AKU MADU IBUKU

AKU MADU IBUKU
Keseruan anak ABG


__ADS_3

Rara dibuat insecure melihat kemesraan Ezra dan Zahra. Akankah ia bisa merasakan dicintai, seperti yang dirasakan oleh Zahra.


Astaghfirullah..... Kenapa aku harus iri melihatnya? Ya Allah.... kuatkan imanku. Jaga kekonsistenanku. Aku tak mau lagi iri melihat kebahagiaan orang lain. Mulai dari sekarang, aku tak perlu lagi mengemis untuk dicintai orang, disayangi orang. Harusnya aku bisa menyayangi diriku sendiri.


Rara membathin, matanya yang berkaca-kaca, terus saja melihat sikap romantis sang ayah, saat menemani Zahra di ruang praktek dokter Obgyn. Ia juga ada di ruangan itu. Duduk di bagian pojokan. Walau duduk di pojokan. Ia tetap bisa melihat hasil USG kandungan Zahra. Ia juga memfokuskan kupingnya untuk mendengarkan hasil USG Zahra. Kandungan Zahra sehat. Hanya saja tekanan darah serta HB nya sedikit rendah.


Tentu saja sang ayah terlihat bahagia sekali. Ini adalah anak kandungnya, darah dagingnya. Sedangkan ia hanyalah anak,


Aaaahhkkk...


Rara menghela napas berat. Ia tak sanggup lagi berlama-lama di ruangan itu. Air matanya sudah mendesak keluar. Ia tak bisa menahannya lagi.


Rara pun berlari cepat setelah ke luar dari ruangan dokter itu. Ia memilih pergi ke area parkir, tempat di mana mobil mereka terparkir. Ia memilih pojokan yang tak dilihat orang, untuk meluapkan kesedihannya.


"Kenapa aku lemah begini? kenapa aku ingin disayangi. Bodoh sekali aku!" umpatnya, tak terima dengan keinginan hatinya. Rara kini bergulat dengan batinnya.


Hufftt..


"Tenang Rara, tenang.... Buah jauh - jauh keinginan itu. Saatnya kamu harus menyayangi diri sendiri. Biarkan paman Bimo meninggalkanmu. Toh, ia tak mengharapkanmu." Ucapnya dengan beberapa kali menghela napas. Hingga ia merasa lebih tenang. Ia melap air matanya dengan tisu.


Saat itu juga telepon di dalam tas nya berdering. Dengan terburu-buru ia membuka tas nya dan merogoh ponselnya. Terbersit di hati, kalau yang menelpon adalah Bimo.


Tapi, saat ponsel dalam genggamannya, ia pun melongos, yang menelpon bukanlah Bimo, tapi ayahnya.


"Ya ampun, baru lagi tadi aku niatkan diri, jangan mikir kan paman Bimo. Eehh... malah berharap ditelpon." Ucapnya kesal, menyayangkan dirinya, yang terlalu berharap dengan pria itu.


"Di mana kamu nak?" belum juga Rara mengucapkan salam. Sang ayah terdengar panik menanyakan keberadaannya.


Jelas Ezra panik. Tadi, mereka sama-sama ada di ruangan praktek obgyn itu. Dan tiba-tiba Rara menghilang. Tentu Ezra jadi mikir macem-macem.


"Aku di parkiran ayah, Deket mobil kita " Ucapnya dengan suara dibuat semangat. Padahal siapapun yang mendengar suara itu, pasti tahu sipemilik suara lagi bersedih.


"Oohh... tunggu di situ ya nak." Ezra mengusap dadanya. Kekhawatiran hilang sudah.


***

__ADS_1


"Kita mau makan malam di mana ini?" tanya Ezra dengan bahagianya. Sudah lama dia tak merasakan kebahagiaan seperti ini. Rasanya keluarganya lengkap sudah.


"Kita gak makan di rumah By?" tanya Zahra mendekat kan kepalanya ke kursi kemudi. ya Zahra dan Rara duduk di bangku barisan kedua. Jadinya Ezra, pak supir deh hari ini. Zahra merasa gak enak hati, kalau hanya Rara yang duduk di kursi barisan ke dua.


"Sesekali kita makan di luar dong. Habis itu kita nonton bioskop!" ujar Ezra makin semangat. Yang membuat Zahra dan Rara saling pandang.


Di rumah ada home teather, kenapa mesti nonton ke bioskop segala?


"Hore.....!"


Zahra yang kampungan tentu seneng diajak nonton ke bioskop. Mana pernah dia montok bioskop di kampung. Karena, gak ada. Ke mall aja, gak pernah. Hanya lihat doang dari jalan besar.


Rara tertawa kecil melihat tingkah Zahra yang norak. Namanya juga orang udik.


"Yes...! Yes...!"


Ezra tak kalah semangat nya mendengar teriakan kesenangan Zahra. Sedangkan Rara, hanya dibuat melongok dengan kelakuan ayah dan ibu sambungnya itu. Kenapa jadi seperti anak-anak yang seneng karena dibelikan mainan. Ayah terlihat seperti seusia mereka.


"Kalau gitu, kita makan di mall aja ya, habis makan tinggal nonton deh." Akhirnya Rara buka suara. Mau meramaikan keseruan dalam mobile itu


"Ide yang bagus, jadi kita gak pindah-pindah tempat." Ezra tersenyum penuh kebahagiaan menatap anak ABG di belakang kemudi.


Saat memasuki mall terbesar di kota M itu, Ezra menggandeng kedua wanita itu. Zahra dan Rara. Namanya seperti anak kembar saja ya. Zahra digandeng dengan tangan kanan, sedangkan Rara digandeng tangan kiri.


Rasa kepercayaan diri Rara meningkat drastis, karena suasana hatinya jadi membaik, karena bisa hang out dengan ayah dan ibunya. Sudah lama ia tak seperti ini. Sejak Ezra dan ibunya bercerai. Rara gak pernah lagi jalan bareng seperti ini. Paling hanya makan dan langsung pulang. Gak ada jalan - jalan keliling mall, cuci mata, makan ice cream.


"Eemmm... Kita nonton film action." Tawar Ezra dengan semangat. Zahra tentu saja mau, begitu juga dengan Rara.


adegan fighting yang menegangkan, serta tembak-tembakan, tentu saja sangat menantang dan memacu adrenalin. Zahra dan Rara begitu heboh saat menonton di bioskop itu. Tak bisa dipungkiri, kalau istrinya itu masih kekanak-kanakan. Sama sekali tidak seperti wanita yang mengejar-ngejarnya. Yang bersikap naif dan jaim di hadapannya.


Keseruan menonton bioskop masih terbawa. Zahra dan Rara, masih membicarakan film yang mereka tonton tadi. Suasana di dalam mobil itu jadi ramai. Ezra tak menyangka, wanita yang bermusuhan dan sering adu otot itu kini malah tertawa cekikikan. Membahas cerita Film tadi. Karena ada adegan telor pecah, saat ditendang.


Sesaat Rara melupakan masalahnya. Karena serunya kegiatan mereka malam ini.


"Eemmm... Zahra, ajarin aku ilmu bela diri ya?! ujar Rara, mereka masih di jalan, menuju rumah. Rara sebenarnya juga sangat suka ilmu bela diri. Tapi, sang ibu selalu melarangnya belajar ilmu bela diri. Karena ibunya bilang, ia seorang wanita. Harus lemah lembut dan kemayu. Kalau ia belajar ilmu bela diri. Nanti bawaannya jadi tomboi.

__ADS_1


Rani selalu mengajari Zahra, ilmu kecantikan. Makanya ia memang terlihat cantik dan modis, kulitnya juga putih bersih, karena rutin minum vitamin untuk kulit.


"Emm.. Nanti, kamu bisa minta ajarin suamimu saja Ra. Ibot Bimo, jangan aku dong. Aku kan lagi seperti ini." Zahra menggelendungkan perutnya dengan nyengir.


"Oh iya, aku lupa. Kalau di sini sudah ada adek aku." Rara mengelus perut datarnya Rara. Suasana hatinya sedikit terusik, disaat Zahra menyebutkan nama Bimo. Tapi, ia dengan cepat menguasai hatinya. Ia tak boleh terlihat sedih. Tadi, ia sudah meniatkan dirinya, akan fokus mencintai diri sendiri. Tak perlu lagi mengharap kasih sayang dari orang lain. Baik itu perhatian dan pujian.


"Iya." Zahra tersenyum tipis.


"Apa Bimo ada menghubungi mu Nak?" ujar Ezra, mobil mereka sedang kena lampu merah.


"Gak ayah." Jawabnya pelan, mencoba tegar.


"Dasar anak itu, hapenya juga baru diaktifkan pukul 20.05 win tadi. Pesan yang ayah kirim, baru dicentang biru setelah pukul itu." Ujar Ezra, yang tak ditanggapi oleh Rara.


Membahas Bimo, langsung membuat suasana hatinya memburuk. Sedih rasanya dicampakkan tanpa sepatah kata.


"Besok ayah akan bicara lagi padanya, apa maunya dia." Ezra mendengus kesal, sangat kecewa pada Bimo.


"Sabar...!" Rara menggenggam tangan Rata yang ada di atas paha wanita itu.


Rara mengangguk lemah, membalas senyum tulusnya Zahra.


Selesai membahas Bimo, kini mereka kembali membahas film. Mereka berencana esok mau nonton di rumah saja. Gak perlu lagi ke bioskop. Biar makin seru di dalam ruang home teather. Maka Rara membuat usul, semua ART, ikut nonton bareng mereka. Tentu saja Rara setuju. Zaara orang kampung. Ia tak akan merasa keberatan sama-sama menonton dengan para ART.


Hoooammm...


"Kenapa ya kalau sudah sampai rumah terasa capeknya." Keluh Zahra, setelah turun dari mobil.


Rara yang melihat mobil Bimo terparkir di area parkir rumah itu, tak merespon ucapan Zahra. Pikiran nya kini fokus ke Bimo. Berarti suaminya itu sudah ada di rumah mereka.


Zahra menoleh ke arah Rara yang bengong memperhatikan mobil Bimo.


"Itukan mobil Bimo. Apa kataku dia pasti pulang." Zahra langsung merangkul Rara, menuntunnya untuk masuk ke dalam rumah. Karena saat ini, Rara terlihat ketakutan gitu. Entah apa yang ditakutinya. Seperti nya ia tak siap untuk berhadapan dengan Bimo. Tak siap dengan sikap dingin nya Bimo nanti


TBC

__ADS_1


Like, coment positif dan vote dong


__ADS_2