
Dert.... Dert.... Dert...
Ponselnya Bimo berdering di atas meja kerjanya. Dia sedang konsentrasi mempersiapkan berkas yang akan dibawa untuk pertemuan dengan klien penting sore ini.
"Kenapa pihak sekolah menelpon?" Bimo bermonolog, merasa heran dan penasaran kenapa pihak sekolah menghubunginya. Bimo yang penasaran itu pun dengan cepat menerima panggilan telepon itu, setelah memperhatikan layar ponsel pintarnya sepersekian detik.
"Walaikum salam... Iya Pak, saya wali muridnya Halwatuzahra. Apa...? ooohhh...baik, baik pak, saya akan kesana." Bimo terhenyak mendengar laporan dari pihak sekolahnya Zahra. Baru juga satu hari sekolah, wanita itu sudah buat masalah.
Bimo dengan cepat mempersiapkan semua berkasnya. Dia harus cepat melaporkan masalah ini kepada Ezra. Dia bukannya tak bisa mengatasinya sendiri. Tapi, dia harus memberi tahu Ezra terlebih dahulu. Karena ini menyangkut istrinya.
Sesampainya di ruang kerjanya Ezra. Bosnya itu nampak sedang berdiskusi serius dengan Dika, asisten pertamanya Ezra. Ya, Ezra mempunyai banyak asisten. Dia lebih suka punya karyawan kepercayaan berjenis kelamin pria. Ezra bahkan tidak pernah punya sekretaris wanita.
Ezra tidak tertarik untuk menjadikan seorang wanita jadi sekretaris, karena godaan terberat seorang pria adalah wanita. Banyak lelaki hebat, hancur gara-gara wanita.
"Bos, pertemuan kali ini, sebaiknya Bos ditemani oleh Dika." Ujar Bimo, meletakkan berkas yang dibutuhkan untuk meeting itu, di atas meja dengan sopannya.
"Ada apa? bukannya kamu yang bertanggung jawab dengan proyek ini?" tanya Ezra bingung, baru kali ini asisten 2 nya menolak pekerjaan.
Saat ini Bimo sangat mengkhawatirkan Zahra. Gadis itu sudah dianggapnya sebagai saudara sendiri. Mendengar laporan Pak Rizal, yang mengatakan bahwa Zahra berkelahi dengan enam orang, membuatnya benar-benar kepikiran.
Sudah bagaimana keadaan saudaranya itu? Ya, di suku Batak. Apabila satu marga, itu sudah dianggap saudara sendiri. Walau tak ada hubungan darah.
"Kenapa kamu terlihat khawatir seperti itu? ada masalah apa?" Ezra menilik sang asisten Bimo dengan bingungnya. Kemudian beralih menatap Dika, yang menggendikkan bahu, karena tidak tahu apa masalah yang terjadi.
"Bos, aku harus ke sekolahnya Non Zahra sekarang." Ujar Bimo, masih dengan ekspresi wajah penuh kekhawatiran.
"Apa dia buat masalah?" tanya Ezra tersenyum tipis. Dia sudah yakin itu. Saking banyaknya masalah, terkadang membuat kita jadi tertawa sendiri.
"Sepertinya begitu Bos." Jawab Bimo datar. Memperhatikan sang Bos, yang hampir gila, tertawa sendiri.
Huuffttt.....!
__ADS_1
Ezra menghela napas kasar. Setelah puas menertawakan dirinya sendiri. Semua wanita yang ada di hidupnya. Bisanya buat masalah. Hanya Anin, wanita yang buat hatinya tenang. Tapi, kenapa dia tidak punya dorongan yang kuat untuk menyentuh istrinya itu.
"Untuk kali ini, masalah Zahra aku percayakan padamu Bimo. Ancam dia, jangan sempat aku turun tangan." Tegas Ezra, menyapu rambutnya dengan tangannya sendiri. Entah kenapa dia jadi merasa tertantang pada istri mudanya itu.
"Iya Bos." Bimo keluar dari ruangan itu.
"Dika, kamu pelajari sebentar berkasnya." Ujar Ezra, beranjak dari duduknya. Pria itu pun terlihat memasuki toilet.
***
"Apa yang terjadi hari ini membuat saya yakin, kamu dipindahkan ke sini, bukan karena keluargamu pindah rumah. Tapi, karena kamu sepertinya ada masalah serius di sekolahmu." Ujar Pak Rizal pada Zahra. Kini di ruangan itu hanya ada Zahra, pak Rizal dan guru BK. Semua murid yang luka-luka sudah dibawa ke rumah sakit.
Zahra diam seribu bahasa. Rasanya hatinya begitu sakit, sangat sakit, perih, nyeri, nyut nyutan, dinilai sebagai orang jahat.
"Kenapa kamu diam? benarkan yang bapak katakan?" menatap tajam Zahra yang terlihat membangkang. Padahal Zahra tak ada niat membangkang. Dia hanya sedih, sangat sedih saat ini. Sehingga dia terlihat cuek.
"Zahra...!" hardik pak Rizal.
Ya kebanyakan orang sering salah menilai orang.
"Sekuat apapun aku membela diriku. Kalian semua tidak akan percaya. Karena, kalian tidak mengenalku. Aku tak punya bukti untuk membela diri. Karena ternyata tak ada CCTV di toilet. Terserah bapak- bapak mau memberi sanksi apa padaku. Mau dikeluarkan, aku siap." Kali ini Zahra bicara masih dengan mata berkaca-kaca. Walau dia keras kepala. Dia tetap seorang wanita yang punya perasaan dan hati yang sensitif.
Gara-gara masalah ini, dia tidak jadi pergi mengurus SIM card nya ke grafary bersama Ferdy. Hal itu yang membuatnya semakin sedih. Peluang untuk cepat menemukan sang ibu pupus sudah.
"Siapa yang akan percaya Zahra. Kamu baru masuk sekolah hari ini. Tapi, kamu sudah buat keributan. Masalah besar, menghajar enam orang sekaligus. Bahkan ada yang sendinya lari. Kamu bisa dituntut Zahra!" Ujar Pak BK dengan kesalnya. Memperhatikan Zahra yang duduk tanpa ekspresi itu.
"Sudahlah Pak, kita berdoa saja. Agar orang tua siswa bisa diajak damai. Kalau tidak bisa. Bakal rusak reputasi sekolah kita nantinya." Keluh pak Rizal, mondar-mandir di ruangan itu dengan setresnya.
Dadanya Zahra terasa sesak mendengar keluhan wali kelasnya itu. Kenapa dia selalu kena sial dan apes. Dia tak pernah melakukan kesalahan. Tapi, semua kesalahan dilimpahkan padanya.
Zahra merasa sedih sekali, air mata terus saja menetes tanpa kendali. Sepertinya saat ini wanita itu mengalami luka batin mendalam.
__ADS_1
Pak Rizal pun akhirnya terdiam, melihat kesedihan yang tidak biasa di raut wajahnya Zahra. Pria itu jadi kasihan pada gadis malang itu. Kalau benar dai tidak salah. Dia pasti akan merasa bersalah sekali, karena telah menuduh Zahra bukan wanita yang baik-baik.
Tok
Tok
Tok
"Ya masuk!" ujar Pak Rizal.
Nongollah Ferdy di ambang pintu, dengan kantongan kresek ditentengnya
"Pak, aku antarkan makan siang untuk Zahra." Ucapnya sopan, Ferdy tidak boleh ikut emosi dan terbawa suasana, karena itu tak ada gunanya. Walau dia juga kesal, atas apa yang menimpa, wanita yang sangat dicintainya itu.
"Oh iya, sudah pukul 15.10 Wib. Bahkan kita belum makan siang Pak Rizal." Ujar guru BK.
"Sebaiknya kita makan siang dulu, sembari menunggu wali muridnya Zahra datang. Orang tuanya harus mempertanggungjawabkan semuanya ini." Jelas Pak BK lagi.
"Nitip aku pak, gak mungkin mereka berdua kita tinggalkan di ruangan ini." Ujar Pak BK, memperhatikan Ferdy, membujuk Zahra, agar mau makan.
Keadaan Zahra memang terlihat memperihatinkan. Apalagi ekspresi wajahnya begitu sedih dan sangat frustasi sekali.
"Ayo buka mulutnya Ra!" Satu sendok berisi makanan sudah ada di hadapannya Zahra. Tapi, wanita itu tak kunjung mau membuka mulutnya.
"Makan ya Ra, ini lauknya kesukaanmu loh!" Ferdy terus saja membujuk gadis itu agar membuka mulutnya.
"Ayo Ra!"
"Gak Fer, mulutku sakit."
TBC
__ADS_1