AKU MADU IBUKU

AKU MADU IBUKU
Keinginan ditolak


__ADS_3

"Si Rara kumat lagi. Dia mencoba bunuh diri lagi. Karena kamu dan si bos gak datang ke rumah sakit semalam." Ujar Bimo dengan kesalnya. Dia sudah bosan diberi tanggung jawab mengawasi bocah itu.


Zahra cukup terkejut mendengar penuturan Bimo. Dia dijadikan alasan sebagai tindakan tak berotaknya Rara.


"Kalau dia mau mati, ya mati saja. Jangan bawa-bawa aku dong. Bilangnya mau mati, karena aku gak jumpai dia. Dasar pandai sekali cari kelemahan orang "


Ucapan Bimo membuat suasana hatinya Zahra memburuk. Tadinya dia sudah ingin memaafkan Rara. Tapi, dengan laporan Bimo ini, membuat Zahra jadi muak lihat Rara.


"Itu dia, maksudku jumpai saja dia sekali ini saja Ra. Katanya ada hal penting yang ingin dikatakannya padamu." Bimo tampak memelas, kalau Zahra tak mau berjumpa dengan Rara. Dia akan semakin pusing menangani anak itu. Karena, itu saja yang diinginkan Rara.


"Gak, gak... Aku gak mau masuk perangkapnya. Bilang sama dia, aku sudah memaafkannya. Jadi aku gak perlu menemuinya. Menurutku gak ada hal penting yang perlu kami bicarakan. Jadi, untuk apa aku harus bertemu dengannya. Kecuali kalau dia sudah sembuh total, sadar betul. Aku baru mau menemuinya." Ujar Zahra tegas. Dia harap Bimo bisa mengerti dengan ucapannya itu.


Setelah mengucapkan itu, Zahra menyeret kakinya dari tempat itu. Tentu saja Bimo mengekorinya.


"Ra, kali ini kamu harus mengalah. Cobalah menuruti kemauannya sekali saja."


Zahra mengehentikan langkahnya dan berbalik badan.


"Rara membutuhkan bantuanmu. Dia ingin kamu bicara dengan Ferdy. Dan meminta Ferdy untuk menikahinya."


"What .....? hahhaha..... Zahra yang terkejut dengan ucapan Bimo. Malah tertawa lebar. Dia merasa lucu dengan permintaan konyolnya Rara itu.


Menikah? dia pikir menikah itu asyik.


"Hadeuhh.... itu anak benar-benar kacau. Bilang sama dia ya Ibot. Aku gak bisa bantuin dia. Karena aku ini gak bisa bertemu dengan Ferdy. Tapi, apa salahnya masalah ini ibot ceritakan sama Hubby dan semoga Hubby mau menghubungi keluarga Ferdy. Dan melamar Ferdy untuk si Rara yang ngebet nikah itu." Pungkas Zahra dengan tersenyum tipis. Dia merasa terhibur dengan ucapan Bimo pagi ini.

__ADS_1


"Iya, makanya aku kesini. Eehh gak tahunya si bos sudah berangkat kerja. Ya sudah, aku cabut ya Ra." Bimo berjalan cepat ke arah mobilnya terparkir.


"Hadeuuhhh..... Ada-ada saja. Seusianya dsn Rara harusnya memikirkan pendidikan dan masa depan. Ini malah memikirkan kawin." Gumamnya, wanita itu pun akhirnya masuk ke dalam rumah.


***


Bimo yang sudah sampai di kantor. Dengan tergesa-gesa berjalan menuju ruangan nya Ezra. Saat ia sampai di ruangan itu. Ezra nampak serius memeriksa banyaknya dokumen.


"Bimo...!" Ujarnya melihat sekilas Bimo yang masuk dengan tidak tenangnya ke ruangannya. Kemudian pria itu kembali fokus ke dokumen di tangannya.


"Bos langsung saja, aku ingin melaporkan perkembangan non Rara." Ujarnya setelah mendudukkan bokongnya di kursi yang ada di hadapan Ezra, yang dibatasi meja besar nan kokoh.


"Iya laporlah, aku dari tadi menunggu kabar darimu." Sahut Ezra masih serius dengan dokumen di tangannya.


"Apa...?" Tentu saja Ezra dibuat terkejut dengan laporan anak buahnya itu.


"Mau menikah? menikah dengan pria yang dia cintai? apa dia bisa jatuh cinta? dia saja gak cinta dengan dirinya. Masak bisa mencintai orang lain." Ujar Ezra sambil tertawa kecil. Dia merasa lucu dengan ucapan Bimo.


"Iya Bos, aku juga bingung. Tapi, kata Non Rara, jika ia bisa menikah dengan pria itu, dia akan berubah jadi orang baik."


"Emang siapa pria yang dicintainya itu?" Tanya Ezra, masih dengan wajah konyolnya.


"Namanya Ferdy Bos, anaknya dokter Alvian "


"Apa...?" Saking kagetnya Ezra. Ballpoint yang ada di tangannya terjatuh sudah.

__ADS_1


Banyak betul wanita yang menyukai bocah tengil itu? guman Ezra dengan bingung nya.


"Iya bos. Rara terlihat sungguh-sungguh dengan ucapannya." Tegas Bimo, dia ingin cepat Rara lepas dari tanggung jawabnya. Bisa setres dia, jika tiap hari berhubungan dengan anak setres itu. Jadi jika Rara menikah dia bebas tugas.


"Iya dia serius Yang jadi masalah nya adalah. Dia ingin menikah dengan pria yang tak mencintainya. Apa dia mau merasakan neraka di dunia ini."


Hadeihh....


"Ada-ada saja, masalah tak pernah habis dibuat anak itu. Bilang sana sama dia, keinginannya kali ini tak akan saya kabulkan. Dia pikir gampang apa membujuk Si Ferdy untuk mau menikahi nya." Tolak Ezra cepat. Meminta Bimo keluar dari ruangan itu.


"Bos.... Apa salahnya kita tanyakan prihal ini pada keluarga Ferdy. Siapa tahu mereka mau bos." Bimo kekeuh dengan keinginannya


Karena ia ingin lepas tanggung jawab mengurus Rara. Dan bisa jadi, kalau Rara menikah dengan Ferdy. Maka Dokter Alvian dan Anin, pasti bubar. Jadi ini kesempatannya mendapatkan Anin.


"Gak...!" tolak Ezra cepat dengan penuh ketegasan. Pria itu bangkit dari duduknya. Dia bersiap-siap untuk meeting pagi ini.


Hhuuff...


Bimo menarik napas panjang. Dia merasa lelah sekali, karena mondar-mandir di pagi hari ini. Rasa lelahnya semakin terasa berlipat ganda sekaligus merasa kecewa sekali, karena keinginannya tak terwujud.


"Kenapa sih, anak itu tak mati saja? benar-benar buat muak. Aku yang tadinya kerja di kantoran. kini jadi urus manusia yang lansia.


TBC


like vote coment positif ya say,

__ADS_1


__ADS_2