AKU MADU IBUKU

AKU MADU IBUKU
Bingung


__ADS_3

"Nek, Ferdy pamit dulu ya?!" Ferdy telah mengantarkan Zahra dan Neneknya pulang ke rumah. Tepat pukul 16.15 Wib. Mereka sampai di rumah setengah permanen itu lebih cepat dari biasanya. Biasanya sang nenek baru pulang berjualan pukul enam sore. Tapi, hari ini mereka cepat pulang. Karena, dagangan mereka laris manis. Berkat ada pelayanan baru, yaitu Ferdy.


"Iya CuFer, hati-hati di jalan." Ferdy langsung menyambar tangan keriputnya nek Ifah, dengan tertawa kecil, merasa lucu dengan panggilan baru sang nenek untuknya. Pria yang masih berumur 18 tahun itu pun, mencium punggung tangan itu dengan tersenyum manis. Kemudian Ferdy melirik Zahra yang berdiri di sebelah sang nenek dengan tersenyum pula. Ferdy senyum terus sepanjang hari. Pria itu memang pandai kali bersandiwara. Agar orang-orang di sekitarnya selalu senang padanya.


"Ok NeNek macan (Manis cantik). Selamat istirahat buat nenek dan Zahra. Assalamualaikum..!" ucap si Ferdy dengan ciri khasnya yang ceriah, walau sebenarnya otak pria itu sedang kusut. Karena memikirkan video serta foto-foto yang dikirimkan oleh Rara padanya.


"Iya Cufer, makasih banyak ya, kamu hati-hati." Ucap sang nenek, yang kini tersenyum manis pada pria muda itu. Siapa sih yang tak kembang kupingnya, dapat pujian. Walau sebenarnya sang nenek sudah tidak cantik. Tapi, setiap manusia akan senang apabila mendengar kata-kata pujian.


Ferdy pun melangkah, kemudian masuk ke dalam mobil mewah merk Toyota Land Cruisernya. Melambaikan tangan kepada Zahra dan sang nenek dengan senyum lebarnya.


Setelah mobilnya Ferdy menghilang dari jangkauan Zahra dan Nek Ifah. Mereka pun berbalik badan dan hendak masuk ke rumah. Tapi, langkahnya terhenti, karena kepala lingkungan menghampiri mereka.


"Nek Ifah, apa pria yang barusan pergi itu, Adalah pria yang menginap di rumah kalian?"


Zahra dan nenek Ifah terkejut mendapati pertanyaan seperti itu. Keduanya saling pandang. Dan kemudian menatap ke arah Pak Kepling dengan raut wajah cemas. Karena, raut wajah Pak Kepling seperti menghakimi.


"Iya Pak." Jawab Nek Ifah ramah. Mempersilahkan Pak Kepling yang bernama Julman itu untuk masuk ke dalam rumah.


"Kalau ada tamu menginap, maunya dilapor Nek. Agar para tetangga tenang dan tidak menduga-duga. Tahulah zaman sekarang ini rawan kejahatan dan *******." Ucap Pak Julman ramah. Dia hanya mengkonfirmasi laporan warganya tadi pagi. Yang mengatakan di rumahnya Zahra, menginap pria kaya. Karena ada mobil parkir di depan rumahnya Zahra.

__ADS_1


"Iya Pak Julman, itu teman sekelasnya Zahra. Maaf ya Pak, kami gak melapor. Karena, ini kejadian tak terduga. Pak Julman dan Nek Ifah, sudah duduk di ruang tamu. Di atas tikar plastik. Sedangkan Zahra ke dapur, mau buatkan minuman untuk Pak Julman.


"Berarti bukan tamu yang mau tinggal lama nek?"


"Bukan Pak, hanya numpang tidur." Jawab Sang Nenek ramah.


"Oohh... Sekalian mau ingatkan kamu Zahra. Agar pulangnya jangan kemalaman, apalagi bersama seorang pria." Gelas yang ada di tangan nya Zahra, hampir saja terjatuh dari tangannya. Saat dia ingin meletakkan minuman dalam gelas itu dihadapan Pak Kepling itu. Karena terkejut dengan ucapan Kepling itu.


"Iya pak." Ucapnya dengan ramah. Tidak ada gunanya menjelaskan semuanya. Karena memang jelas dia salah. Pulang larut malam bersama seorang pria yang bukan muhrimnya.


Mereka masih tinggal di desa, yang semuanya tak luput dari sorotan tetangga.


***


Sesampainya di rumah, pria itu langsung membersihkan tubuhnya. Memakai bajunya dengan cepat. Dia sudah tidak sabar untuk memeriksa ponselnya. Yang dari tadi terus saja masuk notifikasi pesan.


Dia harus mandi, agar fresh. Supaya otaknya yang panas dari tadi tidak meledak. Karena kesal kepada Rara. Yang berani bermain-main dengannya. Tak ingin larut dalam masalah. Dia pun langsung menghubungi nomor yang mengaku sebagai Rara itu. Karena memang nomor yang mengirim video dan foto Zahra tadi, bukan nomor Rara yang di save nya.


"Hai Fer, akhirnya kamu menghubungiku juga." Suara Rara terdengar riang penuh semangat. Ferdy hanya melakukan panggilan suara.

__ADS_1


"Aku hanya memperingatkan kamu. Jangan sempat foto dan video itu tersebar." Ucapan Tegasnya Ferdy, membuat Rara diujung sana tertegun. Kenapa pria itu malah membela Zahra.


"Fer..!" Rara ingin membela diri.


"Aku tidak akan terhasut dengan video itu. Aku tahu, ada yang tidak beres. Jadi kamu siap-siap saja, akan saya laporkan ke pihak berwajib."


Tut....


Panggilan terputus secara sepihak. Siapa lagi yang memutus panggilan, kalau bukan Rara. Wanita itu, tak sanggup mendengar ucapan Ferdy selanjutnya. Karena, sudah jelas. Kata-kata yang akan keluar dari mulut pria itu adalah umpatan penuh kebencian.


"Dasar wanita setres. Aku yakin, Zahra telah dijebak. Zahra bukan wanita seperti yang dikatakan Rara." Ferdy bermonolog, pria itu masih mengutak-atik ponselnya. Membuka pesan dari karyawan hotelnya.


Tuan muda, ini identitas yang menginap di kamar 119. Isi pesan karyawan itu membuat Ferdy terkejut. Karena nama tamu yang menginap di hotel itu, mirip dengan nama Rara. Rara nama lengkapnya adalah Rara putri Assegaf. Sedangkan nama yang menginap di kamar 119 adalah Ezra Assegaf.


"Astaga... Apakah Ayah dan anak ini akan menghancurkan hidupnya Zahra? tapi, untuk apa? kurang kerjaan sekali orang kaya ini." Ezra bermonolog, bingung bin heran dengan kasusnya Zahra.


"Besok, aku akan tanyakan padanya di sekolah." Ucapnya, membaringkan tubuhnya yang terasa lelah, karena berjualan di pasar.


TBC.

__ADS_1


Mohon dibaca lagi episode 13 ya say. Karena, ada sedikit penambahan akur cerita.


🙏🙂


__ADS_2