AKU MADU IBUKU

AKU MADU IBUKU
MENIKAH


__ADS_3

Seorang wanita cantik, ayu yang dibalut kebaya berwarna rose gold brokat bertabur swaroski kombinasi  organza dipadu batik monokrom gaya mermaid, terlihat tidak tenang di kamar sebuah kamar mewah, siapa lagi dia kalau bukan Anindya. Wanita itu sudah satu jam selesai dirias oleh MUA terkenal di kota itu. Tapi, acara yang dijadwalkan untuk akad nikahnya bersama Ezra sudah mundur satu jam. Harusnya sekarang dia sudah menyandang status Nyonya Ezra Assegaf.


Ceklek


Anindya terperanjat saat pintu kamar itu ada yang membuka, tadinya dia beranggapan yang masuk adalah sang calon suami. Tapi, ternyata bukan.


“Nyonya, makan dulu. Tadi saya lihat Nyonya belum makan.” Kepala  ART yang sering dipanggil Bik Imah, terlihat membawa makan malam pada Anindya. Wanita yang lagi gelisah itu, tetap melempar senyum manis pada kepala pelayan itu, walau dia lagi resah dan gelisah saat ini. Anindya dibuat tidak tenang. Karena Ezra tak kunjung pulang ke rumah. Padahal malam ini adalah acara pernikahan mereka.


“Bi, gak usah panggil nyonya. Panggil seperti biasa saja Bi.” Ujar Anin, masih dengan ekspresi wajah tidak tenangnya.


“Mana bisa seperti itu Nyonya.” Memperhatikan lekat Anin yang gelisah.“Nyonya pasti khawatirkan tuan kan?”


“Iya Bi.” Jawabnya meremas tangannya karena gelisah. Anin merasa pernikahan yang terjadi secara mendadak Ini adalah hal yang kurang baik. Kenapa harus mendadak? Padahal dia juga belum siap untuk menikah. Ezra pun tak mau mejelaskan, alasan dari pernikahan mendadak ini.


“Kenapa Tuan belum datang juga ya Bi? Padahal jadwal yang ditentukan sudah lewat?” ucapnya sedih dan bingung, menatap makanan di hadapannya dengan tidak  berselerah.


“Saya gak tahu Nyonya. Sebaiknya nyonya makan dulu.” Ujar Bi Imah, dia sebenarnya tahu alasan tuan nya itu telat pulang. Tapi, dia tidak mau memberitahukanya pada Anindya. Dia tidak mau calon pengantin baru itu kepikiran.


Anindya menghela napas dalam. Entah kenapa berat rasanya untuk melaksanakan pernikahan mendadak ini. Ditolak, tidak mungkin. Karena, dia juga ada rasa pada majikannya itu.


“Nyonya harusnya bersyukur, bisa menikah dengan tuan Ezra.” Masih menemani Anindya yang terlihat tak berselerah memakan makanan di hadapannya.


“Iya Bi, tapi, ini terlalu mendadak. Aku saja belum mengabari keluargaku di kampung. Hape ibu dan putriku, tidak bisa dihubungi.” Ucapnya sedih, tubuhnya bergetar, karena menahan tangis. Mana mungkin dia akan menangis di malam pernikahannya ini. Nanti wajahnya jadi terlihat sembab dan buram.


“Iya Nyonya, kan bisa dikabari esok harinya.” Jawab Bi Imah tersenyum ramah.

__ADS_1


Tok


Tok


Tok


Anin dan Bi Imah sama-sama menoleh ke arah pintu yang terbuka itu.


“Nyonya, tuan sudah datang dan Nyonya disuruh turun ke bawah.” Ucapan ART itu lagi-lagi membuat Anin terkejut. Dia benar-benar tidak siap dengan pernikahan ini.


“Mari Nyonya.” Bi Imah, membantu anin yang nervouse itu untuk bangkit dari tempat duduknya, menuntun sang nyonya besar berjalan ke lantai satu. Tempat diadakannya


akad nikah.


Sesampainya di ruangan sakral itu. Tentu saja semua sorot mata tertuju kepada sang calon mempelai wanita yang kini berusaha terlihat baik-baik saja dengan menyunggingkan senyum manisnya. Padahal dirinya, sedang kacau saat ini. Jika ditilik lebih jelih, semua pasti bisa menilai, kalau calon mempelai wanita lagi sedih, yang terlihat dari matanya yang berkabut.


Ezra yang masih menatapnya. Dan kini keduanya akhirnya bersitatap.”Harusnya


abang yang tegang saat ini.” Bisiknya lagi dengan menyungging senyum manis. Anindya membalas senyum manis itu dengan tulus. Kemudian dia memutus tatapan keduanya. Seteleh dia menilai penampilan Ezra yang terlihat sangat sederhana, tapi tetap terlihat berkelas.


Ezra ternyata hanya mengenakan kemeja putih, dipadu celana hitam berbahan uniglo dan peci hitam bertengger di kepalanya. Sangat sederhana, tapi tetap terlihat tampan.


“Assalamualaikum….” Pak penghulu mulai membuka acara, tentu saja pak penghulu tetap memberi wejangan tentang pernikahan. Yang menjadi wali nikahnya Anindya adalah Wali Hakim. Bahkan saksi dari pihaknya, adalah seorang pejabat yang tidak dikenalnya. Waktu yang singkat dan mendadak, serta nomor  keluarga di kampung yang tidak bisa dihubungi


jadi salah satu penyebabnya.

__ADS_1


“Kalian berdua sudah pernah membina biduk rumah tangga. Tentu saja kalian berdua sudah punya pengalaman mengenai berumah tangga. Saya tidak perlu lagi memberi nasehat tentang kewajiban suami istri. Karena, saya yakin, Kalian sudah memahaminya. Saat ini yang perlu saya tekankan, hanyalah. Ketika kita jatuh cinta, orang tersebut terlihat begitu sempurna. Namun, saat kita sudah menghabiskan lebih banyak waktu bersama, potret yang tidak realistis itu mulai terkuak, dan bahkan noda, yang akan terlihat. Tentu buat kalian yang sudah pernah menikah, pernah mengalami hal tersebut. Iya kan?” Ezra mengangguk menanggapi ucapan sang pak penghulu, yang seperti psikater cinta itu. Sedangkan Anindya, hanya diam menunduk. Benar sekali memang apa kata pak penghulu.


“ Tenang, ini adalah kondisi yang sangat normal. Sebab, setiap orang memang memiliki kekurangan dalam satu atau beberapa hal. Sialnya, transisi dari harapan ideal terhadap kenyataan, memang bisa sangat menghancurkan. Cara terbaik untuk memudahkan transisi tersebut adalah dengan meluangkan waktu untuk mempertemukan satu sama lain. Dari kesempatan itu, pasangan dapat saling mempelajari dan menerima kekurangan dari hubungan yang ada. Sehingga perceraian bisa dihindarkan." Ceramah Pak KuA terdengar universal sekali.


"Maaf Pak Ezra, nasehat ini lebih saya tekankan kepada Bapak. Karena, history yang saya tahu, bapak telah gagal dalam mempertahankan


pernikahan bapak yang sebelumnya."


Ezra hanya tersenyum tipis, menanggapi ceramah pak KUA. Dia tidak akan merasa tersinggung dengan ucapan itu. Memang yang dikatakan pak Kua itu benar adanya.


“Bu Anindya, apa ibu tahu, bahwa berkas-berkas pernikahan baru masuk tadi


siang?” Anindya mengangguk lemah.


“Syukurlah, Harusnya ibu mau menikah dengan bapak Ezra, disaat buku nikahnya sudah keluar. Jangan mau diajak nikah siri dulu seperti ini.”  Anindya masih terus menunduk, bathinnya sedang berperang. Karena memang merasa pernikahan mendadak ini, bukan yang terbaik.


”Baiklah, kita mulai saja ijab kabulnya. Karena syarat rukun nikah sudah terpenuhi. Bagaimana Pak Ezra, sudah siap?”


Ezra menarik napas panjang “Siap Pak.” Jawabnya tegas. Kembali menarik napas dalam dan panjang dan menghembuskannya pelan. Ini bukan pertama kali buatnya mengucapkan kabul. Tapi, kenapa rasanya masih tegang seperti baru pertama kali. Sungguh, Ezra sangat nervouse, apalagi calon istrinya terlihat sedih duduk di sebelahnya. Yang membuatnya sedikit kepikiran.


“Bismillahirrohmanirrohim..!” ujar sang wali nikah, menjulurkan tangandan langsung disambar oleh Ezra yang terlihat sedikit gemetar. Wajar seorang pria merasa gugup saat ijab kabul. Karena ini memang hal yang spesial. Tentu saja, dia ingin melakukan yang terbaik.


“Saudara Ezra Assegaf bin Musthofa, Saya nikahkan dan saya kawinkan Anda dengan  Anindya binti Ramli yang walinya telah mewakilkan kepada saya untuk menikahkannya dengan Anda  dengan mas kawin uang 1 milyar  rupiah dibayar tunai.”


Anindya mengangkat wajahnya, heran dengan nominal mas kawin yang disebutkan. Karena tadinya dia hanya minta seperangkat alat sholat.

__ADS_1


TBC.


Like, coment positif dan vote


__ADS_2