AKU MADU IBUKU

AKU MADU IBUKU
Tak bisa berkata-kata


__ADS_3

Tok


Tok


Tok


Bimo yang tegang itu, dikejutkan dengan suara ketukan di pintu. Dia sampai sesak bernafas saking terkejutnya. Zahra dan Nek Ifah, heran dengan sikap Bimo yang tiba-tiba jadi tegang itu.


"Pak Bimo, guru les nya nona Zahra sudah datang." Lapor seorang pelayan wanita.


Bimo memperhatikan lekat Zahra saat ini. Dia terpaku menatap wajah Zahra yang memang sangat mirip dengan nyonya besar. fix, Zahra adalah anak tirinya si bos.


"Astaghfirullah....!" Ujar Bimo, mengelus dadanya yang berdebar-debar. Kenapa ada masalah serumit ini di keluarga sang bos. Kenapa mereka gak peka, akan petunjuk-petunjuk yang ada sejak diawal.


"Kamu kenapa nak Bimo?' tanya nek Ifah heran. Sejak Bimo melihat kartu keluarga yang masih di tangannya. Pria itu seperti melihat malaikat maut saja. Wajahnya penuh dengan ketakutan.


"Ra, guru les musudah datang. Sebaiknya kamu belajar dulu." Ucap Bimo datar, dia tak bisa menyembunyikan dirinya yang lagi syok saat ini .


"Iya, tapi aku penasaran dengan pencarian ibu." Zahra bicara pelan, dia tak mau usaha mencari sang ibu gagal lagi. Dia harus ikut dalam proses pencarian ibunya itu.


"Iya, ini abang sedang usaha. Abang cari dulu foto ibumu di internet."


"Emang bisa? ibu sama seperti aku, gak main internetan." Zahra gak semangat untuk belajar. Dia ingin tahu kabar sang ibu saat ini.


"Nek, beri pengertian pada Zahra ya. Agar mau belajar. Bimo akan cari ibunya Zahra." Zahra keras kepala. Akhirnya Bimo meminta bantuan Nek Ifah.


"Ra, percayakan pada Bimo. Ayo, kamu harus belajar." Nek Ifah, menarik pelan lengan Zahra. Dia pun akhirnya menurut pada Nek Ifah. Menoleh kebelakang saat digerek Nek Ifah. Zahra merasa Bimo menyembunyikan sesuatu.


***


"Eehmmm.. Sayang, apa bener ini alamat kampungmu?" Ezra memperhatikan jalan yang mereka lintasi, dan dia tahu jalan ini. Ini jalan yang sama menuju rumah istrinya Zahra. Pria itu mulai tidak tenang.


"Iya Bang. Ini jalan ke rumahku. Tapi, masih jauh rumahnya." Ucap Anin dengan bahagianya. Gimana tak bahagia, dia akan bertemu anak dan ibu mertuanya. Dia juga akan mengenalkan Ezra. Dia menikah dengan pria kaya raya, tampan dan baik. Tentu kepulangannya dengan Ezra akan menggemparkan kampung.


Anindya, dapat suami kaya..

__ADS_1


Membayangkan itu, wajah Anindya bersemu merah. Dia sungguh bahagia sekali. Sangat bahagia.


"Oohh ..!" Hanya itu yang keluar dari mulut Ezra saat ini. Pria itu semakin tidak tenang. Entah kenapa dia jadi curiga. Jangan-jangan, Anindya sang istri, ada hubungan kekerabatan dengan Zahra.


"Indah ya bang..!" Anin yang bahagia itu, jadi banyak cerita. Dia membuka kaca mobil. Menghirup udara pagi yang segar. Menikmati udara sejuk dan pemandangan indah itu. Hamparan sawah yang tengah menguning dan dibaliknya ada bukit-bukitnya.


"Ohh iya dek "


Hufftttt...


Ezra menghela napas panjang. Dia memperhatikan lekat Anindya yang menikmati pemandangan. Sesaat dia melihat Zahra di dalam dirinya Anindya.


"Di rumah tinggal siapa saja sayang?" Ezra yang mulai curiga itu, ingin mengorek informasi lebih dalam tentang keluarga Anin.


Anindya tersenyum lebar pada Ezra. Dia jadi semangat, suaminya itu kepo juga tentang keluarganya. Padahal sejak mereka menikah, suaminya itu seperti tidak mau tahu. Dan disaat dia ingin cerita tentang keluarganya di kampung ada saja halangannya.


"Di rumah hanya ada ibu mertua dan putriku bang." Menautkan kedua tangannya dan mengusap-usapnya diantara jemari. Anindya yang bahagia ingin bercerita banyak tentang keluarganya di kampung. Ini moment yang tepat untuk menceritakan semuanya.


"Oohh...!" Jantung Ezra masih dag dig dug. Saat ini dugaan Ezra semakin kuat, kalau Zahra dan Anin, ada hubungan. Semoga bukan hubungan ibu dan anak.


Ezra kesusahan menelan ludahnya sendiri, saat mendengar cerita Anin. Dia semakin yakin jika Anin dan Zahra ada hubungan. Apalagi mereka sudah semakin dekat ke rumahnya Zahra.


"Eehhhh... Dika, kita sudah mau sampai. Jangan ngebut lagi. Nanti lewat lagi." Ujar Anin dengan penuh semangat. Ezra yang mendengarnya semakin tak tenang. Takut, khawatir bingung harap-harap cemas. Bergabung jadi satu, campur aduk. Pria itu bahkan keringat, dahinya sudah dipenuhi bintik -bintik cairan, padahal cuaca sedang dingin.


Ngung...


Ngung...


Ngung...


"Astaghfirullah...!" Ezra terkejut mendengar getaran ponselnya yang diletakkan di mobilnya. Dia sangat tegang saat ini. Jangan sampai dugaannya benar. Kalau dugaannya benar. Tamatlah riwayatnya, badai dan tsunami akan menerjangnya. Kehancuran level tinggi akan di mulai. Dia pernah berharap dengan menikahi Anin, hidupnya akan damai. Karena menikah dengan wanita Solehah yang lembut hatinya. Tapi, nyatanya dia akan hancur.


"Ya Bimo." Ezra mengangkat telepon dengan perasaan kacau. Jantung nya masih berdebar-debar. Dia ketakutan saat ini. Kalau dugaan benar. Dia telah melakukan suatu dosa, kesalahan yang sangat besar.


"Di sini Dika, ini rumah kita Dika. Stop, stop..... Dika..!" Anindya bicara dengan hebohnya. Dia takut Dika melewatkan rumahnya. Dia juga senang sekaligus terharu akhirnya dia akan bertemu keluarganya.

__ADS_1


Sedangkan Ezra dibuat mematung, melihat rumah yang sangat dikenalnya di hadapannya.


"Bang, kita sudah sampai." Wajah berbinar-binar nya Anin tak terlihat oleh Ezra lagi. Dia sudah tidak fokus lagi.


"Oohh sedang menelpon ya bang? aku turun ya bang." Anin yang bahagia itu tak sabar lagi, menunggu sang suami selesai menelpon. Tanpa menunggu jawaban dari suaminya itu, dia turun dari mobil. Tentu saja Dika menemani sang nyonya besar.


"Bos.... Bos.... BOS.,..!" Bimo berteriak di dalam panggilan suara itu. Habis Ezra tak kunjung menyahutnya. Padahal panggilan masih terhubung.


"Bos.... Ada masalah ini bos..!"


Ezra pun akhirnya tersadar dari ketercengangannya.


"Hancur... Hancur aku Bimo..!" ucap pria itu lirih, dadanya terasa sesak saat ini. Pria itu pun mengusap dadanya yang berdebar-debar itu. Berharap dirinya bisa tenang.


"Bos, apa bos sudah tahu kenyataannya? bahwa Zahra adalah putri nyonya Anin?" Bimo ingin memastikannya.


"Apa yang harus kita lakukan Bim? kenapa jadi seperti ini. Kenapa kita kecolongan." Ezra tak mau menyalahkan asistennya. Dia juga salah.


"Tenang bos, tenang. Aku beralih ke panggilan video ya!" Bimo sebagai asisten juga merasa bersalah. Kenapa dia tidak kepikiran kesitu. Padahal dari awal, mereka sudah curiga, kenapa wajahnya Zahra mirip Anin.


"Bos.... Jangan Nyonya Anin, sampai tahu hal ini. Nyonya sedang sakit bos. Bos... harus tenang. Ayo bos, tarik napas dulu..!" Ezra yang kalut dan kacau itu tak bisa mencerna ucapan Bimo lagi. Ini masalah yang paling butuk dalam hidupnya.


Mendapati sang isteri selingkuh, dia tak sehancur ini. Kenapa orang baik, susah sekali untuk bahagia.


"Bos... Jangan larut dalam pikiran buruk. Ayo bos tenang.. tarik napas bos..!" Ezra masih mematung, dia tetap gak mendengar ucapan Bimo. Tapi, matanya tertuju kepada sang istri, yang sibuk menggedor-gedor pintu rumah yang sudah terkunci itu.


Anindya juga tak kalah kalutnya hari ini. Kenapa rumah itu digembok dan seperti telah ditinggal kan. Karena, banyak debu di teras rumah.


"Zahra ...!" teriak Anin.


Ezra pun tersadar, mendengar sang istri memanggil nama istrinya juga.


TBC.


like, komentar vote say. akhir pekan kita ada hadiah give away 10 RB pulsa ya🙂👇

__ADS_1


Bila hati saling terpaut, rasa cinta terjalin indah. Bila salah dan khilaf terjadi, mohon maaf lahir dan batin. Marhaban ya Ramadan. Selamat menunaikan ibadah puasa. Bagi yang menjalankannya


__ADS_2