AKU MADU IBUKU

AKU MADU IBUKU
Terkejut


__ADS_3

"Terus apa masalahmu dengannya? apa kamu gak kasihan lihat wajah setresnya atas sikapmu. Ra, Ezra itu pria baik. Asal kamu tahu, kalau bukan kamu wanita itu, umak tak akan melepaskannya." Ujar Anin dengan mata berkaca-kaca. Dia dengan cepat memalingkan wajahnya karena tak sanggup menunjukkan kesedihannya. Bagaimana pun hatinya masih sakit atas apa yang menimpanya. Tapi, demi kebahagiaan sang putri, dia mau mengalah dan mencoba ikhlas. Walau terkadang jikalau mengingat semuanya hatinya terasa sakit sekali.


Zahra terhenyak mendengar penuturan sang ibu. Dia terpaku, menatap wajah sedih sang ibu dari samping. Ibunya itu sudah berkorban banyak untuknya, bahkan ibunya itu mengiklaskan Ezra jadi miliknya.


"Masalah kalian apa Boru?" merasakan sikap Zahra berubah kepadanya. Anin tersadar, kalau dia sudah salah bicara. Anin tak ada maksud bicara seperti itu. Dia hanya ingin memberi Zahra pandangan bahwa Ezra pria yang harus diperjuangkan.


Wanita itu kini mengelus lembut pipi Zahra yang putih bersih itu. "Ceritalah.... Eemmmm!" Mengangkat sedikit wajahnya, menunggu penjelasan dari sang putri. "Umak mengatakan seperti itu, agar kamu tahu diri Boru. Ezra itu pria baik, sempurna. Banyak sekali wanita yang ingin jadi pendampingnya. Kamu jangan buat suami kesal, tak tenang hatinya karena sikap kekanak-kanakanmu. Kalau kamu seperti ini, terus dia bosan dan cari wanita lain gimana?"


"Biarin saja, berarti dia gak terbaik untukku. Entahlah Mak, kadang aku merasa kesal sendiri. Kenapa sih harus menikah secepat ini. Mana hamil lagi, dan kenapa harus dia ayahnya Rara. Kadang aku dongkol sendiri Mak, memikirkan itu semua." Keluh Zahra, menekuk bantal yang ada di atas pahanya dengan kesalnya.


Zahra masih ragu dengan perasaannnya. Dia belum mencintai Ezra sepenuhnya. Jadi, disaat Ezra tak sesuai dengan keinginannya, dia jadi benci suaminya itu. Zahra belum ikhlas menerima kenyataan bahwa Ezra adalah ayahnya Rara.


"Umak mengerti apa yang kamu rasakan sekarang sayang. Tapi, itulah hidup. Tak semua yang kita inginkan akan terwujud. Jadi, kita harus banyak bersabar dan ikhlas menerima ketentuannya. Tak bisa kamu pungkiri kalau Rara adalah putri dari suamimu. Kamu harus jasa menerima kenyataan itu, berdamai dengan hati, agar kamu gak setres mikirin nya. Lagian, Ezra menjauhkan Rara darimu. Kenapa kamu mesti memusingkan itu sayang. Hidup jangan dibuat ribet. Nikmati saja, selagi kita masih di jalan yang benar."


Ciiiihhh..


"Entahlah Mak, ada saja masalah yang datang. Mana aku kepikiran Ferdy dan ingin sekali bertemu dengannya. Info yang ku dapat dari umak, malah membuatku semakin penasaran tentangnya." Ujar Zahra sedih.


"Hubby marah, karena aku bilang ingin bertemu dengan Ferdy "


"Ya jelaslah dia marah, mau apa kamu ingin bertemu dengannya Boru? Mau membuat masalah baru?"


Anin menggeleng dengan kesalnya. Dia menyayangkan keinginan putrinya itu.


"Zahra hanya ingin lihat keadaannya saja koq ma. Gara-gara Zahra dia masuk rumah sakit." Ujar Zahra dengan sedihnya.


"Buang-buang jauh keinginan gila itu, sebelum terjadi perang dunia ke 3." Anin bangkit dari atas ranjangnya. Dia merasa haus karena banyak bicara ditambah suasana hatinya jadi buruk, karena memikirkan rumah tangga Zahra. Wanita itu duduk di kursi meja riasnya. Meneguk air mineral yang ada di atas meja riasnya itu.


"Hatiku gak akan tenang, kalau gak berjumpa dengannya mak."


"Jangan terlalu mengikuti keinginan hati yang sesat. Kamu sudah punya suami, ngapain mikirin pria yang sudah jelas bisa merusak keharmonisan rumah tanggamu." Ujar Anin menatap lekat Zahra. Setelah meletakkan botol air minum di atas meja riasnya.


"Iya Mak, aku juga mikirnya begitu, tapi entah kenapa aku ingin sekali berjumpa dengannya. Meminta maaf padanya, menjelaskan semuanya."

__ADS_1


"Gak ada gunanya itu sayang. Tak ada yang perlu kamu jelaskan padanya.


Ciiiihhh


"Gak ada yang mau mengerti. Padahal aku hanya ingin melihatnya sekali saja. Gak ada maksud apa-apa " Keluhnya kembali membaringkan tubuhnya di atas ranjang empuk sang ibu. "Aku mau tidur, capek bahasnya gak ada ujungnya Mak." Ujar Zahra malas, ia pun menutup kedua matanya.


Huuff


Anin menghela napas panjang. Dia mengkhawatirkan nasib pernikahan putrinya yang seolah tak siap menikah muda. Anin memperhatikan wajah polosnya Zahra yang sudah tertidur lelap itu. Putrinya itu gampang sekali tertidur. Seperti orang kelelahan saja.


***


"Nyonya ada tamu di luar?" ujar pelayan wanita yang bernama Susi kepada Anin, yang tengah sibuk memasak makanan kesukaan Zahra di dapur, yaitu semur ayam.


"Siapa Sus?" Anin menoleh ke arah Susi yang berdiri tak jauh di belakangnya.


"Tuan Bimo Nyonya." Jawab Susi ramah dengan senyam-senyum. Susi gadis belia yang cantik sepertinya naksir sama Bimo yang macho itu.


Bimo? ngapain dia kesini? bukannya kemarin aku sudah jelas menolaknya? Anin membatin, pemasaran dengan maksud kedatangan Bimo ke rumahnya lagi.


Anin berjalan cepat menuju ruang tamu dengan penuh tanda tanya. Apa prihal yang membuat pria itu datang sore-sore begini ke rumahnya. Emang sih, mereka tetanggaan. Tapi kan semalam Bimo tak tidur di rumahnya. Dia dapat kabar itu, karena Susi selalu kepo kepada Bimo.


Ehhmmm..


Suara deheman Anin, membuyarkan lamunan pria itu. Ia langsung bangkit dari duduknya dengan senyum tipis tapi manis kepada Anin.


"Ada apa ni Bim?" tanya Anin, membuang rasa tak enak di hatinya.


Bimo masih dengan ekspresi wajah manisnya. "Gak ada hal penting, hanya ingin antarkan ini. Tadi aku masak banyak." Bimo menyerahkan rantang anti tumpah dua susun pada Anin. Dengan bingungnya wanita itu menerimanya.


Anin yang penasaran langsung memeriksa isi rantang tersebut. Rantang pertama berisi gulai ikan baung sale campur terong, kacang panjang serta melinjo. Sedangkan rantang kedua berisi sambal ikan teri nasi Sibolga mix kacang tanah, tahu tempe dan jengkol.


Kedua bola mata Anin membulat melihat isi rantang yang dibawakan oleh Bimo. Tampilannya sungguh menggugah selera. Mana ada jengkol di sambal ikan teri itu. Anin sudah lama sekali tak makan jengkol.

__ADS_1


"I--ni.."


"Itu aku yang masak!"


Bimo memotong cepat ucapan Anin.


"Ya ampun ... Seperti nya enak sekali. Aku perlu belajar memasak padamu Bim." Ujar Anin dengan tertawa tipis. Dia merasa lucu saja, membayangkan Bimo yang macho itu memasak di dapur.


"Eemmmm.... Jangan meledek kamu Nin. Kamu saja sudah jadi koki di rumahnya si bos."


"Bosmu salah pilih orang. Harusnya kamu yang jadi koki pribadinya, bukan aku!" Anin meminta Susi menyimpan rantang yang dibawa Bimo ke dapur. Kemudian mereka kembali duduk di sofa ruang tamu itu.


"Aku mau resign dari perusahaan Assegaf group." Ujar Bimo dengan ekspresi wajah tak bisa dibaca. Pria itu tertawa kecil, tapi wajahnya terlihat muram.


"Kenapa?" tanya Anin dengan penasarannya.


"Aku ingin berdikari sendiri. Bosan juga jadi kacung orang." Keluh Bimo. Pria itu merasa nyaman dan nyambung curhat pada Anin. Makanya dia datang hari ini ke rumah wanita yang sudah menolak cintanya itu.


Anin Tipe wanita yang selalu terlihat tertarik melihat lawan bicaranya. Makanya dia enak jadi teman cerita, karena wanita itu bisa larut dalam topik yang dibahas.


"Eemmm... Keputusan yang bagus."


"Iya, apalagi sekarang kerjaanku melenceng dari ijazah yang ku miliki. Sekarang aku keseringan diberi kerjaan menangani masalah pribadi si bos. Saat ini malah menangani di Rara yang menyebalkan." Keluh Bimo seperti anak ingusan yang mengadu pada ibunya.


"Oohhh...!" Anin terlihat antusias mendengar curhatan Bimo. Tadinya Anin beranggapan Bimo akan membahas masalah asmara. Ternyata tidak sama sekali.


"Kalau aku jadi si bos. Aku akan memberikan Rara pada ibunya. Toh Rara bukan anak kandungnya. Ini si bos malah repot sendiri dibuat anak iblis itu. Dasar....., benar-benar anak iblis. Itu anak saat dicetak, pas di jam ban kali ya. Benar-benar buat eneg dan mual."


Hueekkkk...


Membayangkan toilet membuat Bimo Beneran ingin muntah.


"Bukan anak kandungnya? maksudnya apa ya Bim?" ujar Zahra, yang ternyata sudah ada dibelakang mereka.

__ADS_1


TBC


Like, komentar positif dan vote


__ADS_2