
Belum juga mengucapkan salam, Anin sudah terlihat membuka pintu rumahnya dengan wajah sumringah. Wajah sang ibu berbinar-binar, seperti nya ibunya itu sedang bahagia sekali malam ini.
"Umak...!" ucapnya manja, memeluk cepat sang ibu. Tentu saja Anin menyambut pelukan hangat putrinya itu tak kalah semangat nya.
"Ayo kita masuk!" Anin yang wajahnya berseri -seri memberi kode tangannya mengajak Ezra dan Dika yang masih bengong di tempat.
Ya secara kan Ezra masih canggung ni kepada ibu mertuanya itu. Ya jadilah sikapnya masih kaku. Sedangkan Dika dibuat takjub dengan penampilan Anin yang cantik dengan hijab yang dikenakan wanita itu.
"Ada acara apa mak?" tanya Zahra dengan sedikit tercengang melihat tamu yang sang ibu ada tiga orang di ruang tamu itu. Dan ia tak mengenal ketiga orang itu.
"Nanti juga kamu tahu sayang, ayok kamu duduk di sebelah Mama." Anin mendudukkan sang putri di sofa yang sama dengannya. Sedang kan Ezra dan Sikap langsung mengambil tempat di sofa yang kosong.
Zahra kembali memperhatikan ketiga tamu mamanya itu, dua pria paruh baya sekitar ukur 50 an tahun dan satu wanita yang berumur 45 tahun.
Walau Zahra sedikit bingung ini acara apa, tapi ia tetap menunjukkan ekspresi wajah ramahnya didepan tamu sang ibu. Begitu juga dengan Ezra.
"Ada apa sih ini mak?" tanya nya lagi berbisik di telinga sang ibu. Koq pada diam semua. Orang,-orang di ruangan ini, hanya saling tatap dan melempar senyum, tak ada yah dibicarakan.
"Nanti juga kamu tahu sayang. Sebentar!"
Eehhmmm
Suara deheman seorang pria dari arah belakang , akhirnya menarik perhatian Zahra, Ezra dan Dika. Pria yang berdehem itu adalah Dokter Alvian.
__ADS_1
Dug
Sesaat jantung Zahra berdetak kuat mengetahui keberadaan Dokter Alvian di tempat itu. Zahra takut, jangan-jangan ada Ferdy di rumah ibunya ini.
Zahra mulai tak tenang. Kini matanya sibuk menoleh ke belakang rumah, apa Ferdy sedang kebelakang juga. Ia yang tak tenang, menatap ke arah Ezra yang dari tadi bersikap biasa saja.
"Karena semua orang sudah ada di tempat ini. Maka acara akan kita mulai." Ujar seorang pria dari perwakilan nya Alvian.
Dokter Alvian yang duduk di sebelah saudaranya itu, merasa tak tenang. Ia sangat excited sekali. Saking semangatnya, ia jadi nervouse.
"Kedatangan kami ke rumah Adinda Anindya pada malam hari ini, adalah untuk meminang, atau menanyakan kebersediaan Adinda Anindya untuk menjadi pendamping adik kami ini Alvian." Ujar Pria paruh baya itu dengan tegas dan ramah.
Anin tak mau lagi melakukan kesalahan yang sama seperti pernikahan nya dengan Ezra yang mendadak. Makanya Anin meminta Zahra datang ke rumahnya malam ini. Ia memberi alasan membahas kedatangan Nek Ifah. Padahal sebenarnya mau membahas pernikahannya sekaligus membahas pulangnya berhaji Nek Ifah juga.
"Bagaimana Adinda Anindya, kamu bersedia jadi istri adik kami ini?"
Dokter Alvian datang melamar ibunya, tentulah keluarga nya juga setuju. Begitulah pemikiran Zahra saat ini.
Sebelum menjawab pertanyaan perwakilan dari keluarga Alvian. Anin terlebih dulu berdoa dalam hati. Semoga ia tak salah ambil keputusan. Kemudian ia pun mengucapkan Basmalah.
"Iya pak, saya terima. Saya bersedia." Ucapannya lembut, senyum penuh ketulusan tentu masih menghiasi wajah cantiknya Anin, yang malam ini terlihat begitu berbeda. Terlihat seperti berumur 25 tahun saja. Setelah menjawab dengan tersipu malu. Anin pun menundukkan wajahnya. Ia yang nervouse terlihat memengangi ujung bajunya. Jelas ia nervouse, dari tadi kedua matanya Alvian tak pernah lepas menatapnya
"Alhamdulillah.... Akhirnya Adik kami ini kawin lagi. Huufftt....!" ujar pria perwakilan nya Alvian. Pria itu merasa plong, karena adiknya mau menikah lagi.
__ADS_1
Hihihi
Dika merasa lucu dengan cara bicara perwakilan dari keluarga Alvian. Pria itu sebenarnya adalah Abang sepupunya Alvian yang datang beserta dengan istri dan paman mereka.
Ayah nya Alvian, sama sekali gak setuju putra nya menikah dengan Anin. Tapi, ia tak punya kuasa melawan kehendak putranya itu. Karena, Alvian tak tergantung lagi dengan ayahnya karena, ia sudah punya usaha sendiri. Apalagi kini ayahnya Alvian pak Subroto sedang kena stroke.
Alvian yang tak ingin menyiakan-nyiakan kesempatan lagi, memutuskan untuk segera menikahi Anin. Menikahi cinta pertama nya. Menikahi bekas pembantunya.
Pak Subroto kena serangan jantung dan stroke. Tentu saja ia stroke, ia berani macam-macam dengan Ezra. Cari masalah dengan Ezra, terkait perselisihan cucunya Ferdy dengan Ezra.
Ezra yang pintar, dengan cepat ambil tindakan. Mencari kelemahan dari Pak Subroto. Hanya tiga hari, Ezra menemukan titik kelemahan pak Subroto. Yaitu kasus Gratifikasi. Akhirnya Ezra memanfaatkan kelemahan pak Subroto itu. Dan sekarang pak Subroto sedang dalam penyelidikan pihak berwajib.
Acara lamaran yang sangat sederhana pun telah selesai. Mahar telah dibahas kedua calon mempelai. Dan kini saatnya makan malam.
"Mak, koq mendadak sih? kenapa gak tunggu nenek pulang berhaji?" tanya Zahra di sela-sela makannya.
"Kalau nenek sudah pulang. Takut gak ada waktu sayang. Lagian beliau punya waktu lamaran malam ini Nak." Jawab Anin dengan lembut lada Zahra.
"Oohhh iya Mak. Semoga kebahagiaan selalu menghampiri Mak ya." Zahra memeluk sang ibu dengan penuh cinta dengan satu tangan.
"Iya sayang, ayo makan lagi. Biar cucu nya Mak tumbuh sehat ." Anin mengusap lembut perut datarnya Zahra. Tentu saja Zahra senang dengan sentuhan sang ibu.
Ezra yang kini kumpul makan dengan kaum bapak-bapak, matanya tak pernah lepas menatap Zahra yang sedang makan dengan sang ibu.
__ADS_1
TBC
Like, coment dan vote say