemuk?" Kening Ezra mengerut mendengar ucapan ketusnya sang istri. Siapa juga yang bilang dia berat. Memang ya wanita sensitif sekali dengan hal yang satu itu.


Huufttt...


Ezra menarik napas panjang. Istrinya itu kumat lagi. Mau cari gara-gara. Ezra gak mau terpancing. Hari semakin gelap, mendung pun kian menebal, hujan pun turun semakin deras. kilatan cahaya petir terlihat siap menyambar, yang diikuti dengan suara gemuruh yang keras. Sungguh mereka sedang berada di tempat yang tidak aman.


"Kita harus banyak berdoa, semoga kita tidak kena sambaran petir." P


Zahra terdiam, ya bener yang dikatakan suaminya itu. Mereka harus banyak berdoa pada sang pencipta, agar terhindar dari Mala petaka.


Ezra menyeret kakinya dengan sekuat tenaga. Ternyata sepatu yang dikenakannya membuatnya kesulitan berjalan di tanah yang licin itu.


"Aauuww...!" Zahra terkejut, Ezra terpleset. Mereka hampir saja terjerembab ke dalam sawah. Tapi, Ezra masih bisa menyeimbangkan tubuhnya.


"Pak, aku mau turun. Aku ini berat!" Zahra merasa begitu bersalah sekaligus kasihan pada sang suami. Sebenarnya dia masih bisa berjalan, walau harus menahan sakit yang luar biasa di kakinya. Zahra bukan anak cengeng.


Ezra menghentikan langkahnya. Pria itu berjongkok, Zahra pun turun dari punggung sang suami. Ezra tak mau berdebat. Dia dengan cepat melepas sepatu mahalnya, beserta kaos kakinya. Zahra memperhatikannya lekat.


Pria itu kembali berjongkok. "Ayo naik!" Menepuk lagi punggungnya.


"Gak pak, aku jalan saja. Aku masih bisa jalan." Ucapnya sok tegar.


"Naik!" Memutar leher untuk melirik sang istri di belakangnya.


"Aku bisa jalan koq pak."


"Naik, atau kamu ku tinggalkan di sini!" Tegas Ezra dengan tatapan mata seriusnya. Istrinya itu jangan dilembekin terus, bisa ngelunjak. Sok jual mahal.

__ADS_1


Zahra pun akhirnya menuruti ucapan sang suami.


"Pegang yang kenceng." Zahra dengan cepat membelitkan tangannya memeluk sang suami erat. "Lebih erat lagi!" Zahra menurut, sehingga dadanya menempel sempurna di punggung suami yang kokoh itu.


Gini kan enak. Gumam Ezra, senyam senyum. Tubuh yang kedinginan hilang sudah digantikan oleh hangatnya pelukan sang istri yang digendongnya itu.


Sementara Zahra kini merasa tersentuh. Hatinya terenyuh, mendapatkan perlakuan yang begitu baik serta perhatian dari sang suami. Rasa benci dan dendam yang sempat terpatri di hati untuk sang suami, kini mulai luntur. Digantikan perasaan kagum dan simpatik. Percikan api cinta sudah mulai tumbuh di dalam hatinya.


Pria yang menggendongnya itu memang pria yang baik. Buktinya suaminya itu tidak memaksa dirinya untuk dilayani di ranjang. Padahal, tadi malam suaminya itu sudah terlihat sangat bernafsu.


Cahaya kilat dan suara gemuruh tak ada hentinya. Dan hujan semakin deras jatuh membasahi mereka. Ukurannya sangat besar. Membuat waja Ezra terasa sakit kena tamparan hujan itu. Sedangkan Zahra memilih membenamkan wajahnya di bahu sang suami. Mendekap erat tubuh suaminya itu.


"Ya Allah.....!" Zahra pun akhirnya mengangkat wajahnya. Ucapan sang suami yang terdengar menyedihkan itu, membuatnya begitu penasaran.


"Pak, gimana kita mau menyebrang. Jembatannya saja sudah ditenggelamkan air." Zahra bergidik ngeri melihat derasnya air sungai yang berwarna coklat ke Kuningan di hadapannya. Ternyata tempat itu di kelilingi oleh sungai. Dan jembatan yang jadi penghubung ke desa sebrang persawahan tak bisa dilewati. Karena jarak permukaan baur ke jembatan itu hanya 1 cm saja. Bahkan jembatan itu terlihat seperti tenggelam.


Huffft.... Ezra menghela napas berat. Kenapa hari ini mereka sial sekali. Tak mungkin mereka akan bermalam di areal persawahan itu. Mereka sudah basah kuyup. Bisa-bisa mereka sakit nantinya.


"Peluk erat ya Wa. Kita harus melewati jembatan ini " Mengangkat paha sang istri, karena istrinya itu hampir melorot dari punggungnya.


"Bertahan di sini, juga kita bisa mati sayang. Kamu gak dengar suara petir itu."


"Iya pak. Tapi, aku juga gak mau mati hanyut terbawa arus. Kalau kita lewati jembatan bambu ini. Terus rubuh kek mana?" Zahra benar-benar ketakutan.


"Ezra terdiam, matanya kembali memperhatikan sekeliling.


"Baiklah, kita ke gubuk itu saja dulu berteduh. Semoga hujan reda dan air sungai susut."


"Iya pak, iya pak!"


Ezra memutar tubuhnya, berjalan dengan begitu hati-hatinya menuju pondok itu. Zahra semakin mengeratkan pelukannya pada sang suami. Tetap menyembunyikan wajahnya di bahu suaminya itu. Zahra walau pemberani. Dia sangat takut dengan petir.


Zahra merasa kasihan pada Ezra yang terus saja menggendongnya. Cara pria itu memperlakukannya begitu tulus dan penuh kasih. Zahra jadi teringat pada Almarhum ayahnya. Sikap Zahra ini sama persis dengan sikap sang ayah. Yang begitu perhatian dan penuh kasih.


Saat sang ayah hidup, mereka juga bersawah di kampung. Ayahnya itu pasti menggendongnya, disaat pulang dari sawah. Sepanjang menapaki pematang sawah. Ayahnya terus saja bercerita banyak hal. Mulai dari cerita alam semesta. Ataupun cerita tentang kisah nabi.

__ADS_1


"Kamu menangis?" Ezra ternyata mendengar sang istri yang sesenggukan.


Zahra dengan cepat melap air matanya yang sudah bergabung dengan air hujan


"Gak pak, hujannya deras banget. Airnya ini ada yang masuk ke hidung." Ucapnya dengan suara khas orang baru nangis.


"Jangan bohong?" Mengangkat bokong Zahra yang kembali melorot.


"Aku turun saja ya pak. Pondoknya sudah dekat." Zahra yang merasa tak enak hati pada sang suami. Berontak kecil dalam gendongan pria itu.


"Kamu jangan banyak gerak. Nanti kita nyemplung ke sawah. Mau kena lumpur?"


Zahra menggelengkan kepalanya. " Gak pak!"


"Makanya diam saja."


"Iya pak."


Keduanya pun menatap ke arah pondok yang cukup besar di hadapan mereka. Pondok itu terlihat masih kokoh. Tinggal beberapa langkah lagi mereka akan sampai di pondok itu.


Aauuuwww...


Zahra meringis kesakitan, saat kakinya menapak di pelataran pondok. Ya mereka sudah sampai di pondok beratap daun Rumbia dan berdinding bambu kering itu.


"Wa, kamu masuk duluan ke dalam." Ezra terlihat seperti ingin meninggalkannya.


"Bapak mau ke mana? aku ikut!" Zahra tidak mau masuk ke dalam pondok. Dia mengikuti langkah Ezra yang kini sudah di pematang sawah.


"Saya mau ke sana. Mau ambil obat untuk lukamu." Ezra menunjuk rumpun kunyit yang tak jauh dari pondok itu. "Tunggu di dalam, sebentar koq!" mengusir Zahra dengan mengibaskan tangannya.


Zahra pun menurut, wanita itu kembali jalan pincang ke dalam pondok. Sembari mengintip sang suami dari celah dinding bambu.


Suaminya itu terlihat cekatan mengambil rimpang kunyit.


TBC

__ADS_1


Tetap dukung novel ini like komentar dan vote. Akhir pekan kita give away pulsa 10 RB untuk 3 pemenang pemberi hadiah.❤️


__ADS_2