AKU MADU IBUKU

AKU MADU IBUKU
Pengen dimanja


__ADS_3

"Ponsel ku!" Sibapak geram, sabit yang ada di tangannya melayang hendak membacok Ezra


Dia tidak terima ponselnya rusak.


Ezra yang jago kungfu mengelak dari sabetan tajam itu. Zahra juga ikut menghindar. Si bapak yang geram dan emosi ponsel ya rusak. Kembali menyerang Ezra dengan sabitnya. Ezra menangkisnya, dengan kayu bakar yang ada di depan gubuk itu.


Perkelahian antara Ezra dan si bapak semakin menegangkan. Apalagi Ezra sudah dikeroyok. Walau begitu, Ezra tentu masih membela dirinya.


Zahra yang panik, teriak minta tolong dan menjelaskan kalau mereka memang pasangan suami istri.


"Stop... kami ini pasangan sah. Dia suamiku. Jangan...Hentikan pak, ibu... Jangan main hakim sendiri." Zahra bicara dengan terisak. Satu orang ibu-ibu yang empati pada Zahra mendekat. Karena dia tahu kondisi Zahra sedang tidak baik-baik saja.


"Bu, kami ini suami istri Bu. Tolong hentikan perkelahian itu." Zahra memohon pada si ibu.


"Iya, iya nak. Kamu tenang, berdoa saja, agar situasi bisa tenang. Kamu sepertinya sakit " Ujar sang ibu, tak bisa berbuat banyak. Para petani yang mengeroyok Ezra sudah terhasut.


"Tolong.... Tolong...!" Teriak Zahra lagi, dia tidak mau. Gara-gara salah paham. Akhirnya terjadi pertumpahan darah. Dia yakin, suaminya itu akan baik-baik saja. Karena suaminya itu jago ilmu bela diri. Tapi, akan ada para petani yang terluka.


"Eehh.. Itu ada rombongan polisi. Hentikan semua ini. Kita serahkan saja mereka ke pak polisi." Ibu-ibu yang melihat segerombolan polisi, berada tak jauh dari tempat mereka.


"Pak Polisi... Ada keributan di sini..!"


Polisi yang mendengar teriakan itu, berlari cepat ke tempat kejadian.


"Zahra.. Zahra.... Kamu, mana si Bos?" Bimo nampak bingung melihat keadaan Zahra. Dia tidak melihat Ezra di situ.


Zahra menunjuk ke arah Ezra yang berkelahi, yang berada lima meter dari tempat itu. Bahan mereka berkelahi di dalam sawah. Padi yang menguning habis sudah kena injak.


"Astaga... Bos...!"


Pak polisi sudah melerai perkelahian empat lawan satu itu. Ezra tak ada luka sama sekali. Tapi, keempat pria yang mengeroyok Ezra. mengalami luka di wajah.


"Pak, tangkap mereka. Mereka ini pasangan mesum." Pemilik gubuk memprovokasi. Ya dia mengatakan apa yang dia lihat.


"Iya pak, ponselku juga dihancurkan pria tak punya modal ini. Tentu saja aku geram. Mana bisa dia ganti ponselku." Aduh bapak yang ponselnya di hancurkan Ezra.


"Kalian yang akan kami tahan. Karena melakukan pengeroyokan." Tegas Bimo, menatap para petani yang main hakim sendiri.


Ezra menepuk-nepuk bajunya yang kena lumpur, sembari berjalan cepat menghampiri Zahra.


Para petani yang punya jiwa kriminal itu, saling pandang. Masak mereka yang akan kena tangkap. Yang berbuat maksiat kan pasangan itu


Sejak hujan Reda, sekitar pukul tiga dini hari. Bimo sudah bergerak melakukan pencarian terhadap Ezra dan Zahra. Semua tempat sudah mereka telusuri, mulai dari sungai dan ke lembah-lembah di tempat itu. Dan terakhir mereka melakukan pencarian ke areal persawahan.


"Pak tangkap mereka." Ujar Bimo pada pak polisi.


"Tidak, tidak, kami tidak bersalah. Kami menemukan mereka di gubuk ini dalam keadaan bug--il." nampak sekali petani yang arogan tak punya sopan. Bicara saja gak baik, mengeluarkan kata-kata sarkasme. Harusnya dia bisa mengganti kata Bug--il. Dengan kata tanpa pakaian.


"Urus semuanya, segel gubuk itu, saya pastikan tempat ini dikelola oleh manusia yang jiwanya bersih. Bukan punya jiwa kriminal." Ucap Ezra tegas, menatap semua orang di tempat itu dengan penuh amarah. Zahra saat ini berada dalam gendongannya. Wanita itu sangat malu, dia pun menyembunyikan wajahnya di dada bidang sang istri.


Ezra naik pitam. Harusnya ditanya baik-baik jangan main tuduh. Ini sudah dijelaskan juga tetap tidak percaya.


"Ganti ponsel dia dengan harga sepuluh kali lipat." Ketus Ezra pada pria yang juga menyerangnya. Karena ponselnya dihancurkannya.


"Kalian bilang saya tak punya modal. Akan saya tunjukkan kekuasaanku pada kalian. Tadinya saya sangat ingin berterima kasih padamu kawan. Karena, dengan adanya gubuk ini. Kami bisa berteduh. Tapi, sikapmu, pikiran kotormu, telah merubah niat baik itu." Ezra bicara tegas pada pria pemilik gubuk.


Semua orang di tempat itu jadi ketakutan. Kenapa pihak kepolisian jadi berpihak pada pasangan yang berbuat mesum itu. Siapa pria ini.


Ezra pun meninggalkan tempat itu. Zahra berada dalam gendongannya. Sang supir langsung mengekori Ezra.


"Tuan, mobil kita di sana. Jalannya dari sini " Ujar sang supir, Ezra menurut saja. Dia harus cepat membawa Zahra ke rumah sakit. Suhu tubuh istrinya itu sudah sangat tinggi. Bahkan Zahra terlihat tak berdaya.


Gubuk itu pun di tutup. Bahkan pemiliknya gak bisa masuk ke dalam.

__ADS_1


Pemilik gubuk geram bukan main. Dia merasa dideskriminasi.


"Semua kita selesaikan di kantor polisi saja " Empat orang tersangka pengeroyokan Ezra di gelandang ke kantor polisi. Para petani yang hendak ke sawah, dibuat bingung, heran. Kenapa ada pasangan pria dewasa dengan anak SMA bermantap-mantap di gubuk.


Koq bisa pasangan itu sampai di sana. Pak polisi pun akhirnya menjelaskan pada warga yang penasaran. Seketika paras warga yang terhasut merasa bersalah.


***


"Minum... Minum....." Ujar Zahra lemah. Kini dia sedang berada di pangkuan sang suami. Ezra bahkan tak mau istrinya itu duduk di jok yang beda dengannya.


"Iya sayang, pegang Abang. Abang akan ambilkan minum." Ezra meraih botol minum yang ada di dalam mobil itu. Dia membantu Zahra untuk minum.


"Pak cepat sedikit." Titah Ezra pada sang supir. Dia akan membawa Zahra ke rumah sakit terdekat. Istrinya itu harus cepat dapat pertolongan. Suhu tubuh sang istri sangat tinggi.


"Iya bos " Pak supir semakin menambah kecepatan mobil yang dikendarainya.


"Mak.... Mak... Umak ee...!" panggil Zahra dengan logat bahasa Batak.


Zahra yang berada dalam pangkuan Ezra. Terus saja mengigau memanggil sang ibu.


"Umak.... Mak di mana?" sepertinya suhu tubuh Zahra sangat tinggi, sehingga wanita itu tak sadar lagi dengan apa yang diucapkannya.


"Iya sayang, kita akan cari ibumu. Kamu harus kuat ya!" Ezra merasa sangat kasihan pada sang istri. Dia tak henti-hentinya membelai rambut dan menciumi kening sang istri yang ada dalam pelukannya.


Zahra tak henti-hentinya bicara sedih. Ezra jadi sangat merasa bersalah. Tak seharusnya dia menuruti hawa naf--su nya tadi malam. Tapi, apa mau dikata, dia tak tahan melihat tubuh sang istri, saat berganti baju. Mana dia sudah bertahun-tahun puasa. Orang puasa ramadhan setahun sekali. Kalau si Ezra sudah lebih dari lima tahun. Dan ini memasuki tahun ke enam. Ehh disaat buka puasa, dia malah kena grebek.


Sial...


Moment ini akan jadi memang bersejarah, yang tak akan dilupakannya seumur hidupnya. Dia juga tak akan melepaskan Zahra. Dia hanya akan membuat Zahra sebagai istri satu-satunya. Karena, sudah terlalu banyak penderitaan yang dirasakan Zahra. Karena dia dan sang putri Rara.


Mereka pun sudah sampai di rumah sakit. Ezra langsung melarikan Zahra ke IGD. Dan ternyata Asisten Dika sudah ada di rumah sakit itu. Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit. Sang supir bergerak cepat, menghubungi Dika.


"Sus, suster... tolong istri saya." Teriak Ezra saat memasuki pintu masuk ke ruang IGD. Ezra gak memperdulikan lagi gimana kacaunya penampilannya saat ini. Apalagi sang istri. Zahra memakai baju seragam sekolah tanpa Bra dan bersarung. Pasangan itu sama-sama kacau.


Tahulah di dunia. Manusia gampang menilai orang, hanya dengan penampilan. Melihat penampilan Ezra yang tak rapih, mana bajunya berlumpur, tentu para suster mawas diri.


"Bos serahkan pada kami. Sebaiknya bos mandi dan berganti baju." Ucap Dika pada Ezra yang kini menemani Zahra diperiksa.


"Gak, saya ingin tahu keadaan istri saya. " Dika heran dengan sikap Ezra yang begitu khawatir pada Zahra. Di awal pernikahan, bos nya itu tidak memprioritaskan Zahra. Karena saat itu Bos nya itu sedang di mabuk asmara kepada sang isti Anindya.


Dika pun terdiam.


"Eemmm... Suhu tubuh adek ini tinggi sekali. 39,9 derajat Celcius. Dan pahanya juga luka. Sebaiknya kita rawat ya pak." Ujar dokter yang piket dengan ramah menatap Ezra dan Dika.


"Lakukan terbaik, dan hari ini juga, suhu tubuh istriku harus turun. Kalau tidak, saya akan tuntut rumah sakit ini. Karena pelayanan nya tidak amanah." Ucapan Ezra yang tegas, membuat dokter dan para suster di ruangan itu saling pandang, takut serta bingung. Koq mereka dituntut?


"Iya pak, maaf kalau pelayanan kami tadi ada yang tidak pas. Kami akan koreksi diri. Ibu ini harus dirawat inap ya pak." Ujar Dokter ramah. Dia yakin, sikap para suster saat menyambut Ezra, ada yang tidak pas ramah.


Ezra terdiam, mengusap kepala sang istri yang terlihat lemah.


Saat itu juga para perawat yang jumlahnya ada dua dibuat syok, melihat kismark yang ada di lehernya Zahra.


"Sepertinya anak ini, korban kekerasan orang kaya. Lihatlah seluruh tubuhnya. Penuh dengan cup--ang an dan kakinya juga lihat itu." Para suster saling bisik, saat membersihkan luka goresan di paha Zahra.


Ezra yang pendengarannya tajam mendengar bisikan-bisik para suster. Tapi, dia tak mau terpancing. Kalau dia terpancing. Itu sama saja dia terlihat seperti orang tidak berkelas. Sabar.... Tak perlu pusing kan apa kata orang. Yang jelas, Ezra tidak melakukan suatu kesalahan.


Setelah Zahra diperiksa. Dia pun akhirnya dibawa ke ruang rawat VVIP. Ezra meminta sang perawat membersihkan tubuh sang istri. Mengganti pakaian dengan yang bersih.


Sedangkan Ezra juga masuk ke kamar mandi. Dia akhirnya ingat, bahwa dari tadi dia sesak pipis.


"Aku bisa sendiri. Kalian keluarlah!" Zahra menolak untuk dibantu berganti pakaian. Dia malu, nanti para perawat akan menggunjingnya. Karena banyak sekali bekas stempel hasil maha karya nya Ezra di tubuhnya.


"Dek, mohon kerjasamanya. Ini memang sudah tugas kami sebagai perawat. Membantu adek bersih-bersih." Sempat Zahra menolak dibersihkan. Mereka takut akan kena pecat. Karena tak bisa melaksanakan tugas dengan baik.

__ADS_1


"Keluarlah kak. Please..!" para perawat semakin kalut. Tamatlah karir mereka. Mana ada juga yang tidak PNS, yang bertugas merai Zahra.


Ceklek ...


Ezra keluar dari kamar mandi dengan penampilan yang menawan. Sangat berbeda dengan penampilan nya saat datang ke rumah sakit itu.


Outfit yang dikenakan Ezra, memang pakaian orang kaya. Mana Ezra wangi sekali lagi.


"Kenapa belum di ganti?" Ezra yang kesal pada perawat itu, menunjukkan wajah sangar.


"Maaf pak, adek ini yang gak mau." Ucap perawat itu gugup


"Ya sudah, sana keluar. Gak becus kalian bertugas." Zahra ingin tertawa melihat sang suami, yang sok sok an bersikap arogan. Gak cocok banget dengan bahasa tubuhnya.


Para perawat itu pun ngacir. Zahra tersenyum tipis. Dia tahu suaminya itu sedang ngebanyol.


"Kenapa jadi manja sekarang?" Ezra mendekati sang istri, mencium kening dan bibir Zahra dengan cepat. Pria itu pandai sekali mencuri ciuman dari Zahra.


"Siapa yang manja?" ujar Zahra tersipu malau. Dia senang dapat kecupan dari Ezra. Entahlah sepertinya Zahra sudah jatuh cinta pada suaminya itu. Ya, biasanya kan wanita seperti itu. Kalau sudah melakukan itu dengan seorang pria. Itu tandanya dia suka pada pria itu. Walaupun gak seneng di awal, nantinya juga akan senang sendiri. Karena apa? karena milik berharga yang dimilikinya, sudah diserahkannya pada pria itu.


"Bilang saja, maunya suamimu yang gantiin." Goda Ezra, mulai membuka kancing bajunya Zahra. Saat ini Zahra berbaring di atas bed yang dialasi oleh parlak. Agar baju Zahra yang basah gak mengenai seprey bed nya.


"Gak juga, adek bisa sendiri." Memang Zahra gak ada kepikiran, untuk meminta bantuan pada Ezra. Dia memang ingin ganti baju sendiri.


"Eeuumm... iya deh, ganti baju sendiri. Dengan selang infus di tangan. Ya kalau istriku pasti bisa. Istriku kan hebat. Jago berkelahi, jago di ranjang. Iihhh...!" Zahra langsung menimpuk dada sang suami yang pura-pura merinding itu. Ezra merinding karena mengingat malam panas mereka. Dan jangan tanya sekarang. Miliknya sudah on lagi dibalik celana nya. Istrinya ini, daya tariknya kuat.


"Iihh Abang, apaan sih?" Ucap Zahra manja, disaat Ezra menunjuk miliknya yang on di balik celana jeans itu.


"Hehehehe.... Bercanda sayang!" Ezra cengir. Dia sudah membuka baju seragamnya Zahra. Auto pay-u - dara nya Zahra terpampang sudah. Ezra dengan cepat meraupnya. Menghisapnya.


Pukkk..


"Dasar mesum!" ketus Zahra. "Istri lagi sakit juga.. Iihhh..!" Zahra kesal, tapi suka.


"Ya Allah sayang, ini obat, nikmati saja sayang. Ini enak, lihatlah nanti adek akan merasa baikan. Hanya nen--nen aja koq sayang. Gak minta lebih. Sayang ini nganggur, mana lagi terbuka." Ezra tersenyum tipis. Dia pun mulai melap tubuh Zahra dengan waslap. Tentu saja dia juga memainkan hunung kembarnya Zahra sesekali.


"Abang tahu, adek mau nya, Abang Yang ganti bajunya. Karena, adek malu dengan ini kan?" mencium hasil cup--ang an nya yang ada di dekat pen til miliknya Zahra yang sudah membesar dan mengeras, karena Ezra terus saja merang-- sang nya.


"Iya Bang, sudah deh. Jangan di hisap lagi. Geli..!" Zahra jadi pengen jadinya. Kalau gak ingat ini di rumah sakit. Dia bakalan mau lagi. Walau miliknya masih sakit. Bagian intinya itu sudah berdenyut-denyut saat ini. Zahra sepertinya candu dengan nikmat yang diberikan Ezra.


"Iya sayang, maaf ya!" mengecup kening Zahra. Dan memakaikan baju istrinya itu.


"Abang tadi mau menghilangkan bekas stempel itu, ya dengan dicium lagi."


"Yang ada makin parah, bukannya makin hilang." Zahra mendengus kesal.


"Oohh.. iya ya?" Ezra tertawa kecil, membantu sang istri untuk mengganti sarung yang dikenakannya.


"Ini sarung sialan." Ezra melempar sarung itu kesembarang tempat. Dia teringat kejadian di sawah. Saat mereka di grebek.


"Itu sarung membawa keberuntungan bang." Ucap Zahra pelan dan malu, berusaha menutupi bagian bawahnya dengan bantal yang diangkat nya dari bawah kepalanya.


"Koq ditutup, gimana Abang mau bersihkannya?" Ezra heran, istrinya itu menutup miliknya. Karena malu dengan sang suami.


"Itukan jelek bang, kenapa suka sekali melihatnya." Ucap Zahra masih dengan perasaan malunya.


"Jelek apanya. Ini Kren, eksotis, ajaib, mantap. Bisa buat melayang, patut dipuja." Ezra bahkan ingin menciumnya dan Zahra berontak.


"Sudah akkhh.. cepat pakaikan celana nya kalau gak, aku saja." Ucap Zahra cemberut karena, terus-terusan di goda sang suami. Bisa kepingin dia.


TBC


Like, comen vote say

__ADS_1


__ADS_2