
'Iya bos, aku mengerti itu semua. Pernikahan bos dan Non Zahra bisa dipermasalahkan karena Non Zahra masih anak sekolah. Makanya aku sarankan untuk saat ini, setidaknya seminggu ke depan. Bos dan Non Zahra harus menghentikan kegiatan di luar." Jelas Dika dengan seriusnya.
Ciiihh...
"Berani sekali kakek tua itu mengusik kehidupanku. Harusnya kita yang menekannya, cucunya terus saja menganggu Zahra istriku." Ezra bicara dengan kesalnya. Sudut bibirnya terangkat sebelah kiri. Pak Subroto ingin bermain dengannya. Yuk, anda jual aku beli.
Hahaha.
Ezra berputar -putar di kursi kekuasaannya. Dia suka tantangan ini. Sudah lama hidupnya terlaku datar, setelah bercerai dengan Rani.
"Sebelum dia cari gara-gara denganku. Kamu harus cari kelemahannya. Aku tak mau hidupku terkekang karena takut pada kakek itu. Aku tak melakukan kesalahan Dika. Untuk apa aku takut akan semua itu. Walau sesuai undang-undang Zahra belum pantas untuk menikah. Tapi, secara agama sudah. Dia sudah Akil baligh. Lagian, pernikahanku dan Zahra belum di daftarkan." Ujar Ezra tegas. Dika hanya menggut-manggut mendengar penjelasan Ezra.
"Iya bos, apa salahnya kita waspada." Sahut Dika dengan sopannya.
"Laporkan ke pihak berwajib, atas kejadian Zahra yang diculik tempo hari. Kamu cari bukti kuat, saat mereka menculik Zahra. Sebelum dia cari gara-gara. Kita harus bertindak cepat. Aku tak mau pria itu mengusik kehidupanku." Tegas Ezra menatap tajam Dika. Pria Itu siap perang dengan ayahnya Alvian.
"Iya Bos!" Dika menundukkan kepalanya sebagai tanda siap menerima tugas.
"Target kita pak Subroto. Aku tak mau hanya anak buahnya yang ditangkap. Selidiki tentang usaha mereka, cari kelemahannnya!" tegas Ezra, pria itu bangkit dari duduknya. Dan berjalan ke arah jendela kaca yang menampilkan pemandangan jalanan yang dipadati kendaraan.
"Siap Bos!"
"Acara makan siang ini tak boleh gagal, hanya karena takut pada kakek picik itu. Kita tak pernah melakukan kesalahan. Jadi, kenapa harus takut pada terornya." Jelas Ezra dengan tetap memandang ke arah luar kaca jendela ruangannya.
"Iya Bos, semuanya sudah saya siapkan!"
"Bagus, sekarang kamu keluar lah dan cepat laksanakan tugas yang aku perintahkan tadi "
__ADS_1
"Siap.. Laksanakan!" Jawab Dika layaknya seorang komandan yang menerima tugas dari atasannya.
***
Tok
Tok
Tok
Ezra yang tahu sang bahwa yang mengetuk pintu ruangannya, bergegas cepat membuka handle pintu kaca itu. Dia mempersilakan sang istri masuk ke ruang kerjanya layaknya seorang pelayan yang memberi sambutan pada tuannya. Tentu saja sikap Ezra yang lebay itu membuat Zahra merengut. Dia tak suka sikap Ezra yang dianggap terlalu lebay.
"Iihh... Hubby apaan sih? mesti kali menunduk memberi hormat seperti itu?" ujar Zahra dengan wajah masamnya.
"Ya ampun, semakin cemberut koq semakin manis sih istriku ini?" Ezra langsung memeluk Zahra yang masih terkaget-kaget dengan sikap lebaynya Ezra. "Kalau gak dibalas pelukannya, maka pelukan ini gak akan Hubby lepas."
"Entah kapan istriku ini ikhlas menerima kasih sayang dari suaminya. Heran deh!" keluh Ezra, yang kini berjongkok di hadapan Zahra yang sudah duduk di sofa.
"Iiihh... By, kenapa malah jongkok. Jangan buat aku jadi merasa gak enak an karena sikap Hubby yang aneh ini " Protes Zahra, meraih kedua tangan sang suami, agar bangkit dan duduk di sebelahnya saja. Zahra merasa enggan pada Ezra yang memperlakukannya sangat berlebihan. Dia ingin sikapnya Ezra biasa-biasa saja. Seperti sikap para bapak-bapak di kampung nya kepada istrinya. Di mana tidak terlalu Romantis.
Huuffft..
Ezra menghela napas dalam, dia sedikit kecewa melihat reaksi Zahra yang selalu protes dengan sikap yang penuh dengan kasih sayang serta perhatian extra itu.
"Halwa, jangan larang Hubby melakukan tugas Hubby. Tugas suami selain memenuhi nafkah lahir batin juga harus bersikap lembut, romantis, perhatian dan siap menjadi teman curhat." Jelas Ezra meriah jemari Zahra yang kini semakin lembut dan halus saja. Maklumlah Zahra sudah rutin perawatan di rumah. Karena di rumah itu sudah ada spa.
Zahra terdiam dengan penuturan sang suami. Dia sebenarnya suka dengan sikap Ezra yang penuh kasih sayang itu. Tapi, tak harus over, dia takut nantinya ketergantungan pada perhatian sang suami.
__ADS_1
"Iya By, maaf. Adek hanya belum terbiasa saja " Jawabnya membalas tatapan sendunya Ezra yang membuatnya terbuai.
Takut terjerat dengan tatapan mematikan sang suami. Zahra dengan cepat mengalihkan pandangannya. Kedua matanya menyoroti setiap sudut ruang kerja suaminya itu. Ini pertama kalinya Zahra ke ruangan itu. Zahra yang merasa malu ditatap terus sang suami. Memilih bangkit dari duduknya. Wanita yang deg deg an itu, kini tertarik untuk melihat apa saja di atas meja kerja sang suami. Wajahnya yang masih tersipu malu, kini jadi berbinar-binar melihat fotonya bersama sang suami dalam posisi mesra di atas kuda. Sesaat Zahra berfikir, kapan foto itu dibidik? Karena setahu dia, tak ada asisten sang suami yang ikut mereka jalan - jalan saat itu.
"Astaghfirullah...!" Zahra terkejut, saat sang suami yang tiba-tiba sudah memeluknya dari belakang. Bingkai foto yang diraihnya, hampir saja terjatuh, saking terkejutnya Karena kelakuan mesranya Ezra.
"Koq pajang foto ini sih By." Zahra sudah memakai hijab sekarang. Jadi dia tak suka fotonya yang belum berhijab terpampang di meja kerjanya Ezra. Mana fose mereka romantis sekali. Mereka yang sedang menunggang kuda, dirinya dipeluk Ezra dari belakang dan wajah tampannya Ezra yang sumringah bertengger di bahunya Zahra.
"Napa emangnya sayang?" masih memeluk Zahra dari belakang yang membuat Zahra ngap, sesak sekali rasanya dipeluk erat seperti yang dilakukan Ezra.
"Ini fotonya norak!" Zahra meletakkan kembali bingkai foto itu di atas meja kerjanya Ezra. Sungguh dia malu sendiri melihat foto mereka berdua itu.
"Koq norak sih? ini keren dan romantis." Ujar Ezra, dia akhirnya melepas rengkuhan tangannya yang membelit pinggang sang istri, karena Zahra selalu berusaha mengurai belitan tangan kokoh itu.
"Eemmm itu sih buat Hubby, kalau buatku norak." Pungkas Zahra, memilih duduk di sofa sembari menyoroti kembali lebih detail ruang kerjanya Ezra.
"Terus foto yang gak norak itu seperti apa sayang?" mengotak Atik ponselnya di hadapan Zahra. "Ya sudah kita foto lagi dengan gaya yang gak norak." Ezra melingkar kan lengannya di punggung sang istri, wajahnya di dekatkan ke wajahnya Zahra. Pria itu pun beberapa kali mengambil gambar.
Hahahaha ...
Ezra tertawa dengan lepasnya, kaki pria itu sampai terangkat saking semangatnya tertawa, melihat hasil jepretan mereka yang sangat kaku.
"Ini lucu, lucu. Hubby akan figuran foto ini sebesar-besarnya."
"Jangan, jangan By. Ini jelek sekali " Zahra dengan cepat menghapus semua foto mereka yang ada di galeri ponsel sang suami. Fose mereka saat berfoto terlihat aneh. Mana eskpresi keduanya saat berfoto sangat kontras. Zahra tanpa ekspresi, sedangkan Ezra tersenyum mengembang.
"Eeemmm.... Semua salah. Ya sudah, sehabis makan siang, kita ke foto studio ya sayang?!" Ezra meraih tangan sang istri. Dia menggandeng Zahra keluar dari ruangannya. Dan sebelum mereka makan siang. Dia membawa Zahra ke sebuah ruangan. Ternyata di ruangan itu, semua karyawan Ezra tengah berkumpul. Dia akan mengenalkan Zahra pada semua karyawan. Tentu saja membuat pengakuan bahwa Zahra adalah istri yang sangat dicintainya.
__ADS_1
TBC