
"Bimo ..Bimo... Tolong.... Tangkap Dia..!' Rara menunjuk ke arah Zahra. Auto Bimo dibuat terkejut melihat dua wanita di hadapannya. Ada Zahra istri sang bos dan wanita yang dicintainya.
"Bimo... Kenapa diam saja, panggil polisi tangkap mereka. Pak satpam, ayo tangkap kedua wanita ini..!" teriak Rara, tak kunjung melihat pergerakan dari Bimo. Akhirnya Rara menarik pak satpam restoran agar mengamankan Zahra.
Pak Satpam yang tidak tahu persoalan itu pun mendekati Zahra dan Anin. "Ayo Bu kita ke dalam dulu, kami perlu mengetahui duduk perkaranya. Dan nona juga harus ikut. " Titah pak satpam kepada Rara yang masih seperti setan ngamuk itu.
"Aku gak mau, dia yang salah, tangkap mereka pak." Cecar Rara, dia pun akhirnya memukul lengan Bimo yang masih syok. Kenapa pertemuan Zahra dan Rara seperti ini.
"Pak, pak, sebentar ini masalah sepele. Hanya pertengkaran anak dan ibu saja. Aku bisa menyelesaikannya. Maaf... Maaf... Telah mengganggu kenyamanan pengunjung lainnya." Ujar Bimo dengan sopannya. Mengatupkan kedua tangannya kepada pengunjung restoran yang masih berkerumun.
Pak satpam akhirnya membubarkan massa yang sempat menonton keributan itu.
"Ayo Ra, kita pulang!" Anin menarik lengan sang putri yang masih menantang tatapan Rara. Dia juga belum puas melampiaskan kesalahannya pada Rara. Tapi, dia tak mau mempermalukan diri sendiri dengan jadi bahan tontonan orang.
Saat Zahra dan Anin berbalik badan. Bimo dengan cepat menahan langkah keduanya. "Ra, ku mohon, jangan ceritakan ini sama bos." Pinta Bimo dengan sedihnya. Rara belum stabil mentalnya, kalau Ezra mengetahui masalah ini. Rara pasti kena marah.
"Aku bukan pengadu." Ucapnya dengan ekspresi wajah tak bisa dibaca.
"Bimo... Kenapa kamu gak lepaskan mereka. Aku masih ingin menghajarnya." Ujar Rara kesal pada Bimo, yang terlihat seperti membela Anin.
"Kamu takut kepada istri mudanya ayah itu? haahh....!" cecar Rara lagi, yang mengira Anin masih istrinya Ezra. "Aku gak mau punya mama tiri seperti itu. Itu adiknya musuh bebuyutanku!" ucapnya lagi dengan kesalnya.
Bimo yang menyeret tangan Rara menuju parkiran, dibuat pusing dengan ocehannya Rara.
"Aku akan bilang sama ayah untuk ceraikan Mak lampir itu. Aku tak sudih, punya saudari tiri seperti Zahra. Dia itu jahat, semua yang kuinginkan direbutnya. Ferdy juga direbutnya.." Kini Rara sudah menangis histeris di dalam mobil. Bimo masih memilih untuk diam saja. Setelah sampai di rumah dia akan mengatakan fakta sebenarnya. Agar anak tak tahu diri ini sadar.
***
__ADS_1
"Sayang... Kamu masih perlu bersikap lebih dewasa dan sabar. Tak seharusnya tadi kamu menendang nya seperti itu." Ujar Anin lembut, memijat kaki Zahra yang sedikit bengkak di area matahari kakinya. Zahra kini tengah berbaring sedih di atas ranjangnya.
Sontak Zahra mengubah posisinya jadi terduduk dia terkejut mendengar ucapan sang ibu, yang seolah memihak Rara.
"Dia yang memulai Mak. Dia mendorongku, kakiku sampai keseleo ini." Air mata yang dari tadi berusaha ditahannya, akhirnya tumpah tak terbendung lagi. Tiba-tiba saja dia merasa sedih sekali. Kenapa ibunya memihak Rara.
"Iya, tapi tak seharusnya tadi kamu menendangnya sekuat itu. Kalau organ dalamnya ada yang cidera bagaimana?'
"Mak...!" Zahra tak tahan lagi. "Aku benci dia Mak, dia yang membuat hidup Zahra yang menderita. Gara-gara dia Zahra dikucilkan di sekolah. Dia menyogok semua teman Zahra, agar menjauhiku. Gara-gara dia aku dan nenek diusir orang dari kampung. Aku hampir saja dinikahkan dengan germo. Mak.... Rasanya sakit sekali jika mengingat masa-masa itu."
Anin terperanjat mendengar ceritanya Zahra. Dia tahu cerita putrinya itu. Tapi, kenapa cerita itu diulang lagi dan terdengar sangat menyayat hati.
"Iya sayang, iya. Maaf Mak pikir kamu sudah melupakan semuanya dan benar-benar memaafkannya. Iya, iya sudah...!" Anin menenangkan Zahra yang emosional.
Sebenarnya Anin ingin memberi pengertian pada putrinya itu. Karena saat ini, dia sudah jadi ibu sambungnya Rara. Kalau mereka tak akur, bagaimana kedepannya rumah tangga yang akan di binanya, tentu akan seperti neraka. Anin berharap Zahra bersikap lebih dewasa daripada Rara.
"Eemmm.... Gak baik memutuskan sesuatu saat emosi. Jangan umak dengar kamu bilang seperti itu lagi. Bisa naas sayang, ingat ucapan itu doa." Anin masih saja memijat kaki Zahra. Putrinya itu masih cemberut saat ini. Sungguh bertemu dengan Rara merusak mood nya.
"Iya mak." Ujarnya lembut, dan langsung memeluk ibunya itu.
"Iya sudah, umak balik dulu. Sudah mau magrib " Anin yang masih merasa sungkan bertemu dengan Ezra. Memilih cepat pulang, sebelum Ezra sampai di rumah.
"Umak selalu seperti itu, menghindar terus... Sampai kapan Mak?"
"Sampai... Sampai jumpa lagi..!" Anin malah berlari meninggalkan Zahra dengan tertawa kecil. Dia tak mau dengar celotehan Zahra yang seperti mengejeknya soal hubungannya dengan Ezra yang masih renggang itu.
Sepeninggalan sang ibu, Zahra masih betah di atas ranjang empuknya. Berbaring dengan terlentang, dengan tangan mengelus lembut perut datarnya. Matanya menerawang menatap langit-langit kamar yang diukir indah. Sekilas pertemuannya dengan Ezra melintas dipikirannya. Dia tak menyangka ulah jahatnya Rara, malah mengantarkannya berjodoh dengan pria matang itu.
__ADS_1
Kalau dipikir-pikir, perbuatan jahatnya Rara. Seperti sebuah keberuntungan buatnya. Hidupnya berubah jauh lebih baik sekarang. Dia sudah jadi orang kaya. Punya tambang emas sendiri dan juga banyak uang yang diberikan sang suami tak kalah banyaknya. Dia saja samlai bingung dengan jumlah uang dalam tabungannya. Mana rumah yang ditempatinya kini juga sudah atas namanya. Rumah megah, yang sebagiannya terbuat dari emas. Mana sampai saat ini Ezra memperlakukan nya sangat baik dan terlihat begitu mencintainya. Haruskah dia membenci Rara?
"Ya Allah.... Terimakasih atas nikmatmu ini. Benar kata ibu, tak seharusnya aku bersikap kasar pada Rara. Karena ia sekarang sudah jadi anakku." Ujar sendiri dengan kening mengerut. Membayangkan punya anak edan seperti Rara membuatnya mau muntah.
Hihihi...
"Aku sudah punya anak gadis." Zahra koq merasa lucu, membayangkan Rara jadi putrinya.
Tapi, seketika raut wajah senang itu mendadak murung. Ketika mengingat kelakukan jahatnya Rara.
"Astaga.... Kenapa susah sekali sih jadi orang pemaaf." Ujarnya beranjak dari atas ranjang dengan kesalnya. Dia ingin memaafkan Rara. Tapi, entah kenapa rasanya sangat berat.
"Sebaiknya aku sholat saja. Sepertinya Hubby gak sholat magrib di rumah." Ujarnya berjalan malas ke kamar mandi untuk berwudhu.
Selesai berwudhu, Zahra yang keluar dari kamar mandi dikejutkan oleh Ezra yang berniat memeluknya.
"Iihh.... By jangan sentuh aku. Aku sudah berwudhu." Ujarnya dengan perasaan geli, melihat kelakuan Ezra yang siap menggelitik nya. Belum digelitikin saja dia sudah merasa geli. "Lagian kenapa mau gelitikin aku. Hubby lupa ya, ada anak kita di sini!" tegas Zahra lagi sambil menjauh dari tangan Ezra yang selaku mau nyosor menyentuh pinggangnya.
"Hubby gak lupa sayang, habis Hubby gemes sama kamu. Kangen..!" Ujar Ezra terus saja melangkah maju mendekati Zahra.
"Acara kangen-kangenan nya nanti habis sholat. Sekalian adek mau bahas sesuatu. Cepat sama berwudhu!" seru Zahra pada Ezra dengan muka masamnya.
Ezra pun akhirnya menuruti perintah sang istri, masuk ke kamar mandi untuk bersih-bersih dan berwudhu. Sedangkan Zahra masuk ke ruang sholat yang ada di kamar itu. Dia akan membaca Alquran sembari menunggu Ezra.
TBC
Like, content dan vote say.
__ADS_1