
"Itu Bim, saya ingin kamu mencari informasi keluarga saya di kampung." Ujar Anin sedih. Mer*mas-re*#mas tangannya, karena wanita itu merasa sedang tidak baik-baik saja saat ini. Dia merasa malu dan tak enak hati pada Bimo, karena meminta bantuan, terkait keluarganya di kampung. Walau Anin sudah jadi istri konglomerat. Sikapnya masih tak berubah. Cara berfikir dan pembawaan masih seperti wanita kampung.
"Iya Nyonya, masalah apa yang bisa saya bantu?" tanya Bimo dengan alis yang bertaut, sungguh dia penasaran sekali dengan masalah yang akan dibahas istri sah Bos nya itu.
"Saya, saya hilang kontak dengan keluarga saya di kampung. Saya jadi kepikiran Bimo. Saya saja menikah, tidak diketahui mereka. Saya sengaja minta tolong padamu. Karena dari sekian banyak pegawainya Abang, hanya kamu yang sesuku denganku." Anindya menghentikan ucapannya, karena suara adzan terdengar merdu di Mesjid.
"Sudah dapat waktu Maghrib. Sebaiknya kita sholat dulu " Anin tersenyum tipis pada Bimo yang penasaran itu. Mereka berdua pun masuk ke dalam rumah. Mereka akan ikut sholat berjamaah di Musholla rumah itu. Ya setiap dapat waktu sholat. Semua penghuni rumah harus sholat berjemaah di Mushollah yang ada di rumah itu. Ezra menerapkan program religi itu setiap rumah yang dimilikinya. Tak jarang, dia akan jadi imamnya, disaat dia berada di rumah.
Setelah sholat Maghrib, percakapan keduanya pun kembali berlanjut di teras rumah bagian samping.
Bimo yang ternyata sudah lapar, melahap roti kering yang ada di dalam toples.
"Abang selalu sibuk, saya gak pernah punya kesempatan bicara mengenai keluarga saya yang ada di kampung." Jelas Anin, memperhatikan Bimo yang terlihat kelaparan.
"Maaf nyonya, emang kampungnya Nyonya di mana?" Bimo memang tidak tahu banyak tentang Anin. Karena yang mengurus pernikahan Anin dan Ezra adalah Dika. Sang asisten pertama. Bimo saja terkejut mengetahui Bos nya tiba-tiba saja menikah dengan Anin, seorang koki di rumah Bosnya.
Anin menyebutkan nama kabupaten kampungnya. Bimo hanya manggut-manggut mendengarnya. Dia sedang menikmati roti kacang kering dari toples.
"Jadi, gimana Bim?" terlihat wajah sang nyonya penuh harap.
"Iya Nyonya, itu gampang. Aku juga butuh alamat lengkap, nama keluarga nyonya di kampung." Mulut Bimo terus mengunyah dan tersenyum tipis pada Anindya yang menatapnya intens.
__ADS_1
Hubungan si Bos dengan Nyonya Anin seperti apa sih? masak Bos besar tidak ingin tahu kabar keluarga istrinya di kampung. Bos itukan orangnya penuh rasa kekeluargaan. Rasa persaudaraannya tinggi . Bimo dibuat bingung dengan sikap Bosnya itu kali ini.
"Makasih ya Bim." Anindya merasa senang sekali. Akhirnya ada yang bisa diminta bantuan.
"Eehhmmm... Tapi, menurut saya. Sebaiknya Nyonya bicara langsung kepada si Bos. Aku takutnya si Bos tersinggung Nyonya." Ujar Bimo, kini menampilkan ekspresi serius. Dia sudah kenyang makan setoples roti.
Anindya langsung lesuh mendengar penuturan Bimo. Dia juga pinginnya seperti itu. Tapi, selalu tak ada waktu untuk mereka bicara banyak. Kemarin ada kesempatan untuk membahas pribadinya. Tapi, mantan istri, suaminya itu malah datang buat rusuh. Jangankan bicara mengenai keluarganya. Malam pertama saja belum pernah. Padahal sudah mau satu Minggu pernikahan.
"Nyonya, bukannya aku tak mau bantu. Tapi, sebaiknya dibicarakan dulu sama si Bos." Bimo jadi merasa tidak enak hati. Istri Bos nya itu, nampak kecewa padanya. Bahkan kini Anindya merengut. Seperti anak kecil yang tak dituruti keinginannya.
Bimo dibuat semakin pusing. Semua istri Bosnya mengeluh dan berharap bantuan darinya. Tapi, saat ini yang akan diprioritaskannya adalah membantu Zahra. Karena, keadaan istri simpanan bosnya itu yang lebih memprihatinkan.
"Abang sibuk sekali Bim. Pergi pagi, pulang tengah malam. Kami mana ada waktu bicara." Anindya terlihat sedih sekali. "Aku gak bisa hubungi anak dan ibu mertuaku, sudah hampir dua Minggu. Aku saja menikah,. mereka tidak tahu Bim. Ingin rasanya aku pulang ke kampung. Aku sangat khawatir pada keluarga ku di kampung Bimo." Kedua mata indahnya Anindya berkabut sudah. Bimo jadi ikutan sedih dengar cerita istri bos nya itu.
"Iya Nyonya, sekalian si Bos ikut ke kampung. Itu baru namanya bagus." Si Bimo memberi saran dan sebuah harapan. Dia tak tega melihat Istri Bos nya itu sedih. Mana mereka satu suku lagi.
"Pinginnya seperti itu Bimo. Tapi, entahlah
Mungkin si Abang, tak ingin kenal dengan keluargaku. Makanya beliau tak pernah menanyakan semua tentang keluarga ku di kampung." Cairan bening yang dari ditahannya, akhirnya tercurah. Wanita itu menangis dengan sedihnya. Yang membuat Bimo semakin tak enak hati.
"Iya nyonya, aku kan bantu. Dan aku akan laporkan keluhan nyonya ini pada si bos." Memberi keyakinan penuh pada Anindya. Saat itu juga, Bimo terkejut merasakan ponselnya bergetar di saku celananya. Saking terkejutnya, dia sampai bangkit dari tempat duduknya. "Panjang umur, si Bos lagi nelpon." Bimo dengan cepat menerima panggilan itu dengan semangatnya. Dia akan melapor sudah ada di rumah.
__ADS_1
"Apa yang kamu lakukan Bimo? kenapa istriku kamu biarkan," Ezra yang kesal pada Bimo, menghentikan Omelannya. " Cepat kamu kesini. Kamu harus jelaskan semuanya padaku!" Bimo terkejut karena suara kerasnya Ezra. Dia pun dengan cepat istighfar dalam hati dan mengusap dadanya yang berdebar-debar, karena takut. Nyawanya sedang dalam bahaya. Bosnya itu sedang marah besar.
"Ii---ya Bos. Sharelock ya Bos." Ucapnya dengan nyali yang sudah menciut.
"Nyonya besar, saya akan tetap bantu anda. Tapi, sekarang saya harus menghadap ke Bos." Ujar Bimo dengan raut wajah was-was nya. Memeriksa ponselnya, Ezra sudah mengirimkan dimana saat ini dia berada.
"Abang kenapa? apa ada masalah?" tanya Anin dengan penasarannya.
"Sepertinya begitu Nyonya. Saya pamit..!" Bimo berlari dengan kencangnya menuju mobilnya di parkiran. Dia pun tancap gas alamat yang dibagikan oleh Ezra.
"Istriku..? istriku? tadikan Bis katakan istriku? istri yang mana yang dimaksud si Bos ya? istri tua atau istri muda?" Bimo bermonolog, bingung dengan ucapan siBos yang kurang jelas tadi.
"Aku kan tadi sedang dengan istri tua nya. Gak mungkin juga dia bahas istri tua. Astaga....!" Bimo memukul jidatnya dengan kuatnya. Dia baru ngeh, pasti yang dimaksudkan si bos, si istri muda.
"Apa si Bos menemukan Non Zahra. Jadi Non Zahra tidak diculik si bocah tengil itu?" Bimo tak henti-hentinya bermonolog.
"Kenapa si Bos pergi ke vila?" ucapnya lagi tancap gas, menuju Vilanya Ezra yang ada di daerah Brastagi.
TBC
Ayo dukung novel ini dengan memberikan like, content dan vote. Karena, diakhir pekan kita akan berikan give away
__ADS_1