
"Bukan anak kandungnya? maksudnya apa ya Bim?" ujar Zahra, yang ternyata sudah ada dibelakang mereka dengan ekspresi wajah penasarannya.
Bimo tertegun, memutar lehernya ke arah suara yang dikenalnya. "Zahra, kamu di sini?"
Zahra yang penasaran dengan kalimat yang didengar tentang Rara, berjalan cepat ke arah Bimo dan Anin yang duduk di sofa.
"Bener Rara bukan anaknya Hubby?" tanyanya kini memegang lengan Bimo yang masih tertegun. Bimo tiba - tiba saja merasa tak enak hati. Seperti nya mulutnya terlalu lancar membahas Rara.
"Ibot, aku tadi gak salah dengar kan?" Zahra menatap lekat Bimo penuh intimidasi. "Rara bener bukan anaknya Hubby?"
Bimo tercekat, apakah dia akan kena marahi si bos. Karena dia terlalu lancang membahas Rara. Ezra saja masih menutupi prihal Rara.
"Ibot,.. Koq malah diam? rahasia apa yang ingin kamu sembunyikan dari saya? aku tadi sempat dengar, ibot bilang, Rara bukannya anaknya Hubby? benar kah itu?" Zahra sungguh tak sabar mendengar jawaban dari Bimo. "Bot ...!" desak Zahra menggoyang lengan Bimo. Sungguh Zahra sangat penasaran mengenai Rara saat ini.
Bimo yang tak tahan didesak terus akhirnya mengangguk pelan. "Iya, Rara itu tidak anak kandungnya Bos."
"Apa ..?" Zahra dan Anin sama-sama terkejut.
Zahra sampai bengong mendengar ucapan Bimo. Dia bahkan kini menutup mulutnya yang menganga dengan telapak tangannya. Wanita yang terkaget-kaget itu, memasrahkan tubuhnya bersandar di sofa. Sungguh fakta baru yang didapatkan ini membuatnya sedikit legah. Setidaknya, dia bisa menekan Rara. Jika anak itu masih ingin terus menindasnya.
__ADS_1
"Apa Rara tahu bahwa dia bukan darah dagingnya Ezra?" kini Anin yang jadi kepo, bagaimana pun dia ingin putrinya Zahra merasa aman dan baik-baik saja dalam keluarga itu mengingat Rara adalah musuh bebuyutan putrinya.
Bimo menggeleng lemah. Sedangkan Anin dibuat was-was dengan kenyataan itu. Ternyata Ezra begitu sayang pada Rara. Sehingga dia tetap menganggap Rara seperti anaknya sendiri dengan menyembunyikan kebenaran itu.
"Bimo, aku tak mau Zahra nantinya jadi korban. Dari cerita Zahra dan semua hal yang menimpanya atas perlakuan Rara. Sepertinya anak itu sangat berbahaya." Ujar Anin dengan penuh rasa kekhawatiran.
Jikalau Anin merasa takut akan keselamatan putrinya. Beda lagi dengan Zahra, ia jadi merasa punya kekuasaan penuh. Karena Rara ternyata bukan siapa-siapanya Ezra. Jikalau Rara masih bersikap kasar dan membuat perlawanan dengannya. Ia akan menyingkirkan anak itu, dari pada jadi duri dalam daging nantinya yang membuat hidupnya tak nyaman, mending tendang aja sekalian. Zahra orangnya realistis. Kalau orang baik, dia lebih baik lagi. Kalau ada orang mengusiknya, dia tak mau ditindas.
"Itu tak akan terjadi. Mana mungkin si Bos membiarkan Rara menganggu Zahra." Ujar Bimo penuh keyakinan.
"Iya, tapi kamu gak lihat gimana sombongnya anak itu saat di mall." Keluh Anin. Wanita itu semakin tidak tenang setelah mengetahui fakta ini.
"Ia tak akan sombong lagi, jika tahu fakta yang sebenarnya." Sahut Bimo datar. Dia jadi takut juga Ezra akan marah padanya. Karena mulut embernya. Ezra tak ingin fakta mengenai Rara yang bukan anak kandungnya diketahui Zaara.
"Begitu sayangnya Hubby pada Rara, sehingga dia tak mau Rara mengetahui fakta sebenarnya." Ucap Zahra sedih, dia jadi merasa minder saat ini. Ezra seperti nya lebih memikirkan Rara daripada dia istrinya sendiri.
"Iya Ezra memang sangat sayang pada Rara. Walau dia bukan anak kandungnya. Tapi, dia tetap menganggap nya seperti anak kandung nya sendiri." Jelas Bimo, mengutuk kebodohan nya telah mengungkapkan semuanya yang membuat Zahra jadi sedih, karena Ezra terlihat mengutamakan Rara dibanding dengannya.
"Pantas saat aku ceritakan kejadian di mall, reaksi Hubby biasa saja. Dia seperti tak memikirkan perasaanku." Sahut Zahra dengan lemah. Wajahnya mendadak murung.
__ADS_1
Ia bangkit dari duduknya dengan lemas. Zahra merasa sedih sekali mendapati fakta, bahwa suaminya itu lebih memikirkan perasaan Rara dibanding dengannya. Zahra biasanya tak sensitif ini. Banyak masalah yang datang sebelumnya, dia selalu optimis dalam menanggapinya. Tapi, kini dia merasa jadi kecil hati.
Ia jadi heran dengan dirinya sendiri yang Perasaan sangat sensitif. Gampang sedih, marah-marah, mudah tersinggung dan masih banyak lagi sifat anehnya yang dengan cepat mengubah moodnya.
Apakah kondisi emosional dan mental yang biasa dialami seorang ibu yang sedang hamil, seperti yang dialami Zahra saat ini? dia benci dengan situasi ini. Dia tak mau punya perasaan yang sensitif ini. Dia ingin seperti Zahra yang dulu, yang selalu semangat dan tak mau sedih.
***
"Ra....!" Anin mengelus lembut lengan Zahra yang tidur miring membelakanginya.
"Biarkan aku sendiri Mak. Aku tahu umak mau bicara apa sekarang. Aku sedang tak ingin mendengar itu semua. Saat ini aku hanya ingin didengar. Aku tahu, umak akan bilang, sabar Boru. Kamu jangan egois. Bla... bla... bla....!" Ujar Zahra masih tidur miring membelakangi sang ibu.
"Ya sudah bicaralah. Umak siap jadi pendengar Budiman saat ini." Ujar Amin lembut, kini wanita itu memijat mijat bahu nya Zahra.
"Kenapa ya Mak, Pak tua itu tak mau menceritakan perihal Rara padaku?" Zahra akhirnya menanyakan hal yang mengganjal di dalam hatinya.
"Umak gak bisa jawab pertanyaan mu itu Boru. Sebaiknya kamu tanyakan saja sendiri pada suami mu."
"Aku lagi malas melihatnya Mak, apalagi berbicara dengannya. Entahlah aku mendadak merasa benci sekali padanya."
__ADS_1
TBC
Sibuk banget aku say hari ini. Maaf kalau part ini pendek. Yuk dukung Novel ini dengan memberi like coment dan vote