
"Kalau mau ke pergi, dikasih tahu."
Pukk
Pintu mobil itu dikunci kasar. Rara dibuat terlonjak kaget. Ternyata suaminya itu membuka pintu sebelahnya. Hanya untuk memarahinya.
"Astaga... !"
Rara mengelus-elus dadanya yang masih berdebar hebat, karena ketakutan dan terkejut itu.
"Emang apa bedanya dikasih tahu dengan gak. Toh paman gak perduli juga." Ujar Rara dengan memejamkan matanya, ia sedang siap-siap untuk dimarahi. Karena berani menantang ucapan suaminya itu.
__ADS_1
Eehh... Suaminya itu tak menanggapi ucapannya. Ia jadi merasa beneran ngomong tadi, atau hanya dalam ilusinya. Koq gak ditanggapin.
Sial....
Kenapa sih ini dengan Paman Bimbom? Kenapa berubah nya drastis banget. Sebenarnya aku salah apa sih sama dia? Kami itu sudah lebih dari lima tahun gak pernah cerita atau ngobrol. Bahkan jika ada pertemuan di rumah. Dia pasti menghindariku. Kalau gak ingat dia dulu baik dan sayang samaku. Aku juga gak bakalan mau nikah sama dia.
Rara kembali berperang bathin, dia sungguh dibuat bingung dengan sikapnya Bimo padanya. Sejak lima tahun lalu, Bimo menjaga jarak dengannya. Dan Bimo lebih sering kerja ke luar kota. Dan jikalau ada acara di rumah. Bimo pasti tak mau dekat-dekat dengannya. Bahkan jikalau Rara hanya ingin bertegur sapa. Maka Bimo akan meninggalkannya begitu saja.
Rara terus saja bermonolog, menatap kesal Bimo sesekali dari kaca spion. Suaminya itu benar-benar membisu. Sepanjang perjalanan hampir dua jam dari kota Medan. Hanya keheningan yang tercipta, ditambah malam yang semakin larut. Akhirnya Rara pun tertidur dalam kekesalannya itu.
Mobil yang dikendarai Bimo akhirnya masuk ke area perkebunannya. Pak satpam dengan cepat membuka palang pintu pos satpam. Mobil yang dikendarai nya melaju dengan cepat di jalan aspal yang mulus itu. Walau perkebunan miliknya masih tergolong kecil. Tapi, tatanan perkebunan itu sangat rapi. Rumahnya Bimo berada di tengah perkebunan. Dan sekitar 100 meter dari rumahnya ada rumah untuk karyawannya berjumlah lima unit. Dan sebagian pekerja hariannya datang dari kampung sebelah.
__ADS_1
Bimo terus saja menguap. Ia sudah lelah badan, pikiran dan hati. Karena memikirkan bagaimana nantinya hidupnya mempunyai istri tak berakhlak seperti Rara. Bayangan hitam pekat sudah ada di depan mata. Ia tak akan merasakan kebahagiaan lagi di hidupnya. Ia gamang, sangat gamang. Gimana kalau Rara mewarisi semua sifat jahat dari ibunya. Membayangkan punya istri seperti itu saja sudah membuatnya mual. Ya, Bimo tak suka wanita penggoda dan yang genit. Ia lebih suka wanita yang kalem, jinak-jinak merpati. Karena, Bimo suka wanita penurut dan lembut, ya seperti Anin misalnya.
Bimo mematikan mesin mobilnya. Kini mobil itu sudah terparkir di garasi rumahnya. Ia menguap untuk kesekian kalinya. Merenggangkan otot-ototnya dengan menggerakkan ke kanan dan ke kiri, hingga terdengar suara retakan tulang. Seperti nya angin sudah banyak terperangkap di tubuhnya. Ia pulang pergi malam ini dari kota Berastagi ke kota Medan. Yang setiap kali perjalanan menempuh waktu 2 jam. Tentu ia sudah mengemudi selama empat jam.
Bimo menoleh ke jok belakang. Karena, istrinya itu tak ada mengeluarkan suara sama sekali. Ia pun menatap nanar Rara yang terlihat tidur pulas memeluk tubuhnya sendiri. Ia yakin, kalau Rara kedinginan. Karena memang hawa di kota Berastagi sangat dingin.
Bimo membuka pintu mobil sebelah Rara. Ia mengambil barang bawaan Rara. Ternyata istrinya itu hanya membawa koper ukuran sedang.
Bimo kembali menutup pintu mobil itu, masuk ke dalam rumahnya dengan menyeret kopernya Rara. Sedangkan Rara masih dibiarkannya tidur di dalam mobil
TBC
__ADS_1
Dukung dong novel ini reader sudah mau tamat loh.🙂