AKU MADU IBUKU

AKU MADU IBUKU
sangat bahagia


__ADS_3

“Aaakhh…. Sakit…!” Pekik Zahra saat junior keras dan besarnya Ezra benar-benar sudah sepenuhnya masuk di dalam gua miliknya yang basah dan lengit itu.


Tubuhnya terasa seperti terbelah dua, rasanya sangat sakit dan ingin pingsan saja. Pantas saja banyak wanita yang takut dengan ritual malam pertama, ternyata begini rasanya.


Tercetak darah di atas tikar anyaman pandan itu di atas lantai papan gubuk di tengah sawah. Rasa bahagia dan bangga tidak dapat Ezra sembunyikan sekarang, ini menjadi bukti bahwa Ezra adalah orang yang pertama yang menyentuhnya. Dan sepertinya Ezra juga baru kali ini memerawani wanita.


Dulu saat malam pertama dengan sang istri Rani, ibunya Rara. Tak ada kejadian sedramatis dan se extrem ini. Dia dengan cepat menerobos miliknya Rani, dan saat itu tak ada bercak darah di seprei mereka.  Ezra tidak terlalu mempermasalahkan itu, karena dia juga tahu. Tak semua wanita yang perawan mengeluarkan darah, saat selaput darah pecah. Mungkin saja istrinya itu selaput darahnya tipis. Atau saat itu sang mantan istri Rani sangat beernaf---su dan mengeluarkan lendir yang banyak sehingga Ezra bisa cepat membobol gawangnya sang mantan istri.


Isak tangis Zahra yang kencang membuat Ezra tersadar dan langsung buru-buru mengecupi lembut dahi lalu turun ke mata indahnya Zahra yang terus mengeluarkan cairan bening itu dari kedua sisi. Ezra bahkan bisa merasakan air mata sang istri. Puas mengecup mata sang istri. Bibirnya kini mengecup ujung hidung mancungnya Zahra.


“Sayang, tahan sebentar ya!” Bisik Ezra lembut di daun telinga sang istrri. Pria itupun perlahan menggerakkan pinggulnya pelan. Sebut saja Ezra egois saat ini, karena tidak menunggu sampai rasa sakit Zahra hilang, bahkan luka paha Zahra sempat dilihatnya. Ezra sudah tidak sabar, karena harus menahan ini dari kemarin, ia benar-benar frustasi karena nya.


“Stopp Bang, Aaahhkkk.. stop… Aaakkhhh sakit sekali hhhmmmppp” Racau Zahra masih dengan isak tangisnya, wanita yang kesakitan itu mencakar punggung sang suami melampiaskan rasa sakitnya di sana. Ezra hanya bisa meringis kesakitan karena cakaran Zahra. Pria itu pun dengan cepat mengambil inisiatif untuk langsung melahap bibir Zahra dan berharap dapat mengurangi rasa sakit yang wanita itu rasakan saat ini.


“Aaakkhh eeemmpp…” Lenguh Zahra di balik pangu—tan mereka yang membarah, Zahra bahkan membalas ciuman itu dengan penuh naf-su dan perlahan rasa sakit yang teramat itu mulai tergantikan dengan rasa yang nikmat, seiring dengan pergerakan rudal Ezra yang keluar masuk dan berputar di gua itu.. “Oohhhh--- akkhh….”  Desa—h Zahra lagi.


Ezra melepaskan pangu—tan itu, beralih pada leher dan dadanya yang sejak tadi sudah banyak tanda di sana hasil mahakaryanya. Mengecupi dan membuat tanda kepemilikan lagi di sana. “ Aakkhhh…” Desa-h Zahra menjenjangkan lehernya dengan mata yang terpejam, ia sudah merasakan kenikmatan saat juniornya Ezra menggesek dinding kewanitaannya. Walaupun rasa sakit sesekali masih ia rasakan.


“Arrgghhh … sempit sekali milikmu istriku..” Desa—h  Ezra penuh kenikmatan sambil menambah tempo genjo—tannya.  Jujur, ini baru pertama kalinya ia merasakan lubang surga duniawi yang sesempit dan selengit ini. Punya Rani yang menghabiskan banyak biaya perawatan saja, tak ada apa-apanya, dibandingkan miliknya Zahra yang krunchy. Menggigit dan lengit.


“AAAKKHh… aauuhhh..”


“Sebut namaku sa—yang… EEUuuggjhh aaahh…” Ujar Ezra dengan susah payah. Nafas sudah memburu, dia keringatan di cuaca yang dingin ini.


Zahra tidak menjawab dan memang ini bukan waktunya berdebat tentang nama. Maka ia hanya menuruti apa yang Ezra bilang.


“AAKKHH---- Sayang, Abang Ezra… lebih cepat… Aakhhh—aahh..” Zahra meracau saat Ezra menyentuh titik kenikmatannya, membuat libi--do Ezra meningkat drastis sehingga ia menambahkan kecepatannya karena mendengar ******* istrinya. Tangan Zahra meremas rambut Ezra sebagai pelampiasan kenikmatan yang ia dapatkan.


“Wawa… aakkkhh.. Kenapa kau sangat , eeegh nikmat sayang. “ Sahut Ezra dengan terus menghentakkan pinggulnya tanpa henti, sesekali meremas dada kenyal hangat sang istri yang semakin padat itu.


“Aaahhkk… abang…. Adek tidak kuat lagi eeegghh..” Zahra melenguh lega saat mendapatkan puncak kenikmatan, wanita itu ternyata pelepasan. Dia merasa terbang ke awang-awang. Rasa nikmat menjalar ke seluruh tubuh, Dia meremas pundak dan punggung sang suami sebagai pelampiasan atas apa yang dia rasakan. Zahra baru tahu, bahwa ada nikmat seperti ini.  Selama ini dia tahunya nikmat makan bakso setan saja dan minum juice tiwung.


“Aargghh… Ezra juga mengerang saat merasakan cairan hangat sang istri yang baru saja keluar, ditambah lagi rasa perih di sekujur punggung dan pundak akibat cakaran sang istri yang berada di bawahnya sejak tadi.

__ADS_1


Pinggul Ezra tidak berhenti untuk bergerak, walau ia tahu Zahra baru saja or-gas-me. Ia hanya fokus pada puncak kenikmatannya sendiri.


“Abang…. Aauuww… aahh… stop--- stop……” Desa-h Zahra. Wanita itu merasakan milikinya sangat ngilu, setelah habis or-gas-me, namun ada rasa nikmat bercampur di dalamnya.


“Aahhkk.. Iya sayang.” Ezra menghentikan aksi memompanya. Dia kini kembali merangs-sang organ sensitif sang istri di bagian sensi tif lainnya.  Bahkan pria itu sempat memperhatikan rudalnya, yang terdapat sebagian cairan sang istri dan darah perawannya Zahra yang masih menempel di batang miliknya yang kuat dan keras itu.


Ezra tak tahan lagi, dia kembali memasukkan miliknya ke lubang kenikmatan milik sang istri. Menggen—jotnya kuat. “ Aaaakhh.. kau sangat nikmat istriku, sangat nikmat..!” Ezra meracau di antara leher  zahra. Mempercepat hentakan pinggulnya.


Ezra seketika lupa janjinya saat berkata akan melakukannya dengan pelan dan lembut. Itu semua menguap seiring dengan deru nafas mereka yang tak beraturan.  Bahkan Ezra lupa, kalau paha sang istri luka.


“Eeegghh…hhh…” Desa-h Zahra, saat junior Ezra terus menggesek dinding kewanitaannya dan merasakan mulut Ezra mulai memainkan dadanya, menghisap dan menggigit pelan, berkat itu ia mulai menikmati lagi permainan mereka.


“Iya sayang.. di situ..aaakkhh…” Zahra mulai merasakan nikmat kembali saat junior ezra beberapa kali menyentuh titik kenikmatannya.


“Aku… Abang… gak kuat lagi. Aaaakkhh..!” Zahra akan kembali merasakan or—gas—me yang entah keberapa kalinya dia pun tahu. Sumpah, Zahra baru tahu kalau nikmat yang menggila seperti ini. Pantas saja, teman-temannya yang sudah punya pacar, sering terjerumus dalam pergaulan bebas. Ternyata nikmat bercita itu membuat nagih candu.... Lagi..lagi dan lagi.


“Wa.. bersamaan ya?’


Zahra yang polos tidak mengerti maksud dari kata bersamaan itu. Padahal mereka kan lagi bersama. Zahra hanya mengangguk menanggapi ucapan sang suami. Mataya kini sudah merem melek, lidahnya bahkan membasahi bibir sendiri. Sensasi bercinta sungguh luar biasa. Membuat lupa daratan. Bahkan mereka tidak menyadari lagi, kalau hujan sudah reda. Dan hanya kini terdengar kuat suara kodok dan jangkrik.


“Abang…. Aakhhh..” Cairan Zahra menyembur kuat, ia bahkan mengalami multi or—gas—me. Zahra serasa lemas sekarang, namun disaat bersamaan Ezra sepertinya juga akan menjemput kenikmatan itu.


“Aakkhh… bersamaan dengan itu, Ezra juga mencapai klimaksnya, ia mempercepat gen—jotannya, sehingga terdengar sura berisik dari paha keduanya yang bertabrakan. Saat ini, Zahra tidak merasakan nikmat lagi. Tapi, kembali merasakan sakit di paha dan ngilu di bagian intinya. Baru dia sadari, jikalau dia pelepasan, sesaat miliknya jadi ngilu, tepat di kli-tor-isnya.


Zahra menahan sakit yang luar biasa itu, Paha Ezra menggesek pahanya yang luka dan menggesek miliknya yang ngilu. Suaminya itu sudah lupa daratan. Matanya menutup erat, menikmati puncak kenikmatan yang menjalar dari ujung kaki hingga ke kepala.


“AARRGgggghhh…!” pekik Ezra mengerang penuh nikmat. Pria itu pun ambruk di atas tubuh sang istri. Dan juniornya masih menancap di lubang surga dunia itu. Pria itu lega, karena telah pelepasan. Sudah lebih dari lima tahun dia tidak melakukan hubungan badan. Dan sekali melakukan dapat yang perawan. Ezra merasa beruntung sekali, akhirnya dia punya pengalaman, memerawani seorang  wanita.


“Aabang…. Berat, menyingkirlah! Kau berat sekali.” ujar Zahra lemah dengan mata yang kembali berkaca-kaca.


Ezra yang memejamkan mata itu refleks tertawa kecil. Dia bahagia sekali. Pria itu mengecup lembut kening dan bibir sang istri, juga menggesekkan wajahnya di dada kenyal dan hangatnya Zahra. Menyingkir dari atas tubuh sang istri. Meraih sarung yang dikenakan Zahra tadi, menutupi tubuh sang istri. Pria itu pun duduk, melap cairannya yang menempel di rudalnya. Kemudian memeriksa miliknya sang istri. Sontak kelakuan sang suami membuat Zahra terkejut.


“Mau apa lagi? Masih sakit..!” Adek gak mau lagi. Lihat kakiku, semakin meradang. Sakit sekali. Huahuahuau…! Zahra menangis sekencang-kencangnya. Nikmat yang dijemput mereka hanya terasa saat itu saja. Setelahnya tinggal kesakitan yang mendera.

__ADS_1


“Istriku, maaf ya?! Suamimu ini bukan mau minta lagi. Tapi, mau memeriksanya. Abang bersihkan ya?” Zahra terdiam, dia malu sendiri, dia mengira suaminya itu akan minta mantap-mantap lagi. Ternyata mau membersihkan miliknya yang becek. Sungguh suami yang perhatian.


“ Sebentar, Abang ambilkan lap yang bersih.”


“Jangan pergi, adek takut.” Hujan sudah reda, malam semakin mencekam. Sepertinya sudah dini hari, atau sudah pukul tiga pagi mungkin. Mereka membela duren memakan waktu lebih dari empat jam. Karena banyak sekali adegan dramatisnya.


“Ke belakang saja sayang, ambilkan lap untuk melap miliknya adek.”


“Takut.. aku juga pingin pipis.” Rengek Zahra, Ezra tersenyum manis. Mencium lembut kening sang istri.


“Terima kasih ya dek.” Mengecup sekilas bibirnya Zahra.


“Pakai bajunya.” Ezra membantu sang istri memakai baju, Setelah itu pria itu membopong sang istri ala bridal stile, Dan Zahra memegang lampu teplok, sebagai pencahayaan buat mereka berjalan ke luar gubuk, karena keduanya ingin pipis. Zahra begitu malu saat ini, dia tidak menyangka, diumur 18 tahun, dia sudah tidak perawan lagi.


“Kenapa  dek?”


“Sakit sekali, sakit.. perih…!” Zahra terisak, dia mendadak jadi manja. Biasanya kena sabet parang pun gak membuatnya mengeluh.


“Iya sayang, maaf.. Sini abang tiup.” Ezra mendekatkan wajahnya ke miliknya Zahra yang sedang jongkok. Zahra dibuat malu sendiri dengan  kelakuan Ezra.


“Iihhh apaan sih, mau aku kencengin. Aku belum selesai kencing. Hikshikshiks… sakit..! Pahaku juga sakit, Mak….. Umak…!” Ezra panik, sangat panik. Dia jadi merasa sangat bersalah. Dia pun akhirnya merangkul sang istri yang sedang jongkok itu.


“Jangan menangis sayang, kita lagi di persawahan ini. Nanti ular sawah datang gimana, karena mendengar suaramu, diam ya sayang. Nanti di dalam, Abang obati. Abang tiup semalaman biar gak perih.” Zahra pu akhirnya diam, suaminya itu pandai sekali menggombal. Setelah membersihkan milik mereka dengan air hujan yang di tampung. Keduanya kembali masuk ke dalam gubuk.


“Haus..!” rengek Zahra manja, entahlah dia heran pada dirinya yang mendadak jadi manja.


“Iya sebentar, Abang ambilkan minum dulu,” Ezra bergegas ke dapur mengambil air minum dan buah  pisang untuk mereka makan. Sambil senyam senyum, dia shai sekali. Mereka sudah kelaparan. Tenaga terkuras habis, karena pergulatan itu.


Zahra memakan buah pisang, sedangkan Ezra memeriksa luka di paha sang istri. Dia kembali mengoleskan kunyit yang sudah halus seperti pasta itu, meniup-niup luka itu, agar sang istri tidak merasa perih. Ezra jadi merasa bersalah pada sang istri, dia tahu istrinya terluka, masih juga ditambahi luka di bagian intinya. Diembat lagi. Mengoyak lembaran-lembaran otot lembut milik sang istri.


“Kita bobo ya sayang.” Mengecup kepala sang istri dengan lembut. Ezra pun semakin mengeratkan dekapannya, mengelus pelan lengan sang istri yang didekapnya. Zahra mengangguk kecil.


Ah, begitu sexy dan lucunya istrinya itu. Sehingga Ezra ingin sekali memakan sang istri. Tapi, itu tidak mungkin, lihat saja wajah lelah Zahra, Ezra tidak tega. Dan alhasil Ezra hanya bisa mengecup bibir sang istri sekali lagi, sebelum membiarkan Zahra benar-benar tertidur dalam dekapannya.

__ADS_1


TBC


__ADS_2