
Hadeeeuuhhh....
Ribet sekali ketentuannya Anin. Ayamnya harus ayam kampung. Gak boleh ayam broiler. Jadilah, ayam kampung harus dicari ke pasar tradisional. Hal itu membuat acara untuk memasak ayam untuk upah-upah molor satu jam.
"Wangi banget masakanmu Ra." Puji Anin pada sang putri.
"Aakkhh si umak, yang masak kan umak, koq malah muji aku sih." Elak Zahra, memilih mendudukkan bokongnya di kursi meja makan. Dia akhirnya merasa kelelahan juga.
"Umak kan hanya memandu, yang memasak kan kamu." Anin mencicipi rendang ayam itu. "Enak banget sayang, gurih, manis, daging ayamnya empuk." Anin kini menyendok satu potong ayam ke piring. Ya mereka memasak empat ekor ayam. Karena banyak ART yang ingin juga.
"Iya Mak." Jawabnya lemah. Dia benar-benar capek. Keringat sebiji jagung kini bermunculan di keningnya Zahra.
"Kamu sakit sayang?" Anin terlihat panik. Menghentikan acara makan ayamnya dan menghampiri Zahra yang terduduk lemas di kursi.
"Apa kamu masih mual setiap hari?"
Zahra menggeleng, ya sejak dia teratur minum anti mual serta vitamin ini hamil. Dia sama sekali gak terganggu dengan kehamilannya. Dia bahkan sekarang sangat kuat makan.
"Ya sudah kamu istirahat dulu." Anin menuntun sang putri ke kamarnya. Akan sangat baik, sebelum Ezra kembali, dia beristirahat dulu. Dan sorenya mereka semua akan ke rumah lamanya Ezra.
"Iya mak." Zahra pun membaringkan tubuh lemahnya di atas ranjang empuk itu. Anin yang begitu mengkhawatirkan Zahra. Memijat-mijat kaki dan lengan sang putri. Pijatan penuh cinta itu, malah membuat Zahra terbang ke alam mimpi.
***
Pukul 17.25 Wib. Ezra, Zahra dan Anin berangkat ke rumah yang ditempati Rara. Acara meng upah-upah akan dilaksanakan setelah sholat magrib. Atau saatnya makan malam.
Ezra sebenarnya sangat terkejut dengan acara meng upah-upah ini. Dia tak menyangka istrinya itu memikirkan sejauh itu. Sungguh Zahra sangat banyak berubah. Lebih dewasa dan sabar.
"Apaa? Rara dan Bimo belum sampai di rumah. Di mana mereka?" tanya Ezra balik pada pelayan di rumah itu.
Komunikasi antara Bimo dan Ezra terkahir pukul 12.09wib. Saat itu Bimo melaporkan bahwa mereka sudah ke luar dari rumah sakit dan akan pulang ke rumah. Tapi, sudah dapat waktu magrib, mereka belum sampai di rumah.
__ADS_1
"Mereka di mana?" Ujar Ezra, yang ditanggapi Zahra dengan mengangkat bahunya. Dia mana tahu di mana si Bimo dan Rara. Bimo aja gak ada melapor kepadanya.
Ezra mulai resah dan gelisah. Apalagi panggilan teleponnya tak kunjung diangkat oleh Bimo. Begitu juga dengan Rara.
Beda lagi dengan Ezra yang gelisah, karena memikirkan Bimo dan Rara. Zahra saat ini terlihat norak, menyoroti setiap sudut rumahnya Ezra yang pernah ditempati Anin. Interior rumah suami nya yang ini sangat mewah. Wajar di dalam mewah sekali. Di bagian eksterior nya saja sudah disambut oleh pilar-pilar megah dan kokoh.
"Rumahnya bagus ya Mak." Ujarnya pada Anin masih tercengang.
Anin tersenyum tipis. Seperti nya Zahra tak tahu, kalau Anin pernah kerja di rumah itu bahkan pernah jadi nyonya rumah itu.
"Iya sayang." Jawab Anin pendek. Rasanya ia tak perlulah menceritakan kisahnya selama tinggal di rumah bergaya klasik Eropa itu.
"Ke mana ya mereka, kenapa gak bisa dihubungi?" Ujar Ezra lagi di hadapan istri dan ibu mertuanya. Walau ada Anin di tempat itu, Ezra harus terbiasa akan hal itu.
"Hubby saja gak tahu, apalagi kita By." Jawab Zahra dengan bergidik bahu.
"Sudah mau dapat waktu magrib. Kenapa mereka belum sampai di rumah?" Ujar Ezra lagi dengan tidak tenang nya. Akhirnya pria itu memerintahkan Dika untuk mencari keberadaan Bimo dan Rara.
"Ii--ya, kita sholat dulu " Jawabnya kikuk, Ezra masih merasa sungkan pada Anin. Sedangkan Anin sudah mulai terlihat biasa saja.
Mereka pun akhirnya melakukan sholat magrib berjamaah. Tentu saja Ezra yang jadi imamnya.
Setelah selesai sholat, lagi-lagi Ezra kembali menghubungi nomor ponselnya Bimo dan kali ini panggilannya tersambung.
"Halo....!"
Tut..
Belum juga Ezra menjawab ucapan halo nya dari Bimo. Panggilan itu pun terputus. Ezra semakin dibuat penasaran dan panik. Ia kembali menghubungi nomornya Bimo, tapi kali ini, panggilan nya itu tak tersambung.
Nomor yang anda tujuh sedang berada diluar jangkauan. Silahkan coba beberapa saat lagi.
__ADS_1
Suara operator provider yang didengar Ezra, disaat menghubungi nomornya Bimo kembali.
Sementara diwaktu yang sama dan di tempat berbeda. Bimo dan Rara di gelandang ke salah satu rumah aparat desa. Mereka digrebek warga di dalam mobil yang bergoyang. Saat itu keadaan Rara hampir setengah bu g il.
"Pak, kami tidak melakukan me sum di dalam mobil " Ujar Bimo dengan memelas, memohon agar warga yang menggerebek mereka percaya. Ya memang benar, Bimo dan Rara tidak melakukan hal senonoh itu.
"Ini adek saya, kami basah kuyup pak." Semua mata warga kembali menatap Rara yang menggigil karena kedinginan. Wajahnya sudah pucat pasi.
"Sudah, sudah... Banyak ngeles kalian. Sudah ketahuan, banyak alasan." Bentak kepala lingkungan pada Bimo.
Sudah hampir dua jam mereka ditahan warga. Warga ingin mereka dinikahkan saja. Karena, warga kesal, kampung mereka dibuat sebagai tempat maksi at. Jadi, warga ingin menikah kan Bimo dan Rara, yang dianggap mereka sepasang kekasih.
Warga sudah punya ketentuan dan kesepakatan itu, apabila ada pasangan muda mudi ketahuan melakukan me sum, maka pasangan itu akan dinikahkan saat itu juga. Tindakan itu diambil. Guna menghindari para warga melakukan hal itu.
"Benar pak, kalau tidak serahkan kami ke pihak berwajib. Kami tidak melakukan hal kotor itu." Bimo terus saja berusaha meyakinkan para tokoh masyarakat yang ada di rumah kepala desa itu Tapi, semua ucapannya hanya dianggap angin, tak ada yang percaya dengan apa yang dikatakannya.
Sementara Rara yang kini kedinginan sudah diberikan oleh Warga selimut. Anak itu terlihat menangis tersedu-sedu dengan wajah pucatnya, seperti tak ada darah yang mengalir di wajah cantiknya itu.
"Kalian harus kami nikahkan hari ini. Dan setelah itu, kami akan antarkan kalian ke keluarga kalian. Kami juga akan memberi nasehat pada orang tua kalian. Karena tak mendidik anaknya dengan bagus " Tegas salah satu tokoh masyarakat yang kini duduk di sebelah Bimo.
Bimo pun akhirnya memilih diam, dan menatap kesal ke arah Rara yang ketakutan. Kenapa hidupnya jadi sial begini? mana mungkin dia akan menikah dengan Rara. Gadis labil, yang buat kepala nya hampir pecah tiga hari terakhir ini. Karena diberi tugas Ezra menjaganya.
"Pak, izinkan aku mencharger hapeku dulu. Bapak bisa hubungi orang tua dari anak ini. Dia bukan pacarku. Kami tak ada melakukan tuduhan seperti yang bapak bilang tadi. Saya hanya membantunya membuka pakaiannya."
"Alahhh.... Gak usah ngeles lagi. Bukti sudah jelas di depan mata kami. Kamu menimpa tubuhnya yang hanya pakai ku tang....!"
Kwkekwk...
Sebagian warga tertawa karena mendengar kata ku tang ..
TBC
__ADS_1