AKU MADU IBUKU

AKU MADU IBUKU
Fitnah


__ADS_3

prengg...


peng..


peng...


Teng...


Zahra menutup telinganya dengan bantal sekuat-kuatnya. Karena, suara benturan dan gesekan batu yang dilempar ke genteng membuatnya ketakutan di subuh yang dingin.


Warga kesal dan geram padanya. Karena video itu sudah tersebar ke seluruh warga. Mulai dari sore kemarin hingga pukul sepuluh malam, Orang-orang pada berkerumum dan membuat keributan di rumahnya Zahra. Masyarakat ingin dia dan sang nenek pergi dari kampung itu. Karena warga tidak mau ada orang yang bermaksiat tinggal di kampung itu. Mereka tidak mau kampung mereka yang dekat dengan gunung berapi itu kena azab Allah.


Zahra pun tidak bisa membela dirinya lagi. Karena, video itu memang terlihat begitu nyata. Sekuat apapun dia menjelaskan, orang-orang tidak akan percaya. Zahra bahkan sempat kena amuk massa. Menjambak dan menampar dirinya secara membabi buta. Itu semua warga lakukan, karena mereka kesal pada maksiat yang dilakukan Zahra. Mereka tidak mau kampung mereka kena azab.


Flasback on


"Bukti sudah ada Pak Jamal. Bapak jangan membela keluarga gak beres ini. Ini memang keluarga gak beres. Ayahnya saja mati meninggalkan banyak hutang. Kampung kita bisa kena musibah, kalau keluarga maksiat ini tetap tinggal di kampung ini. Bapak mau tanggung jawab, jika kampung kita kena azab dari Allah." Ucap wanita berumur sekitar 40 tahun. Tetangga Zahra, yang geram setelah melihat video Zahra, dari anaknya yang satu sekolah dengan Zahra.


"Iya iya Bu, jangan main hakim seperti ini. Kita bicarakan baik-baik." Tegas Pak Kepling yang bernama Pak Jamal itu. Melihat ke arah Zahra dan sang nenek yang terlihat tertekan dan ketakutan. Sang nenek bahkan sudah duduk bersandar di pojok rumah ruang tamu. Zahra juga terlihat terkulai lemas dengan sudut bibir yang pecah dan mengeluarkan darah. Dia sudah pasrah dengan semuanya. Kalau dia mau diusir ya diusir saja. Karena, sekuat apapun dia menjelaskan, para warga tidak percaya.


"Bukti sudah ada pak, ayo semuanya kita usir mereka dari kampung kita ini." Ibu-ibu itu pun mulai mengeluarkan barang-barang perlengkapan dagang sang nenek, yang masih teronggok di sudut ruang tamu, berukuran 3x6m.


"Tidak boleh seperti ini. Kita beri waktu pada mereka untuk berkemas-kemas. Ini sudah malam. Jangan kita main hakim seperti ini." Pak Jamal, menghadang warga yang hendak melempar barang-barang keluarga Zahra keluar rumah. Menatap tajam para ibu-ibu, yang merasa sok suci.

__ADS_1


"Jangan menuduh seseorang melakukan zina."


"Pak, kita tidak menuduh. Ini ada buktinya." Geram ibu-ibu yang bernama Sulis. Memotong ucapan Pak Jamal.


"Aku percaya, kalau itu memang kerjaan Zahra selama ini. Coba pikir ibu-ibu, bapak-bapak. Dari mana anak ini bisa bayar hutang ayahnya, yang setiap bulannya tiga juta itu, kalau tidak jual diri. Emang berapa penghasilan jual mie so dan gorengan di pasar. Ibunya yang katanya merantau di kota itu, pasti kerjaannya sama dengan anaknya ini."


"Bu Sulis....!" Zahra yang geram dari tadi, tidak bisa menahan dirinya lagi. Dia pun bangkit dengan cepat dari duduknya, menatap tajam pada wanita yang telah menipu ayahnya itu, sehingga mereka terlilit hutang pada Ibu Sulis.


"Ibu boleh menghina saya. Tapi, jangan hina ibuku." Tangan Zahra mengepal kuat. Ingin rasanya dia menghadiahi satu tinju kepada pipi ibu paruh baya itu. Tapi, jelas itu tak ada gunanya. Masalah akan semakin rumit nantinya.


"Apa ..? apa? mau mukul orang tua? dasar anak gak diajar orang tua. Pantas saja dirimu kerjanya jual diri. Cepat bayar sisa hutang ayahmu. Aku tak mau hutang ayahmu dicicil lagi. Harus lunas sekarang!" Bu Sulis menantang tatapan tajamnya Zahra. Sungguh ibu paruh baya itu, memanfaatkan keadaan. Agar Zahra dan sang nenek diusir. Sehingga dia bisa menyita rumah. Untuk bayar sisa hutang ayahnya Zahra.


"Sudah, sudah, yang lainnya pulang, bubar.... bubar....!" Pak Jamal, mengusir para warganya agar meninggalkan rumah itu. Sehingga satu persatu-satu, para warga meninggalkan rumah itu. Dan menyisakan Bu Sulis dan sang Sulis, Pak Jamal sebagai Kepling dan satu tokoh masyarakat.


Pak Kepling dan Pak Hamdan, hanya menggeleng melihat kelakuan Bu Sulis. Wanita lintah darat itu memang tak punya hati.


Pak Kepling dan Pak Hamdan selaku tokoh masyarakat. Tidak mengusir Zahra dari kampung. Mereka masih memberi kesempatan kepada Zahra dan sang nenek tinggal di kampung itu. Asalkan kedepannya, memang tidak ada kejadian yang dihebohkan saat ini.


Flashback Of


"Nek, Nenek... Nenek sakit?" Setelah suara gaduh di atas genteng menghilang. Kini perhatian Zahra teralih pada sang nenek yang meringis kesakitan di dalam selimut yang hanya ditutupi sampai perut wanita tua itu. Zahra memeriksa keadaan sang nenek. Menempelkan punggung tangannya di kening sang nenek, dan memeriksa bagian tubuh sang nenek yang lain.


"Nek, Nenek!" Zahra merasa dadanya sangat sesak, sakit dan ngilu. Perbuatan kejinya Rara, sungguh berakibat fatal pada hidupnya. Gara-gara wanita gila itu, hidupnya hancur. Tadinya dia ingin berdamai dengan keadaan. Memaafkan semua perlakuan jahatnya Rara padanya. Tapi, setelah kejadian semalam. Zahra jadi dendam pada Rara. Suatu saat dia akan membalas dendam pada Rara dan sang ayah yang telah menghancurkan hidupnya.

__ADS_1


"Nek, nenek tunggu sebentar ya. Aku akan panggilkan ibu Bidan." Ya di kampungnya Zahra, praktek Dokter jauh. Yang dekat saat ini adalah seorang bidan ya juga membuka praktek.


"Zahra, Zahra.. Gak usah panggilkan Dokter Sayang." Zahra membatalkan niatnya keluar dari kamar mereka. Kembali menghampiri sang nenek yang menatapnya sendu.


"Nenek harus berobat." Kembali memeriksa suhu tubuh sang nenek dengan tangannya. Dan memijat-mijat tangan keriput sang nenek.


"Kamu gak usah keluar rumah. Nenek takut, di luar nanti kamu kena amuk massa lagi. Apa kamu tidak dengar genteng rumah kita sudah dilempari." Ucap wanita tua itu dengan lemahnya. Dia sungguh khawatir pada cucunya itu.


Semalam sesampainya sang nenek di pasar. Tetangganya berjualan, langsung menunjukkan video Zahra. Setelah melihat video dan cerita wanita tetangganya berjualan. Seketika sang nenek merasa lemas tak berdaya. Dia Memang belum tahu apa-apa. Karena Zahra bel cerita mengenai kejadian di hotel. Tapi, sang nenek yakin, cucu nya itu telah dikerjai orang tak bertanggung jawab.


Dia juga menyesalkan keputusan Zahra. Yang tidak mendengar nasehatnya. Sang nenek sempat mencegah sang cucu, agar tidak ikut dalam acara perpisahan Rara itu.


Sang nenek hanya berjualan setengah hari. Dia memilih pulang, karena tubuhnya sudah lemas, karena syok dengan berita yang didengarnya. Sesampainya di rumah, baru juga mendengar sedikit cerita sang cucu tentang kejadian sebenarnya. Para warga sudah datang mendemon rumah mereka.


"Tapi nenek sakit. Mana mungkin Zahra diam saja, nenek harus diperiksa." Sang nenek pun tidak mau berdebat lagi dengan Zahra. Ya dia harus sembuh.


"Baiklah, tapi kamu hati-hati. Sekalian kamu minta tolong sama Bu Bidan, untuk minjam hapenya. Kita harus memberitahu ibumu." Zahra terkejut mendengar ucapan sang nenek. Dia sangat takut untuk memberitahukan semua ini pada ibunya yang sedang merantau di kota. Ibunya itu pasti akan kecewa padanya.


Ponsel sang nenek pun hilang di pasar semalam. Dia tidak konsentrasi lagi saat berjualan, setelah melihat video Zahra. Ponselnya pun raib entah ke mana.


TBC


Mohon dukungan nya dengan like, coment dan vote

__ADS_1


__ADS_2