
Zahra dengan cepat memakai pakaiannya. Membasuh wajahnya dengan terburu-buru dengan napas yang tersengal-sengal, seperti habis lari maraton saja, wanita itu begitu ketakutannya. Dia harus keluar dari kamar itu. Dia akan minta tolong kepada Ferdy. Semoga Ferdy bisa dihubungi larut malam begini.
Baru juga selesai membasuh wajahnya, terdengar suara pintu kamar dibuka. Zahra sedikit legah, karena pertolongan telah datang. Begitulah yang ada dipikirannya saat ini. Dia pun keluar dari kamar mandi dengan tergesa-gesa, saking penasarannya dengan orang yang masuk ke kamar itu.
Saat diambang pintu, dia terkejut melihat Rara menghadangnya dengan raut wajah murka menatap tajam dirinya. Jantungnya masih terus berdebar tak berirama, karena memang dia masih takut dan was-was. Nafsu yang bergejolak dari tadi kini hilang sudah, dengan keadaan yang menegangkan yang menimpanya saat ini.
"Sialan kau..!" teriak Rara dengan penuh amarah, tangannya terlihat bergerak ingin menampar Zahra. Tapi, tangan Rara akhirnya hanya mengatung di udara. Karena, ditahan oleh Zahra yang hendak menamparnya. Menarik kuat tangan itu dengan penuh emosi, sehingga kini keduanya malah masuk lagi ke dalam kamar mandi.
Zahra begitu kesal dan sangat emosi melihat Rara. Wanita yang merasa dipermainkan itu, tidak bisa menahan dirinya lagi. Pertengkaran di dalam kamar mandi pun terjadi.
Bruggkkk....
Zahra membenturkan tubuhnya Rara ke dinding kamar mandi. Dan langsung menyerangnya secara membabi buta. Tanpa memberi waktu pada Rara untuk membalas serangannya.
Pakkkk.....
Pakkkk.....
Puukk...
Wajah cantiknya Rara bergerak ke kanan dan ke kiri sebagai akibat dari tamparan Zahra yang kuat.
"Kurang ajar kau, berani sekali kau melakukan hal keji ini padaku Rara .!" Menjambak rambut panjangnya Rara dan membenturkannya ke dinding kamar mandi itu. Dia tidak memikirkan apapun lagi. Ini saat nya dia membalas dendam. Atas perlakuan Rara yang semena-mena padanya selama ini. Batas kesabarannya habis sudah. Beraninya dia ingin menghancurkan kehidupannya. Dan yang paling menyebalkan, ternyata anak dan ayah sekongkol.
"Kurang ajar kalian.. " teriaknya, masih terus membenturkan kepalanya Rara ke dinding kamar mandi itu. Dia tidak memikirkan apapun lagi, selain melampiaskan sakit hatinya. Karena terus diremehkan. Jangan mentang-mentang orang miskin, si orang kaya seenaknya saja.
__ADS_1
"Tolong... Dodi tolongin gua..!" teriak Rara, dia setengah sadar karena mabuk juga. Sehingga dia tidak bisa memberi perlawanan pada Zahra secara maksimal yang seperti kesetanan itu.
Dodi adalah temannya Rara yang khusus didatangkannya dari kota, untuk merenggut kesucian Zahra. Tapi, sialnya. Dia bukannya masuk ke kamarnya tempat Zahra berada. Dia malah masuk ke kamar lain yang kebetulan terbuka, karena dia setengah sadar, sebagai efek dari minum alkohol. Jadi ceritanya Ezra dan si Dodi kamarnya tertukar.
"Dodi... Tolongin gua .!" Dodi sedang memakaikan pakaian untuk Ezra alias ayahnya Rara.
Saat Rara dan Dodi masuk ke kamar itu. Mereka mendapati Ezra dalam keadaan telungkup dan tak sadarkan diri. Tentu saja, Rara jijik dan kesal melihat keadaan ayahnya yang dilihatnya dalam keadaan polos. Sehingga dia meminta Dodi untuk mengurus sang ayah dan dirinya mencari keberadaan Zahra.
"Dodi..!"
"Iya sebentar...!" Dodi pun sukses memakaikan celananya Ezra.
"Huuhhh..!" keluh Dodi merasa kelelahan menutup aurat Ezra, tentu saja organ intimnya Ezra masih on. Pria yang masih setengah sadar itu pun bergegas ke kamar mandi.
"Keluar... Keluar..!" teriak Zahra geram bukan main, memberi instruksi pada Dodi.
Kedua bola mata Dodi membelalak melihat keadaan Rara yang sudah memprihatinkan.
"Mendekat kamu, ku patahkan tangannya."
"Jangan...Jangan... sakit..!" keluh Rara dengan mengerang kesakitan, disaat Zahra memutar tangannya yang sudah dikuncinya di belakang punggung wanita itu.
"Keluar.... Keluar....!" teriak Zahra, sambil melangkah kakinya. Mendorong tubuh Rara yang sudah dalam kendalinya. Agar bergerak, dan mereka keluar dari kamar mandi.
"Setiap hari kami bully aku, cari masalah denganku di sekolah. Padahal aku gak pernah mengusik hidupmu. Kesabaranku sudah habis, mati dan membusuk di penjara tidak masalah buat ku. Asal kau mati hari ini." Memutar tangan Rara yang dikuncinya di balik punggung wanita gak punya otak itu. Hanya karena dia tidak bisa jadi pusat perhatian di sekolah. Dia benci pada Zahra.
__ADS_1
"Jangan.. Stop . Sakit...!" teriak Rara, dia terus saja melangkah. Karena paksaan Zahra yang ada di belakang tubuhnya dan kini mereka sudah dekat di ambang pintu.
"Dodi.... Cepat tutup pintunya. Kenapa kamu diam saja." Mereka tidak mau Zahra melarikan diri. Zahra pun membalik posisi, kini Zahra membelakangi pintu kamar. Sehingga kini Rara yang dalam kendali Zahra sudah menghadap Dodi yang lagi bingung harus melakukan apa-apa.
"Ooohh... mampus kau!" Zahra memutar tangannya Rara, hingga terkilir.
"Tidak.,.. Stop... Kamu boleh pergi. Tapi, jangan lapor polisi. Kalau kamu laporkan kepada pihak berwajib, kamu tidak akan menang. Ingat, uang bisa membeli segalanya." Ucap Rara sambil meringis kesakitan. Dan memberi kode pada Dodi. Terlihat Dodi merogoh ponselnya dari saku celananya dan melakukan panggilan.
Zahra terdiam mendengar ucapan Rara. Sekaligus matanya yang menangkap Dodi seperti melakukan suatu tindakan. Dia harus pergi cepat dari tempat itu. Dia memang akan melaporkan kejadian ini kepada pihak berwajib.
"Lepaskan tanganku, kamu boleh pergi. Lepaskan... Jangan sok hebat kamu Zahra. Aku bisa juga patahkan tanganmu jika aku mau sekarang. Aku bisa panggil anak buahku." Rara mempengaruhi Zahra. Bahkan kini Rara, malah memundurkan sendiri tubuhnya yang lagi disandra Zahra. Sehingga kini mereka sudah berada di luar kamar. Dan Dodi juga sudah keluar dari kamar itu dan mengunci kamar itu.
Merasa dirinya terancam. Zahra kembali memutar lengan Rara sekuat tenaganya. Melepas tangannya yang mengunci tangan Rara. Dan dengan cepat dia menendang bokong Rara yang ada di hadapannya, sehingga Rara tersungkur tepat menimpa Dodi.
"Sialan kamu Zahra. Lihat saja pembalasanku..!" teriak Rara, berusaha bangkit dari tubuh Dodi yang ditimpanya. Malam yang sudah larut, membuat lorong Hotel itu sunyi. Sehingga tidak ada yang melihat kejadian mengerikan itu. Apalagi Hotel itu bukanlah Hotel yang besar.
Zahra yang ketakutan terus saja berlari, mencari pintu keluar, dari belakang. Dia tahu, di depan orang-orang suruhan Rara akan menghadangnya.
"Ya Allah.... Tolong aku." Ucapnya sambil meraba-raba tubuhnya. Ternyata ponsel yang ada di saku celananya sudah terjatuh. Ya, Rara tidak bawa tas atau dompet.
"Ya Allah.... Tolongin aku. Kalau aku bisa lolos dari Rara, aku bernazar akan puasa selama sebulan penuh ya Allah... Ku Mohon Tuhan, lindungi aku." Ucap Zahra sambil berlari dengan bingungnya. Dia masih sempat bernazar seperti itu. Karena hanya itulah yang bisa dilakukannya saat ini. Bernazar untuk bersedekah, dia gak punya uang.
TBC
Like, coment positif dan vote
__ADS_1