
“Pak, pak Ezra… Tolong ya pak, kasihan gadis yang jadi korban keusilannya Rara.” Suara Bu Rose terdengar memelas.
“Baiklah, kami akan ke sana.” Ezra berbalik badan, dengan jantung yang hendak copot dari tempatnya, begitu terkejut mendapati sang istri memanggil dirinya.
"Bang, apa ada masalah serius dengan Rara. Maaf, aku baru tahu kabar tentang Rara tadi pagi." Ezra mengelus dadanya dengan perasaan sedikit legah. Dia sangat bersyukur, istrinya itu tidak mengetahui isi dari percakapannya dengan Bu Rose.
Dia akan merasa malu sekali kepada sang istri. Apabila istrinya itu, tahu kelakuannya dengan seorang gadis di dalam kamar hotel.
Ezra secara mendadak menikahi Anindya, karena dia merasa sudah saatnya dirinya menikah. Dia yang merasa dirinya, tidak sanggup lagi menahan syahwatnya, memutuskan untuk menikahi Anindya. Wanita yang akhir-akhir ini mondar-mandir di dalam pikirannya. Keputusannya pun semakin bulat, karena kejadian di kamar hotel itu, dianggapnya sebagai tanda dia harus menikahi kokinya itu. Bak gayung bersambut, Anindya menerima lamaran mendadaknya.
Ezra yang tahu hukum agama itu, khawatir dirinya jatuh dalam perzinaan disebabkan besarnya syahwat yang harus ditahannya. Karena, dirinya yang sudah lama menduda.
"I-- iya, iiiiya dek, masa-- masalahnya Rara semakin rumit. Abang harus menyelesaikannya segera " Ezra tergagap, karena tidak biasa berbohong. Dia juga sedang tidak baik-baik saja sekarang. Ada seorang gadis yang jadi korban, kejahatan putrinya. Dia harus bertemu gadis itu, memastikan semuanya. Termasuk video yang baru saja dilihatnya. Berarti dia telah menodai seorang gadis yang tak berdosa.
"Astaghfirullah...!" Ezra berbalik badan cepat, dia tak sanggup menatap sang istri yang baru dinikahinya dua hari itu, berdiri dengan sejuta pertanyaan di wajah sang istri.
Mana mungkin dia menceritakan kejadian sebenarnya pada wanita yang baru dinikahinya itu. Pastinya istrinya itu akan kecewa padanya. Ezra semakin setres saja memikirkan video itu. Ia terlihat memijat dahinya, kepalanya terasa sakit sekali, dadanya juga bergemuruh hebat. Karena merasa bersalah, telah menghancurkan hidup seorang gadis
Anindya masih setia menatap punggung sang suami. Berdiri dengan tercenung, bingung harus berbuat apa. Karena, terlihat sang suami sedang menjaga jarak dan menutupi sesuatu padanya.
Mereka baru dua hari menikah, tapi kebahagiaan seolah sulit untuk diraih. Karena ada saja masalah yang datang. Ya memang tak seharusnya sebuah pernikahan dilaksanakan dengan mendadak.
"Apa yang bisa adek bantu bang?" akhirnya Anindya membuka suara, dia harus bisa jadi istri yang selalu ada dikala suka dan duka. Dan kini dia sudah berdiri di sebelah kanan sang suami.
__ADS_1
Ezra menatap sekilas istrinya itu. Dia jadi merasa bersalah juga pada istrinya itu. Baru menikah, tapi sudah akan meninggalkan sang istri. Bahkan mereka belum melakukan malam pertama.
"Oouuhhh.. i--tu, itu. Apa ya?" Ezra malah bingung dan terlihat bodoh dihadapan sang istri. Sungguh dia tidak fokus, pikirannya kacau balau saat ini.
Pria yang lagi kacau itu kembali melirik sang istri, yang ternyata masih setia menatapnya dengan sejuta pertanyaan.
Ezra menghela napas berat, tangannya terulur meraih tangan sang istri. Menggenggamnya lembut dan mengecupnya. "Abang bisa atasi masalahnya Rara. Terima kasih sudah mau menikah denganku. Abang harap, adek akan tetap sabar, jika nantinya kita dihadapkan dengan masalah yang besar dengan pernikahan kita ini." Menatap lekat kedua mata sang istri yang berkaca-kaca. Ezra memberi penguatan pada istrinya itu, agar nantinya keyakinannya tidak goyah. Karena masalah besar sudah ada di hadapan mata.
Anindya mengangguk, walau dirinya sedikit bingung dengan ucapan sang suami. Masalah apakah yang akan terjadi nanti. Ya, sekarang dia juga sudah merasakan ada masalah dalam pernikahannya. Untuk menjawab semua tanda tanya yang bercokol di hatinya. Dia akan menyelidiki suaminya itu secara diam-diam.
"Abang harus ke luar kota hari ini." Anindya yang terkejut, refleks menarik tangannya dari genggaman sang suami. Ezra ke luar kota, itu artinya dia ditinggal lagi.
"Maaf ya Dek, harusnya saat ini adalah moment kebersamaan kita. Tapi, nyatanya masalah yang tak terduga, membuat kita harus bersabar. Semoga masalah ini cepat selesai dan kita bisa melewati hari-hari indah bersama dalam mengarungi biduk rumah tangga kita ini." Menilik wajah sang istri yang menunduk dan terlihat kecewa.
"Jangan sedih gitu, sepulang Abang dari luar kota. Kita akan honeymoon." Tersenyum lebar pada sang istri. Pria itu juga berusaha menutupi rasa bimbang, bingungnya itu
"Iya Bang." Ucap Anindya lembut, berusaha membalas senyum manis sang suami. Walau sebenarnya hatinya tidak tenang.
***
Ezra yang ingin cepat sampai di tempat tujuan. Akhirnya memutuskan untuk naik jet pribadinya. Setelah sampai di landasan, dia harus naik mobil selama satu jam menuju rumah Bu Rose, yang tempatnya tak jauh dari lokasi sekolah sang putri.
Sepanjang perjalanan menuju kota, yang juga kota kelahirannya itu, dia tidak bisa tenang. Dia kepikiran dengan ucapan Bu Rose. Mantan wali kelas putrinya. Hatinya sibuk menduga-duga, benarkah dia melakukan perbuatan tak terpuji itu pada gadis yang ada di video itu? yang wajahnya disamarkan.
__ADS_1
Kalau itu benar, itu artinya dia harus bertanggung jawab pada perbuatannya. Akankah dia akan dituntut keluarga sang gadis, agar menikahi wanita itu?
"Astaghfirullah...!" Lagi-lagi Eza beristighfar Untuk keseratus kalinya. Kalau keluarga gadis itu memaksa dirinya, untuk menikah dengan gadis itu. Lalu bagaimana dengan Anindya, wanita yang baru dinikahinya dua hari itu.
Cccchhhkkkk....
Ezra berdecak kesal, kenapa ini semua harus terjadi padanya. Dia jadi korban dari ulah putrinya sendiri.
"Bos, kita sudah sampai." Ucapan asisten keduanya yang bernama Bimo mengangetkannya. Ezra sampai memegangi dadanya yang tiba-tiba saja berdebar kuat, karena terkejut itu.
"Apa ini benar rumahnya?" Ezra menghela napas berat, memperhatikan sekeliling dengan tidak tenangnya.
"Ya Bos, dari alamat yang diberikan, ini sudah benar Bos." Sang asisten membuka pintu mobil. Dengan ragu, Ezra turun dari mobil itu. Rasanya dia tidak percaya kalau dirinya telah merusak hidup seorang gadis.
Benar saja, saat Ezra berdiri di sebelah mobil mewah yang berwarna hitam itu. Seorang wanita yang berusia sekitar 37 tahun dengan penampilan islami berjalan ke arahnya. Rumah yang tak berpagar itu, membuat sipemilik rumah, lebih cepat mengetahui ada tamu yang datang.
"Assalamualaikum... Bu Rose." Ujar Ezra ramah dengan mengatupkan kedua tangannya.
"Walaikum salam Pak!" Jawab Bu Rose, menjawab salam Ezra, wanita yang berhijab syar'i itu juga mengatupkan kedua tangannya. Membalas salam Ezra yang tidak boleh bersentuhan itu.
"Oh Ya Pak, Nak Raranya mana?"
TBC
__ADS_1