AKU MADU IBUKU

AKU MADU IBUKU
Meresahkan


__ADS_3

“Bos, apa kita ke rumah Nenek  pagi ini?” tanya sang asisten Dika pada Bosnya Ezra dengan hati-hati. Dia takut, pertanyaannya salah lagi.


“Iya Dika… Kita kan harus jemput putriku.” Jawab Ezra santai, memeriksa file hasil pertemuannya tadi malam, yang baru disodorkan sang asisten. Pertemuan itu tidak mendapatkan kesepakatan yang baik, makanya Ezra dijebak malam itu.


“Tapi tuan Non Rara sudah ke kota Medan. Dia tidak di rumah nenek lagi.”


“Apa..?” Ezra kaget, saking kagetnya, pria itu langsung menutup berkas yang dari tadi dibacanya. Otot rahangnya mengeras, karena kesal pada sang putri. Dia sudah memberi ultimatum pada putrinya itu, agar nurut padanya, tapi tetap gak mempan juga. Dan sekarang putrinya itu malah pulang duluan.


“Aku yakin, ada masalah baru yang dibuatnya. Hubungi dia sekarang..!” titah Ezra pada sang asistennya Dika. Ezra yang kesal akhirnya menghela napas dalam, dia bisa gila memikirkan putrinya yang tidak bisa


dibilangin itu. “Dasar anak tak tahu diri, kelakuan sama saja dengan ibunya.


Tahunya buat masalah saja.” Ezra berdecak kesal, mengusap wajahnya kasar.


Karena setres memikirkan putrinya itu.


Dika pun akhirnya melakukan panggilan pada Rara. “Bos ponsel non Rara gak bisa dihubungi.” Laporan dari Dika membuat Ezra makin tidak tenang.  Dia lagi-lagi menghela napas kasar. Mengelus dadanya yang terasa sesak, karena emosi. Menjaga satu anak


gadis, susahnya minta ampyun.


“Kapan dia melapor padamu?” melirik sang asisten yang duduk di sebelahnya dengan kesal.


“Shubuh tadi Bos.” Jawab sang asisten datar. Tidak berani menatap Ezra yang terlihat kesal itu.


“Apa semua urusan tentang pindahnya sudah kamu bereskan?”


“Sudah Bos.” Jawabnya sopan dan tegas. Kini sang asisten melirik-lirik Bos nya yang nampak kesal itu. Ezra terlihat sedang berfikir


dengan tangan kanan yang mengelus-elus dagunya yang sudah ditumbuhi jambang


tipis itu.


“Batalkan kepindahannya ke luar negeri. Masukkan saja dia ke sekolah pesantren. Atau Bording school.”


“Bos yakin, nona Rara setuju dengan keputusan Bos itu?”tanya Dika.


“Dia harus setuju. Blokir semua akses keuangannya.” Tegas Ezra.


“Baik Bos.”


Ezra yang tidak tenang itu berulang kali menghela napas dalam, dengan membuang pandangan keluar kaca jendela mobil. Dia merasa kecewa dengan dirinya sendiri. Setelah bercerai dengan sang istri. Dia memilih untuk tidak menikah, karena tak ingin membagi kasih sayangnya dengan sang putri. Tapi, lihatlah


hasilnya sekarang. Dia yang terlalu memanjakan putrinya itu, akhirnya jadi

__ADS_1


boomerang untuknya sendiri.


 “Satu lagi, Kita harus hati-hati pada perusahaan CORN, perusahaan itu ada niat buruk pada perusahaan kita.” Ezra bicara dengan tatapan sinis. Dia bersyukur, tadi malam tidak terjadi apa-apa padanya.


“Iya Bos. Maaf saya kurang hati-hati, tadi malam. Akhirnya Kita kena jebak.” Ezra menoleh cepat kepada Dika. Penasaran dengan kalimat selanjutnya yang akan diucapkan pria itu.


”Setelah pertemuan itu selesai, mereka telah menjebak kita Bos, sepertinya mereka telah mencampurkan minuman kita dengan obat perangsang.”


“Kamu juga kena?” tanya Ezra dengan wajah terkejutnya.


“Iya Bos, tapi kan aku minumnya sedikit. Bos yang kemarin minumnya banyak sekali. Aku saja, begitu khawatir melihat keadaan Bos.” Menatap sang Bos dengan tersenyum tipis. “Sepertinya Bos harus segera menikah lagi.” Dika berbisik dengan senyum jahilnya. Ezra menimpuk kepala sang asisten dengan


keras. Dia kesal pada sang asisten yang ceroboh.


“Aku harap, kecerobohanmu itu tidak membuat masalah.” Ezra menggeleng dan berdecak kesal, menyayangkan kecolongan yang dialami mereka.


“Tidak akan Bos. Karena, disaat aku mengantarkan Bos ke kamar. Aku langsung mengunci kamar itu dari luar. Terus kunci kamar aku bawa ke


kamarku.”


“Kamu bilang pintu kamar kunci dari luar, terus kamu bawa kunci ke kamarmu? Lalu, kenapa bisa pintu kamarku terbuka tadi pagi. Siapa yang membukanya? Haa..hhhh?” Masih melotot pada sang asisten yang terlihat bingung


mendapati pertanyaan seperti itu.


menggaruk kepalanya yang memang jadi gatal, karena memikirkan banyaknya kejadian yang tak terduga terjadi pada malam itu.


“Aku tidak mau tahu, kalau timbul masalah yang fatal. Kamu harus bertanggung jawab.” Telunjuknya Ezra mengacung memberi peringatan. Sang asisten hanya bisa mengangguk lemah. Dan keduanya pun kini terdiam, menatap lurus ke badan jalan, yang sebentar lagi akan sampai ke rumah ibunya Ezra.


***


Jreng..


Jreng…


“Siang ini sangat panas, energiku sudah banyak terkuras, bagaimana denganmu?


 Nikmatilah makan siangmu dengan baik, dan isi ulang lagi tenaga yang sudah terkuras.


  Selamat menikmati makan siang pelanggan kami tersayang.


 Jreng.. Jreng…!”


suara cemprengnya Ferdy, sukses membuat para pembeli tertawa terpingkal-pingkal, saat makan di warung nya zahra. Nada lagu yang dinyanyikannya sangat aneh tapi menghibur. Sehingga dengan adanya Ferdy hari ini sangat

__ADS_1


membantu mereka berjualan. Dagangan mereka sudah ludes. Padahal, masih pukul


tiga sore. Biasanya juga, pukul lima sore belum habis. Sang nenek juga sudah tidak kesal lagi pada pria itu. Karena dia lihai dalam mengambil hati orang, apalagi mengambil hati sang nenek, itu kecil buat Ferdy yang punya kepribadian


lucu dan supel itu.


Saat ikut tertawa dengan para pembeli, ponselnya Ferdy bergetar di saku celananya. Pria itu pun langsung menjauh dari warung neneknya Zahra. Dia memilih pergi ke Musholla yang ada di pasar tradisional itu untuk melihat pesan yang masuk ke ponselnya. Sesampainya di teras mushollah. Ferdy dengan tidak sabaran membuka aplikasi WA nya. Matanya membulat penuh, betapa terkejutnya dia melihat hasil CCTV yang dimintanya dari karyawan hotel mereka.


Saking terkejutnya, Ferdy sampai merasa kesusahan  bernafas saat ini. Karena, tertawa terpingkal-pingkal melihat aksi Zahra yang menghajar Rara di lorong Hotel.


"Hahahhahaa...." Ferdy semakin mengencangkan tawanya. Syukur Mushollah sudah sepi Karena sudah habis waktu sholat Dzuhur. Sehingga dia bisa tertawa lepas, hingga puas.


"Aku memang tidak salah pilih. Kamu memang wanita hebat Zahra." Ferdy semakin kagum pada Zahra yang pemberani dan kuat.


Saat Ferdy asyik menikmati tontonan seru di layar ponselnya. Seperti menonton smacdown saja. Lagi-lagi ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk ke ponselnya. Karena penasaran, Ferdy dengan cepat membukanya.


Wajahnya yang memerah karena tertawa terbahak-bahak itu, kini berubah sudah jadi tegang. Karena melihat isi pesan yang masuk itu.


"Fer, kamu salah mencintai wanita. Ini kelakuan wanita yang kamu puja itu. Dia itu sering jual diri. Kalau gak jual diri, mana mungkin dia bisa bayar hutang ayahnya yang ratusan juta itu." Itulah isi pesan yang dikirimkan oleh Rara, pada Ferdy. Di selipkan video panas Zahra dan Ezra, dua detik. Disaat Zahra sempat terhanyut, saat Ezra menyentuhnya, karena birahinya sempat memuncak. Terus kumpulan foto-foto Zahra yang terlihat menikmati permainan panas.


Begitu pandainya Rara, men cut potongan video jadi gambar yang terlihat sangat menikmati penuh gairah.


Saat Rara dan Zahra masuk ke kamar hotel itu, dia sengaja memasang camera di kamar itu. Karena memang Rara ingin menghancurkan Zahra. Sempat dia kecewa dengan hasil kerja kerasnya. Karena, pria yang bersama Zahra adalah sang ayah. Tapi, bukan Rara namanya. Kalau tidak bisa memutar otak, agar rencananya berhasil.


Kartu kredit dan ATM yang diblokir sang ayah tadi pagi. Membuatnya dongkol dan membenci sang ayah. Dia akan memanfaatkan video syur ayahnya itu, untuk memeras sang ayah.


"Astaghfirullah.... Benarkah pesan yang dikirim oleh Rara ini?" Ferdy bermonolog dengan tidak percayanya. Dia pun teringat dengan Zahra yang tidak mau bercerita padanya tadi malam.


"Tidak mungkin Zahra seperti itu. Dia pasti dijebak oleh Rara. Aku yakin itu. Shiitt.,!' umpatnya penuh kekesalan. Bisa-bisanya Rara membuat Hotelnya sebagai tempat yang tidak baik.


Ferdy benar-benar syok dan tidak sanggup melihat video Zahra yang dikirimkan oleh Rara, bersama dengan seorang pria di kamar hotel itu. Ferdy yang tidak mengenal pria dalam video itu, akhirnya melakukan panggilan pada karyawan Hotel. Meminta data orang yang menginap di kamar itu.


Ferdy yang kesal karena melihat video yang menjijikkan itu, berulang kali beristigfar dalam hati. Dia akan menanyakan ini semua pada Zahra. Agar hatinya bisa tenang. Karena, dia sempat terpengaruh dengan isi pesan dari Rara.


Wajah tampannya semakin memerah, karena menahan emosi. Sibuk menduga-duga, benarkah Zahra seperti itu? Pati tidak benar. Kasihan sekali Zahra telah dijebak. Ferdy semakin dibuat pusing, karena asyik menebak-nebak.


Dia harus mengusut ini. Dia tidak akan tenang, kalau semuanya tidak jelas. Lihat saja, kalau Rara terbukti menjebak Zahra. Dia akan tidak melepaskan wanita gila itu, dia akan memberi perhitungan pada Rara. Dia yakin, Rara lah yang jadi dalang semua ini. Tidak mungkin Zahra seperti itu.


Ferdy tidak akan melepaskan pria yang berusaha menodai Zahra. Dia akan mengusut tuntas kasus itu. Wanita yang sangat dicintainya dilecehkan. Oh… itu tidak bisa..!


Suasana hati Ferdy berubah drastis setelah melihat video itu. Selain kasihan pada Zahra, karena dilecehkan. Dia juga jadi penasaran dengan Zahra, Karena mata sucinya terlanjur melihat tubuh polosnya Zahra yang sangat menggoda itu. Otaknya jadi korslet, sehingga kini otaknya itu sudah traveling membayangkan dirinya dengan Zahra memadu kasih. Dia jadi terangsang, karena melihat video itu.


TBC.

__ADS_1


__ADS_2