
"Iya Nek." Ezra menuntun nenek Ifah untuk duduk di kursi dengan perasaan yang bahagia.
Wajah tampannya kini terangkai senyum manis. Bukan hanya sebelah sudut bibir, tapi kedua sudutnya melengkung sempurna membentuk seutas senyum yang indah. Suasana hati Ezra tiba-tiba saja membaik, setelah sikap sang nenek berubah drastis. Tadinya sang nenek terlihat murung dan sedih sekali. Tapi, sekarang sang nenek begitu antusias. Kalau memang dengan naik pesawat, sang nenek merasa sudah bahagia. Ezra jadi merasa jadi orang yang sangat berguna, karena bisa mewujudkan mimpi wanita tua di hadapannya.
"Nenek mau duduk di sofa saja. Nak Ezra saja yang duduk disini bersama Zahra." Sang nenek yang tiba-tiba punya tenaga itu, malah mendudukkan Ezra di kursi, dan dengan cepat menarik tangan sang cucu yang terlihat masih kesal itu, dan langsung mendudukkan Zahra di sebelah Ezra.
Seketika keduanya saling tatap. Tentu saja, Zahra masih menatap tajam Ezra. Tatapan tajamnya Zahra, membuat Ezra harus menyudahi senyum manisnya. Entah kenapa pria itu takut kepada gadis itu. Ezra pun sampai mengusap tenggorokannya, karena merasa terancam duduk di sebelah istrinya itu.
"Nikmat mana lagi yang kamu dustakan!" ujar nenek Ifah dengan mata yang berkaca-kaca. Dia merasa bahagia sekali. Impiannya untuk naik pesawat terwujud juga. Bahkan, impiannya yang terwujud ini, jauh lebih indah dari khayalannya. Dia hanya mengimpikan naik pesawat komersil yang fasilitas di dalam pesawat itu biasa saja. Tapi, lihatlah, dia bisa duduk di sofa mewah di dalam pesawat.
__ADS_1
Ya pesawat miliknya Ezra yang harganya sampai 500 Milyar itu. Memiliki 10 kursi lounge yang nyaman serta sofa panjang untuk duduk bersama. Tentu saja setiap kursi difasilitas TV. Sungguh sang nenek dibuat takjub.
Zahra hanya bisa melongok dengan tercengangnya melihat perilaku sang nenek, yang terlihat norak. Walau terlihat norak, bahasa tubuh sang nenek terlihat begitu bahagia.
Dalam hati Zahra jadi bersyukur. Dengan kejadian ini. Impian sang nenek terwujud juga. Apa sebenarnya maksud kejadian yang menimpa dirinya ini? kalau dipikir-pikir, masalah yang datang beruntun selama tiga hari ini, seperti menjanjikan sebuah kebahagiaan.
Aakkhh.... Zahra semakin pusing memikirkannnya. Dia menatap lurus ke arah pramugari yang sedang memberikan instruksi keamanan jelang penerbangan seperti pemakaian sabuk pengaman hingga kondisi darurat. Tapi, semua yang dikatakan sang pramugari tidak diindahkannya.
Sedangkan sang nenek kini memilih pindah tempat duduk. Dia tidak duduk di sofa lagi. Tapi, duduk di kursi yang ada di hadapan Zahra.
__ADS_1
"Ok cantik, ok cantik, thank you... Aku mengerti, aku mengerti." Ucap sang nenek, mulai memasang seat beltnya.
"Mau, mau apa kau pak tua?" Zahra yang terkejut, karena merasakan Ezra menyentuhnya, dengan cepat mendorong tubuh Ezra kuat, sehingga Ezra tersudut ke badan pesawat. Padahal Ezra mau memasang seat belt untuknya. Zahra dari tadi melamun, dan pesawat akan take off.
"Apa.. lihat apa? mau apa kau pak tua?" ucapnya lagi menantang Ezra, yang masih menatapnya dengan tercengang. Dia tidak menyangka akan mendapatkan sikap kasar dari istri kecilnya itu.
TBC
Like, coment vote ya say
__ADS_1