AKU MADU IBUKU

AKU MADU IBUKU
Hancur dalam hitungan detik


__ADS_3

"Zahra ...!" teriak Anin.


Ezra pun tersadar, mendengar sang istri teriak memanggil nama istrinya juga.


Ponsel yang ada dalam genggamannya terjatuh. Pria itu lemas dan tak berdaya, seperti baru saja dibius seluruh tubuhnya. Ezra merasa dunianya akan hancur dalam hitungan detik. Hidupnya telah tamat, dunia terasa kiamat hari ini. Apa yang harus dilakukannya?


Kenapa dia tak pernah belajar dari pengalaman terkait masalah pernikahan. Seharusnya sebelum memutuskan menikahi Anindya, dia perlu mengetahui semua tentang istrinya itu. Jangan karena melihat Anindya sosok yang baik dan buru-buru menikahi, tanpa mengenal keluarga inti dari calon istrinya.


"Zahra.... Zahra di mana kamu nak?" Anindya masih hiseteris memanggil-manggil sang putri. Ezra yang terkejut bathin itu hanya bisa menatap sang istri yang sudah seperti orang gila memanggil-manggil sang istri. Pria itu sangat syok dengan kenyataan yang diketahuinya hari ini. Sehingga otaknya terasa mati. Bisa-bisanya dia menikahi Ibu dan anak sekaligus. Ini salah, sangat salah. Di agamanya ini diharamkan.


Mendengar keributan di rumah itu. Para tetangga datang berbondong-bondong menghampiri Anindya. Anindya teriak-teriak tak jelas. Dia sangat kecewa pada dirinya yang tak cepat bergerak, saat dirinya sudah putus kontak dengan anaknya itu. Wanita jadi merasa sebagai ibu tak berguna. Bimo yang ada di tempat itu berusaha menenangkan sang nyonya besar.


"A..Anindya...? kamu Anindya..?" tanya Bu Sulis dengan tak percayanya. Wanita lintah darat itu begitu terkejutnya. Kedua mata jengkolnya hendak keluar dari tempatnya. Melihat Anindya yang penampilannya seperti orang kaya. Disebelahnya ada pria dengan penampilan orang kaya juga. Orang yang berkerumun menganggap Anin dan Dika sepasang suami istri saat ini.


"Di mana anak dan ibu mertuaku? ini rumah seperti sudah lama ditinggal?" Anindya masih belum bisa mengontrol dirinya. Dia terduduk lemas, memegangi daun pintu. "Kenapa rumah ini di gembok?" ucapnya lagi tanpa memperdulikan orang-orang yang ada di situ heran melihatnya.


Koq dia gak tahu anaknya sudah menikah? apa dia dan anaknya gak pernah komunikasi?


Suara sumbang yang keluar dari mulut tetangga, membuat wanita itu terperangah. Dia bangkit dari duduknya. Dika langsung memapahnya.


Menikah? Gumam Anin, dia pun akhirnya mematung. Tak ada gunanya lagi dia histeria di tempat ini. Orang kampung akan menertawakannya. Karena dia tak tahu kabar anak sendiri.


"Si Zahra sudah minggat dari kampung ini. Dia melakukan hal tak senonoh dengan seorang pria. Jadi orang kampung mengusirnya." Ujar Bu Sulis penuh kebencian.


Suara Bu Sulis yang kenceng. Terdengar sampai ke mobil yang kiji Ezra masih syok di dalamnya. Tapi, ucapan Bu Sulis yang penuh kebencian, membuat hatinya tergerak untuk menjernihkan semua masalah. Pria itu meraih masker dan topi, memakainya dan bersiap-siap menghampiri sang istri yang juga sedang syok, karena mendapati sang anak sudah menikah.

__ADS_1


"Apa..?" ujar Anin dengan bederai air mata.


"Anin, Zahra sudah dibawa oleh suaminya ke kota." Ujar seorang Ibu, tetangga Anin yang normal pemikirannya dengan lembut. Bahan Ibu itu meraih Anindya keperluannya. Bukan seperti ibu Sulis, manusia berhati iblis dan binatang.


Anindya terlihat memegangi perutnya dalam pelukan wanita itu. Anindya meringis kesakitan. Kepalanya pusing tujuh keliling. Orang disekitar terlihat jumlahnya lebih dari lima.


Bruuggkkk


Wanita yang lagi sakit itu pingsan.


"Dyah....!" Ezra yang baru keluar dari mobil, berlari kencang ke rumah itu. Dia kaget melihat sang istri pingsan.


"Minggir- minggir...!" Ezra menembus kerumunan. Tentu saja para warga yang berkerumun dibuat heran dan bingung, melihat satu sosok pria kaya, mengkhawatirkan Anindya.


"Dika, ayo cepat..!" teriak Ezra begitu mengkhawatirkan sang istri. Dia sudah meraih Anindya ke pelukannya. Menggendong wanita itu ala bridal style.


"Ayo Dika, kita ke rumah sakit." Ujar Ezra dengan tidak tenang. Mengusap kepala dan lengan sang istri dengan khawatirnya.


Mobil itu melaju kencang. Meninggalkan para warga yang tercengang dengan kejadian yang baru terjadi.


"Dyah ... Dyah ..!" Ezra berusaha untuk menyadarkan sang istri, tapi, semua usaha yang dilakukannya tak membuahkan hasil. Dari kampungnya Zahra ke rumah sakit, membutuhkan waktu tiga puluh menit.


"Dika.. Ngebut lagi." Ujar Ezra, padahal Dika sudah sudah ngebut.


"Iya Bos." Ujarnya memperhatikan Ezra yang terlihat sedih dan kalut itu. Dika pun baru tahu, kalau sang Bos sudah menikahi Ibu dan anak.

__ADS_1


Sesampainya di rumah sakit, Anindya langsung masuk ruang IGD. Saat itu juga Anindya tersadar.


"Abang...!" ucapnya lirih, menatap sedih Ezra dengan mata yang basah.


"Iya, kamu pasti sembuh." Esra yang baru saja mendapati kenyataan bahwa sang istri adalah ibu mertuanya. Membuatnya jadi serba salah bersikap saat ini. Tak mungkin juga dia mengatakan sayang- sayang pada wanita itu.


"Kami tangani pasien ya pak!" ujar Dokter dengan ramah. Mulai memeriksa keadaan Anindya


Saat itu juga, di tempat itu ada Dokter Alvian. Dokter Alvian. Adalah Dokter yang kemarin menangani Anin.


"Dokter, tolong istri saya!" Anindya sudah ditangani pihak medis. Tapi, karena Eza melihat Dokter Alvian di tempat itu. Dia yang kalut, malah menghampiri dokter itu. Padahal Alvian tidak bertugas di rumah sakit itu.


Dia sedang cuti, karena ingin menjenguk orang tuanya yang dirawat di rumah sakit itu.


"Anindya sudah ditangani Pak. Bapak tenang ya!" Ujar Alvian mengelus pelan lengan Ezra.


Alvian yang kenal dengan Dokter di tempat itu, akhirnya menjelaskan siapa Anin dan sudah seberapa parah penyakit yang dideritanya. Dokter pun akhirnya cepat membuat tindakan. Mereka akan mengoperasi Anin.


"Kami sudah cek kondisi pasien. Pasien dalam keadaan siap dioperasi. Jadi kita lakukan sekarang pak. Bapak perlu kebagian Administrasi." Ujar Dokter kepada Ezra.


Dika tentu saja dengan cepat menangani urusan administrasi.


"Operasinya sekitar satu jam lagi." Ujar perawat pada Ezra yang duduk di kursi tunggu.


Ezra yang masih syok itu hanya bisa mengangguk. Dia belum bisa terima kenyataan, kalau Anindya adalah ibunya Zahra.

__ADS_1


TBC


Like coment positif dan vote. Menangkan pulsa 10 ribu, untuk readers yang paling banyak memberikan hadiah.,🙂


__ADS_2