
"Takut..! apa yang kalian takuti?" Ujar Anin di belakang mereka yang membuat keduanya terlonjak kaget. Wanita itu memperlihatkan aneh kedua pria yang sedang tegang itu.
Bimo yang terkejut itu, langsung mengelus dadanya, memalingkan pandangannya dari tatapan Anin. Begitu juga dengan Alvian.
Alvian melirik Bimo dengan ekspresi wajah bersaingnya. Dia jadi merasa tertantang untuk mendapatkan Anin.
Kedua pria yang lagi bersitegang itu, kini sedang berperang bathin. Ternyata untuk mendekati janda kembang di hadapan mereka, tak semudah yang mereka bayangkan. Ternyata saingan banyak.
"Dokter terima kasih untuk makan malamnya ya?" ujar Amin memecah konsentrasi kedua pria itu, karena mendengar suara Anin yang membuat dada kedua pria itu bergemuruh.
"Iya dek." Alvian mendekati Anin, wanita itu sekarang sedang dibantu perawat untuk minum obat. Dia sekalian saja mau kesempatan untuk mendekati Anin.
"Bagaimana tadi lukanya sus?" tangan Alvian pada suster. Dia pandai sekali cari topik pembicaraan agar bisa berinteraksi dengan Anin.
"Bagus dok!" jawab suster ramah.
"Syukurlah, kedepannya Adek harus jaga pola makan ya? jangan telat makan lagi, jangan setres!" ujar Alvian dengan senyum manisnya.
Bimo yang tahu Dokter itu sedang mencari kesempatan, memilih untuk diam. Karena, dia tahu, Anin sudah jengah dengan sikap mereka. Kedua bola mata Bimo tak pernah lepas dari interaksi kedua orang di hadapannya. Dia mengawasi setiap gerak gerik Dokter Alvian yang terlihat cari-cari kesempatan itu.
Bimo yang sedang duduk di sofa itu juga sedang menilai-nilai Anin. Pantes Bos nya ngebet sekali waktu itu, ingin menikahi wanita itu. Karena Anin memang sangat cantik, wajahnya itu mirip orang Arab, wajah lonjong, hidungnya mancung, matanya besar nan indah, dengan warna bola mata yang cokelat, yang dibingkai dengan bulu mata tebal melekuk indah. Kulitnya putih bak susu. Bibirnya gak tebal dan gak tipis, tapi terlihat sangat menggoda. Koq ada wanita Batak secantik ini. Biasanya juga cewek-cewek dari kota Bandung yang cantik-cantik. Mana punya hati lembut, sabar dan Soleha lagi.
Dibandingkan ke Zahra, jelas Zahra kalah jauh. Mana Zahra sikapnya keras kepala, beda sekali dengan ibunya. Tapi, dengan Zahra buat suasana jadi menyenangkan. Tingkah konyol nya bisa buat happy.
"Hadeuuuhh!"
Bimo menoyor kepalanya sendiri. Koq bisa dia suka pada Anin. Mana itu mantan istri Bos nya. Tapi, sepertinya cintanya akan bertepuk sebelah tangan. Saingan nya berat coy. Dokter Alvian. Dokter Alvian yang kaya raya, punya pusat perbelanjaan terbesar di kota Medan, punya rumah sakit dan perkebunan kelapa sawit dan karet. Ditambah ada usah perhotelan, mebel.
"Hadeihhh... tahu diri ajalah Bimo." Ucapnya pada diri sendiri. Pria itu pun membaringkan tubuhnya di sofa. Dia sedang malas bersaing dengan Alvian. Jadi dia membiarkan Alvian malam ini yang dekati Anin.
__ADS_1
Pria yang sedang baring di atas sofa itu, malah membayangkan tinggal di kampung bersama Anin. Di tepi sawah yang indah, di tengah-tengah bukit.
Sudah sepuluh tahun dia bekerja dengan Alvian, dengan kehidupan rikuk pikuk di kota, membuatnya jadi pingin hidup sederhana di kampung. Yang penting, sudah punya rumah, kendaraan, naik haji, ada penghasilan tetap, bisa bersedekah. Apa yang diinginkan langsung didapatkan.
Oalah Bimo, itu sih namanya gak sederhana. Pria itu kembali menoyor kepalanya. Karena dia merasa khayalannya tak masuk akal. Hidup sederhana, tapi apa yang diinginkan terkabulkan. Kalau mau keinginannya cepat tercapai ya harus usaha.
***
Bimo terbangun dari tidur lelapnya. Karena mendengar suara Isak tangis yang menyayat hati. Rupanya saat golek-golek di atas sofa, pria itu malah ketiduran.
Bimo membuka kedua matanya yang sangat berat itu. Mengucek kedua matanya, serta mengusap wajahnya kasar. Pria itu merenggang kan otot-otot nya yang terasa pegal, karena tidur di sofa itu.
"Hooammm!" Ucapnya dengan mendudukkan tubuhnya malas. Suara Isak tangis semakin jelas terdengar. Pria yang merasa badannya pegal-pegal itu menggerakkan kepalanya ke kanan dan ke kiri, Sehingga menimbulkan suara retakan kayu.
Krek...
Krek...
Bimo bangkit dari sofa. Menyibak tirai warna hijau mint yang membatasi tempatnya tidur dengan bed Anin. Dia heran juga, siapa yang membentangkan tirai itu. Sehingga dia tidak terlihat di sofa.
Anin yang sedang menangis dalam keadaan tidur miring ke kanan itu, dibuat terkejut dengan suara jejak kaki yang menapak di lantai. Matanya yang berair, terlihat bergerak ke kanan dan ke kiri. Mawas diri, dan langsung terdiam. Ternyata masih ada orang di ruangan itu.
"Dek, Dek Anin,.!" sentuhan tangan lembut dirasakannya di lengannya. Anin cepat-cepat melap air matanya.
Itu suara Bimo, kenapa dia masih di sini? bukannya dia sudah pulang?
Anin tidak tahu, kalau Bimo tertidur di sofa.
"Dek Anin?" Bimo mencoba menarik pelan tubuh wanita yang lagi sedih itu dan akhirnya berbalik ke arahnya.
__ADS_1
Anin yang tak mau ketahuan menangis. Langsung tersenyum lebar. " Bukannya kamu sudah pulang Bim?" Ujar Anin, cepat mengubah ekspresi wajahnya jadi ceriah. Padahal wajah sembabnya jelas terlihat. Wanita itu langsung memutuskan kontak mata mereka. Dia tak mau Bimo mengetahui nya kalau dia menangis.
"Gak dek, Abang tidur di sofa tadi. Dokter Alvian sudah pulang?" Bimo tahu, Anin merasa malu, menutupi dirinya yang lagi sedih itu.
"Eehhmmm,.. Kalau mau cepat sembuh dan keluar dari sini, jangan sedih dong dek?" ujar Bimo, menatap lekat Anin yang kini tak mau memandang ke arahnya.
Mendengar ucapan Bimo Anin kembali menangis. "Kenapa ini terjadi padaku Bim?" Ternyata wanita itu belum sepenuhnya bisa menerima takdir kejamm yang menimpanya. "Anak sendiri jadi maduku!" huahuahua.... Anin akhirnya meluapkan tangisannya.
Bimo dengan ragu meraih wanita itu untuk didekapnya. Dan ternyata, Anin malah berhambur memeluknya. Menumpahkan kesedihan yang dirasakannya dengan tangisan yang kencang. Anin benar-benar menumpahkan semua rasa sakit yang mengganjal di hatinya.
"Eemmm.... Inikan sudah kita bahas dari semalam dek? tak ada gunanya mengungkit dan mengingat - ingat kejadian yang membuat hati semakin sakit dan kita jadi down." Pria itu memberanikan diri mengusap lembut punggung Anin.
Bimo juga berulang kali menghela napas panjang saat ini. Pasalnya jantung nya sudah berjoget-joget tak jelas di rongga dadanya kini. Dia nervouse parah.
Anin terdiam, benar kata Bimo. Tapi, terkadang jikalau sedang sepi, dia jadi memikirkan masalahnya. Anin yang ada dalam dekapan pria itu dibuat heran, dengan dada Bimo yang berdegup kencang. Dia pun akhirnya tersadar. Tak seharusnya dia berpelukan dengan Bimo. Walau Anin, saat ini menganggap Bimo adalah saudara laki-lakinya.
Anin menjauhkan tubuhnya dari dekapan Bimo. Dan langsung bersikap biasa saja. Menatap Bimo penuh harap, dia harus minta bantuan pada pria ini.
"Bim, Carikan aku kontrakan. Aku masih punya uang untuk kontrak rumah. Aku tak mungkin tinggal bersama Putriku. Itu rasanya tak nyaman sekali Bim?" ujar Anin lembut, tatapan matanya penuh harap.
Bimo tersenyum kecil
Lihatlah betapa tulus dan mulianya hati wanita di depannya. Dia masih sempat-sempatnya memikirkan kenyamanan untuk putrinya.
"Dek Anin, kamu tak perlu memikirkan kontrakan. Kalau kamu tak nyaman tinggal bersama Zahra saat ini. Kamu bisa tinggal di rumahmu nanti?" ucapan Bimo membuat Anin bingung. Dia tak punya rumah.
"Aku sudah siapkan satu unit rumah mewah, mobil, modal usaha 2 miliyar rupiah, tanah seluas 10 hektar yang ditanami kopi di kampung, serta berumroh ke tanah suci. Itu semua yang akan adek Anin miliki jika pengadilan membatalkan pernikahanmu dengan Pak Ezra." Ujar Bimo tegas.
"Apa?' tanya Anin tak percaya.
__ADS_1
TBC.
Banyak like, content positif vote, hadiah kita grazy up hari ini. Biar novel ini tamat aja di bulan Meiπ€π€π€π