AKU MADU IBUKU

AKU MADU IBUKU
Minder


__ADS_3

"Bim, Bimo ...!" Teriak Ezra, kenapa pula asistennya itu lari seperti melihat setan.


Zahra tahu kenapa Bimo lari tergesa-gesa seperti itu. Ternyata wanita yang ada di depan mereka adalah memang benar ibunya.


"Hubby...!" kita ke restoran lain saja ya!" pinta Zahra, tak mau bergerak dari tempatnya.


Ezra yang sudah menggandeng tangan sang istri pun menoleh ke belakang. Karena, memang Ezra sudah melangkahkan kakinya.


"Napa sayang? ini restoran makanannya khas di kampung kita loh. Katanya ingin makan makanan kampung. Ada daun ubi tumbuk, sambal tuk tuk, ikan mas arsik. Apalagi tu satu lagi? eemmm.....Rotan, iya rotan muda dibuat seperti lalapan." Ujar Ezra sumringah. Air liurnya hampir menetes, menyebutkan satu per makanan kampung itu semua. Dia juga sudah kangen makanan itu.


"Eemm.... Gak jadi deh By. Aku pingin Hubby yang masakin semua itu."


"Apa..?" kedua mata Ezra membeliak mendengar ucapan sang istri. Mulutnya yang menganga buru-buru ditutupnya dengan telapak tangannya.


"Gak mau ya masak untuk aku. Aku bantuin juga nanti By. Aku tuh jadi pingin lihat Hubby masak dan rasakan masakan Hubby." Ujar Zahra dengan hati-hati dengan raut wajah penuh harap. Ekspresi kaget suaminya membuat nyalinya ciut. Berani sekali dia meminta Ezra Assegaf, pengusaha tambang emas ter sultan memasak untuknya.


"Yesss...! Yeess.....!"


Teriak Ezra dengan semangatnya. Tangannya mengepal kuat mengayun kebelakang.


Zahra dibuat heran dengan euforia sang suami dihadapannya. Zahra pikir suaminya itu akan marah dimintai untuk memasak untuknya. Tapi, nyata eskpresi wajah kaget sang suami tidak menunjukkan kemarahan. Tapi, kebahagiaan.


"Ayo sayang!" Ezra merangkul sang istri, menuntunnya kembali masuk ke dalam mobil. Mereka meninggalkan Bimo di restauran itu.


"Dek Anin.... Waaawww.... Suatu kebetulan bisa bertemu di sini " Ujar Bimo dengan semangatnya di hadapan Anin dan Dokter Alvian yang sudah duduk di kursi meja tempat mereka akan menyantap hidangan.


"Bimo...!" sahut Anin dengan tercengang. Kenapa pula bisa berjumpa dengan pria itu di sini. Anin menatap Bimo dan Dokter Alvian secara bergantian.


Huuuffftttt


Dokter Alvian menghela napas panjang. Dia berdecak kesal. Kenapa si Uccok mommom ini, selalu gentayangan disekitar mereka. Dokter Alvian tahu, Bimo akan merusak makan malamnya bersama Anin.


"Aku juga suka ke restauran ini. Boleh aku ikut gabung!" ujar Bimo dengan kode tangannya, meminta persetujuan untuk duduk di kursi sebelah Anin. Ya kursi di tempat itu ada empat. Dengan dua kursi bersebelahan yang dibatasi oleh meja.

__ADS_1


"Sebaiknya,!" terpaksa Alvian menghentikan ucapannya. Karena melihat Bimo sudah duduk di sebelah Anin. Tadinya Dokter Alvian ingin mengusir pria itu. Kali ini dia harus tegas. Tapi, dia mengurungkan niat itu. Dia tak boleh bersikap kasar di hadapan Anin. Bisa-bisa Anin ilfeel padanya. Karena, pria itu belum mendapatkan hatinya Anin. Mengajak makan malam saja, susahnya minta ampun tadi.


"Sebaiknya kita pesan makanan." Sambung Bimo masih sok akrab.


Lagi-lagi Dokter Alvian hanya bisa menghela napas. Gagal sudah acara makan malam mereka. Seperti nya Bimo yang tak tahu malu itu,.mau mendominasi malam ini.


Bimo tahu Dokter Alvian tidak menyukainya berada di tempat itu. Tapi, masa bodoh. dia tak akan membiarkan Alvian memenangkan hatinya Anin.


Bimo sebenarnya malu dengan sikapnya saat ini. Karena sangat jelas wanita yang ada di sebelahnya dan pria yang ada di hadapannya, menunjukkan bahasa tubuh tak menginginkan kehadirannnya. Bimo bersikap pura-pura tidak merasakan apa-apa. Sesekali bersikap masa bodoh itu penting. Jangan gampang baper.


"Eemmmm.... Sama siapa ke sini Bimo?" tanya Anin, merasa heran juga. Koq tiba-tiba pria ini nongol di tempat ini. Biasanya di mana ada Asisten pasti ada tuannya.


Haaaaahh..


Akhirnya Bimo pun tersadar. Dia sudah melupakan keberadaan Ezra dan Zahra. Kedua bola matanya Bimo Bergerak ke kanan dan kekiri, mencari keberadaan sang majikan dan istrinya. Tapi, dia tak menemukannnya di tempat itu.


Bos ke mana ya?


"Sendiri dek!"


Ciprutt....


Air yang ada di dalam mulutnya Dokter Alvian, kini muncrat tepat ke wajahnya Bimo.


Kedua mata Bimo melotot sempurna, kena cipratan air dari mulutnya Dokter Alvian. Dia tahu Dokter itu sedang menguji kesabarannya. Tangannya yang ada di atas meja, kini mengepal, terlihat siap untuk menyerang.


Uhuk ..


Uhuk ..


Uhuk...


Dokter Alvian keselek. Dia sungguh terkejut disaat mendengar Bimo memanggil Anin dengan sebutan Adek. Rasanya geli gak jelas gitu.

__ADS_1


"Maaf, maaf pak Bimo...!' ujar Dokter Alvian dengan raut wajah bersalahnya. Bangkit dari tempat duduknya. Pria itu bingung mau melakukan apa. Antara mau melap air di wajah Bimo dan juga bajunya yang sedikit basah.


Bimo menunduk dan melap wajahnya yang basah dengan tisu yang diraihnya di atas meja makan itu. Alvian sukses mempermalukan dirinya.


Sedangkan Anin hanya diam mematung menyaksikan adegan itu. Dia sama sekali tak ada niat membantu Bimo untuk melap wajahnya yang basah. Karena menurutnya, dia tak perlu seperhatian itu pada Bimo.


Sikap tak peduli nya Anin, membuat percaya dirinya hilang. Padahal kemarin dia sudah dekat dengan Anin. Mereka bahkan nonton film bareng di rumah bersama Zahra dengan tertawa terbahak-bahak. Sebelum Zahra pulang ke rumahnya. Saat itu, Bimo sempat baper. Merasa Anin juga sreg padanya.


Dokter Alvian jadi merasa bersalah. Tadinya dia sempat kesal pada pria itu. Tapi, ulah tak sengajanya membuatnya tidak enak hati pada Bimo.


"Pak Bimo saya minta maaf, sungguh saya tidak sengaja." Ujar Alvian mengatupkan kedua tangannya.


.Bimo yang dari tadi menundukkan kepalanya itu, akhirnya mengangkat wajahnya juga. "Gak apa-apa pak! bukan bapak aja yang keselek. Saya juga sedang keselek." Ujarnya dengan raut wajah manusia tertindas. Ekspresi wajah Bimo sungguh memprihatinkan.


Ya, saat air muncrat ke wajahnya Bimo. Dia tak sengaja mengirup air itu, sehingga masuk ke lubang hidung nya. Jadilah pria itu megap-megap. Makanya dia menunduk, menikmati perihnya hidungnya saat itu.


"Ayo Kita makan saja dek, pak Bimo " ujar Alvian dengan senyum tipisnya.


Anin terlihat mulai memakan makanannya, begitu juga dengan Dokter Alvian. Tapi, Bimo terlihat sibuk dengan ponselnya.


"Eemmmm.... Saya harus pergi!" ujarnya bangkit dengan ekspresi wajah datarnya. Pria itu pun langsung meninggalkan tempat itu.


Sikap anehnya Bimo membuat Anin dan Alvian bingung. Tadi pria itu terlihat begitu percaya diri. Tapi, lihatlah sekarang pria itu seperti kehilangan ruh nya.


"Bimo memang aneh, bingung aku!" ujar Anin, masih memperhatikan Bimo yang keluar dari restauran itu.


"Kalau aku membingungkan gak?" tanya Alvian dengan senyum manisnya.


"Iya!" ujar Anin dengan tersenyum tipis.


TBC


Like, komentar positif dan vote dong❤️🙂🤭

__ADS_1


__ADS_2