AKU MADU IBUKU

AKU MADU IBUKU
Ice cool


__ADS_3

Mobil yang dikendarai Bimo sudah melaju sekitar 30 menit. Selama perjalanan, suasana di dalam mobil itu lebih menyeramkan dari TPU (Tempat pemakaman umum). Tak ada suara sedikitpun, hanya deru mesin mobil yang terdengar jelas. Karena jalanan sudah sepi. Waktu sudah menunjukkan pukul 00.06 Wib saat ini.


Setelah melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Rara kembali menyoroti sekeliling sambil menarik napas berat. Ia akhirnya tahu, mobil yang dikendarai suaminya itu sedang melintas menuju kota Berastagi.


Kota Berastagi merupakan kota dingin yang sejuk dan indah. Berastagi merupakan kota yang cukup terkenal akan pariwisatanya. Pemandangan yang indah suasana yang asri juga udara yang dingin menjadi pilihan yang tepat untuk menenangkan diri dan liburan di tempat itu bersama keluarga . Berastagi adalah sebuah kecamatan yang terletak di kabupaten Karo,Sumatera Utara.


Mengetahui mereka akan ke kota yang indah itu, seketika kedua sudut bibir sexynya Rara melengkung sempurna, menciptakan senyum yang manis.


Apa kami akan bulan madu? kenapa malah pergi ke Kota Berastagi?


Rara membathin, hatinya tersipu-sipu malu memikirkan itu. Ia yang penasaran dengan pemikiran yang muncul dibenaknya. Melirik Bimo dari spion. Walau sudah malam, wajah cool itu masih terlihat jelas dari kursi barisan kedua yang diduduki Rara saat ini.


Mana mungkin kami mau liburan dan bulan madu? mukanya saja sudah seperti pembunuh bayaran.


Rara kembali membathin, pemikiran yang muncul di otaknya itu salah 100%. Ia menggeleng kuat, membuang pikiran itu.


Tapi, kami mau ke mana? Kenapa dia membawaku ke sini? kan aneh.


Rara tak tahu, bahwa Bimo punya perkebunan sayur dan buah-buahan di kota Berastagi. Karena sejak Bimo menjaga jarak dengannya. Ia tak mau tahu lagi dengan kabarnya Bimo. Setahu Rara, Bimo itu hanya punya sebuah rumah di perumahan elit, yang satu blok dengan Anindya.


Masa bodoh, dia mau membawaku ke mana. Mau dia bunuh pun aku sudah pasrah. Toh gak ada gunanya aku hidup di dunia ini. Tak ada yang menyayangiku dengan tulus. Ibu memang baik, tapi kelakuan ibu tak baik.


Rara tak henti-hentinya bermonolog, berperang bathin. Tadi sebelum mobil keluar dari rumah Ezra. Suaminya itu memberinya kesempatan berfikir lima menit. Apa ikut dia, atau kembali masuk ke rumahnya Ezra.


Tentu saja Rara memilih ikut dengan Bimo. Karena, kini pria itu telah jadi suaminya. Ia tak mungkin bergantung terus dengan Ezra. Karena, Ezra bukan ayah biologisnya.


Rara yang mulai merasa Kantuk, akhirnya memutuskan untuk tidur saja. Ia pun memejamkan kedua mata sembabnya. Baru juga menutup mata, ia merasakan mobil berhenti. Ia membuka sebelah matanya. Memperhatikan sang suami, yang bersiap-siap hendak keluar dari mobil.


Saat Bimo yang hendak turun, menoleh ke belakang. Ia pun dengan cepat menutup matanya dan berpura-pura tertidur.

__ADS_1


Pukk...


Pintu mobil terdengar ditutup dengan pelan. Ia yang penasaran dengan Bimo, akhirnya membuka matanya lagi. Mengubah posisi duduknya agar bisa melihat sang suami pergi ke mana dengan jelas. Ternyata kini mereka sedang berada rest area.


Rest area tipe C Ketersediaan fasilitas di dalamnya pun cukup terbatas, hanya ada warung makan atau kios, mushola, toilet, dan sarana tempat parkir saja.


Bimo terlihat masuk ke dalam sebuah rumah makan, dan tak berapa lama suaminya itu keluar dari rumah makan itu dengan tangannya sibuk membuka sebuah bungkus rokok, tapi pandangan mata sang suami, menyoroti sekitar. Sama sekali tak melihat ke arah tangannya yang membuka bungkus rokok itu. Bimo terlihat sudah terampil membuka bungkus rokok itu.


"Ya ampun, sejak kapan paman Bimo merokok?" ucapnya sendiri di dalam mobil dengan memperhatikan lekat apa yang dilakukan Bimo. Kini suami nya itu duduk di sebuah kursi plastik warna hijau.


"Kenapa paman Bimo gak duduk di dalam warung makan, kenapa harus duduk di luar? apa dia sedang menjagaku dari jarak jauh. Takut aku kabur? emang aku diculiknya? Hadeuhh.... Kenapa kamu sangat misterius paman."


Ucapnya dengan berdecak kagum melihat sang suami yang santai saat menyesap rokok, yang digadang-gadang orang sebagai tanda kejantanan. Satu kaki sang suami diangkat menimpa kakinya yang satu lagi. Dan kaki itu tak henti-hentinya bergoyang-goyang. Sesekali Bimo terlihat menguap dan mengusap wajahnya serta mengucek matanya.


Ia yakin, suaminya itu sudah kelelahan dan kantuk sekali. Makanya suaminya itu memilih mengistirahatkan tubuhnya. Karena, mereka masih harus menempuh perjalanan sekitar 30 km lagi, kalau Bimo ngebut, tentu gak sampai setengah jam mereka akan sampai, karena suasana jalanan sudah sepi.


Terlihat seorang pelayan wanita membawakan secangkir kopi untuk Bimo. Pria itu pun mulai menyesapnya dengan perlahan. Menikmati nikmatnya kopi yang terasa pahit manis itu.


"Ya Allah... Aku kebelet pipis lagi." Zahra memegang perut bagian bawahnya. Ia tak tahan lagi.


"Apa aku keluar saja ya?!" ujarnya bingung, ia sedang takut bicara pada Bimo, minta izin ke toilet. Ia tak sanggup ditatap sinis.


"Akkhh.. Hanya sebentar koq, ngapain izin segala. Paling aku sudah selesai pipis, ia masih ngopi." Ujarnya lagi, membuka pintu mobil dengan mendekap tubuhnya.


Rara tak menyangka mereka akan ke kota Berastagi. Jadinya ia tak memakai jaket. Syukur ia sedang memakai kemeja bahan flanel tebal dan celana jeans. Sehingga udara dingin yang menusuk tulangnya bisa ditahan.


Toilet yang berada sedikit jauh dari tempat Bimo minum kopi, membuat nya tak terlihat saat memasuki area kamar mandi yang berada terpisah dari warung makan yang mereka singgahi. Sesampainya di toilet itu, ia ternyata harus antri. Karena banyaknya pengunjung yang ingin buang air kecil. Wajar sih orang-orang di tempat itu ingin pipis. Karena daerah itu terkenal dengan hawa dingin. Apalagi kini sudah hampir jam satu malam.


Lima menit antri, akhirnya Rara mendapatkan toilet kosong juga. Ia kembali menggigil kedinginan. Saat ingin bersih-bersih. Airnya benar-benar dingin, seperti es yang membuat miliknya sampai terkejut.

__ADS_1


Bbrrrr...


Rara yang kedinginan merenggangkan otot-ototnya, setelah membuang hajatnya. Ia tak sanggup lagi menahan hawa dingin yang menusuk ke tulang itu.


Ia ke luar dari toilet dan berlari ke arah mobil, sembari menatap ke tempat Bimo tadi duduk, dan ternyata suaminya tak ada lagi di tempat itu.


"Seperti nya paman Bimo sudah menungguku di dalam mobil." Ucapnya menambah kecepatan berlarinya.


Saat ia sudah masuk ke dalam mobil, ternyata paman Bimo juga gak ada di dalam mobil itu.


"Akkhh.. Mungkin dia sedang makan di dalam." Rara yang tak tahan dengan hawa dingin, akhirnya mencari sesuatu yang bisa membuatnya merasakan sedikit kehangatan di dalam kopernya.


Gimana dia mau berkemas barang, ia saja hanya diberi waktu 10 menit mempacking barangnya. dan lima menit waktu sudah habis untuk memarahinya. Jadi, hanya sisa lima menit untuk mempacking barang miliknya.


"Ya ampun... kenapa aku gak ada bawa jaket, atau cardigan. Sial...!" Ujarnya masih menggigil, dan kembali mengunci kopernya.


Ceklek...


Ia yang lagi sibuk mengunci koper, dikejutkan oleh suara pintu yang dibuka dengan tak sabaran.


"Kalau mau ke pergi, dikasih tahu."


Pukk


Pintu mobil itu dikunci kasar. Rara dibuat terlonjak kaget. Ternyata suaminya itu membuka pintu sebelahnya. Hanya untuk memarahinya.


"Astaga... !"


Rara mengelus-elus dadanya yang masih berdebar hebat, karena ketakutan dan terkejut itu.

__ADS_1


TBC


__ADS_2