AKU MADU IBUKU

AKU MADU IBUKU
Balon kembar


__ADS_3

Zahra terbangun karena merasakan perutnya mules. Dia buru-buru masuk ke kamar mandi, dan mengeluarkan tinjanya yang encer dan membuat perutnya sangat sakit.


"Aku mencret." Ucapnya lirih melap keringatnya yang sebiji jagung yang sudah membasahi wajahnya. Rasanya sangat sakit sekali. Semua tubuhnya terasa remuk redam.


"Wa, Halwa....!"


Ezra mengetuk pintu kamar mandi itu dengan tidak tenangnya. Dia sangat mengkhawatirkan istrinya itu.


"Iya By. Masuk aja!" ujarnya lemah, pintu kamar mandi kan gak dikunci. Hanya ditutup saja.


Ezra masuk dan melihat sang istri sedang mencuci mukanya di atas wastafel.


"Kenapa sayang?" pria itu mengusap lembut kepala Zahra dan merapikan anak rambut istrinya itu ke daun telinga sang istri.


"Aku mencret By." Ucapnya lemah, perut kembali terasa sakit. Zahra menepis tangan Ezra, wanita itu masuk lagi ke toilet


Ezra semakin dibuat tidak tenang. Apa gara-gara masakannya? atau karena telat makan malam? tapi kan perut mereka sudah diisi saat Ezra memasak.


Huekk


Hueekk


Hueekk


Selain mencret, istrinya itu juga ternyata muntah.


"Wa....!' Ezra yang tak tahan mendengar sang isteri munmen (muntah mencret) itu menerobos masuk ke dalam toilet.


"By keluar.... keluar..!" Zahra malu, kenapa pula suaminya itu menyusul nya ke dalam. Kan bauk, memang kotoran Zahra sangat bauk dan amis. Dia seperti nya masuk angin. Makanya mencret.


"Sana By, keluar!" teriak Zahra, wanita yang masih muntah itu, membersihkan cepat anusnya. Dia sangat malu sekali pada Ezra.


Ezra bukannya pergi, malah membantu Zahra bersih-bersih. Bahkan pria itu memandikan Zahra dengan air hangat. Akhirnya Zahra pasrah saja. Dia memang sudah lemas. Dan ajaibnya setelah mandi air hangat Zahra merasa sedikit baikan.


Zahra merasa terharu dengan perhatian Ezra yang penuh kasih sayang itu. Wanita yang lemas itu, pasrah saja, saat Ezra melumuri tubuh nya dengan minyak kayu putih. Kemudian membantunya berpakaian. Zahra merasa sangat canggung, saat Ezra membantunya berpakaian. Semua lekuk tubuhnya sudah dilihat suaminya itu. Bahkan bauk pup nya juga sudah dihirup suami nya.


Ciihh....


Apa Ezra gak jijik.


Oh my god


"By, terimakasih..!" ucap Zahra dengan perasaan terharunya.


Ezra mengecup kening istrinya itu. "Terima kasih untuk apaa sayang?" tanyanya yang membuat Zahra bingung.


"Ya untuk semuanya, Hubby membuatku jadi teringat almarhum ayah. Ayah juga akan seperhatian ini jika aku sakit." Ucapnya dengan mata berkaca-kaca.

__ADS_1


Ezra tersenyum tipis. Dia merasa bahagia melakukan itu semua pada Zahra. "Sudah tugas suami, mengurus istrinya sayang. Kalau anak gadis belum menikah ya tanggung jawab ayahnya. Kalau sudah menikah tanggung jawab suaminya." Ezra meraih jemari Zahra yang masih terasa dingin itu. Dan menciumnya lembut. "Adek masuk angin ini!"


"Iya By." Jawab Zahra, buru-buru menyembunyikan dirinya dibalik selimut. Setelah Ezra terlihat cekatan merawatnya.


Ya keihklasan seorang suami diketahui saat istri sedang sakit.


Ezra kini menghubungi dokter Adel, padahal masih pukul 5.45 pagi. Dua kali panggilan gak diangkat. Dia pun akhirnya memutuskan untuk mandi dan sholat subuh.


***


Hari ini Ezra tak pergi ke kantor. Dia di rumah menemani Zahra, kalau ada hal penting mengenai pekerjaan, maka asisten Dika yang handle. Zahra sudah merasa baikan, setelah minum obat yang disarankan Dokter Adel. Ternyata sebagian wanita hamil, bisa kena mencret, karena pengaruh hormon kehamilan yang meningkat drastis.


"By sudah dong mijit kakinya." Ujar Zahra lembut, dia merasa sungkan pada suaminya itu. Sudah hampir satu jam Ezra memijat tubuh sang istri. Dan bagian kakilah yang paling lama dipijat pria itu. Karena saat ini kakinya Zahra terasa dingin.


"Apa gak pegal lagi sayang kakinya?" ujar Ezra dengan penuh tatapan cinta. Zahra mengangguk pelan. Sebenarnya kakinya masih terasa ngilu. Tapi kan gak mungkin juga Ezra akan memijat kakinya seharian.


"Harusnya hari ini aku ke sekolah By, ikutin ujian nasional." Raut wajah Zahra terlihat sedih. Bagaimana pun dia kangen juga pergi ke sekolah. Ini sudah tiga Minggu dia tak ke sekolah.


"Kamu masih sakit sayang, ujian nasional susulan ada koq." Jawab Ezra, kini berbaring di sebelah Zahra yang duduk bersandar di headbord tempat tidur. Pria yang lagi bahagia itu mengusap-usap lembut perut Zahra yang datar. Sungguh kekakuan Ezra membuat canggung Zahra. Dia yang polos, belum terbiasa bermesraan.


"Hubby yakin, kita akan punya anak laki-laki." Ujar Ezra menatap Zahra yang terlihat kikuk. Apalagi pria itu pelan-pelan mengangkat kepalanya dan membuat paha Zahra sebagai bantalnya. "Kalau Hubby tidur di sini, kamu merasakan sakit gak sayang?" ujarnya dengan hati-hati, dia ragu juga mendaratkan kepalanya di paha Zahra. Secara istri nya itu lagi gak enak badan.


"Gak by, gak sakit " Ucapnya tersipu malu. Kenapa bermesraan seperti ini rasanya buat senyum terus ya?


Melihat sang istri tersipu malu, membuat perasaan Ezra senang. Kedekatan mereka ini sangat mendebarkan.


"Adek pingin anak cowok atau cewek?" ujar Ezra lagi, meraih tangan sang istri dan menempatkannya di kepalanya. Mengajari sang istri membelai kepala nya itu. Sontak Zahra dibuat kaget dengan kelakuan suaminya itu


Dengan tersipu malu, Zahra mulai mengusap-usap lembut kepala sang suami yang rambutnya cepak itu. Rasanya membahagiakan sekali. Rasa sakit di sekujur tubuh hilang sudah. Mencret Pun sudah mampet. Yakinlah, datangnya penyakit dari pikiran kita. Kalau pikiran kita tenang, ikhlas, sabar, pasti jauh dari penyakit. Kuncinya pikiran dan hati yang bersih.


"Mau anak cowok atau cewek SMA aja Hubby, yang penting sehat, jadi anak yang baik ya harus lebih baik dari orang tuanya." Ujar Zahra, tak mau muluk-muluk. Dia tak menargetkan untuk hamil. Jadi, apapun jenis kelamin dari anaknya dia terima saja.


"Semoga kita dapat anak yang Sholeh dan Soleha ya sayang! Kita kan selalu membaca doa, saat mencetaknya." Ujar Ezra tersenyum menyeringai.


Eehmmm...


Zahra menjauhkan tangan sang suami yang mulai nakal ke gunung kembar.


"Makin padat dan besar ya dek?"


"Iihh... apaan sih, jangan mancing-mancing!' ujar Zahra tersipu malu. Kalau gundukan itu disentuh, dia pasti menggelinjang. Entah kenapa bagian itu sangat sensitif sekarang.


"Masak dipegang saja gak boleh sih?" keluh Ezra ngambek.


"Iihhh By, nanti jadinya itu juga. Iihh lagi malas mandi lagi. Lagian, baru juga enak an ni badan, sudah digempur lagi."


"Siapa yang mau gempur in adek. Hubby hanya mau memainkannya saja. Merang sang nya agar nanti air susunya banyak. Dari Sekarang harus diplintir plintir." Ujar Ezra tersenyum kecil. Hatinya sudah tertawa terbahak-bahak sekarang. Istrinya itu polos banget. Dibilangin seperti itu, Zahra terlihat berfikir keras.

__ADS_1


Memang sih yang dikatakan Ezra ada benarnya. Pucuk dari gunung kembar itu harus dirang sang sejak dini.


"Anak kita nanti harus ASI Eksklusif!" ujar Ezra semangat.


"Iyakah, Aby gak takut badan adek jadi jelek karena anak kita asi ekslusif?" sahut Zahra menikmati plintiran sang suami. Matanya kini merem melek yang membuat Ezra senyam senyum melihatnya. "Iya itu, punya adek ini bayi jadi kendor dan tak menarik lagi. Kalau menyusui."


"Itu mitos sayang. Menyusui gak buat kendor nen nen adek. Emang sih, ukurannya makin besar karena ASI nya. Kulitnya jadi meregang. Tapi gak jadi kendor koq. Kalau nanti kendor kita operasi aja. Itu mah gampang.... Bila perlu nanti kita buat sebesar balon."


Hahhaahha ..


Ezra tertawa puas, lucu kali ya Zahra yang imut punya gunung kembar sebesar balon.


"Iihh.... apaan sih? ngeledek?" Zahra kesal, emang dia bahan lelucon. Dia menepis kuat tangan Ezra yang memainkan gundukan itu.


"Marah? koq cantik. banget sih kalau marah?" Ezra mentoel hidung Zahra.


"Apaan sih?" Zahra mengangkat pahanya kuat, hingga kepala Ezra terjatuh ke atas ranjang. Pria itu mendudukkan tubuhnya. Sedangkan Zahra kini duduk bersila.


"Aakkkhh... gara balon ini?" ujar Ezra melirik Zahra yang cemberut. "Kita ke taman saja, kalau di kamar terus bahaya!" Ezra turun dari ranjang. Menjulurkan tangan nya kepada Zahra.


Zahra masih cemberut.


"Ya sudah gedong belakang." Ezra duduk di tepi ranjang meminta Zahra naik di punggungnya.


Dengan tersenyum tipis, Zahra naik di punggung lebar sang suami.


Dert


Deret


Dert


Langkah Ezra harus mundur, karena ponselnya yang ada di atas nakas tak henti-hentinya berdering.


"Bimo? apalagi anak ini?" ujarnya kesal, dia sudah perintahkan agar jangan mengganggunya sampai Zahra sembuh total.


"Ada apa bim?"


"Apa..?"


"Bawa ke rumah lama saja, jangan ke rumah ini!" tegas Ezra.


Ternyata Bimo melaporkan bahwa masa rehabilitasi Rara sudah selesai. Dan Rara sudah boleh pulang ke rumah, dan tetap dalam pengawasan.


Pihak rehabilitasi menyampaikan kabar mendadak. Kondisi Rara sangat signifikan berubah. Makanya Hanya tiga minggu direhabilitasi dia sudah boleh pulang.


Ezra begitu kecewa pada putrinya Rara. Makanya dia memberikan semua urusan pada asistennya. Satu kasus yang membuat Ezra kecewa betul pada putrinya itu. Yaitu Rara yang ingin menghancurkan Zahra.

__ADS_1


TBC.


Like, comen positif vote, hadiah dukungan. Raih give away pulsa 20 RB di akhir pekan say 🙂🙏❤️


__ADS_2