
Zahra sungguh terperanjat saat ini. Mata indahnya kini celingak-celinguk memperhatikan sekitar. Apakah Ezra akan mengajak nya menemui Ferdy?
"Ayo turun sayang?" Zahra yang bengong tidak menyadari lagi, kalau pintu mobile sebelahnya telah dibukakan sang suami.
Wajah kusutnya berangsur hilang, digantikan senyum tipis yang manis. "Apa aku boleh menjenguk Ferdy?" ucapnya dengan tidak percayanya menatap sang suami, yang kini keningnya Ezra berkerut sudah mendengar pertanyaan istrinya itu.
Huuuuuhh....
"Ferdy terus diotakmu sayang? sampai kapanpun aku gak akan mengizinkan kamu berjumpa dengannya. Bukan karena aku cemburu ya, tapi karena berjumpa dengannya bukan hal yang baik." Jelas Ezra, menggandeng sang istri melewati koridor rumah sakit.
Zahra bersungut-sungut saat ini. Ternyata Ezra mengajaknya ke rumah sakit bukan untuk menjenguk Ferdy.
__ADS_1
"Kenapa gak baik?" Zahra melepaskan tangannya dari genggaman Ezra. Ogah digenggam sang suami. Kemauannya gak dituruti. Padahal dia hanya ingin melihat pria yang pernah dicintainya itu. Dia kasihan pada Ferdy, katanya Ferdy masih belum bisa berjalan normal. Karena tukang rusuknya yang cidera. Sehingga pria itu tak bisa berdiri dengan tegak. Mana dia kesulitan saat bernafas. Ferdy juga separah itu, karena Ezra.
"Hhmmm.... Adek amnesia atau pikun? gak ingat apa, kemarin kita diusir. Terus di luar dicegat kakeknya juga. Sudah, kamu gak usah merasa bersalah padanya. Emang dia yang salah." Ezra kembali meraih tangan Zahra dan menggandengnya.
"Kita mau ke mana ini?" ucapnya malas, ia benar yang dikatakan Ezra. Kalau mereka bertemu dengan kakeknya Ferdy, bisa ribut lagi. Seperti nya keinginannya kali ini harus dipendam dalam-dalam. Mungkin hanya doa yang bisa dipanjatkannya untuk Ferdy
"Kita mau lihat Rara."
"Gak akan ada pertengkaran. Rara ingin bertemu denganmu sayang." Bujuk Ezra.
"Gak mau, Hubby suka bohong. Bahkan Hubby tak menganggap aku bagian dari keluarga. Hubby menyembunyikan kebenaran tentang Rara padaku. Untuk apa coba disembunyikan?" tanya Zahra dengan kesalnya. Matanya yang memerah terlihat berkedip-kedip mencegah agar cairan bening tak keluar.
__ADS_1
Ezra cukup terperangah mendengar penuturan istrinya itu. Sepertinya Zahra kecewa bener padanya. Hingga ekspresi wajah istrinya itu terlihat begitu menyedihkan bercampur kesal. Itu jelas terlihat dari kedua mata Zahra yang sudah berkabut.
"Kita bahas ini di rumah ya sayang? sekarang kita ke ruangan Rara dulu " Ezra kembali bicara lembut. Kedua matanya terlihat mawas memperhatikan sekeliling yang sebagian orang memang sedang memperhatikan mereka.
"Sebentar, aku belum siap." Merasa tak nyaman dilihatin orang-orang yang memang kebetulan ramai di tempat itu, akhirnya Zahra memilih berjalan ke arah mobil mereka. Tentu saja Ezra mengekori sang istri. Dia membuka pintu mobil itu pada Zahra.
Zahra berulang kali menarik napas panjang dalam mobil. Rasanya dadanya sesak sekali. Stok oksigen di paru-paru habis sudah, jika mengingat Rara.
"Mau apa dia bertemu denganku? kemarin aku sudah bilang dia yang harus datang menemui ku meminta maaf. Kenapa harus aku yang menemuinya? aku gak mau menemuinya. Dia jahat padaku. Hatiku gak seluas samudera dan dadaku gak selapang lapangan sepak bola untuk memaafkannya saat ini." Ujar Zahra dengan wajah masamnya. Dia tak mau membohongi hatinya. Dia memang benci Rara.
TBC
__ADS_1
Banyak like coment dan vote hadiah. Kita akan grazy up